Sebuah tulisan viral perihal kegiatan ospek di suatu kampus, mengagetkan saya. Rupanya, kejadian shalat yang hampir terlewat, terjadi lagi.
Saya tidak ingin menyalahkan siapa pun atas terulangnya peristiwa ini. Amat disayangkan, jika kampus mengejar predikat “World Class University” namun kurang bisa menghargai waktu ibadah para mahasiswanya. Apalagi, ini diperkenalkan kepada mahasiswa baru.
Lebih baik, kita jadikan kejadian ini untuk mengambil pelajaran serta berupaya mengadakan perbaikan.
Teringat sebuah gagasan dari Syed Naquib Al Attas, seorang pakar sejarah Islam dan Melayu. Beliau mengatakan, bahwa masalah yang mendasar terjadi dalam dunia pendidikan, khususnya pada masyarakat Islam, ialah LOSS OF ADAB.
Apakah itu?
Dalam konsepsi pendidikan pada saat ini, kita masih merasakan bahwa yang disebut pendidikan ialah sebatas mengantarkan manusia untuk menjadi cerdas saja. Yang diasah dalam pendidikan kita, hanya pada intelektualitas semata. Atau sederhananya, hanya mengutamakan penggunaan akal saja. Sementara yang lainnya, seolah tidak terperhatikan.
Ini bisa kita lihat pada fenomena sederhana. Siapa anak yang dianggap pintar? Biasanya ia yang jago dalam hitungan matematika, fisika, atau semacamnya. Kecerdasan alternatif pun, masih terbatas pada seni atau bahasa.
Ada satu hal penting, atau bisa juga dikatakan yang paling penting, yang terlupa.
Pendidikan adab.
Tradisi keilmuan Islam telah memulainya. Kita tentu ingat sebuah kaidah yang populer, “adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal”. Pada intinya, kita menginginkan manusia itu sudah memiliki adab, sebelum ia menjejakkan dirinya dalam samudra keilmuan. Dari ilmu tersebut, diharapkan baginya untuk mengamalkannya. Sebab, sebagaimana Imam Syafi’i pernah berkata, “Ilmu itu bukanlah yang dihapal, melainkan ia yang bermanfaat”. Inilah yang kita harapkan, manusia beradab yang berilmu dan memiliki manfaat bagi sesama.
Lalu, apa yang dimaksud dengan adab itu?
Kita tentu amat mengenal isitilah “adab”. Bahkan di sila kedua dari Pancasila, tersebut namanya, bahwa cita-cita bangsa kita ialah menciptakan “kemanusiaan yang adil dan beradab”.
Untuk memahami istilah adab, ada kiranya kita coba gali kembali dari bahasa asalnya, yakni bahasa Arab. Dalam kamus Al Wâfi, dikatakan bahwa makna (ادب) yang pertama adalah “mengadakan perjamuan, mengundang seseorang untuk mengikuti perjamuan, menjamu”. Isitlah ini menunjukkan bahwa seseorang yang beradab itu, dengan sendirinya bermanfaat bagi orang lain. Sebab, ia memiliki kegemaran untuk menjamu orang lain. Dalam konteks keseharian, jamuan itu ialah sikap dan perilakunya.
Makna berikutnya ialah adab, etika, akhlak, perilaku sopan, budi, moral, dan susila. Inilah inti dari seorang yang beradab. Ia memiliki itu semua secara baik. Akhlaknya, akhlak mahmudah, atau akhlak terpuji. Lakunya kepada orang lain, sebagaimana ia ingin diperlakukan oleh orang lain. Budinya menghargai sesama. Moralitasnya mencintai sesama manusia.
Yang menarik, ialah makna ketiga dari adab, yang berarti “pendidikan”. Selama ini, kita sering menyaksikan, sebagaimana ilustrasi di awal, bahwa pendidikan itu sebatas pada “otak” saja. Pendidikan, sejatinya menjadikan manusia itu sebagai “manusia”. Atau bahasa sederhananya, membuat kita tahu diri siapakah kita sebenarnya. Konsepsi ini juga, yang diajukan oleh Syed Al Attas untuk mengistilahkan pendidikan dalam Islam, yakni Ta’dib. Ia lebih spesifik daripada Tarbiyah, yang secara leksikal bermakna sama, yakni pendidikan. Pendidikan dalam Tarbiyah masih bersifat umum. Sementara dalam Ta’dib, kita memang menjadikan pendidikan itu fokus membentuk adab.
Lalu, apa hubungannya dengan fenomena tadi di awal?
Manusia yang beradab, ialah manusia yang tahu apa itu “manusia”. Dalam konsepsi Imam Al Ghazali, manusia itu memiliki banyak dimensi. Ia memiliki ruh, akal, qalb, dan nafs. Itu baru bagian yang tidak tampaknya. Dalam bagian yang “tampak”, kita adalah manusia dari sisi biologis hingga sosiologis. Kita harus paham dengan yang semacam itu, karena kita adalah manusia.
Salah satu yang terpenting dari pemahaman diri kita sebagai manusia ialah, untuk apa sebenarnya kita diciptakan. Menurut Prof. Quraish Shihab, setidaknya Al Quran menyebut tiga maksud manusia diciptakan. Pertama, ialah menjadi hamba Allah. Oleh karena itu, manusia dituntut untuk beribadah kepada-Nya. Kedua, ialah menjadi khalifatullah fil ardhi, yakni wakil Allah di muka bumi. Ketiga ialah menjadi pemakmur kehidupan di bumi.
Kita lihat fungsi pertama kita, yakni sebagai hamba dari Allah. Hamba pasti diwajibkan beribadah kepada Sang Pencipta. Islam mengajarkan, setidaknya dalam sehari, lima kali kita diwajibkan shalat. Itu kewajiban yang tidak bisa ditawar. Bahkan, yang sedang sakit parah pun, selama ia masih sadar, shalat tetap wajib.
Lalu, mengapa sampai hati, kegiatan di kampus, yang bertujuan mengenalkan seluk beluk kampus, justru melupakan bahwa mahasiswa itu adalah manusia, yang butuh dan perlu untuk beribadah kepada Tuhannya? Setidaknya, bagi yang beragama Islam, persilakanlah untuk shalat.
Memang, pada akhirnya, sebagaimana perbincangan saya dengan beberapa orang yang hadir pada kejadian itu, diberikan waktu shalat. Hanya saja sangat mepet. Hampir-hampir ada yang tidak kebagian shalat.
Ini sebuah fenomena yang menyedihkan.
Kita tentu sering mendengar, ada orang yang berkata, bahwa dengan kuliah, banyak orang yang dulunya sholeh malah menjadi sekuler. Mahasiswa jarang peduli pada agamanya. Yang dicari hanya IPK dan gelar sarjana. Ini pandangan sebagian masyarakat yang sedih dengan kondisi mahasiswa.
Saya, saat ini masih berstatus mahasiswa, dan berupaya untuk melawan stigma itu. Kita ingin, mahasiswa itu cerdas akalnya, baik akhlaknya, dan sholeh agamanya.
Semakin berilmu, seharusnya membuat kita semakin tahu diri. Kita hanyalah hamba-Nya yang butuh kepada-Nya. Dialah yang memberi kita ilmu, jangan sampai kita durhaka pada yang memberi.
Rekan-rekan mahasiswa, mari kita penuhi hak Allah, setidaknya dalam ibadah harian seperti shalat. Insya Allah, hak kita akan Allah beri, bahkan tanpa perlu kita minta. Saya juga mungkin bukan orang yang sholeh, tapi tidak ada salahnya, kita berjuang bersama-sama untuk sholeh ritual dan sholeh sosial.
Yuk Berubah! Insya Allah, bisa!
Daftar Bacaan
Dr. Adian Husaini, et. al. Filsafat Ilmu: Perspektif Barat dan Islam
M. Quraish Shihab, Membumikan Al Quran
Leave a comment