
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ اِذَا وَقَبَ (٣) وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ (٤) وَ مِنْ شَرِّ حَاسِدٍ اِذَا حَسَدَ (٥)
Katakanlah, “Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar) (1) dari kejahatan (makhluk yang) Dia ciptakan, (2) dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, (3) dan dari kejahatan (perempuan-perempuan) penyihir yang meniup pada buhul-buhul (talinya) (4) dan dari kejahatan orang yang dengki apabila dia dengki (5)
Membahas surat Al Falaq, sebenarnya tidak terpisahkan dari surat An Nâs. Kedua surat ini, seperti yang telah kita bahas pada bahasan lalu, sering digabungkan menjadi Al Mu’awwadzatain, dua surat untuk berlindung kepada Allah.
Surat Al Falaq, menurut sebagian besar ulama, merupakan surat Makkiyah. Ada pula yang berpendapat surat ini turun di Madinah, seperti Ibnu Abbas dan Qatadah. Sementara itu, ada pula yang mengatakan, menurut sebuah Hadits riwayat Bukhari dan Muslim, surat ini, bersama dengan An Nâs, turun berkenaan dengan disihirnya Nabi Muhammad Saw. oleh orang Yahudi.
Akan tetapi, Hadits ini telah menjadi perbincangan beberapa ulama. Prof. Wahbah Az Zuhaili Tafsir Al Munir menyertakan hadits ini dan menjadikannya sebab turunnya surat. Bahwa Nabi Muhammad menyembuhkan pengaruh sihir tersebut dengan membaca surat ini. Pendapat ini dikuatkan oleh Ibnu Katsir dan ulama lainnya. Namun, dibatasi pemaknaannya, bahwa sihir tersebut tidak sampai membuat pikiran beliau terkuasai oleh sihir sepenuhnya, dan tidak sampai mengganggu hal-hal yang berkenaan dengan turunnya wahyu.
Sementara itu, dalam Tafsir Al Azhar, Buya Hamka menyimpulkan menolak riwayat ini. Sebab, meski diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim, hadits ini termasuk hadits Ahad. Selain itu, berdasarkan penjelasan yang diberikan oleh Muhammad Abduh, Abu Bakar al-Sham, dan Sayyid Qutb, bahwa tidak mungkin bahwasanya Nabi Muhammad terkena sihir. Sebab, beliau telah dijamin kesucian jiwanya dan dihindarkan dari pengaruh jahat manusia lain, berdasarkan Surat Al Maaidah ayat 67 dan Thaa Haa ayat 69. Dijelaskan juga, jika diakui bahwa Nabi Muhammad terkena sihir, hal tersebut dapat merendahkan kemuliaan Nabi. Pendapat ini condong kepada pemahaman kaum Mu’tazilah, yang sebagian tidak mengakui adanya sihir.
Sementara itu, Syaikh Al Utsaimin tidak menjelaskan perihal ini dalam Tafsir Juz ‘Amma beliau. Beliau lebih menekankan bahwa salah satu fadhilah dari surat ini ialah menghindarkan kita dari penyakit ‘ain. Yakni penyakit yang timbul dari kebencian manusia karena melihat nikmat yang ada pada orang lain.
Al Falaq, memiliki arti kata memecah, membelah, atau terpisahnya sesuatu dari bagian yang lain. Ketika biji ditanam, kemudian merekah dan timbul akar, batang, dan bakal pohon, itu disebut juga falaq. Beralihnya musim panas ke musim penghujan, bisa juga disebut falaq. Atau, arti yang kemudian digunakan untuk memahami surat ini, yakni bergantinya malam kepada siang, yang ditandai dengan hadirnya waktu subuh, yang demikian juga dapat dipahami sebagai falaq.
Di awal, kita berlindung kepada Allah, dengan menyebut-Nya sebagai Rabb, Tuhan yang memelihara dan mengatur segalanya. Termasuk di dalamnya ialah kita meminta perlindungan dari waktu falaq.
Surat ini mengajarkan kita untuk memohonkan perlindungan diri pada empat hal.
Pertama, kita memohon dari segala kejahatan dan keburukan yang disebabkan oleh seluruh makhluk Allah. Khususnya ialah nafsu yang ada pada diri kita sendiri. Ia mengajak kita pada perilaku buruk. Karenanya, kita mohon perlindungan Allah dari dorongan nafsu tersebut.
Arti umumnya, kejahatan dari makhluk Allah yang lain, seperti misalnya, ketika sedang berpergian, bukan tidak mungkin terjadi kecelakaan. Atau umpamanya ketika kita berada pada suatu tempat, bisa saja terjadi musibah menimpa. Atau dari kejahatan-kejahatan lain yang dilakukan oleh makhluk Allah lainnya. Kita berlindung dari hal yang demikian.
Kedua, permohonan kita untuk berlindung dari kejahatan ketika malam datang. Datangnya malam, pada umumnya, akan membawa kegelapan. Di zaman teknologi canggih seperti saat ini pun, kedatangan malam identik dengan gulita. Di keadaan yang seperti itu, makhluk-makhluk yang berbahaya banyak bermunculan. Seperti kecoa, tikus, dan ular berbisa. Datangnya malam juga membuat kita rentan untuk tersesat jika dalam perjalanan. Selain itu, di waktu malam juga menjadi saat banyak terjadi maksiat, seperti di klub malam banyak terjadi orang mabuk dan berzina. Maling pun banyak yang beraksi di waktu malam. Oleh karena itu, kita berlindung dari kejahatan yang demikian.
Ketiga, kita juga memohon perlindungan dari sihir yang dilakukan oleh para penyihir. Disebutkan perempuan peniup buhul, sebab pada masa itu, bahkan mungkin juga pada saat ini, kebanyakan penyihir ialah perempuan. Tentu kita tidak asing dengan gambaran nenek sihir yang menyihir dengan kuali besar berisi ramuan berbahaya. Meski demikian, menurut Syaikh Al Utsaimin, makna ini berbentuk umum, penyihir laki-laki maupun perempuan. Sihir itu, bisa menyerang kepada siapa saja, tanpa diketahui oleh si korban. Kadang, ketika seseorang terkena sihir, ia melakukan sesuatu tanpa disadari. Atau seperti penggunaan susuk, yang bisa menyihir sehingga orang lain dapat jatuh hati. Atau bisa juga seperti voodoo yang membuat si penerima sihir sakit tanpa sebab.
Ada pula yang mengartikan kata (النَّفّٰثٰتِ فِى الْعُقَدِ) sebagai seorang yang mengganggu dan pemutus ikatan. Bisa ia ikatan persahabatan yang diputus oleh tukang adu domba. Bisa juga ikatan pernikahan yang diputus oleh adanya orang ketiga. Bisa juga ikatan masyarakat yang diputus oleh penebar fitnah.
Walaupun demikian, kita tetap berkeyakinan, semua sihir jahat tersebut tidak akan terjadi tanpa izin dari Allah. Karenanya, kita memohon, semoga Allah tidak mengizinkan sihir yang datang dari orang-orang jahat.
Keempat, kita mohon agar dijauhkan dari perbuatan jahat orang yang hasad. Kita bisa lihat, ketika seseorang sudah punya rasa benci, bisa menggelapkan mata dan membutakan hati. Segala cara ditempuh untuk menghancurkan orang yang dia benci. Misal, jika ada yang benci karena kita naik jabatan, bisa saja dia menghasut dan menebar fitnah agar kita dipecat. Ada juga yang karena benci, sampai membunuh dengan pembunuh bayaran. Atau seperti yang telah disebut tadi, karena benci sampai menyumpah hingga terkena penyakit ‘ain. Kedengkian itu amat berbahaya, karenanya kita berlindung kepada Allah dari kejahatan yang bisa ditimbulkan oleh para pendengki.
Keutamaan Surat Al Falaq dan An Nâs
Telah kita bahas perihal surat Al Falaq dan An Nâs. Kedua surat ini, memiliki banyak keutamaan. Pertama, Nabi Muhammad menggunakan dua surat ini ketika beliau sedang sakit. Diriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwasanya ketika Nabi Muhammad sakit, beliau akan membaca sendiri dua surat ini, kemudian meniupkannya kepada diri beliau. Kemudian, ketika sakit beliau semakin parah, maka ‘Aisyah yang membacakannya dan mengusapkan kedua tangannya ke tubuh Nabi Muhammad.
Kedua, surat Al Mu’awwadzatain ini dapat digunakan sebagai surat untuk berlindung. Dalam sebuah Hadits riwayat Nasa’i, dikatakan bahwa Nabi Muhammad Saw, pernah bersabda kepada Ibnu ‘Abis. Beliau berkata, “maukah kamu aku tunjukkan sesuatu yang paling baik digunakan untuk berlindung?”, dia menjawab, “mau, wahai Rasulullah”. Beliau bersabda, “Al Falaq dan An Nâs, kedua surat ini”.
Ketiga, surat Al Mu’awwadzatain ini merupakan surat yang tiada bandingnya. Sebagaimana dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan Nasa’i, “Tidakkah kamu melihat ayat-ayat yang diturunkan di waktu malam dan tidak ada bandingnya sama sekali: surat al Falaq dan surat an Nâs.”
Demikianlah pembahasan kita mengenai Surat An Nâs dan Al Falaq. Semoga dapat kita ambil pelajaran dan sunnah Nabi melalui kedua surat ini dapat diamalkan.
Daftar bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Tafseer.info. Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir. Tt
Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. (Bandung: Mizan, 2014)
Tayangan Tafsir Al Misbah Surat Al Falaq, Metro TV

Leave a comment