Tadabbur Surat Al Ikhlash

Published by

on

Al Ikhlash

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

(قُلْ هُوَ اللهُ اَحَدٌ (١) اَللهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَّه كُفُوًااَحَدٌ (٤

Katakanlah (Muhammad), “Dialah Allah, Yang Maha Esa. (1) Allah tempat meminta segala sesuatu. (2) (Allah) tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. (3) Dan tidak ada sesuatu yang setara dengan Dia” (4)

 

Apa itu “Ikhlas”?

Ikhlas, dalam bahasa Arab, terambil dari huruf kho, lam, dan shad. Dalam kamus Al Wâfi, dijelaskan bahwa kata tersebut artinya ialah bersih, murni, jernih, memisahkan diri dari sesuatu. Maknanya, surat ini ialah memurnikan tauhid yang menjadi dasar akidah umat Islam. Kita murnikan tauhid kita dari kepercayaan nenek moyang yang salah, dari kesesatan pikiran orang yang kacau, dan lain sebagainya.

Sementara itu, tema utama dari surat ini, yang tecermin dari nama “Al Ikhlâsh” itu sendiri menurut Quraish Shihab ialah, menyingkirkan segala kepercayaan, dugaan, dan prasangka kekurangan atau sekutu bagi Allah Swt. yang selama ini hinggap di benak dan hati sementara orang.

Turunnya surat ini dan intisarinya

Seorang Yahudi pernah bertanya pada Baginda Rasul, “Duhai Rasul, jelaskan kepada kami perihal Tuhanmu! Dari emaskah ia? Atau dari tembaga? Atau seperti apa?”. Surat ini kemudian turun, untuk menegaskan, seperti apakah sebenarnya konsepsi ketuhanan yang dimiliki oleh ajaran Islam.

Ada empat penjelasan perihal siapakah Allah itu, serta bagaimana konsep ketuhanan dalam Islam yang dijelaskan dalam surat ini.

Pertama, Allah itu Ahad. Ahad bukan satu yang berbilang, bukan pula jamak yang menunggal. Ahad bukan “wahid”, yang merupakan permulaan dari bilangan. Keesaan Allah itu tidak seperti Tuhan yang dikonsepsikan oleh agama lain. Seperti Tuhan dalam doktrin trinitas yang dipegang oleh kaum Nasrani, bahwa ada Tuhan Bapak, Tuhan Anak, dan Roh Kudus, yang ketiganya satu. Atau seperti Tuhan dalam konsepsi agama Hindu, yang Esa namun terbagi tiga dalam trimurti, yakni Brahma sang pencipta, Wisnu sang pemelihara, dan Syiwa sang perusak.

Inilah intisari daripada akidah Islam, yakni Tauhid!

Teringat oleh saya, ketika dahulu sewaktu kecil diajarkan oleh orang tua, mengapa tuhan itu mestilah satu. Tuhan itu, mestilah memiliki kemampuan untuk berbuat apa pun, Dia Maha atas segalanya. Misalkan Tuhan itu berbilang, dua saja misalkan, apa mungkin penciptaan ini akan sempurna? Bila sesama “tuhan” itu bertentangan kehendak, bagaimana nasib yang diciptakan? Jika ia berbilang, tentu akan mengurangi kemahakuasaannya. Dan yang demikian, bila kemahakuasaannya tidak mutlak, pastilah bukan Tuhan!

Kedua, Allah itu As Shamad. Apa itu makna Ash Shamad? Ibnu Abbas menyebut Ash Shamad sebagai “Dialah yang dituju oleh seluruh makhluk untuk memenuhi kebutuhan dan permintaan mereka”. Abu Hurairah memaknai Ash Shamad sebagai “segala sesuatu memerlukan dan berkehendak kepada Allah, berlindung kepada-Nya, sedangkan Dia tidaklah berlindung kepada siapa pun juga”. Ath Thabari mengatakan bahwa arti dari Ash Shamad ialah “tiada rongga bagi-Nya”

Keseluruhan pemaknaan atas Ash Shomad itu menunjukkan, bahwa Allah itu memiliki kekuasaan atas segalanya. Kekuasaan-Nya sempurna, tanpa ada yang perlu ditambahi oleh sesuatu pun. Karenanya, Allah Maha Berkehendak atas apa pun juga. Akibatnya, kita sebagai makhluk, tidak ada lagi tempat untuk mengharap, meminta, dan memohon, selain hanya kepada-Nya.

Ketiga, Allah itu tidak beranak, dan tidak pula diperanakkan. Penjelasan ini menjatuhkan argumentasi orang Yahudi yang berkata Azar adalah anak Allah, dan pendirian orang Nasrani bahwa Isa Al Masih adalah anak Allah. Semuanya itu adalah ketidaklogisan dari konsepsi tuhan itu sendiri.

Apabila Tuhan itu memiliki anak, maka ia pasti membutuhkan. Manusia misalkan, memiliki anak untuk melanjutkan nasab keturunan. Hewan beranak, karena ia butuh pelampiasan hawa nafsunya. Lantas, jika Tuhan itu beranak, bukankah itu sama saja merendahkan derajat ketuhanan itu sendiri?

Oleh karena itu, Islam menegaskan bahwa, Allah tidak punya anak. Lebih daripada itu, Allah juga tidak diperanakkan. Dia tidak memiliki orang tua. Karena Allah itu adalah Qadim, Dia ada tanpa permulaan. Allah juga Baqa, Dia ada tanpa akhir. Maka akan aneh bila ada yang berkata, bahwa Tuhan itu diperanakkan.

Keempat, tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Allah. Jelaslah dengan hal yang demikian, sebab Allah adalah khaliq, pencipta. Sementara selain Allah adalah makhluk, yang diciptakan.

Dalam Tafsir Al Muyassar dijelaskan, tidak ada yang sama dengan Allah dalam tiga hal. Yakni, tidak sama dalam hal nama, sifat, dan perbuatan. Ini berkait dengan pemahaman kita akan sifat-sifat Allah. Allah itu Maha Mendengar, namun cara Allah mendengar tidak sama dengan makhluk. Allah itu Maha Melihat, akan tetapi bagaimana Allah melihat, tidak perlu kita pikirkan karena itu melampaui batas yang ditetapkan.

Keutamaan Surat Al Ikhlas

Surat ini memiliki banyak keistimewaan. Pertama, kandungan surat ini setara dengan sepertiga Al Quran. Sebagaimana tersebut dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Daud, dan Nasa’i, Rasulullah Saw. bersabda, “Demi Zat yang jiwaku dalam kekuasaan-Nya, sesunguhnya surat Al Ikhlas itu pastilah setimpal dengan sepertiga Al Quran”. Selain itu, ada banyak juga hadits serupa.

Kedua, dengan membaca surat ini (tentunya disertai dengan pengaplikasian dalam kehidupan), Allah akan memasukkan hamba tersebut ke dalam surga. Dalam Hadits riwayat Tirmidzi dikatakan, bahwa Abu Hurairah berkata, “Aku datang bersama Nabi Saw., tiba-tiba beliau membaca ‘Qul Huwallahu Ahad’, lalu beliau berkata: ‘wajiblah!’, aku pun bertanya, ‘wajib apa wahai Rasulullah?’ beliau menjawab, ‘wajib baginya surga’”

Hikmah kehidupan

Kita perlu memurnikan tauhid kita, agar tidak bercampur dengan hal-hal yang dapat menodainya. Kita juga perlu melepaskan diri dari paham-paham yang tidak sesuai dengan intisari Tauhid. Apalagi di zaman yang sedang kacau seperti ini.

Kita saksikan bagaimana manusia dipertuhankan dengan filsafat Humanisme, kebenaran itu ditentukan semau manusia dan untuk manusia semata. Begitu pula paham Materialisme, yang mengajarkan manusia mengejar sesuatu dalam bentuk materi saja, tanpa perlu substansinya. Akibatnya, timbul kesemrawutan. Halal menjadi haram, haram menjadi halal, semuanya dibolak balik sekehendak hati.

Tuhan pun disingkirkan dengan Sekularisme, hanya karena ingin agar ilmu itu murni dari dogma-dogma agama. Padahal, mana mungkin timbul ilmu yang manfaat lagi berkah, jika Yang Maha Memiliki Ilmu dinafikan?

Tersebab kecanggihan teknologi, Tuhan pun diragukan. Seolah-olah manusia bisa segalanya. Memang, dengan teknologi kita dapat membelah gunung, menjelajah samudra, hingga menggali bumi. Namun secanggih-canggihnya manusia mencipta, pastilah hanya sekadar mengolah dari ciptaan yang sudah ada. Tidak mungkin, manusia bisa membuat sesuatu dari yang sebelumnya tidak ada. Bahkan hanya untuk seekor nyamuk sekalipun.

Allah memiliki kesempurnaan yang paripurna, tidak ada bandingnya. Sementara makhluk hanya diberi sesuai kadar yang dikehendaki-Nya. Karenanya, tidak ada pantas bila kita merasa hebat sambil merendahkan orang lain. Sebab, kita pun punya kekurangan dan orang lain juga ada kelebihan yang Allah beri. Kita juga tidak boleh berputus asa, sebab Allah tempat harap bagi siapapun jua.

Itulah intisari dari Surat Al Ikhlas, memurnikan pemahaman Tauhid kita dari kerancuan berpikir yang bisa menodainya.

 

Daftar bacaan

Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)

Tafseer.info. Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir. Tt

Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. (Bandung: Mizan, 2014)

Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar (Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt)

Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Ash Shuyuthi. Tafsir Jalalain (Dar Ibn Katsir, tt)

A. Thoha Husein Al Mujahid dan A. Atho’illah Fathoni Al Khalil. Kamus Al Wâfi: Arab Indonesia. (Jakarta: Gema Insani Press, 2016)

Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal

Leave a comment