Milik Siapa Semua Ini?

Published by

on

ask-great-pyramid-iStock_000015224988Large-E.jpeg
sumber: history.com

Coba  sesekali kita perhatikan, peredaran peradaban pada setiap zaman. Dahulu sekali berkuasa Kerajaan Mesopotamia, Babilonia, Mesir, Maya, Romawi, Yunani, dan lain sebagainya. Sebagian besar kini telah tiada. Tersisa reruntuhannya saja. Sedangkan sang penguasa? Telah hancur berbau tanah.

Di Mesir, kita temukan piramida yang menjadi kubur para baginda raja. Kubur dibangun megah. Harta simpanan dibawa ke dalamnya. Jenazah pun harus dibalsem, supaya awet. Disangka olehnya, ia akan tetap menikmati. Padahal, jasad pun membusuk meski dilapis balsem. Begitu pula emas berlian, tetap ada, tanpa nama pemiliknya.

Di China, kita temukan permakaman dari zaman Dinasti Qin. Sang raja, berkuasa atas wilayah yang amat luas. Terbentang ke segala penjuru arah angin. Ia takut jika ia mati, kerajaannya tidak dijaga. Akhirnya, di makamnya, ditemukan ada pasukan kerajaan yang ikut dikubur dibuatkan patungnya. Ia ingin mengekalkan kuasa, hingga dalam kubur. Namun apa yang didapat, hanyalah patung itu yang masih utuh. Jasad sang raja sendiri pun hancur dimakan cacing tanah.

Di Bumi Nusantara, kita dapat temukan kisah serupa. Di Sulawesi, ada upacara pemakaman yang berbiaya amat mahal. Pemakaman layaknya pesta pernikahan. Si jenazah diharap turut bersuka cita walau ruhnya telah tiada. Padahal, meski jasad itu tetap utuh, ruh telah berpulang kepada Yang Maha Kuasa.

Jatuh dan bangun, ialah fenomena yang amat biasa. Dahulu sekali, Kerajaan Belanda menguasai bumi pertiwi. Raja-raja kecil yang tidak sanggup menanggung derita, diserahkan begitu saja wilayah kuasanya pada Belanda. Tampak sulit untuk ditandingi hanya dengan bermodalkan senjata keris dan bambu runcing. Sementara mereka punya meriam dan senapan. Semua tampak Belanda adalah kuasa yang hampir tidak mungkin digoyahkan.

Lalu apa yang terjadi? Kita mampu usir mereka dengan segenap tenaga. Harga diri kita amat mahal jika ditukar dengan pangkat yang tak seberapa. Segelintir orang yang manut menjadi pegawai Belanda, tentu takut hilang kuasa. Kadang mereka inilah yang menjadi pengkhianat bangsa. Namun, Alhamdulillah, pada 17 Agustus 1945, kita merdeka!

Kita lihat juga dunia paska Perang Dunia kedua. Amerika dan Uni Soviet menjadi dua negara adikuasa. Saling berlomba senjata hingga angkasa. Liberalisme dan Komunisme bertaruh berebut kuasa. Namun, kita sendiri saksikan, di awal dekade 1990-an, runtuh Uni Soviet. Negara dengan wilayah terluas, pengaruh yang besar, dan teknologi yang canggih dapat runtuh dalam sekejap mata. Jutaan orang terkejut, seolah tak percaya.

Itulah, salah satu pergerakan kuasa dalam skala yang besar.

Lalu, kita coba lihat diri kita.

Dari kecil, kita sering dididik untuk menjadi orang kaya. Orang banyak harta, akan mudah segalanya. Itu doktrin yang sering kita dengar.

Seiring bertambah dewasa, memang kita saksikan yang demikian adanya. Banyak orang kejar harta dengan sepenuh tenaga. Banting tulang cari rezeki siang malam. Namun, tercapaikah bahagia?

Belum tentu, saudara!

Kita lihat, betapa banyak orang kaya yang mendapat bahagia bukan dari harta. Bill Gates, manusia terkaya sejagat, dengan rela hati menjadi filantropi. Sebab apa? Ia dapat bahagia ketika berbagi dengan orang yang tidak seberuntung dirinya.

Bahagia tidak dia dapat ketika harta ada padanya. Justru, ketika hartanya menjadi manfaat untuk sesama.

Rumusan bahagia ini, rupanya dipakai oleh orang yang tidak ada keyakinan sumber harta itu datang dari Allah. Kita sebagai orang yang beriman, tentulah seharusnya malu dan becermin pada yang demikian.

Semua ini, hanyalah milik Allah. Kita dititipi, sekian waktu saja. Kalau esok mati, sudahlah cukup esok itu harta dimiliki. Selanjutnya, pertanggungjawaban harus siap kita laporkan!

Kita ini orang yang beriman! Kita yakin, pemberi segala itu hanyalah Allah. Lalu mengapa kita seringkali pelit belanja di jalan Allah?

Bahkan, ada seorang bijak yang berkata. Jika kita ragu esok masih bisa makan atau tidak, itu tandanya kita durhaka pada Allah.

Apa sebabnya?

Allah, dengan salah satu sifatnya Ar Razzaq, telah berjanji, bahwasanya rizki siapa pun di muka bumi, tidak akan luput dan lupa diberi. Cacing tanah, yang tidak bermata tidak berkaki, pun sudah ada jatah rizkinya. Mana mungkin, manusia macam kita, makhluk paling sempurna, luput dari jatah rezeki?

Hanya saja, perjuangan kita tetap dibutuhkan. Sebagaimana cacing tadi berusaha menggali tanah, barulah makanan ia dapat. Kita pun tetap harus bekerja, agar rezeki yang sudah dijatahkan pada kita, kita dapat juga.

Karenanya, ada paradigma yang harus kita tanam. Yang kita kejar dengan bekerja, bukanlah rezeki itu sendiri. Usaha kita adalah mengejar yang sudah dijamin, kepada Allah yang memberi jaminan. Maka, akan menjadi percuma jika usaha tidak diiringi dengan doa. Sombong itu namanya. Seolah pekerjaan kita dapat datangkan rezeki, padahal hanya letih yang didapat.

Lalu, kalau sudah dapat rezeki, bukan congkak hati yang muncul dalam diri. Justru, insaflah, bahwa kita ini hanya diberi. Suatu saat akan kembali. Maka, manfaatkan agar tidak sampai sesal di kemudian hari.

Kadang, ada pula yang protes. Mengapa ada orang yang tidak pernah ibadah, jauh dari Allah, bahkan tidak beriman kepada Allah, hartanya justru banyak. Jalannya selalu mudah. Urusannya lancar, dan lain sebagainya.

Itulah yang dinamakan istidraj. Yakni, diberikan kemudahan dalam banyak urusan keduniaan, sebagai azab yang dipermulakan. Sebab, mereka pasti tidak akan dapat bagian di hari kemudian. Semua jatahnya, sudah dia habiskan di dunia. Tanpa tahu diri.

Orang yang tahu diri, akan insaf dalam hati. Semua hanya karunia Ilahi. Maka, sikap paling pantas hanyalah mensyukuri.

Maka, ambillah pelajaran pada setiap kejadian yang hadir di dekat kita. Ketika membaca sejarah, tidak cukup kita sampai pada tahapan tahu dan paham akan peristiwa. Lebih jauh daripada itu, kita harus mencari hikmah dari yang telah terjadi. Supaya kita dapat mawas diri. Jangan sampai kesalahan para pendahulu diulangi.

 

Kini, munculkan pertanyaan berikut, “maka, punya siapakah semua ini?”

Telah kita lihat dalam pembahasan tadi, bahwa tidak ada yang punya kuasa, bahkan pada diri sendiri, selain hanya Allah saja. Penguasa yang mengklaim besarnya kerajaan, toh akan runtuh juga. Hartawan yang punya banyak emas berlian, toh akan ditinggalkan juga. Orang cerdas cendekia pun, pada masanya akan mati juga.

Semuanya menjadi tidak punya apa-apa, karena memang yang memiliki hanyalah Allah saja.

Teringatlah pada ayat ke-20 hingga 21 di Surat Al – Hadîd,

اِعْلَمُوٓا۟ أَنَّمَا الْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِى ٱلْأَمْوَٰلِ وَٱلْأَوْلَٰدِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ ٱلْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمًا ۖ وَفِى ٱلْءَاخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضْوَٰنٌ ۚ وَمَا ٱلْحَيَوٰةُ ٱلدُّنْيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلْغُرُورِ (٢٠) سَابِقُوٓا۟ إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ بِٱللَّهِ وَرُسُلِهِۦ ۚ ذٰلِكَ فَضْلُ ٱللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَآءُ ۚ وَٱللَّهُ ذُو ٱلْفَضْلِ ٱلْعَظِيمِ (٢١)

[20] Ketahuilah, (duhai sekalian manusia, lebih-lebih yang telah terperdaya pada kehidupan dunia. Tersilaukan oleh kilauan harta, sampai lupa ia hanyalah titipan semata.) bahwasanya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan senda gurau belaka (ia melengahkan, hanya membuat kita lelah, namun yang didapat hanyalah sesuatu yang fana), serta perhiasan dan bermegah-megahan di antara kamu, dan berbangga-bangga dengan (banyaknya) harta dan anak keturunan. (Kita mafhum, bahwa sudah menjadi watak dari sebagian besar manusia, untuk berbangga dengan harta dan keturunan. Harta dibanggakan jumlahnya, anak dibanggakan ketampanan, kecerdasan, dan lain sebagainya. Akan tetapi, itu tidak akan menjadi berguna kalau justru melalaikan kita dari Allah); ibarat hujan yang tanaman-tanaman (yang ditumbuhkan oleh)-nya mengagumkan para petani, kemudian ia (tanaman tersebut) menjadi kering, lalu engkau melihatnya menjadi kuning dan kemudian hancur (ini adalah perumpamaan kehidupan dunia, ia terlihat berkilau ketika kita di puncak. Namun lambat laut akan hancur lamat-lamat). Dan di akhirat terdapat azab yang sangat keras (bagi siapa yang mengejar dunia dan lupa akan akhirat) dan (ada juga, di samping azab itu), ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya (bagi yang menjadikan dunia sebagai tangga menuju akhirat). Dan tidaklah kehidupan dunia (itu), melainkan kesenangan yang memperdaya (palsu, tidak kekal, dan kadang membuaikan sampai membuat lupa tujuan yang sebenarnya)

[21] bersegeralah (dalam melaksanakan amal shaleh, berbuat kebajikan, selayaknya sedang berlomba) menuju ampunan dari Tuhan Pemelihara kamu (Allah) dan (berlombalah untuk dapat menggapai) surga yang (perumpamaan) luasnya seluas langit dan bumi (artinya, surga itu tidak terbatas, ia amat luas, dan kita didorong untuk kembali ke sana, sebab itulah kampung halaman yang sebenarnya), yang telah disediakan (oleh Allah) bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan para rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang dianugerahkan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya (sesuai dengan kuasa-Nya dan kebijaksanaan-Nya, tentu bukan dengan kesewenangan, karena Allah suci dari sifat buruk semacam itu). Dan Allah adalah Pemilik karunia yang amat besar.

Setelah kita pikirkan kembali yang sudah dilalui, harusnya sampailah kita pada tahapan insaf diri. Semua ini, milik Allah! Pada hakikatnya, kita hanya dititipi. Allah, yang telah menitipkan pada kita, pastilah akan meminta pertanggungjawaban di akhirat kelak. Maka, pergunakanlah karunia Allah di jalan yang benar, sesuai petunjuk dari-Nya.

Kita kadang masih merasa berkuasa. Dengan ilmu, terkadang kita sok merasa paling pintar. Padahal, bila kita terpeleset, kepala terbentur, hilang ingatan. Ilmu yang dibanggakan, menguap begitu saja. Kita juga kadang bangga dengan kehormatan. Padahal, seringkali itu yang justru membuaikan. Kita akan menganggap diri kita baik-baik saja, sebab semua orang hormat dan tunduk pada kita. Hilang mawas diri, dan itulah sumber bencana di kemudian hari.

Memang, tidak ada yang patut disombongkan. Sebab, nyawa kita sendiri pun, tidak mampu kita kendalikan. Detak jantung dalam tubuh kita pun, tidak mampu kita hentikan, jika belum tiba waktu yang telah ditentukan. Karenanya, marilah bersegera kita kembali menuju Allah. Koreksi salah dan lupa yang telah lalu. Sesali itu. Hingga kita kembali kepada-Nya dengan rahmat dan ridha-Nya. Aamiin.

 

 

***

Tulisan ini adalah tulisan kedua dalam seri #TafakkurKita

Leave a comment