
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
تَبَّتْ يَدَآ اَبِيْ لَهَبٍ وَّتَبَّ (١) مَآ اَغْنٰى عَنْهُ مَالُهٗ وَمَاكَسَبَ (٢) سَيَصْلٰى نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ (٣) وَّامْرَاَ تُهٗ حَمَّا لَةَ الْحَطَبِ (٤) فِيْ جِيْدِ هَا حَبلٌ مِّنْ مَّسَدٍ (٥)
Makna dari “Al Quran dan Maknanya, oleh Prof. Dr. M. Quraish Shihab”
- Binasalah kedua tangan (seluruh totalitas diri) Abu Lahab dan dia telah binasa
- Tidaklah berguna baginya harta bendanya (yang banyak dan yang selalu dia simpan, lagi enggan menyedekahkannya) dan apa yang dia usahakan.
- Kelak (di Hari Kemudian), dia masuk ke dalam api yang menyala-nyala.
- Dan istrinya (turut terbakar bersama, dan dia sendiri adalah) pembawa kayu bakar (untuk mengobarkan api neraka)
- (dia sangat hina karena) di lehernya ada tali dari sabut
Latar belakang turunnya surat
Surat ini turun di periode Mekkah, yang juga menandai peristiwa dimulainya dakwah nabi Muhammad Saw. secara terang-terangan. Ketika itu, Nabi Muhammad Saw. mengumpulkan orang-orang di Mekkah.
Beliau berkata, “apakah kalian akan percaya, jika saya berkata, dari balik bukit ini akan ada sekelompok pasukan yang menyerang Mekkah?”
Penduduk Mekkah menjawab, “kami belum pernah melihat engkau berbohong”.
Nabi Muhammad melanjutkan, “maka, saya memperingatkan kalian semua, bahwasanya akan ada siksa yang amat pedih!”
Terkejutlah orang-orang Mekkah. Lebih-lebih Abu Lahab, paman Nabi sendiri. Beliau bahkan berkata, “celakalah engkau, Muhammad! Hanya untuk itukah engkau mengumpulkan kami?”
Kemudian, turunlah ayat ini.
Dari latar kisah ini, Syaikh Al Utsaimin menggolongkan bahwa ada tiga kelompok paman (atau umumnya adalah kerabat dekat) Nabi Muhammad.
Pertama, ialah mereka yang mendukung dakwah Nabi Muhammad Saw. sekaligus masuk ke dalam Islam. Di antaranya ialah Abbas bin Abdul Muthalib dan Hamzah, yang menjadi syuhada di perang Uhud. Kedua, ialah yang mendukung, namun tetap berpegang pada kekafirannya. Seperti Abu Thalib, yang pernah melindungi Nabi Muhammad dan menjadi penjamin, namun sampai akhir hayat, ia tak mengucap syahadat. Ketiga ialah yang menentang dan memusuhi, seperti Abu Lahab ini.
Rupanya, pertentangan Abu Lahab dengan dakwah Nabi Muhammad bukan sekali saja. Di masa berikutnya, ia selalu membuntuti Nabi ketika sedang dakwah. Jika Nabi mengatakan, “berimanlah engkau kepada Allah”, dari belakang, Abu Lahab menafikan semua seruan nabi. Dia bantah sembari menebar fitnah, bahwa Nabi Muhammad hanyalah seorang penyair.
Perilaku buruk ini diikuti juga oleh sang istri. Ia digambarkan sebagai pembawa kayu bakar. Sebagian ulama berpendapat, memang sehari-hari, Ummu Jamil, istri Abu Lahab, mencari kayu bakar berduri. Kemudian diikat dilehernya dengan tali sabut. Ditebar kayu bakar itu di sepanjang jalan yang biasa Nabi lalui. Tujuannya, ingin mencelakakan Nabi.
Sementara itu, ulama lainnya berpendapat bahwa ini adalah kiasan. Ia membawa fitnah kedengkian. Disebarkan banyak berita bohong seputar Nabi Muhammad. Tujuannya untuk menghalau dakwah Nabi Muhammad. Dia juga mengorbankan harta bendanya untuk menghalangi Nabi.
Inilah sosok pasangan yang tidak patut untuk ditiru. Keduanya bekerja sama untuk menghalangi dakwah Islam.
Kisah hidup Abu Lahab berakhir menyedihkan. Dikabarkan, dia meninggal saat mendengar kabar kekalahan pasukan Quraisy dalam Perang Badar. Dia telah mendukung perang itu, dan kaget ketika diberitakan bahwa pasukannya kalah. Sebenarnya ini adalah salah satu bentuk penyakit hati. Orang yang amat mendengki dan mendendam pada orang lain, akan sulit menerima bahwa orang lain yang dia benci mendapat kesuksesan, bahkan mengalahkannya. Bisa saja, seperti dugaan Buya Hamka dalam tafsirnya, ia menderita penyakit kejang-kejang atau serangan jantung.
Hikmah keseharian
Surat ini, sekalipun mengisahkan tentang upaya Abu Lahab dalam menghalangi dakwah Nabi Muhammad, bukan berarti tidak dapat kita ambil hikmah untuk masa kini. Setidaknya ada poin yang bisa kita tadabburi dan menjadikannya sebagai hikmah.
Pertama, orang yang mencela dan menghina Nabi Muhammad, atau lebih luas lagi menghina seruan Islam, pada dasarnya dialah yang akan celaka dan menjadi hina. Pada ayat pertama, terlihat bagaimana Allah membalas ucapan Abu Lahab yang mengutuk Nabi. Abu Lahab kesal dengan dakwah Nabi Muhammad, sampai-sampai ia mengutuknya dan mengatakan Nabi akan celaka. Padahal, pada hakikatnya, Abu Lahab sendiri yang akan celaka, baik di dunia lebih-lebih di akhirat.
Di masa saat ini pun kita lihat yang demikian. Banyak orang yang benci dengan Islam dan Nabi Muhammad, tersebab kebodohannya perihal yang ia benci. Di Amerika, pernah kita dengar kabar seseorang dengan bangganya membakar Al Quran. Pada akhirnya, kematiannya menyedihkan. Ia mati terbakar. Kita juga pernah dihebohkan dengan kasus Charlie Hebdo di awal 2015 silam. Seorang kartunis yang berlindung di balik kebebasan berpendapat, yang dengannya ia menggambar karikatur yang menghina Islam dan Nabi, mati mengenaskan ditembak sekelompok orang.
Siapa pun yang menghina Nabi Muhammad, menjelek-jelekkan ajarannya, pastilah ia akan menjadi orang yang hina. Baik di dunia, lebih-lebih di akhirat kelak. Kecuali jika ia mengakui kekhilafannya dan bertaubat dengan sungguh-sungguh.
Kedua, segala upaya yang dilakukan untuk menghalangi seruan Nabi Muhammad, atau lebih luasnya, menghalau dakwah Islam, akan sia-sia belaka. Kita kenal dalam sejarah Indonesia, ada seorang orientalis (pengkaji dunia Timur, khususnya Islam asal Barat) bernama Snouk Hurgonje. Ia berpura-pura menjadi muslim, belajar hingga tanah suci, menikahi penduduk pribumi muslimah, namun kedoknya hanya untuk menutupi upaya penghancuran Islam yang pada masa itu gigih menentang kezhaliman kolonialis Belanda. Toh pada akhirnya, Belanda kalah juga dan harus angkat kaki dari negeri ini.
Masih banyak lagi upaya yang dilakukan oleh para pembenci Islam untuk menghentikan seruan dakwah Nabi Muhammad. Namun pada akhirnya, Islam tetap ada. Al Quran tetap lestari. Bahkan Nabi Muhammad sendiri diakui, sebagai orang yang paling berpengaruh sepanjang sejarah manusia, bahkan oleh non-muslim sekalipun.
Ketiga, semua bentuk keduniaan yang kita punya, baik harta benda, anak keturunan, istri atau pasangan, jabatan dan kehormatan, tidak akan menjadi manfaat, bahkan akan menjadi sebab musibah di Hari Akhirat, jika tidak digunakan di jalan yang benar. Abu Lahab ialah orang terpandang. Ia merupakan adik dari ayahnya Nabi Muhammad. Disegani oleh penduduk Mekkah. Julukannya Abu Lahab, yakni orang yang merona wajahnya saking tampannya. Istrinya juga orang yang cantik jelita, hingga dijuluki Ummu Jamil, ibunya kecantikan. Namun semua itu, tidak berguna di akhirat. Bahkan karena digunakan untuk menghalangi dakwah Nabi Muhammad, ia menjadi sebab siksa di neraka.
Mengutuk Nabi Muhammad binasa, Abu Lahab justru yang menjadi binasa, dunia sampai akhirat. Menebar kayu bakar di dunia, membuat istrinya disiksa dengan kayu itu di neraka. Di dunia ia ikat kayu dengan sabut di leher, di neraka dia diikat dengan rantai besi yang panas. Kejahatan di dunia, pasti akan terbalaskan di akhirat kelak.
Dapat kita lihat pada masa ini, banyak orang yang mengejar dunia. Jabatan dicari, uang diburu, istri sampai diselingkuhi. Semuanya karena terbuai oleh kefanaan nikmat dunia. Akhirnya, yang dia cari tidak digunakan untuk ibadah. Harta banyak, sedekah enggan. Jabatan tinggi, hasil gratifikasi. Apalah guna itu semua selain memperberat timbangan keburukan kita di akhirat?
Semoga kita tidak mengikuti yang demikian.
Keempat, janganlah kita bersengkongkol untuk menjadi penebar kebencian, penghasut fitnah, pemicu adu domba, hingga pemecah masyarakat. Abu Lahab bersengkongkol dengan istrinya untuk menghasut penduduk Mekkah agar menolak Nabi Muhammad. Mungkin dalam jangka pendek, hasutan itu berhasil. Namun, pada akhirnya, hasutan itu membuat ia menjadi susah hati. Ketika Nabi Muhammad bersama pasukannya dengan gemilang mengalahkan pasukan kafir Quraisy di Perang Badar, sakitlah Abu Lahab akibat kedengkian yang mendalam. Orang yang dihasut pun lambat laun tidak percaya Abu Lahab dan justru tertarik dengan ajakan Nabi Muhammad.
Di masa saat ini, kiranya kita ambil hikmahnya penjelasan tersebut. Dengan kecanggihan teknologi dan koneksi ke sosial media, betapa mudahnya untuk menjadi penebar kebencian. Hasut-menghasut menjadi amat lumrah di banyak tempat. Benci si anu karena dia begitu. Padahal yang dia kabarkan hanyalah bualan semata. Masyarakat terpecah belah, saling curiga antara satu kelompok dengan yang lainnya. Inilah buruknya menjadi penghasut dan penebar kabar bohong. Masyarakat terpecah, kebenaran pun menjadi samar.
Terakhir, bila kita hendak mendakwahkan Islam, maka cerminkanlah nilai keislaman itu dalam keseharian kita. Terlihat di dalam kisah sebab turunnya surat ini, Nabi Muhammad pertama kali menanyakan, percayakah kalau beliau mengatakan sesuatu? Semua serempak menjawab yakin, karena beliau adalah orang yang jujur, dapat dipercaya. Gelar Al Amin (orang terpercaya) sudah diberi bahkan jauh sebelum kenabian.
Ketika beliau menyeru kepada Allah, serentak penduduk Mekkah tidak dapat mengelak. Hingga kata-kata yang keluar hanyalah umpatan belaka. Bukan bantahan pada ajakan beliau. Ini menunjukkan, akhlak beliau sudah diterima, namun ajakan beliau tidak diterima hanya karena mengganggu kepentingan mereka.
Di samping itu, terlihat juga kecerdasan Rasulullah ketika akan berdakwah. Ia menonjolkan sikap yang sebenarnya, tidak mungkin untuk dibantah. Bantahan yang datang tidak bersifat substantif. Hanya cercaan saja.
Demikianlah kiranya hikmah yang dapat kita ambil dari surat ini. Semoga tadabbur kita mendorong kita menjadikan kisah dalam Al Quran ini sebagai pelajaran.
Daftar bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Tafseer.info. Tafsir Al ‘Usyr Al Akhir. Tt
A. Thoha Husein Al Mujahid dan A. Atho’illah Fathoni Al Khalil. Kamus Al Wâfi: Arab Indonesia. (Jakarta: Gema Insani Press, 2016)
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal
M. Quraish Shihab. Al Qur’an & Maknanya. (Ciputat: Lentera Hati, 2013)

Leave a comment