بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
إِذَا جَآءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (١) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِيْ دِيْنِ اللَّهِ أَفْوَاجًا (٢) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ ۚ إِنَّه كَانَ تَوَّابًا (٣)
Makna dari “Al Quran dan Maknanya, M. Quraish Shihab”
- Apabila telah datang (dan pasti akan datang pada waktunya) pertolongan Allah dan kemenangan (memasuki kota Mekkah),
- Dan engkau (Nabi Muhammad saw.) telah melihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong
- Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhan Pemeliharamu dan mohonlah ampunan kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat
Latar turunnya surat
Makkah, kota kelahiran yang amat dicintai oleh Nabi, harus beliau tinggalkan ketika tekanan semakin menjadi. Allah perintahkan untuk berhijrah ke Madinah. Membangun peradaban, menjadi suri tauladan. Ketika risalah itu kemudian hendak mencapai akhir, terlihatlah kejayaan Islam terus meluas ke banyak penjuru. Kembalinya ke Makkah, merupakan sebuah pertanda, inilah kemenangan di atas kemenangan. Kejayaan di atas kejayaan.
Peristiwa itu kita kenal sebagai Fathu Makkah, penaklukan (dalam terma positif) atas kota Makkah. Terjadi pada bulan Ramadhan, tahun ke-8 Hijriah.
Ada dua pendapat mengenai waktu turunnya surat ini.
Pertama, surat ini turun sebelum peristiwa Fathu Makkah. Sebagai isyarat, bahwa pada kemudian hari, akan terjadi kembalinya Makkah ke dalam pangkuan umat Islam. Hal ini terlihat dari penggunaan kata idzaa, yang berarti “apabila”. Pendapat ini didukung oleh Ar Razi.
Kedua, surat ini turun setelah peristiwa Fathu Makkah. Tepatnya, pada tahun ke-10 Hijriah. Surat ini, menurut pendapat Ibnu Abbas, merupakan pertanda risalah kenabian telah menuju titik akhir. Itu pun menjadi pertanda pula, akan berakhirnya usia hidup Nabi Muhammad. Sebab, setelah surat ini, turun ayat ke-3 surat Al Maidah, yakni
الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِيْنَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِى وَرَضِيْتُ لَكُمُ الْإِسْلٰمَ دِينًا
Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepada kamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kamu.
Al Maidah ayat 3
Kemudian turun ayat-ayat akhir lainnya sampai Rasulullah wafat. Dalam sebuah keterangan disebut, Nabi Muhammad masih hidup hingga 70 hari setelah turunnya surat ini.
Dikisahkan pada ayat kedua, setelah Makkah berhasil ditaklukkan, penduduk kota Makkah berbondong-bondong masuk Islam. Hal ini tecermin dalam kata afwaajaa yang merupakan jamak dari fawj, yang berarti kelompok. Maknanya, ada banyak kelompok suku, kabilah, dan kelompok lainnya yang masuk Islam secara bersama di saat hari Fathu Makkah sampai pelaksanaan Haji Wada.
Apa itu An Nashr dan Al Fath?
Ada dua kata kunci yang menarik dari surat ini. Pertama, ialah An Nashr (نصر). Menurut Syaikh Al Utsaimin, An Nashr artinya adalah anugerah dari Allah, berupa gentarnya musuh kepada Nabi Muhammad Saw. hal ini sesuai dengan hadits beliau,
نُصِرْتُ بِالرُّعْبِ مَسِيْرَةَ شَهْرٍ
Aku diberi pertolongan dengan rasa gentar pada musuh sekalipun berada pada jarak perjalanan satu bulan.
Hadits Riwayat Bukhari Muslim
Sementara itu, makna An Nashr menurut Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili adalah bantuan atau pertolongan untuk memperoleh sesuatu yang diminta.
Dari kedua makna ini, dapat kita lihat bahwa An Nashr itu datang dari Allah sebagai kekuatan agar yang kita minta, Allah berikan. Dalam konteks ini, ialah permintaan untuk kembali ke Makkah.
Kedua, kata Al Fath (فتح). Menurut arti kamus, kata ini berarti membuka, memulai, menaklukkan, merekah. Makna dari Syaikh Al Utsaimin, makna Al Fath dalam surat ini adalah kemenangan. Hal ini berkait dengan firman Allah di ayat pertama surat Al Fath,
إِنَّا فَتَحْنَا لَكَ فَتْحًا مُّبِينًا (١)
Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata
Al Fath ayat 1
Kemenangan yang nyata ini, merupakan kemenangan Islam atas musuh-musuhnya dalam arti luas. Arti khususnya, kemenangan yang Rasulullah dapatkan dalam Fathu Makkah secara damai dan masuknya orang-orang ke dalam Islam secara serempak.
Sementara itu, Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili menuliskan, bahwa Al Fathini adalah memperoleh sesuatu yang diminta, yang sebelumnya sempat ditangguhkan. Kaitan dengan An Nashr tadi, bahwa An Nashr itu adalah sebagai sebab dan Al Fath ini sebagai akibat. Disebabkan pertolongan dari Allah, kemenangan didapat. Kira-kira, seperti itu maknanya.
Hikmah kehidupan
Peristiwa Fathu Makkah, yang menjadi tema pokok dari surat ini, memiliki banyak hikmah dalam kehidupan kita.
Pertama, peristiwa Fathu Makkah, menjadi inspirasi bagi peristiwa bersejarah di negeri kita, yakni penaklukan Sunda Kelapa oleh Pangeran Jayakarta. Indikasinya dapat kita lihat dari penggunaan nama Jayakarta itu sendiri. Ia menukil ayat pertama surat Al Fath, berupa Fathan Mubiina, kemenangan yang nyata. Kemudian dibahasakan sebagai Jaya Karta, kejayaan yang sempurna. Ini pun menandai penaklukan kota ini dari cengkeraman penjajah dan kembali ke pangkuan masyarakat.
Semangat perjuangan seperti ini, harus terus kita lestarikan. Sebagai umat Rasulullah, plus sebagai masyarakat Indonesia yang mempelajari sejarah.
Kedua, ketika Allah berikan kemenangan, maka yang harus dilakukan pertama kali bukan membanggakan diri, berkacak pinggang, dan menepuk dada. Namun melakukan tasbih sekaligus tahmid, dan beristighfar.
Bertasbih sambil bertahmid, merupakan keharusan kita, yakni menyucikan asma Allah, dari yang sebelumnya dikotori oleh dugaan-dugaan orang kafir ataupun dari diri kita sendiri. Misal, dugaan Allah mempunyai anak. Atau dugaan bahwa Allah menelantarkan umat Islam karena tidak memberi bantuan dengan segera. Kita bertasbih menyebut nama Allah.
Tasbih di sini, menurut para ulama, satu paket dengan bertahmid. Yakni, memuji Allah.
Setelah itu, mohonkan juga ampun dengan beristighfar. Barangkali, dalam perjalanan kita untuk melewati rintangan itu, terdapat kekhilafan. Atau kita sempat ragu juga dengan pertolongan Allah. Untuk menghapus kesalahan tersebut, lakukanlah istighfar.
Semua ini dirangkum dalam sebuah bacaan rukuk dan sujud yang Nabi Muhammad Saw. selalu baca setelah turun surat ini, yakni
سُبْحَانَكَ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللّٰهُمَّ اغْفِرْلِى
Maha Suci engkau wahai Tuhan kami, dan bagi-Mu segala puji, Ya Allah, ampunilah aku.
Ketiga, dari sini kita diajari untuk senantiasa bertaubat. Jangan sampai kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan lain, sampai lupa untuk melakukan introspeksi diri. Perlu setidaknya sejenak dalam satu kurun waktu, bisa sehari, sebulan atau bahkan setahun, kita renungi apa yang telah kita lakukan. Kita gali kembali kesalahan yang telah lalu, kemudian kita taubat kepada Allah. Jika kesalahan itu menyangkut orang lain, sudah seharusnya kita meminta maaf.
Kemenangan demi kemenangan yang kita dapat, jangan sampai membuat khilaf. Justru, harus membuat kita menjadi insaf. Bahwasanya waktu yang telah ditentukan akan segera tiba. Bersiaplah menuju hari pertemuan kita dengan Allah Ta’ala.
Ampunan Allah itu amat luas. Akan Dia berikan kepada siapa saja yang rajin bertasbih, bertahmid, dan beristighfar. Allah akan berikan taubat kepada mereka, ditambah dengan rahmat, dan taubat mereka akan dikabulkan oleh Allah. Inilah gambaran yang diberikan dalam Tafsir Al Muyassar.
Nabi Muhammad sendiri, sebagai Nabi yang mulia saja, tiap hari tidak kurang dari seratus kali beristighfar. Kita, umat yang banyak dosa ini, setidaknya sama atau sepantasnya lebih dari itu.
Terakhir, penaklukan kota Makkah memiliki banyak arti. Dahulu, orang-orang tidak mau masuk Islam, menghina Nabi, mencela Islam. Atau mungkin ada yang mau, namun takut karena tekanan para pembesar Quraisy. Akan tetapi, setelah pertolongan Allah datang, kemudian Makkah masuk ke dalam pangkuan Islam, semua menjadi berbalik. Orang-orang memasuki Islam secara serempak. Dari banyak kabilah dan terus menyebar ke berbagai penjuru. Kepala suku yang memasuki Islam, banyak yang diikuti oleh anggota sukunya.
Mengapa sampai terjadi yang demikian? Sebab Islam datang dengan wajah aslinya. Datang dengan damai, menjadi rahmat bagi semua.
Penaklukan Makkah jangan dilihat dengan kacamata peperangan. Tidak ada pertumpahan darah setetes pun, ketika Makkah ditaklukkan. Mereka yang menaklukan pun bukanlah pasukan perang. Namun pengikut Rasulullah yang hendak melaksanakan ibadah haji. Datang bukan dengan wajah sangar layaknya penakluk, namun dengan wajah bersahaja layaknya sahabat yang rindu dengan kawan lama.
Mereka, kaum muslim yang datang dari Madinah menuju Makkah, telah siap secara lahir dan batin. Selama di Madinah, mereka dididik dalam madrasah Rasulullah. Mereka juga meneladani kepribadian Nabi yang mereka lihat sendiri. Sikap Nabi Muhammad yang penyayang, mereka ikuti.
Hal inilah yang perlu kita teladani saat ini. Di tengah masyarakat dunia yang cenderung antipati terhadap Islam. Mereka membenci bukan karena Islam yang buruk. Akan tetapi, karena kesalahpahaman antara mereka dengan kita. Perilaku buruk seorang muslim, dapat mencoreng wajah Islam. Oleh karena itu, menjadi seorang muslim adalah sekaligus sebagai cerminan dari ajaran Islam.
Kita mesti mendalami terus ajaran Islam sembari meneladani sifat Nabi Muhammad. Insya Allah, secara perlahan, persepsi buruk orang lain terhadap Islam, atau bahkan mungkin orang Islam terhadap Islam sendiri, dapat berbalik. Minimal, dalam lingkungan terdekat kita. Jangan sampai ada yang Islamophobia.
Tentulah semua ini harus diiringi dengan permohonan yang tulus kepada Allah dan sikap rendah hati kepada sesama. Sebagaimana yang diteladankan dalam Surat ini beserta kisah di baliknya.
Semoga, kita dapat mengambil hikmah tersebut.
Daftar bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar (Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt)
Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Ash Shuyuthi. Tafsir Jalalain (Dar Ibn Katsir, tt.)
A. Thoha Husein Al Mujahid dan A. Atho’illah Fathoni Al Khalil. Kamus Al Wâfi: Arab Indonesia. (Jakarta: Gema Insani Press, 2016)
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal
M. Quraish Shihab. Al Qur’an & Maknanya. (Ciputat: Lentera Hati, 2013)


Leave a comment