Tadabbur Surat Al Kautsar

Published by

on

Al Kautsar.png

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ

إِنَّآ أَعْطَيْنَٰكَ ٱلْكَوْثَرَ (١) فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنْحَرْ (٢) إِنَّ شَانِئَكَ هُوَ ٱلْأَبْتَرُ (٣)

  1. Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak
  2. Maka laksanakanlah salat kepada Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah)
  3. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)

Apa itu “Al Kautsar”?

Secara harfiah, kita akan temukan akar kata Al Kautsar itu pada huruf ka, tsa, dan ra, yang artinya adalah banyak. Kemudian ia menjadi al kautsar, yang mengandung makna hiperbola, artinya ‘amat sangat banyak’. Karena itu, Al Kautsar dalam ayat ini dimaknai oleh ulama sebagai ‘nikmat yang banyak’.

Salah satu nikmat yang terbesar dari sekian banyak nikmat itu adalah, pemberian Allah kepada Rasulullah berupa ‘telaga Al Kautsar’ di surga kelak. Menurut Syaikh Al Utsaimin, siapa saja yang mengikuti syariat yang Rasulullah bawa, kelak ia akan mendapatkan bagian di telaga Al Kautsar itu. Sebab, air di telaga itu amatlah banyak.

Menurut Prof. Wahbah Az Zuhaili, dikatakan bahwa orang yang banyak berbuat baik dan banyak memberi, digelari ‘Kautsar’. Sementara itu, Nabi Muhammad sendiri akan mendapatkan pahala terbanyak di antara manusia lain, berdasar pada hadits, ‘barangsiapa yang mengajak pada suatu kebaikan, ia akan mendapatkan kebaikan serupa’.

Selain itu, makna lain dari Al Kautsar, menurut Syaikh Al Utsaimin, ialah kedudukan terpuji yang Nabi Muhammad dapatkan. Yakni, Allah memberikan kepada beliau syafaat yang dapat beliau beri kepada umatnya. Padahal, di hari akhir kelak, akan banyak umat manusia yang meminta syafaat kepada nabi yang lain. Dan para nabi itu, akan menunjuk untuk meminta kepada Nabi Muhammad saja.

Hikmah kehidupan

Surat ini mengandung beberapa hikmah yang dapat kita cermati bersama.

Pertama, Allah telah menyebut, secara khusus kepada Nabi Muhammad dan secara umum kepada kita semua, bahwa nikmat yang Allah beri amatlah banyak. Bahkan, dalam surat An Nahl disebutkan,

وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا إِنَّ اللَّهَ لَغَفُورٌ رَحِيمٌ

Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya. Sungguh, Allah benar-benar Maha Pengampun, Maha Penyayang.

An Nahl ayat 18

Nikmat Allah telah diberi kepada kita, mulai dari kita belum lahir, bahkan sampai di hari akhir. Mulai dari yang diminta, maupun yang diberi tanpa diduga. Kita, pasti, tidak akan pernah mampu menghitung dengan akurat, seberapa besar nikmat Allah yang diberikan kepada kita. Apalagi untuk membalasnya.

Untuk nikmat nafas saja, misalkan. Kita diberi oksigen secara gratis dan bebas untuk dihirup. Kita pun diberi hidung, yang dapat dengan mudah menghirup oksigen itu. Kita pun diberi atmosfer, yang meskipun kandungan Nitrogen lebih besar daripada Oksigen, dijadikan Oksigen itu lebih berat dari Nitrogen. Sehingga, di lapisan terbawah atmosfer tempat kita hidup, lebih banyak Oksigen daripada Nitrogen. Belum lagi kesegaran udaranya, kejernihan kandungannya, dan lain sebagainya. Untuk satu nikmat bernapas saja, kita tidak sanggup menghitungnya!

Perihal nikmat ini, Allah juga berfirman di surat Luqman yang semakin menunjukkan ketidakmampuan kita menghitungnya,

وَلَوْ أَنَّمَا فِى ٱلْأَرْضِ مِن شَجَرَةٍ أَقْلٰمٌ وَٱلْبَحْرُ يَمُدُّهُۥ مِنۢ بَعْدِهِۦ سَبْعَةُ أَبْحُرٍ مَّا نَفِدَتْ كَلِمَٰتُ ٱللَّهِ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ (٢٧)

Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan kalimat-kalimat Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa, Maha Bijaksana.

Luqman ayat 27

Lalu, setelah nikmat itu telah jelas kita dapatkan dengan berlimpah, dengan cara apa kita mensyukurinya?

Hikmah kedua, inilah petunjuk yang Allah beri sebagai sikap yang pantas kita lakukan setelah nikmat itu didapatkan, yakni mendirikan shalat dan menyembelih hewan qurban.

Dua hal yang menjadi perintah dalam hal ini. Shalat dan Qurban. Shalat merupakan ibadah kita secara individual kepada Allah swt. semata. Tidak boleh kita shalat kepada selain-Nya. Shalat wajib, sunnah, id, dan lainnya harus kita lakukan dengan ikhlas dan semata-mata karena mencari ridha dari Allah Ta’ala.

Kemudian, setelah kita diisi secara spiritual dan individual dengan shalat, kita pun perlu beribadah yang tidak hanya diri kita yang mendapatkan manfaat, namun masyarakat di sekitar. Itulah ibadah qurban.

Kita tentu akan menemukan, beberapa waktu sebelum hari raya Idul Adha, akan banyak imam yang membaca surat ini. Tentu, maksudnya ialah untuk mengingatkan akan syariat Qurban.

Ibadah qurban ini merupakan ibadah yang amat dahsyat. Di saat yang bersamaan, kita mendapat banyak pelajaran. Kita diajarkan untuk menyembelih qurban dengan dipersembahkan kepada Allah, bukan kepada dewa, patung, berhala, maupun benda lainnya. Tidak boleh juga menyembelih qurban untuk, misalnya, mengharap kelancaran pembangunan jalan, seperti dalam beberapa tradisi di masyarakat kita. Qurban hanya pantas dilakukan untuk Allah saja.

Selain itu, kita juga mengambil pelajaran dari kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Dari keduanya, kita mempelajari makna ketaatan, keikhlasan, dan pengorbanan dua orang mulia. Tak hanya itu, dari ibadah qurban juga, kita mengasah kepedulian sosial melalui pembagian daging qurban kepada orang-orang yang berhak. Kita diajarkan bahwa tidak boleh mementingkan perut sendiri. Ada perut orang lain, yang karena kemiskinan, bisa jadi amat jarang memakan daging. Di hari raya Idul Adha, kita berbagi dengan mereka.

Ketiga, hikmah yang dapat diambil ialah jangan sampai kita membenci Rasulullah maupun syariat yang beliau bawa. Dalam sebuah riwayat, disebutkan bahwa asbabun nuzul surat ini ialah ketika kaum kafir Quraisy banyak yang mencemooh nabi Muhammad lantaran semua anak laki-lakinya meninggal.

Dikisahkan dalam tafsir Al Azhar, bahwa Nabi Muhammad merasa sedih ditinggal semua anak laki-lakinya. Belum lagi ditambah cacian dari kaum kafir Quraisy. Mereka mengatakan, seiring dengan adat yang berlaku di masa itu, bahwa dengan ketiadaan anak laki-laki, akan terputuslah keturunan Nabi Muhammad. Dengan sendirinya, dalam asumsi mereka, akan terputus juga ajaran yang beliau bawa.

Seluruh dugaan ini, dibantah dalam surat Al Kautsar ayat ketiga. Kita bisa lihat, bahwa dakwah Nabi Muhammad Saw. tidak terputus, bahkan hingga kini dapat kita terima. Ajaran Nabi Muhammad Saw. pun tetap langgeng dan mendapat pengikut semakin banyak. Justru, kebencian merekalah yang membuat mereka terputus dari rahmat Allah.

Dari kisah ini, sebagian ulama, seperti Syaikh Al Utsaimin, melarang kita membenci Nabi Muhammad ataupun syariatnya. Kita dilarang, misalnya, membenci syariat shalat atau zakat. Sebab, dengan membenci syariat  tersebut, kita bisa saja sudah menjadi kafir, sekalipun kita tetap melakukannya. Karenanya, perlu kita perhatikan dengan seksama perihal masalah ini.

Kita dapat lihat dalam banyak kejadian di masa sekarang. Orang-orang yang membenci Nabi Muhammad, membenci Islam, membenci Al Quran, mungkin tetap ada. Ada yang berani membuat kartun yang menghina Nabi dengan dalih kebebasan berekspresi. Lihatlah akhir hidupnya, ia mati ditembak orang yang marah dengan sikap itu. Ada pula orang yang membakar Al Quran, ia pun mati dalam keadaan hangus terbakar. Sungguh, kebencian terhadap Islam, Nabi Muhammad, Al Quran, atau apa pun yang beliau bawa, hanya akan membuat sengsara si pembenci. Sementara orang yang senantiasa taat menjalankan, merekalah yang akan mendapat nikmat dan keberkahan. Baik di hari ini maupun di kehidupan yang akan datang.

Semoga, dari surat ini kita dapat ambil banyak sekali hikmah yang terkandung. Walau ia merupakan surat yang amat singkat, namun isinya sungguhlah melimpah. Inilah salah satu sisi kemenakjubkan dari Al Quran. Allahu Akbar!

 

Daftar bacaan

Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)

Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar (Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt)

Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Ash Shuyuthi. Tafsir Jalalain (Dar Ibn Katsir, tt)

A. Husein Al Mujahid dan A. Atho’illah Fathoni Al Khalil. Kamus Al Wâfi: Arab Indonesia. (Jakarta: Gema Insani Press, 2016)

Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal

 

Leave a comment