
بِسْمِ اللهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيْمِ
أَرَءَيْتَ ٱلَّذِى يُكَذِّبُ بِٱلدِّيْنِ (١) فَذٰلِكَ ٱلَّذِى يَدُعُّ ٱلْيَتِيْمَ (٢) وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ ٱلْمِسْكِيْنِ (٣) فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّيْنَ (٤) ٱلَّذِيْنَ هُمْ عَنْ صَلَاتِهِمْ سَاهُوْنَ (٥) ٱلَّذِيْنَ هُمْ يُرَآءُوْنَ (٦) وَيَمْنَعُوْنَ ٱلْمَاعُوْنَ (٧
- Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
- Maka itulah orang yang menghardik anak yatim
- Dan tidak mendorong memberi makan orang miskin
- Maka celakalah orang yang salat,
- (yaitu) orang-orang yang lalai terhadap salatnya,
- Yang berbuat riya,
- Dan enggan (memberikan) bantuan
Surat ini, menurut Hibatullah yang dikutip oleh Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, turun dalam dua tahap. Ayat pertama hingga ketiga, turun di periode Makkiyah yang menceritakan tentang kedustaan terhadap agama yang dilakukan oleh orang kafir. Sementara ayat keempat hingga akhir, turun dalam periode Madaniyyah yang menceritakan ciri kedustaan terhadap agama yang dilakukan oleh orang munafik. Adapun keseluruhan isi surat ini memberikan penjelasan kepada kita, bagaimana ciri mereka yang mendustakan agama.
Siapakah para pendusta?
Surat ini dibuka dengan sebuah pertanyaan yang menarik, “tahukah engkau, siapa itu orang yang mendustakan ad diin?”. Bila kita lihat, kata ad diin ini memiliki beberapa makna yang saling berkait. Pertama, ia mendustakan agama Islam, maksudnya ialah ajaran-ajaran di dalamnya. Kedua, ia mendustakan hari pembalasan (di Surat Al Fatihah juga digunakan maaliki yaumiddin), yang merupakan salah satu keimanan yang amat ditekankan. Ketiga, karena ia mendustakan (tidak percaya, menafikan) keberadaan hari pembalasan, maka ia tidak percaya akan adanya ganjaran terhadap kebaikan (pahala) maupun atas keburukan (dosa). Ketiga hal ini akan tecermin pada perilaku yang dijelaskan pada ayat-ayat berikutnya.
Para penghardik anak yatim, itulah yang pertama disebut sebagai pendusta agama. Dalam berbagai riwayat disebut, bahwa banyak orang kafir Quraisy yang tidak senang dengan keberadaan anak yatim. Mereka dianggap sebagai beban semata yang menyusahkan. Buya Hamka menyebut, bahwa diisyaratkan dari bunyi yadu’u ialah menolak anak yatim dengan amat sangat, pun disertai rasa benci.
Padahal, bagaimana mungkin sampai hati kita untuk bisa menghardik anak yatim, padahal Rasulullah sendiri pun yatim ketika beliau lahir? Rasulullah amat mencintai anak yatim, sebab beliau paham bagaimana kesedihan yang menimpa mereka. Beliau pun mencintai umatnya yang sayang kepada anak yatim. Disebut dalam sebuah hadits Nabi Muhammad Saw. bersabda,
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِى الْجَنَّةِ هكَذَ، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئاً
“‘Aku dan orang yang menanggung anak yatim, kelak di dalam surga seperti ini’, beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah beliau, dan beliau agak merenggangkannya”
Hadits Riwayat Bukhari
Hadits ini menjadi isyarat, bahwa amat dekat kedudukan orang yang mencintai, menyayangi, dan mengasihi anak yatim dengan beliau di surga nanti.
Kedua, orang yang mendustakan agama ialah mereka yang tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin. Menarik bila kita melihat redaksinya. Sebab, memang tidak semua orang mampu untuk memberi makan orang lain. Namun, tidak boleh kita berhenti sampai di situ. Bila kita tidak mampu, doronglah orang lain yang mampu untuk berbagi. Insya Allah, itu juga merupakan sebuah kebaikan.
Ketiga, disebut bahwa orang yang salat, termasuk golongan yang celaka. Maksudnya ialah orang yang lalai dalam shalat dan mengerjakannya karena mengharap pujian. Ayat ini mengindikasikan perilaku orang munafik yang cenderung malas dalam salat. Allah Swt. berfirman dalam ayat ke-142 surat An Nisa,
إِنَّ ٱلْمُنٰفِقِيْنَ يُخٰدِعُوْنَ ٱللّٰهَ وَهُوَ خٰدِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلٰوةِ قَامُوْا كُسَالىٰ يُرَآءُوْنَ ٱلنَّاسَ وَلَا يَذْكُرُوْنَ ٱللّٰهَ إِلَّا قَلِيْلًا (١٤٢)
“Sesungguhnya orang munafik itu hendak menipu Allah, tetapi Allah-lah yang menipu mereka. Apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka lakukan dengan malas. Mereka bemaksud riya (ingin dipuji) di hadapan manusia. Dan mereka tidak mengingat Allah kecuali sedikit sekali.”
An Nisa ayat 142
Ayat ini mengindikasikan kepada kita, bahwa ciri orang munadik bila hendak shalat ialah 1) bermalas-malasan, 2) hanya untuk dipuji, 3) hanya sesekali ingat kepada Allah. Lebih jauh lagi, Ibnu Katsir menjelaskan ciri orang yang lalai dalam shalatnya ialah 1) tidak mengerjakannya di awal waktu, sehingga selalu atau sering menunda di akhir waktu, 2) tidak melaksanakan rukun dan syarat shalat, (atau tidak dengan sempurna melaksanakannya), 3) tidak menjaga kekhusyu’an dalam shalat (tidak konsentrasi dan pikirannya melayang-layang), dan 4) tidak merenungkan makna dari bacaan shalat. Syaikh Al Utsaimin menambahkan ciri tersebut. Di antaranya, mereka yang tidak lurus dalam shaf shalat, tidak thuma’ninah, dan tidak memperhatikan keutamaan shalat.
Keempat, berbuat riya jika melakukan kebaikan. Riya artinya adalah ingin dilihat. Serupa dengannya ialah sifat sum’ah, yakni mengerjakan sesuatu kemudian menyebut-nyebutnya karena ingin didengar orang lain perbuatan baiknya. Dua sifat ini adalah sifat yang buruk. Para ulama menyebut bahwa riya merupakan perilaku syirik kecil, karena menyekutukan tujuan ibadah kepada selain Allah. Kelak, Allah tidak akan mempedulikan amalan yang tidak ditujukan kepada-Nya.
Kelima, orang yang enggan memberikan bantuan kepada mereka yang membutuhkan. Menurut Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, yang dimaksud dengan Al Mâ’un ialah sesuatu yang biasa dipinjam oleh tetangganya berupa peralatan memasak, peralatan berkebun, dan sebagainya. Maknanya, ialah sesuatu yang dianggap berguna bagi kehidupan orang lain. Bila ia enggan memberi karena misalnya, ia jijik dengan orang yang meminta bantuan, ia termasuk di dalam ayat ini.
Memberi bantuan hukum dasarnya ialah mubah. Namun ia bisa menjadi wajib bila orang yang dibantu amat membutuhkan. Misalnya, ada orang yang meminta diberikan air karena kehausan yang amat sangat. Bila tidak diberi, ia akan meninggal. Maka menjadi wajib bagi siapa pun orang yang memiliki air untuk membantunya.
Hikmah kehidupan
Dalam surat ini, ada banyak sekali hikmah yang perlu kita renungkan di dalam hidup ini. Pertama, sudah sejauh manakah komitmen kita terhadap agama? Apakah kita telah mengupayakan untuk menjalankan agama dengan sebaik-baiknya? Atau jangan-jangan, kita termasuk satu di antara lima kelompok pendusta agama tadi? Kita perlu sesekali merenungkan hal yang demikian.
Kedua, dalam hidup ini kita perlu menyeimbangkan antara optimisme dan kehati-hatian. Optimis merupakan sikap yang baik, namun jangan sampai membuat kita lupa untuk menjaga kehati-hatian. Terutama yang menyangkut perihal ibadah. Kita harus berupaya benar agar shalat kita diterima Allah. Jangan sampai shalat kita seperti orang munafik, yang digambarkan Rasulullah seperti burung yang mematuk-matuk. Shalatnya tanpa makna. Na’udzubillah.
Ketiga, kita perlu menyeimbangkan antara hubungan kita kepada Allah selaku hamba, dengan hubungan kita terhadap manusia lain selaku sesama hamba-Nya. Menjaga shalat merupakan kunci ibadah kepada Allah. Tidak cukup sampai di situ. Akan menjadi percuma, jika tidak diiringi dengan kepekaan sosial. Sebab, kita hidup pun memang dalam komunitas manusia lain. Tidak mungkin kita bisa hidup tanpa ulur tangan orang lain. Karenanya, kita perlu turun tangan membantu kesulitan orang lain.
Keempat, pada hakikatnya, apa pun yang kita lakukan di dunia ini, baik ibadah maupun hubungan sesama manusia, kita sedang “bertransaksi” dengan Allah. Berbuat baik kepada manusia, otomatis ia berbuat baik kepada Allah bila dijalankan dengan tulus ikhlas lillahita’ala. Sementara, bila kita menghardik anak yatim, kejam terhadap orang miskin, dan tidak peduli dengan sekeliling, itu alamat hubungan kita dengan Allah pun buruk. Karenanya, kita didorong untuk mengasah kepedulian terhadap sesama.
Terakhir, kita perlu memahami bahwa agama kita tidak melulu urusan ibadah ritual saja. Shalat memang penting, namun selain itu ada juga yang sama pentingnya. Menjaga hubungan baik kepada sesama perlu dijaga. Artinya, kita harus paham, tidak cocok jika dikatakan urusan agama hanya urusan privat saja. Sebab, Islam juga mengatur bagaimana hubungan baik kita pada sesama. Islam menghendaki adanya kebaikan dalam hubungan kepada Allah dan juga hubungan kepada sesama manusia. Keduanya ajaran Islam, sehingga dari sini dapat kita ambil simpulan, Islam memang memperhatikan segala aspek kehidupan.
Daftar bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016)
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal

Leave a comment