
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيمِ
لِإِيْلٰفِ قُرَيْشٍ (١) إِۦلٰفِهِمْ رِحْلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيْفِ (٢) فَلْيَعْبُدُوا۟ رَبَّ هٰذَا ٱلْبَيْتِ (٣) ٱلَّذِيٓ أَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ وَءَامَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ (٤)
- Karena kebiasaan orang-orang Quraisy
- (yaitu) kebiasaan mereka berpergian pada musim dingin dan musim panas
- Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah)
- Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan
Siapakah orang Quraisy?
Kaum Quraisy (قريش), menurut Jalaluddin Al Mahalli, merupakan sebutan untuk sebuah kabilah di Jazirah Arab keturunan Nadhar bin Kinanah. Menurut penjelasan dari Prof. Dr. Wahbah Az Zuhaili, penggunaan kata “Quraisy” adalah bentuk ta’dzim (pengagungan) kepada kabilah ini. Sebab, mereka memiliki banyak keutamaan. Di antara keutamaan kaum ini adalah,
Pertama, nama “Quraisy” sendiri berasal dari kata qarash yang artinya adalah hewan tunggangan yang sangat besar di laut. Hewan itu bisa makan, namun tidak bisa makan, bisa unggul, namun tidak bisa diungguli. Penisbatan itu merujuk pada sifat kaum Quraisy yang memang termasuk suku yang unggul. Mereka juga merupakan suku yang bersatu atas jasa dari Qushai bin Kilab, setelah sebelumnya terpecah belah.
Kedua, sebagaimana disebut dalam surat ini, mereka pandai berdagang. Ketika berada dalam musim dingin, mereka berdagang ke daerah Yaman. Di sana, mereka mendapat barang dagangan dari India, China, dan lainnya. Ketika musim panas, mereka ke Syam (sekarang Syiria), untuk mendapatkan berbagai hasil pertanian untuk kebutuhan pangan. Dengan kecerdasan dalam perdagangan ini, mereka dilimpahi harta.
Ketiga, mereka juga memiliki keutamaan, karena mereka tinggal di sekitar Ka’bah. Mereka kemudian menjadi pengurus yang memelihara Ka’bah. Di setiap musim haji, akan datang banyak peziarah yang menjalankan ibadah di Ka’bah, mengikuti sunnah ajaran Nabi Ibrahim. Ka’bah sendiri merupakan pusat peribadahan yang dibangun oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Bangunan ini selalu Allah lindungi dari segala kerusakan, termasuk ketika serangan dari tentara gajah raja Abrahah. Hal ini menjadikan tempat di sekelilingnya sebagai negeri yang aman.
Keseluruhan nikmat ini, harus menjadikan mereka yang mendapatkannya, untuk beribadah kepada Allah, Tuhan pemilik Ka’bah. Kalau saja mereka tidak tinggal di sekitaran Ka’bah, bisa jadi mereka tinggal di negeri yang banyak terjadi perang. Kalau saja mereka tidak ditakdirkan untuk menetap di Makkah, bisa saja mereka tidak memiliki keuntungan dari sisi perdagangan.
Beribadahlah kepada Allah! Bukan kepada Ka’bahnya! Kesalahan mereka pada masa itu ialah menjadikan berhala sebagai perantaraan ibadah kepada Allah. Inilah pangkal kesesatan dalam ibadah. Padahal, ibadah itu, menurut Ibnu Taimiyah, adalah sesuatu yang mencakup semua yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik perkataan atau perbuatan, baik ia tampak lahir maupun dalam batin. Dan, keridhaan Allah tidak akan terdapat pada cara peribadahan yang salah.
Ibadah inilah, wujud dari rasa syukur atas berlimpahnya rahmat dan kasih sayang-Nya kepada kita.
Hikmah kehidupan
Ada beberapa hikmah yang dapat kita petik dari surat ini.
Pertama, kita perlu mensyukuri segala nikmat yang Allah berikan kepada kita. Khususnya, tinggal di negeri yang aman, damai, sejahtera, dan kita bisa hidup bebas di sana. Negeri kita, Indonesia, telah Allah anugerahi nikmat syiar Islam yang sudah mengakar selama berabad-abad. Di negeri kita, sumber daya alam seolah tak habis sejauh mata memandang. Di negeri kita pula, masyarakat yang majemuk dapat hidup berdampingan dan bertali kasih. Ini semua adalah nikmat yang Allah beri.
Jika kita memahami nikmat yang ada, ingatlah sebuah kaidah, “Janganlah terpaku pada nikmat, tapi ingatlah siapa yang memberi nikmat”. Dari sini, timbullah pelajaran. Semua nikmat yang ada bukan menjadikan kita terlena, tetapi membuat kita insaf, kalau saja bukan karena kasih sayang Allah, kita tidak akan dilimpahi nikmat ini. Maka, beribadahlah kepada Allah semata, sebagai wujud syukur kita.
Kedua, dalam beribadah, jangan berlaku syirik. Kita harus beribadah dengan ikhlas, yakni murni sesuai petunjuk dari Baginda Rasulullah. Jangan membuat-buat ibadah yang tidak Rasulullah contohkan. Sebab, hukum asal ibadah adalah haram, kecuali yang diperintahkan. Jangan sampai, kita membuat ibadah baru, yang akhirnya menjadi bid’ah. Ketahuilah, bahwa perilaku bid’ah adalah kesesatan yang neraka menjadi ancaman.
Dalam beribadah pun, kita tidak memerlukan perantara. Salah satu sebab mengapa orang terdahulu membuat patung ialah karena menganggap patung-patung itulah yang menjadi perantara mereka dalam menyembah Allah. Ini adalah pangkal dari perilaku syirik.
Ketiga, nikmat yang telah diberikan, hendaklah kita jaga agar tidak berlalu begitu saja. Kita mendapat nikmat negeri yang aman, maka jagalah keamanan di negeri kita. Jangan berperilaku onar. Kita mendapat nikmat kebebasan dalam berdagang, maka jagalah dengan tidak berlaku curang. Kita mendapat nikmat kekayaan alam, maka jagalah agar tetap dirasakan oleh anak cucu di masa mendatang. Jangan kita rakus pada nikmat, sehingga tidak pernah merasa cukup dan akhirnya tidak bersyukur atas nikmat yang ada.
Inilah pangkal dari sikap kufur nikmat. Tersebab merasa nikmat ini sudah berlimpah, sampai-sampai lupa pada sang pemberi nikmat. Dikiranya usaha sendirilah yang mendatangkan nikmat. Syukurilah nikmat, dengan beribadah kepada Sang Pemberi Nikmat.
Daftar bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016)
Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar (Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt)
Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Ash Shuyuthi. Tafsir Jalalain (Dar Ibn Katsir, tt)

Leave a comment