
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيْمِ
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحٰبِ الْفِيْلِ (١) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِيْ تَضْلِيْلٍ (٢) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ (٣) تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِّنْ سِجِّيْلٍ (٤) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُوْلٍ (٥)
- Tidakkah engkau (Muhammad) perhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap pasukan gajah?
- Bukankah Dia (Allah) telah menjadiakan tipu daya mereka itu sia-sia?
- Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong
- Yang melempari mereka degan batu dari tanah liat yang dibakar (sijjiil)
- Sehingga mereka dijadikan-Nya seperti daun-daun yang dimakan (ulat)
Surat ini menceritakan sebuah peristiwa yang terjadi sebelum kelahiran Nabi Muhammad Saw., yang menurut sebuah keterangan, 50 hari sebelum beliau lahir. Kisah ini memberikan banyak pelajaran untuk kita. Sekaligus, memberikan penjelasan, bahwa sebelum Nabi Muhammad lahir, sudah Allah tunjukkan kekuasaan-Nya.
Siapakah Pasukan Gajah itu?
Surat ini mengisahkan penghancuran Allah atas tentara gajah. Tentu, kita akan bertanya-tanya, siapakah mereka? Atas sebab apa mereka dihancurkan Allah?
Pasukan gajah yang dimaksud ialah pasukan yang dipimpin oleh Abrahah, penguasa Yaman.
Pada suatu ketika, Abrahah yang beragama Nasrani hendak membangun gereja yang menjadi pusat ziarah. Ia ingin menyaingi kakbah di Mekkah. Dibangunlah gereja yang besar, megah, dan tinggi. Gereja itu dinamainya Al Qullais, sebab jika dipandang dari bawah, sampai-sampai peci (al qulansuwah) yang melihatnya jatuh, saking tinggi dan mewahnya.
Orang Quraisy, penduduk Mekkah, merasa terancam dengan keberadaan gereja itu. Mereka tidak senang dengan dibangunnya Al Qullais. Datanglah sekelompok orang Quraisy ke gereja itu dan mengotorinya dengan buang air besar di dalam.
Murkalah Abrahah. Ia merasa dihinakan oleh orang Quraisy. Kemudian, dia bertekad untuk membalas perbuatan mereka itu. Akan diserang kakbah oleh pasukan yang besar lagi tidak ada banding pada masanya. Disiapkannya pasukan yang terdiri dari bala tentara dan gajah yang besar-besar. Ada yang menyebut dua belas ribu jumlahnya. Dengan gajah terbesar yang dinaiki oleh Abrahah, dinamai ‘Mahmud’.
Dalam perjalanan, beberapa penguasa berusaha melawan. Seperti ada sekelompok orang di Yaman yang ingin menyerang di bawah pimpinan Dzu Nafar. Akan tetapi, ia kalah dan justru menjadi tawanan perang. Di daerah Thaif, mereka merasa takut, sehingga memilih bekerja sama dan menjadi penunjuk jalan ke Mekkah. Akhirnya, tibalah pasukan besar itu di Mekkah.
Di Mekkah, penduduk kota ketakutan mendengar kabar datangnya pasukan gajah. Mereka telah mencuri dua ratus unta milik Abdul Muthalib, seorang pembesar kota Mekkah, serta merampas harta-harta yang lain. Melihat pasukan yang terdiri dari ribuan gajah pun, membuat gentar hati penduduk Mekkah.
Ketika pasukan gajah telah mendekati Mekkah, mereka mengutus Hanatah al Himyari untuk memanggil tokoh Quraisy untuk menghadap Abrahah. Hanatah pun mendatanginya. Setelah disampaikan maksudnya, Abdul Muthalib menjawab, “Demi Allah, kami tidak akan melawannya. Kami tidak memiliki kekuatan untuk melawan. Ini adalah baitullah al haram, rumah Allah, dan kekasih-Nya, Ibrahim. Jika Dia (Allah) hendak melindunginya, maka memang rumah ini suci dan haram (diharamkan oleh Allah untuk dihancurkan oleh siapa pun). Dan jika Allah hendak membiarkan, maka kami pun tidak mampu membela rumah ini.”
Kemudian, Hanatah mengajak Abdul Muthalib untuk pergi ke Abrahah.
Ketika berjumpa dengan Abrahah di kemahnya, Abrahah merasa ada sesuatu yang menggerakkannya untuk menghormati Abdul Muthalib.
Abrahah pun bertanya kepada Abdul Muthalib, “Apa yang engkau inginkan dari kedatanganmu di sini?”
Abdul Muthalib menjawab, “kembalikanlah dua ratus unta yang engkau rampas dariku”
Terkejut Abrahah, dikiranya kedatangannya untuk mencegah penyerangan atas Mekkah. “apakah kamu hanya mau membicarakan tentang untamu? Bukan kakbah yang merupakan agamamu dan nenek moyangmu? Aku datang untuk menghancurkannya! Mengapa tidak engkau ingin membicarakan hal itu denganku?!”, Abrahah menanyakan dengan penuh heran.
“Aku adalah pemilik unta tersebut. Sedangkan Kakbah memiliki pemilik sendiri yang akan melindunginya dari seranganmu.”, jawab Abdul Muthalib.
“Dia tidak akan mampu mencegahku!”, jawab Abrahah dengan pongah.
“itu urusanmu”, jawab Abdul Muthalib kembali.
Kemudian, Abdul Muthalib kembali ke Mekkah. Ia berdoa di dekat kakbah, semoga Allah, Tuhan pemilik Kakbah, berkenan untuk melindungi dari serangan Abrahah.
Keluarlah Abdul Muthalib dan seluruh penduduk Mekkah. Mereka menuju sebuah bukit dan menunggu serangan itu terjadi.
Di hari penyerangan, pasukan mulai bergerak. Namun, gajah yang dibawa enggan bergerak. Mereka duduk dan tidak mau berdiri. Dibujuk hingga dipukul, tidak mau gajah itu beranjak.
Dicobalah untuk memutar haluan ke arah Yaman, mau gajah itu berdiri. Diputar kembali ke arah timur, gajah itu mau berjalan. Namun, jika diarahkan menuju Mekkah, gajah itu kembali duduk dan diam. Tidak mau bergerak.
Repotlah pasukan Abrahah. Di tengah situasi yang demikian, datanglah ribuan burung di udara mengarah ke pasukan Abrahah. Tiap burung membawa tiga buah batu dari tanah liat yang dipanaskan sehingga mengeras. Satu di paruh, dua di kaki. Dijatuhkan oleh burung-burung itu, batu yang panas ke pasukan Abrahah. Bahkan, menurut keterangan Ibnu Mas’ud, Allah mengirim angin sehingga jatuhnya batu itu semakin keras dan menimbulkan sakit yang luar biasa. Pasukan yang besar pun tunggang lantang karena dijatuhi batu yang amat panas.
Pasukan Abrahah kocar-kacir berlari tak karuan. Batu itu memberi rasa panas yang luar biasa. Ada yang berkata, yang terkena batu itu menjadi melepuh kulitnya seperti cacar. Ada pula yang menyebut, jika batu itu jatuh di kepala, tembus sampai ke dubur. Mereka merasakan sakit yang luar biasa. Hingga banyak yang mengalami cacat dan buta. Abrahah sendiri mati di tengah perjalanan ketika kabur, dengan keadaan dadanya terbelah.
Betapa kacaunya mereka saat itu. Hingga digambarkan oleh ayat terakhir di surat ini, laksana daun yang hancur dimakan ulat. Habis perlahan sambil menahan siksaan.
Kejadian itu amat diingat oleh penduduk Mekkah. Dikenallah tahun itu sebagai tahun gajah. Di tahun itu, lahirlah Nabi Muhammad Saw., yang juga merupakan cucu dari Abdul Muthalib, perwakilan Quraisy yang menghadap Abrahah.
Hikmah kehidupan
Kisah ini membawa beberapa hikmah bagi kita. Pertama, kedatangan Nabi Muhammad Saw. sudah memiliki tanda-tanda, bahkan sebelum beliau lahir. Inilah yang dinamakan irhash, yakni, kejadian luar biasa yang terjadi sebelum seorang nabi diutus. Rasulullah lahir di Mekkah yang telah selamat dari serangan pasukan gajah. Irhash lain yang Muhammad alami sebelum menjadi nabi, salah satunya, ialah jika berjalan selalu dilindungi awan yang teduh. Padahal, beliau hidup di lingkungan yang panas dan kering.
Kedua, Allah menunjukkan bahwa kota Mekkah adalah kota yang suci. Ia tidak mungkin diganggu oleh musuh Allah. Jikalau mereka hendak menyerang, Allah akan kirim pasukan-pasukan-Nya yang akan menghancurkannya. Disebutlah Mekkah itu satu dari dua al haramayn (satunya lagi ialah Madinah). Tempat teraman, dengan Allah sendiri yang memberi perlindungan. Siapa pun yang berusaha untuk menghancurkan, tunggulah, Allah akan hancurkan ia terlebih dahulu melalui siapa pun makhluk-Nya yang Dia perkenankan.
Ketiga, kesucian Mekkah perlu dijaga. Rasulullah diutus, salah satunya, ialah untuk mengembalikan Kakbah sebagai pusat penyembahan kepada Allah. Bukan penyembahan pada berhala yang dianggap perantara menuju Allah. Di saat fathu Makkah, hari pembebasan kota Mekkah, rasulullah bersabda,
اِنَّ اللهَ حَبَسَ عَنْ مَكَّةَ الْفِيْلَ، وَسَلَّطَ عَلَيْهَا رَسُوْلُهُ وَالْمُؤْمِنِيْنَ، وَ ِاِنَّهُ قَدْ عَادَتْ حُرْمَتُهَا الْيَوْمَ كَحُرْمَتِهَا بِالاَمْسِ، الَا فَيُبَلِّغِ الشَّاهِدُ الْغَاىِٕبَ
“Sesungguhnya Allah Swt. telah mencegah pasukan gajah untuk masuk ke Kota Mekkah. Dan Dia telah memberikan kekuasaan penuh atas kota Mekkah kepada Rasul-Nya dan kaum mukminin. Pada hari ini (fathul Mekkah) kehormatan Mekkah telah kembali seperti dahulu. Maka hendaknya orang yang hadir saat ini memberi tahu hal ini kepada orang yang tidak hadir”
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim
Keempat, kita diperintahkan untuk meneruskan penjagaan atas kesucian Kota Mekkah. Di sana, tidak diperkenankan membunuh, mencuri, dan tindakan yang tidak patut lainnya. Hingga saat ini, Mekkah Al Mukarromah senantiasa dijaga agar tidak diserang oleh siapa pun. Penguasa Islam yang Mekkah berada di wilayah kekuasaannya, akan selalu berupaya untuk menjaga kesucian Mekkah.
Terakhir, dari perenungan kita atas surat ini, menjadi motivasi bagi kita untuk mendalami sirah nabawiyah, sejarah kenabian Muhammad Saw. bahkan dari sebelum beliau lahir. Dari setiap langkah jejak kehidupan beliau, pastilah terdapat hikmah yang bisa diambil oleh kita, selaku umatnya yang senantiasa mencintainya. Bacalah sirah nabi, itulah jalan terbaik untuk meningkatkan kecintaan kita pada teladan abadi.
Daftar bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016)

Leave a comment