Ketika Abu Bakar Berpidato Menjadi Pemimpin Umat

Published by

on

Freedom-of-speech.jpg
sumber: soas.ac.uk

Ketika Rasulullah wafat, kalangan umat Islam menjadi kalut. Mereka tidak percaya, bahwa Baginda telah tiada. Kepergiannya amat ditangisi siapa pun yang memiliki benih iman di dalam dada. Sang manusia agung, yang tiap langkahnya ditiru dan pada semua sisi hidupnya menjadi pandu, kini telah pergi menghadap Ilahi.

Umar bin Khaththab tidak percaya. Ia marah pada siapa saja yang menyebut bahwa Nabi Muhammad telah wafat. Di tengah situasi yang demikian, datanglah Abu Bakar. Ia berkata pada Umar, “Berhentilah wahai Umar!”. Umar tidak peduli. Namun, orang-orang mendekati Abu Bakar.

Abu Bakar berkata, dengan sebuah perkataan yang menggetarkan setiap dada. “Wahai manusia! Barang siapa yang menyembah kepada Muhammad, maka ketahuilah, bahwa beliau telah tiada. Namun barang siapa yang menyembah kepada Allah, maka ketahuilah, bahwa Allah Maha Hidup! Dia tidak akan pernah mati!”

Abu Bakar menyambungnya dengan menyebut ayat ke-144 dari Surat Ali Imran,

وَمَا مُحَمَّدٌ إِلَّا رَسُولٌ قَدْ خَلَتْ مِن قَبْلِهِ ٱلرُّسُلُ ۚ أَفَإِي۟ن مَّاتَ أَوْ قُتِلَ ٱنقَلَبْتُمْ عَلَىٰٓ أَعْقَٰبِكُمْ ۚ وَمَن يَنقَلِبْ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ فَلَن يَضُرَّ ٱللَّهَ شَيْـًٔا ۗ وَسَيَجْزِى ٱللَّهُ ٱلشَّٰكِرِينَ (١٤٤)

“Dan tidaklah Muhammad itu melainkan hanyalah Rasul (yang membawa risalah kenabian), sungguh, telah berlalu sebelumnya rasul-rasul. Apakah jika ia wafat atau dibunuh, engkau akan berbalik ke belakang (murtad, keluar dari Islam)? Dan barang siapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudarat kepada Allah sedikit pun. Dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”

Ali Imran ayat 144

Semua orang terdiam. Seolah-olah ayat itu baru saja turun di hadapan mereka.

Umar pun turut diam. Ia jatuh tersungkur. Lemas tubuhnya dan ia pun baru tersadar. Nabi Muhammad benar-benar telah tiada.

***

Ketika Rasulullah wafat, maka diperlukan adanya penerus beliau dalam memegang tampuk kepemimpinan atas umat. Bermusyawarahlah para sahabat, baik dari Muhajirin (penduduk Mekkah yang hijrah ke Madinah) maupun Anshar (penduduk Madinah yang dengan ikhlas menjadi penolong para Muhajirin), di Saqifah Bani Saidah.

Orang Anshar ingin agar dari merekalah yang menjadi pemimpin. Diunggulkan nama Sa’ad bin Ubadah sebagai penerus kepemimpinan Nabi. Mereka merasa berjasa karena telah menolong hijrah Nabi dan para sahabat yang lain.

Dari kalangan Muhajirin, pun ingin dari mereka kepemimpinan itu. Abu Bakar, Umar bin Khaththab, dan Usaid bin Hudhair menjadi nama yang diunggulkan. Ketika situasi semakin alot, ada di antara mereka yang berpendapat, agar ada seorang pemimpin dari Muhajirin dan ada pula seorang dari Anshar.

Usul ini memicu konflik. Sebab, bila kepemimpinan terpecah, maka umat akan mudah terbelah. Ketika mereka ribut, Umar bin Khaththab mengambil tindakan cepat. Ia meminta kepada Abu Bakar, “Wahai Abu Bakar, Ulurkanlah tanganmu!”. Maka Abu Bakar pun mengulurkan tangan dan Umar membaiatnya menjadi pemimpin dari semua kalangan.

Para sahabat melihat kejadian tersebut. Diikutilah pembaiatan Abu Bakar oleh seluruh sahabat. Mereka akhirnya sepakat, Abu Bakar menjadi orang yang paling pantas untuk menjadi pemimpin di antara mereka.

Abu Bakar merupakan sahabat yang istimewa. Ketaqwaannya tiada banding, keimanannya tiada sanding. Beliau adalah seorang di antara assabiquunal awwaluun, sekelompok orang yang mula-mula memeluk Islam. Beliau adalah orang pertama yang membenarkan seluruh ucapan Nabi. Bahkan ketika yang dikatakan Nabi adalah sesuatu yang tidak mungkin jika ditelisik secara akal, yakni pada peristiwa Isra’ Mi’raj. Beliau adalah satu-satunya sahabat yang menjadi pengiring Nabi dalam perjalanan hijrah. Beliau adalah orang yang rela bersedekah dengan seluruh hartanya dan dengan tenang berkata, “cukuplah Allah dan Nabi yang menjadi penjaminnya”. Beliaulah sahabat yang paling utama, di antara sahabat-sahabat lainnya.

***

Seusai dibaiat, Umar bin Khaththab berpidato singkat, kemudian ia pun mempersilakan kepada Abu Bakar menyampaikan pidato pengangkatan sebagai khalifah.

Abu Bakar memberikan pidato. Ia memuji Allah, bershalawat kepada Nabi, dan menyampaikan pidato yang dicatat dalam tinta emas sejarah, sebagai pidato yang menunjukkan kualitas diri yang tiada tara,

اَمَّا بَعْدُ، اَيُّهَا النَّاسُ، فَإِنِّي قَدْ وُلِّيَتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ

Amma Ba’du. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya kalian telah memilih aku untuk menjadi pemimpin di antara kalian. Namun, aku bukanlah yang terbaik di antara kalian.

فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِيْنُوْنِي، وَ إِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُوْنِي

Maka, jika aku berbuat kebenaran, maka ikutilah aku. Dan jika aku berbuat salah, maka segeralah meluruskanku.

الصَّدْقُ اَمَانَةٌ، وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ

Berbicara akan kebenaran adalah amanah, dan bericara akan kedustaan adalah pengkhianatan.

وَالضَعِيْفُ فِيْكُمْ قَوِيٌّ عِنْدِيْ حَتَّى أُرِيْحَ عَلَيْهِ حَقَّهُ إِنْ شَاء اللهُ

Orang yang lemah di antara kalian bagiku adalah orang yang kuat di sisiku, hingga ia aku berikan haknya, Insyaa Allah

وَالْقَوِيُّ فِيْكُمْ ضَعِيْفٌ عِنْدِيْ حَتَّى آخُذَ الْحَقَّ مِنْهُ اِنْ شَاء اللهُ

Dan orang yang kuat di antara kalian, bagiku hanyalah orang yang lemah, sampai aku mengambil hak darinya, Insyaa Allah

لَا يَدَعُ قَوْمُ الْجِهَادَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ إِلَّا ضَرَبَهُمُ اللّٰهُ بِالذُّلِّ، وَلَا تَشِيْعُ الْفَاحِشَتُ فِيْ قَوْمٍ قَطُّ إِلَّا عَمَّهُم اللهُ بِالْبَلَاءِ

Bila sampai ada satu kaum yang meninggalkan jihad di jalan Allah, maka Allah akan menimpakan kehinaan kepadanya. Dan bila telah merebak di suatu kaum perzinaan, maka Allah akan menimpakan kekacauan dan bencana di tengah mereka.

اَطِيْعُوْنِيْ مَا أَطَعْتُ اللهَ وَرَسُوْلُهُ، فَإِذَا عَصَيْتُ اللهَ وَ رَسُوْلَهُ فَلَا طَاعَةَ لِيْ عَلَيْكُم

Taatilah diriku, sepanjang aku berada dalam ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya. Dan apa bila aku bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya, maka janganlah kalian taati aku

قُوْمُوْا إِلَى صَلَاتِكُمْ يَرْحَمُكُمُ الله

Tegakkanlah shalat, maka Allah akan merahmati kamu sekalian

 

***

Ada beberapa hikmah yang kita dapat petik dari kisah ini

Pertama, pidato Abu Bakar Ash SHiddiq ini menunjukkan pada kita, betapa tinggi kualitas beliau hingga memang pantas memegang jabatan khalifah Rasulullah, pengganti kepemimpinan Rasulullah. Beliau hanya ingin ditaati bila memang beliau berada dalam ketaatan pada Allah dan Rasulullah. Beliau minta diluruskan, ketika melenceng dari perintah Allah dan Rasulullah. Tidak lupa, bahwa beliau pun menjamin seluruh rakyat mendapat perlakuan adil. Dan dibalut jaminan tersebut dengan kata Insyaa Allah.

Tidak merasa sanggup, jika tanpa pertolongan Allah. Beliau pun tetap mengingatkan agar seluruh umat memiliki semangat jihad, menghindari maksiat, dan memotivasi agar senantiasa istiqomah dalam menegakkan shalat. Jika itu dijalankan, Insya Allah, tegaklah kebenaran dan diliputilah bumi dengan kasih sayang Allah.

Kini, adakah pemimpin yang berani berkata demikian ketika diangkat menjadi pejabat?

Kedua, para sahabat menganggap amanah menjadi pemimpin itu amatlah berat. Padahal, mereka ialah orang-orang yang ketaqwaannya jauh melebihi kita sekarang. Tapi, mereka tidak berlomba-lomba mempercantik diri dan menjatuhkan orang lain agar dipilih. Namun, ketika mereka terpilih, mereka tidak akan lari dari tanggung jawab. Melaksanakan sebaik-baiknya, meminta dukungan masyarakat, dan tetap mengharap moga-moga Allah meridhai pengabdiannya.

Ketiga, memang para sahabat sempat silang pendapat mengenai siapa yang pantas memimpin. Namun, mereka tidak berlarut dalam perbedaan pendapat. Tidak sampai mengangkat pedang hanya demi kekuasaan. Ketika ada yang sudah terpilih, mereka langsung membaiat. Tidak menjadi barisan sakit hati, dan mendukung khalifah yang sah tanpa mencaci. Beliau pun memposisikan diri sebagai pemimpin dari semua kalangan. Baik Muhajirin, Anshar, maupun kabilah-kabilah lain yang tersebar di berbagai penjuru. Inilah adab yang sudah mulai ditinggalkan pada masa kini.

Keempat, orang yang paling pantas menjadi pemimpin ialah yang memiliki komitmen tertinggi dalam menjalankan perintah Allah dan menaati Rasulullah. Abu Bakar merupakan orang dengan kualitas yang tertinggi dalam klasifikasi itu. Dan, terbukti, dalam masa kepemimpinannya, diberantas nabi-nabi palsu. Diperangi pembangkang zakat. Dan dirawat keimanan umat yang sempat down ketika ditinggal Nabi wafat. Beliau menjadi pemimpin di depan, yang tetap menjaga barisan sampai ke belakang, serta senantiasa menjadi teladan bagi umat sepanjang zaman.

Kiranya, itulah hikmah dari khalifah pertama umat, Abu Bakar Ash Shiddiq. Semoga, kita dapat meneladani kepemimpinan beliau, dan mendoakan, agar pemimpin kita di masa kini, menjadi taat pada Allah dan melayani rakyat dengan sebaik-baiknya.

Aamiin

 

 

Daftar Bacaan

Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah: tahqiq Ibnu Ishaq, penerjemah H. Samson Rahman, (Jakarta: Akbar Media, 2015)

Hamka, Sejarah Umat Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 2016)

Leave a comment