Umat Terbaik!

Published by

on

DSC_0914.JPG

Pernahkah kita memikirkan sejenak, mengapa sampai Allah Swt. Berfirman, bahwa kita adalah umat terbaik? Apakah titel sebagai umat terbaik itu diberikan secara Cuma-Cuma saja? Bukankah butuh perjuangan agar bisa sampai pada posisi terbaik? Lalu, mengapa pula seringkali umat Islam digambarkan tidak baik?

Seringkali, kita berpikiran bahwa menjadi sebuah umat yang terbaik ialah yang paling banyak menguasai dunia. Wilayahnya luas, ekonominya tumbuh, rakyatnya sejahtera, arsitekturnya indah, dan lain sebagainya. Memang, itu adalah sebagian dari tolok ukur majunya sebuah bangsa. Akan tetapi, akan sangat terbatas bila penilaian atas baik-tidaknya sebuah umat hanya dari indikator material saja.

Bagaimanakah Al Quran memberikan tuntunan?

Mari kita renungkan sejenak.

Dalam surat Ali Imran ayat ke-110, Allah swt. Berfirman yang menjadi dalil bahwa kitalah umat terbaik,

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِٱللَّهِ ۗ وَلَوْ ءَامَنَ أَهْلُ ٱلْكِتَٰبِ لَكَانَ خَيْرًۭ لَّهُم ۚ مِّنْهُمُ ٱلْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ ٱلْفَٰسِقُونَ (١١٠)

Kamu (umat Islam) adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, (karena kamu) menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik

Ali Imran ayat 110

Perhatikan ayat tadi, menjadi umat terbaik tidak ditentukan pada banyaknya bangunan yang dibangun, bukan pula pada kekayaan yang melimpah, tapi ada pada tiga indikator.

Pertama, menyuruh, menggerakkan, mengajak, dan menginisiasikan sesuatu yang ma’ruf. Apa itu ma’ruf? Secara bahasa, ia berakar dari huruf ‘ain, ra, dan fa, yang bisa berarti tahu dan dikenal. Maknanya, mengajak pada yang ma’ruf ialah mengajak orang lain agar lebih mengetahui hakikat dari hidup ini. Hakikat dari hidup itu ialah menjadi sebaik-baik hamba Allah Ta’ala, sebagaimana yang telah Allah firmankan di surat Adz Dzariyat ayat ke-56,

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ (٥٦)

Dan tidaklah Aku (Allah) ciptakan jin dan manusia, kecuali untuk beribadah kepada-Ku.

Adz Dzariyat ayat 56

Tujuan penciptaan kita ialah menjadi ‘abd, yang bisa diterjemahkan sebagai abdi atau hamba. Perbuatan seorang hamba kepada Allah sebagai Tuhannya ialah ibadah. Karenanya, kita didorong untuk menjadi sebaik-baik hamba dengan mengikuti berbagai ibadah yang Allah perintahkan. Tidak cukup sampai di situ, kita pun diharapkan dapat menjadikan seluruh aktivitas di kehidupan ini menjadi bernilai ibadah.

Lalu, bagaimana agar bisa bernilai ibadah?

Rumusan sederhana agar segala aktivitas kita bernilai ibadah ialah lillahita’ala. Semuanya ditujukan kepada Allah semata. Kita belajar, misalnya, perlu diniatkan agar memperluas cakrawala berpikir dan mengayakan khazanah pengetahuan yang semuanya datang dari Allah. Memikirkan pada tiap sisi penciptaan, baik alam semesta, diri manusia, maupun interaksi sesama manusia atau antara manusia dengan alam, semua perlu dipahami agar kita bisa mengerti bagaimana seharusnya kita bertindak. Dengan begitu, hasil dari belajar tidak hanya kecerdasan semata, namun juga laku insaf, bahwa kita hanya hamba Tuhan yang tiada daya dan upaya, melainkan pemberian-Nya semata.

Kembali lagi ke ma’ruf tadi. Mengajak pada yang ma’ruf bukan hanya pada tujuannya saja yang harus baik. Namun, cara-cara yang digunakan pun haruslah baik. Dari ma’ruf, kita juga akan temukan ‘urf yang memiliki akar kata yang sama. Arti ‘urf ialah adat, istiadat, dan kebiasaan masyarakat. Mengajak pada kebaikan perlu memperhatikan kondisi sosial kemasyarakatan di sekitar kita.

Mengajak pada kebaikan, tidak boleh dengan cara yang tidak baik. Tidak dikatakan sebuah kegiatan itu mengajak pada kebaikan, jika misalnya, cara yang digunakan ialah pemaksaan. Kita akan temukan pada kisah Nabi Muhammad, pada orang-orang yang berkeras hati menentang beliau pun, baginda Nabi masih mengedepankan akhlak yang baik. Tidak lantas yang mengejek nabi dibalas dengan ejekan, tapi dengan senyuman. Dari kesantunan nabi itulah, dalam berbagai kesempatan, hidayah Allah didapatkan.

Sudah tentu, hal semacam ini tidak boleh kita lewatkan. Sebab, banyak orang yang tujuannya sudah baik, yakni mengajak manusia pada kebenaran. Tetapi, karena cara yang digunakannya tidak baik, cenderung memusuhi, dan bahkan menyakiti orang lain, justru orang lain menjauh dari kebaikan. Bisa saja dia sudah ingin ikut pada kebenaran, tetapi, karena yang mengajaknya tidak beretika, dia akan menjauh dari kebenaran.

Ciri kedua, ialah mencegah kemungkaran. Secara bahasa, munkar yang berakar dari huruf na, kaf, dan ra artinya ialah sesuatu yang dibenci. Sesuatu yang dibenci itu harus sesuai dengan petunjuk dari Allah. Bisa juga, sesuatu yang dibenci itu datang dari kebiasaan masyarakat. Yang harus didahulukan, ialah sesuatu yang dibenci sebagaimana yang Allah tunjuki. Kemudian, apa yang masyarakat benci, sejauh tidak bertentangan dengan pedoman dari Allah.

Maknanya, menjadi umat terbaik haruslah didorong dengan semangat mencegah sesuatu yang dibenci itu datang ke tengah masyarakat. Misal, bencinya masyarakat Indonesia pada korupsi perlu kita sambut dengan kampanye antikorupsi sembari pembiasaan sikap sadar hukum. Ini merupakan contoh dari upaya mencegah kemungkaran.

Tetapi, bila misalnya, ada sesuatu yang Allah benci tetapi dicintai masyarakat, misalnya ada sekelompok orang yang suka dengan menikahi sesama jenis, kita perlu perjuangkan agar masyarakat itu tidak lagi menyukai hal tersebut. Berikanlah pemahaman bahwasanya perilaku itu sesuatu yang tidak baik. Ditinjau dari segi kesehatan, bisa memicu HIV/AIDS. Ditinjau dari sisi kemasyarakatan, bisa membahayakan keturunan manusia. Lebih-lebih ditinjau dari sisi keagamaan, hal itu jelas-jelas dilarang Allah dan Rasulullah. Maka, daripada kita mengundang keburukan yang lebih besar, lebih baik perilaku itu ditinggalkan.

Sementara itu, sesuatu yang paling dibenci oleh semua orang, pastilah neraka. Tidak ada seorang pun yang mau memasukinya. Karena itu, kita cegah saudara-saudara kita, agar jangan sampai mereka malah menuju jalan ke neraka. Sebab, bisa jadi, ada orang yang kurang memahami bahwa jalan yang sedang ia tempuh menuju pada neraka. Maka dari itu, cegahlah ia sebagai bentuk kasih sayang kita kepadanya.

Mencegah sebuah kemungkaran tentunya tidak boleh dengan cara yang sama-sama mungkar. Misalnya, memberantas perzinahan dengan membunuh orang-orang yang terlibat. Sebab, bisa jadi, dia suatu saat akan mendapat hidayah untuk bertaubat. Mencegah kemungkaran, lagi-lagi, memerlukan perilaku yang arif dan bijak.

Ciri pertama dan kedua ini, pada hakikatnya, ialah inti daripada perintah dakwah. Mengajak, menyeru, dan membawa manusia pada jalan Allah.

Ketiga, inilah syarat yang terpenting, yakni beriman kepada Allah. Tidak mungkin Allah memberikan titel “umat terbaik” itu bila orang-orang di dalamnya ingkar kepada Allah. Beriman kepada Allah saja pun tidak cukup, harus diiringi dengan ketaatan pada perintah-Nya dan berupaya dengan sungguh-sungguh untuk menghindari sesuatu yang dilarang-Nya.

Iman artinya ialah at tashdiiq, pembenaran atau mengakui sesuatu sebagai sebuah kebenaran. Keimanan ini harus dilakukan secara harmonis oleh hati, lisan, dan perbuatan. Tidak bisa disebut beriman bila ia hanya mengaku beriman, tapi sikapnya mengatakan sebaliknya. Perkara hati, memang hanya Allah yang tahu. Namun lazimnya, sikap keseharian adalah cerminan dari apa yang terdapat di dalam hati setiap insan.

Mengapa iman menjadi amat penting?

Sebab, bila kita pinjam istilah Buya Hamka, itulah pangkal tempat bertolak, labuh tempat bersauh. Orang yang beriman akan menjadikan segala aktivitasnya ditujukan kepada Allah. Membantu sesama bukan karena ingin dipuji, namun karena itulah yang Allah perintahkan. Menyelamatkan saudaranya bukan karena mau dibalas budi, namun karena ia yakin Allah akan membalas segala kebaikan hamba-Nya. Ia akan berhati-hati menjalani kehidupannya agar tidak sampai menerabas rambu-rambu dari Allah. Sikap takwa akan tumbuh dari pribadi yang beriman.

Tapi, coba kita perhatikan lagi. Mengapa dilanjutkan dengan penjelasan “Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Di antara mereka ada yang beriman, namun kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. Memang ada apa dengan ahli kitab?

Ahli kitab lazim kita ketahui sebagai penganut Yahudi dan Nasrani. Mereka disebut akan menjadi lebih baik, dan itu adalah sebuah kepastian, jika saja mereka mau beriman. Sebab, sebagaimana Nabi Muhammad pernah menuturkan,

والذي نفس محمد بيده لا يسمع بي أحدمن هذه الأمة يهودي ولانصراني ثم يموت ولم يؤمن بما أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

Demi zat yang jiwa Muhammad berada dalam genggaman kuasa-Nya (Allah), tiada seorang pun dari umat ini yang mendengarkan seruangku, baik Yahudi maupun Nasrani, tetapi ia tidak beriman kepada apa yang aku sampaikan, kemudian ia mati, melainkan ia merupakan penghuni neraka

Hadis Riwayat Muslim

Hadits ini menegaskan bahwa orang Yahudi dan Nasrani pun, bila mereka mau menggunakan akal sehatnya, pastilah ia akan menjadi beriman. Sayangnya, mereka lebih mengedepankan nafsunya sehingga apa yang Nabi Muhammad sampaikan, mereka ingkari. Oleh karena itu, dari ayat ini, kita pun diharapkan tidak mengikuti jejak mereka yang tidak mau beriman. Kita yang sudah mengaku beriman ini, berjuanglah agar iman kita tidak sampai lepas, apalagi pergi meninggalkan kita.

Namun, hal ini bukan berarti kita bebas saja menghukumi orang yang belum beriman pasti masuk neraka. Sebab, setiap orang masih memiliki kesempatan untuk beriman, selama hayat masih dikandung badan. Maka dari itu, jadilah umat terbaik, yang mengajak mereka pada iman dan mencegah mereka dari perilaku kemungkaran.

Sebagai sebuah penutup, coba kita ulangi lagi tadabbur kita pada ayat tadi. Kita didorong untuk terus berjuang, berusaha, dan berupaya. Tidak mungkin kita dilabeli umat terbaik jika hanya duduk berpangku tangan sembari mengaku-ngaku kitalah yang terbaik. Perlu sebuah upaya, dengan segala yang kita bisa, untuk menjadi umat terbaik itu. Dan, perhatikanlah, bahwa umat terbaik pada dasarnya ialah mereka yang bersungguh-sungguh dalam mengupayakan kebaikan.

Coba kita renungi lagi. Kita sudah dijamin menjadi umat terbaik, namun kita harus akui bahwa kita pun belum sepenuhnya menjalankan syarat menjadi umat terbaik. Di sisi umat Islam, belum sepenuhnya menunjukkan kepribadian Islami. Jangan sampai, kita hanya bangga dengan label Islam, namun belum menjalankan nilai-nilai keislaman tersebut.

Semoga, kita mampu menjalankan amanah untuk menjadi umat terbaik. Dan, di akhirat nanti, kita akan diberikan ganjaran, sebab kita telah mau berusaha menjadi sebaik-baiknya umat.

Wallahu a’lam

 

Daftar Bacaan

Jalaluddin Ash Shuyuthi dan Jalaluddin Al Mahalli, Tafsir Jalalain

HAMKA, Tafsir Al Azhar Jilid 2, (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)

A. Thoha Husein Al Mujahid dan A. Atho’illah Fathoni Al Khalil, Kamus Al Wafi, (Jakarta: Gema Insani Press, 2016)

https://muslim.or.id/19330-ahlul-kitab.html

https://muslimah.or.id/7109-2-tujuan-penciptaan-manusia.html

 

 

Leave a comment