Tadabbur Surat Al ‘Ashr

Published by

on

Al Ashr.png

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمٰنِ ٱلرَّحِيْمِ

(وَالْعَصْرِ (١) إِنَّ ٱلْإِنسٰنَ لَفِىْ خُسْرٍ (٢) إِلَّا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا۟ وَعَمِلُوا۟ الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا۟ بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣

  1. Demi masa
  2. Sungguh, manusia berada dalam kerugian,
  3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.

Surat ini amat singkat, hanya 3 ayat. Tetapi, banyak sekali kandungan yang didapat jika kita mau renungkan. Imam Syafi’i pernah berkata, “Jikalau Allah menurunkan hujjah kepada hamba-Nya, tentu surat ini sudah mencukupinya”.

Para sahabat pun memahami keutamaan surat ini. Dalam sebuah hadits riwayat At Tabrani, disebutkan bahwasanya jika dua sahabat nabi bertemu, mereka tidak akan berpisah sebelum salah satu atau keduanya membaca surat ini. Barulah mereka berpisah dan mengucap salam. Inilah salah satu tradisi yang sering kita lakukan pada akhir majlis atau pengajian.

Muhammad Abduh memberikan keterangan, bahwa membaca surat Al Ashr ini tidak hanya untuk mengharap berkah dari surat ini. Akan tetapi, menjadi sebuah peringatan agar mereka saling berpesan dan menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.

Apa itu Al-Ashr?

Allah bersumpak demi “al ‘ashr”. Ini menunjukkan bahwa ada keajaiban yang Allah tampakkan dalam “al ‘ashr” itu. Apakah sebenarnya “al ‘ashr” itu?

Secara umum, setidaknya terdapat dua pendapat dari kalangan ahli tafsir atas makna al ‘ashr. Pendapat pertama, mereka berpendapat bahwa al ‘ashr merujuk pada waktu setelah siang hingga matahari tenggelam. Dengan kata lain, ialah waktu asar. Menurut keterangan dari Muhammad Abduh dalam Tafsir Al Azhar, disebutkan bahwa dalam tradisi masyarakat Arab, pada waktu asar itu mereka sering mengunakannya untuk berbincang-bincang, berdiskusi, dan sebagainya. Sayangnya, bincang-bincang itu tidak jarang justru menimbulkan permusuhan, karena tidak terjaganya lisan. Karenanya, banyak orang yang mengutuki waktu asar.

Nah, sifat itu kemudian ditegur bahwa bukan waktunya yang salah, namun cara orang yang mengisi waktunya itu yang salah. Apalagi, shalat asar itu pun memiliki banyak keistimewaan. Di antaranya, shalat asar ini disebutkan dalam Al Quran secara spesifik, yakni shalat al wustha, shalat pertengahan di surat Al Baqarah ayat 238.

Pendapat kedua, al ‘ashr itu merujuk pada masa secara umum, atau disebut juga ad dahr. Waktu senantiasa manusia lalui, semenjak lahir, dewasa, menua, hingga tiada. Ayat ini menjadi dalil mengenai kemuliaan dan pentingnya waktu. Sebab, ada banyak manusia yang lalai karenanya. Ia menjadi satu di antara dua nikmat yang manusia yang seringkali abai terhadapnya. Ketika waktu hidup telah menipis, barulah mengalir tangis. Untuk apa sajakah waktu itu dilalui.

Pentingnya waktu itu dikuatkan juga dalam sabda Rasulullah Saw.

لَا تَسُبُّوْا الدَّهْرَ، فَاِنَّ الله هُوَ الدَّهْرُ

Janganlah kalian mencela waktu (ad dahr), karena sesungguhnya Allah adalah (yang menguasai) waktu

Hadis Riwayat Muslim

Keajaiban waktu

Penyebutan sumpah Allah atas al ‘ashr, yakni waktu, masa, atau saat, tentunya memiliki berbagai hikmah di dalamnya. Ada suatu hal yang menakjubkan sampai-sampai ia menunjukkan sesuatu yang amat penting. Di antaranya, dapat kita telisik dari berbagai khazanah keilmuan.

Pertama, di dalam ilmu fisika, kita akan menemukan bahwa waktu adalah satu bentuk dimensi. Di fisika, ada dimensi waktu (time), tempat (length), dan massa (mass). Ia menjadi syarat suatu materi dapat disebut sebagai benda.

Kedua, di dalam ilmu kebumian, kita dapat menemukan berbagai dimensi waktu yang menjadi pembagian kehidupan makhluk hidup di muka bumi. Dari zaman prekambium hingga zaman antopocene saat ini, semua terikat dalam dimensi waktu. Kita akan memahami, bahwa kehidupan di muka bumi ini akan terus berubah seiring dengan waktu.

Jutaan tahun yang lalu, mungkin bumi masih belum layak ditinggali. Daratan dan lautan masih belum terbentuk secara sempurna. Kini, kita dapat tinggal di bumi dengan nyaman. Sebab, berbagai proses itu telah mencapai kematangan. Nanti, akan tiba masanya bahwa bumi sudah mencapai fase akhirnya. Hingga Allah hancurkan dalam peristiwa Hari Kiamat.

Ketiga, dalam ilmu sejarah, kita akan temukan berbagai peristiwa dalam kehidupan manusia. Dari sejarah pada masa kuno, kita temukan peradaban Yunani, Mesir kuno, Mesopotamia, Aztec, dan sebagainya. Kemudian masuklah manusia pada masa kerasulan Nabi Muhammad saw., teranglah dunia dengan iman dan ilmu. Sementara, di negeri Barat, mereka mengalami masa kegelapan. Sebab agama hanya menjadi dogma, dan ilmu dienyahkan dari pemikiran.

Perjalanan sejarah manusia pun terus berlanjut. Dunia Barat mengalami pencerahan, sementara belahan bumi lain merasakan pahitnya penjajahan. Di abad ke-20, muncul perang-perang dahsyat yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Sementara, muncul pula arus kebangkitan melawan penjajahan. Teknologi berkembang pesat, manusia semakin terhubung satu dengan yang lainnya. Kini, masuklah kita pada masa teknologi informasi, globalisasi, dan yang sedang populer kini, era disruptive.

Semua perjalanan sejarah itu kembali menunjukkan pada kita, bahwasanya manusia terus berkembang kehidupannya. Jika dahulu orang berkirim pesan melalui asap, kini kita tinggal mengirimnya lewat aplikasi WhatsApp. Jika dahulu orang berperang menggunakan pedang, kini kita merasakan perang yang tidak kelihatan.

Lihatlah, perhatikanlah itu semuanya!

Ada banyak sekali hikmah yang bisa kita ambil dari pengamatan kita atas masa. Pertama, kita akan melihat bahwasanya ‘masa’ adalah makhluk Allah yang powerful. Kita hidup di atasnya, dan kita berakhir pun di atasnya. Namun, kita lihat bahwa Allah tidak terikat oleh masa. Sebab, Allah tidak memerlukan masa yang notabene adalah makhluk-Nya. Inilah hakikat dari dua sifat Allah. Allah itu Qadim, yang ada tanpa permulaan, dan Baqa, yang ada tanpa akhiran.

Kedua, bila kita telah insafi bahwa hidup kita berjalan di atas ‘masa’, maka perhatikanlah diri kita. Apa yang kita isi di dalam ‘masa’ itu? Sudahkah ‘masa’ itu termanfaatkan demi kemaslahatan? Siapkah kita dimintai pertanggungjawaban atas ‘masa’ yang sudah kita lalui semua? Dan ketika ‘masa’ itu telah mencapai batas akhir, siapkah kita menghadapinya?

Maka, pantaslah jika manusia dikatakan merugi!

Lihatlah dengan seksama, bukankah ketika ‘masa’ terus berjalan, ‘usia’ kita pun turut berkurang? Jika berkurangnya usia itu adalah kepastian, bukankah lebih pantas bagi kita melakukan persiapan?

Agar tidak merugi

Jika manusia itu sungguh-sungguh berada dalam kerugian, bagaimana agar kita tidak mengalami kerugian itu? Bukankah tidak ada yang mau merugi?

Ada empat langkah agar manusia tidak merugi.

Pertama, beriman. Inilah modal dasar agar kita tidak mengalami kerugian. Iman ialah tashdiq, pembenaran yang dilakukan oleh hati, lisan, dan perbuatan. Iman adalah sebuah kepercayaan. Ia tertanam dan menghujam dalam lubuk hati di setiap insan. Jika ada yang tidak mau beriman, maka ia meyakini ketidakpercayaan. Itu pun sebuah keyakinan, namun bukan keyakinan yang dimaksud dengan keimanan ini.

Iman paling awal ialah kepada Allah. Itulah yang Buya Hamka katakan sebagai ‘pangkal tempat bertolak dan labuh tempat bersauh’. Ialah permulaan atas segala kebaikan, dan tujuan pula atas segala kebaikan.

Kedua, beramal shaleh. Inilah cerminan dari iman. Tidak bisa dikatakan beriman jika perbuatannya tidak baik. Rasulullah Saw. Bersabda dalam sebuah hadits,

مَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أَو لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ وَاْليَومِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ، ومَنْ كَانَ يُؤمِنُ بِاللهِ واليَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka berkatalah yang baik atau diam. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka janganlah ia menyakiti tetangganya. Dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka muliakanlah orang-orang yang lemah

Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim

Lihatlah apa yang Nabi sabdakan, bukankah berbuat kebaikan itu adalah buah dari keimanan? Dan tidak bisa jika dikatakan ia beriman namun sikapnya tidak menunjukkan cerminan. Karena itu, bila kita telah mengaku beriman, buktikanlah dengan perbuatan yang penuh kebajikan.

Ketiga, saling menasihati dalam kebenaran. Kebenaran ialah lawan dalam kebathilan. Menasihati dalam kebenaran pada dasarnya adalah untuk menaati al Haqq, yakni Allah Ta’ala. Amar ma’ruf nahi munkar pun pada intinya adalah mengajak manusia untuk menjadi pribadi yang berjalan di atas kebenaran. Kebenaran yang Allah kehendaki atasnya.

Terakhir, saling menasihati dalam kesabaran. Sabar ialah kunci datangnya pertolongan. Di dalam surat Al Baqarah ayat 153,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ (١٥٣)

Wahai orang-orang yang beriman, minta tolonglah engkau dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya, Allah bersama dengan orang-orang yang bersabar

Al Baqarah ayat 153

Perhatikanlah, bahwa Allah menjadikan sabar bersama shalat kunci menuju pertolongan dari Allah. Kesabaran ini perlu diaplikasikan dalam banyak sisi kehidupan. Menurut para ulama, sabar itu setidaknya dalam tiga keadaan. Sabar dalam menjalani ketaatan, sabar meninggalkan kemaksiatan, dan sabar dalam menerima takdir ketetapan. Baik atau pun buruk, semua takdir pada hakikatnya ialah ujian. Karenanya, bersabar adalah sebuah keharusan dalam menjalaninya.

Wallahua’lam

 

 

Daftar Bacaan

Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)

Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016)

Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. (Bandung: Mizan, 2014)

Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar (Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt)

Jalaluddin Al Mahalli dan Jalaluddin Ash Shuyuthi. Tafsir Jalalain (Dar Ibn Katsir, tt)

Leave a comment

Previous Post
Next Post