
Saat dulu saya menunggu hasil pengumuman seleksi masuk perguruan tinggi, menunggu sebulan hasilnya setelah ujian. Semua seolah tidak pasti. Siswa SMA sudah bukan, mahasiswa masih belum. Status tidak jelas. Ditanya tetangga, bingung ingin menjawab apa. Kuliah belum, sekolah sudah lulus. Memang, menunggu adalah hal yang tidak mengenakkan. Siapa yang mau disuruh menunggu lama?
Itu barulah menunggu di dunia. Rupanya, akan ada masa menunggu yang paling menyiksa. Nanti, di akhirat kelak.
Mari kita tadabburi surat Al A’raaf ayat 46-49
وَبَيْنَهُمَا حِجَابٌۭ ۚ وَعَلَى ٱلْأَعْرَافِ رِجَالٌ يَعْرِفُونَ كُلًّۢا بِسِيمَىٰهُمْ ۚ وَنَادَوْا۟ أَصْحَٰبَ ٱلْجَنَّةِ أَن سَلَٰمٌ عَلَيْكُمْ ۚ لَمْ يَدْخُلُوهَا وَهُمْ يَطْمَعُونَ (٤٦) وَإِذَا صُرِفَتْ أَبْصَٰرُهُمْ تِلْقَآءَ أَصْحَٰبِ ٱلنَّارِ قَالُوا۟ رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا مَعَ ٱلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ (٤٧) وَنَادَىٰٓ أَصْحَٰبُ ٱلْأَعْرَافِ رِجَالًا يَعْرِفُونَهُم بِسِيمَىٰهُمْ قَالُوا۟ مَآ أَغْنَىٰ عَنكُمْ جَمْعُكُمْ وَمَا كُنتُمْ تَسْتَكْبِرُونَ (٤٨) أَهَٰٓؤُلَآءِ ٱلَّذِينَ أَقْسَمْتُمْ لَا يَنَالُهُمُ ٱللَّهُ بِرَحْمَةٍ ۚ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ لَا خَوْفٌ عَلَيْكُمْ وَلَآ أَنتُمْ تَحْزَنُونَ (٤٩)
Ayat ini menceritakan perihal kejadian di hari akhirat kelak. Ketika manusia hanya akan terbagi menjadi dua kelompok saja. Kelompok pertama ialah mereka yang akan berwajah gembira dan berhati riang. Timbangan kebaikan mereka melebihi berat keburukan mereka. Itulah kelompok ahli surga. Kelompok kedua ialah mereka yang bermuka muram berhati kusut. Timbangan amal buruk mereka lebih berat dibandingkan kebaikannya. Merekalah ahli neraka.
Di antara keduanya, terdapatlah sekelompok orang. Timbangan buruk dan baik mereka sama. Mereka akan menunggu keputusan di waktu yang tidak dipastikan. Selama menunggu ini, mereka ditempatkan di atas Al A’raaf, yakni benteng (atau pembatas) yang tinggi dan besar yang terletak di antara surga dan neraka. Sehingga, mereka dapat menengok keadaan para penghuni di kedua tempat tersebut.
Bayangkan. Mereka mampu melihat surga beserta segala nikmatnya, namun mereka belum boleh menggapainya. Sementara itu, mereka juga bisa melihat neraka dengan semua siksanya, dan itulah yang selalu meneror mereka karena siksaan yang sedemikian dahsyatnya. Tapi, nasib mereka tidak jelas. Surga belum didapat, neraka pun mengancam.
Itulah masa menunggu yang amat menyiksa.
Mereka menunggu bukan karena Allah tidak mampu menimbang amal mereka pada saat itu. Allah Maha Suci dari segala ketidakmampuan. Akan tetapi, Allah memberikan pelajaran sebagai balasan, akibat kesalahan yang telah mereka perbuat di dunia. Maka, keputusan itu pun sengaja Allah tangguhkan.
Saat mereka menengok ke ahli surga, mereka akan iri. Berkatalah mereka pada para penghuni surga, “salam sejahtera padamu sekalian”.
Lalu, ketika dipalingkan pada wajah-wajah penduduk neraka, ngerilah mereka. Siksa demi siksa terdapat di dalam neraka. Tiada seorang pun yang bisa lari daripadanya. Mereka hanya mampu berucap, “Duhai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami bersama dengan kaum yang zhalim”. Amat takut mereka bila nanti putusannya justru menghukumi mereka menjadi penghuni neraka.
Di kala itu, berkatalah para penduduk Al A’raf tadi kepada rombongan yang menuju ke neraka. “Bukankah tidak ada faedah bagimu, apa-apa yang dahulu (di dunia) kamu kumpulkan, lalu kamu bangga-banggakan?”
Para penghuni neraka itu bisa jadi di dunianya ialah orang yang bergelimang dengan harta. Sebab, kerjaannya memang mengejar harta saja. Jalan halal maupun haram tidak diperhatikan lagi. Ketika harta itu terkumpul, dibanggakanlah harta hasil kumpulannya itu. Diaku-akuinya bahwa harta didapat dari keringat mereka semata. Lupa mereka bahwa Allah yang memberikan harta. Mereka ingkari kenyataan bahwa harta itu adalah pemberian. Sementara kerja keras mereka dibanggakan dan diagung-agungkan.
Sudah harta itu dikumpulkan, kemudian dibanggakan, coba lihat! Adakah kegunaan di hari pengadilan? Bisakah harta itu menebus dosa-dosa yang dilakukan?
Tidak bisa! Bahkan membuat hisab itu semakin lama! Sebab tiap sen harta yang dipunya, pastilah pertanggunganjawabnya diminta!
Lalu, berkata lagi para penduduk Al A’raf itu pada penghuni neraka. “Apakah orang-orang ini (yang menjadi penghuni surga) adalah orang-orang ynag pernah kamu sumpahkan, bahwa Allah tidak akan memberikan rahmat kepada mereka?”
Ini menunjukkan lagi sikap hidup para penghuni neraka itu di dunia. Mereka meremehkan orang lain. Orang miskin dianggap tidak mendapat rahmat Allah, sebab hidupnya saja sudah miskin. Para pengungsi dihardik, sebab hidupnya saja terkatung-katung. Mana mungkin orang macam ini diberi rahmat?
Salah besar, saudara! Ada orang-orang yang memang Allah segerakan baginya nikmat di dunia, sebab di akhirat tidaklah ada lagi jatahnya. Itulah orang yang kafir. Sementara, ada pula sebagian orang yang di dunia terlihat sengsara, tapi Allah berikan surga di akhirat sebab dia ikhlas, rela, dan sabar, di dalam segala keterbatasannya.
Maknanya, kaya atau miskin di dunia itu bukanlah ukuran. Pejabat atau rakyat jelata di dunia itu bukanlah patokan. Semua kembali pada amal perbuatan. Bila beratnya pada kebaikan, surgalah yang menjadi balasan. Sementara jika condong pada kejahatan, nerakalah yang menjadi tempatnya dikembalikan. Janganlah pandang orang lain dengan meremehkan. Sebab, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di hari kemudian.
Para penghuni di Al A’raf itu tetaplah masih menunggu di tengah ketidakpastian. Akankah surga yang didapat? Atau jangan-jangan neraka juga yang didapat? Ragu, bimbang, kalut. Mereka hitung-hitung lagi amal perbuatan, ke manakah tempat mereka kira-kira akan dikembalikan.
Jelas, menunggu di akhirat itu sangat lama. Sehari di akhirat itu sama lamanya dengan seribu tahun menurut perhitungan dunia. Jelas, masa menunggu itu adalah saat-saat yang mendebarkan. Berapakah lama waktu pastinya? Wallahu a’lam.
Mereka pun senantiasa menunggu. Dikepunglah pikiran di tengah ketidakpastian. Tiba-tiba, Allah memberikan keputusan.
“Masuklah kamu ke dalam surga. Tiada lagi ketakutan bagimu dan tidaklah kamu akan bersedih hati”
Alhamdulillah… Ketetapan pun diputuskan. Senanglah mereka.
Menunggu itu memanglah membosankan. Apalagi, di tengah menunggu keputusan antara selamat dan celaka. Itu pasti sangat mendebarkan.
Ketika datang kabar, “engkau masuk surga!”. Amatlah riang hati mereka. Akhirnya, penantian itu berakhir. Keputusan pun didapat. Surgalah tempat kembali!
Sahabat, dari sini Allah tunjukkan pada kita keadilan-Nya sekaligus kasih dan sayang-Nya. Allah adil pada hamba-Nya. Yang baik dibalas berlipat kebaikan, yang buruk dibalas sesuai dengan yang dikerjakan. Sementara, mereka yang ada di pertengahan, seimbang baik dan buruk, mereka akan mendapatkan status yang belum jelas. Memang, Allah sudah punya keputusan. Tapi, sengaja Allah beri tangguhan. Agar kita dapat menarik pelajaran. Perbanyak berbuat kebaikan, sebab tiada yang tahu nanti akan seperti apa di hari akhirat.
Jangan juga meremehkan, “ah nanti juga masuk surga”. Sekarang mungkin bisa saja meremehkan. Tapi, apakah kita mampu menjamin, di masa penantian itu kita akan kuat? Apa kita yakin, ketika waktu menunggu itu panjang, sementara surga dan neraka itu diperlihatkan, hati kita akan tidak karuan? Apa yakin bisa tahan?
Maka dari itu, mari kita perbaiki amal kita, mulai dari sekarang.
Daftar Bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 3. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
M. Quraish Shihab. Al Qur’an & Maknanya. (Ciputat: Lentera Hati, 2013)
Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar (Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt)

Leave a comment