
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
أَلْهَىٰكُمُ ٱلتَّكَاثُرُ (١) حَتَّىٰ زُرْتُمُ ٱلْمَقَابِرَ (٢) كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ (٣) ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ (٤) كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ ٱلْيَقِيْنِ (٥) لَتَرَوُنَّ ٱلْجَحِيْمَ (٦) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ ٱلْيَقِيْنِ (٧) ثُمَّ لَتُسْـَٔلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ ٱلنَّعِيْمِ (٨)
- Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,
- Sampai kamu masuk ke dalam kubur.
- Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui
- Kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui
- Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahuinya dengan pasti
- Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim,
- Kemudian kamu benar-benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri
- Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang megah di dunia itu)
Laporan Pertanggungjawaban
Jika kita baru saja menunaikan masa bakti dalam sebuah organisasi, biasanya akan dimintakan laporan pertanggungjawaban di akhir kepengurusan. Apa saja yang sudah dilakukan, apa saja yang tidak bisa dijalankan, dan dana yang dikeluarkan untuk apa saja dibelanjakan. Itu barulah urusan keduniaan, kita dimintakan pertanggunjawaban. Jika tidak sanggup mempertanggungjawabkan pengeluaran dana kebutuhan, misalnya, bisa saja dianggap melakukan korupsi.
Lalu, bagaimana dengan seluruh kenikmatan yang kita rasakan? Bukankah tidak mungkin diberikan Cuma-Cuma tanpa dimintai pertanggungjawaban?
Mari kita perhatikan kandungan surat ini.
Di ayat pertama, disebut bahwa manusia bisa dilalaikan dengan kemegahan. Alhaakum, dari akar kata lahw, yang artinya lalai, terperdaya, lengah. Dengan apa manusia dilalaikan? At Takatsur, yakni bermegah-megahan, kesibukan pada dunia, dan pengabaian terhadap kehidupan akhirat.
Apa sebab manusia lalai dengan akhirat dan hanya berfokus pada dunia saja? Pertama, bisa jadi ia tidak percaya dengan akhirat. Hari akhir dianggap hanya bualan agamawan saja. Kehidupan setelah kematian dituding hanya sebagai doktrin agama untuk menakut-nakuti manusia saja. Inilah anggapan orang-orang agnostik dan atheis. Mereka ragu dengan Tuhan, janji-janji Tuhan, apalagi hari pertemuan dengan Tuhan. Bagi mereka, hidup itu hidup di dunia saja. Tidak logis jika nanti kita bisa bangkit lagi setelah sudah mati. Inilah sebab kita tidak memperhatikan akhirat.
Sebab lainnya ialah karena kita lebih sibuk dengan urusan dunia, sekalipun misalnya, kita tahu akan ada hari akhirat. Kita bekerja semata-mata hanya berorientasi dunia. Akhirnya, harta dikumpulkan tapi tidak mau disedekahkan. Jabatan dikejar, tapi tidak memberikan kebermanfaatan. Itu pula sebab kita tidak mengindahkan kehidupan akhirat. Dianggap kalau sudah berpikir tentang akhirat, tanda sudah tua. Padahal, tua ataupun muda, bisa saja mati kapan saja.
Kelalaian dari berpikir akhirat itu pasti akan tersadar juga. Tapi, masalahnya, kapan akan sadar?
Ada yang cepat tersadar, misal ketika mendengar tausyiah dari ustadz atau mendapat ilmu dari ulama. Ada juga yang sadar ketika sudah tua, ini masih lebih baik, sebab masih bisa bertaubat. Yang repot, ialah yang baru sadar ketika sudah masuk ke dalam kubur. Itulah yang disebut dalam surat ini.
Semua orang pasti akan tersadar ketika sudah masuk ke liang lahat. Tapi, jika yang di dunianya beriman, kesadaran di alam kubur nanti akan menjadi penguat keyakinan. Sebab, kubur mereka akan dijadikan satu di antara taman-taman surga. Sementara, bagi orang yang ingkar, di kubur tersadar dengan penderitaan yang amat mengenaskan. Sebab, kubur mereka akan diperlihatkan neraka oleh malaikat yang sangar.
Maka, seandainya kita tahu tentang hari akhirat itu dengan ‘ilmul yaqiin, niscaya kita tidak akan merugi. Keyakinan yang ‘ilmul yaqiin bisa didapat dari ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah Saw. dan disampaikan ke kita oleh para ustadz, syeikh, dan ulama. Kita mendengar dari mereka, kemudian kita ikuti dan yakini. Insya Allah, kita akan selamat.
Sementara, nanti di akhirat ketika sudah bisa melihat, kita akan yakin dengan ‘ainul yaqiin. Yakni, yakin karena sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Bagi orang yang ingkar, mereka akan melihat itu dan diliputi kesedihan, sebab mereka akan memasuki neraka yang mereka lihat dengan sendiri. Sesallah hidup, karena di dunia tidak mau yakin. Ketika kesempatan telah ditutup, barulah mereka sadar kesalahan ketidakmauan mereka untuk yakin.
Di akhirat kelak, akan dimintakan bagi kita pertanggungjawaban. Setiap nikmat akan dimintai pertanggungjawaban. Untuk apa nikmat itu digunakan. Untuk sesuatu yang bermanfaat atau justru untuk bermaksiat. Inilah saat yang paling mendebarkan.
Pertanyaan Allah akan sangat detil dan teliti. Allah pun punya serangkaian bukti yang tidak mungkin dapat kita nafikan. Yang bisa lakukan kelak hanya menerima penghakiman. Bedanya, bagi orang yang beriman, pertanyaan-pertanyaan itu hanya bersifat pengingat. Bertambah-tambahlah keyakinan mereka. Tetapi, bagi orang kafir, pertanyaan itu akan sangat menyiksa. Ditanyakan dengan penghinaan, sebab semua perbuatannya menjadi sia-sia. Tidak ada nilai dan tidak ada guna.
Hikmah kehidupan
Surat ini memiliki banyak hikmah yang penting untuk kita renungkan dalam kehidupan.
Pertama, sebagai manusia, kita memang memiliki fitrah untuk punya rasa cinta. Masalahnya, kepada apakah cinta itu kita arahkan? Bila kita cinta pada orang tua karena Allah, insya Allah cinta itu berkah. Jika cinta kita pada ilmu karena Allah, insya Allah cinta itu akan bertambah. Tapi, jika kita cinta pada sesuatu yang melalaikan kita dari Allah, maka Allah pun tidak akan meridhai cinta kita yang semacam itu.
Mencintai dunia yang sampai melalaikan kita dari Allah, itu akan membuat kita sengsara. Apalagi ketika kita tidak percaya atau meragu akan hari akhirat. Mungkin, di dunia kita aman-aman saja. Tapi, ketahuilah, di akhirat kelak kita akan merasakan kesulitan yang luar biasa.
Kedua, kita tidak boleh menjadikan dunia sebagai tujuan utama. Tujuan kita adalah akhirat, dunia hanyalah sebagai alat. Sebab, bila kita jadikan dunia sebagai tujuan utama dalam hidup, akan salah orientasi kehidupan dan perjalanan yang kita tempuh nanti. Perhatikanlah sabda baginda Rasul berikut,
يَقُوْلُ ابْنُ آدَمَ: مَالِيْ مَالِيْ. وَ هَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ اِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
Berkata anak keturunan Adam: “Hartaku! Hartaku!”. Dan padahal tidaklah harta itu engkau miliki kecuali apa yang engkau makan, maka akan engkau habiskan. Apa yang engkau pakai, maka akan menjadi usang. Dan apa yang engkau sedekahkan, maka itulah yang akan mengekalkan (pahalanya hingga negeri akhirat)
Hadits Riwayat Ahmad
Harta yang ada di dunia, akan habis. Makanan yang dimakan, akan menjadi feses juga. Seenak apa pun itu. Baju sebagus apa pun, pasti akan usang juga. Rumah semegah apa pun, suatu saat akan lapuk juga. Tidak ada yang kekal!
Tapi, kalau kita jadikan akhirat sebagai tujuan utama, akan lebih terarah harta yang kita punya untuk digunakan. Bukan untuk kemewahan dunia yang berlebihan. Tapi, untuk menabung dengan tabungan akhirat. Yakni, bersedekah, karena sedekah itulah yang akan menjadi amalan yang berbuah di akhirat kelak.
Ketiga, jangan terlalaikan dengan nikmat. Apalagi, dengan nikmat yang memang manusia banyak lalai padanya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.,
نِعْمَتَانِ مَغْبُوْنٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Dua nikmat yang banyak manusia menjadi lalai karenanya, yakni kesehatan dan waktu luang
Hadits riwayat Bukhari
Nikmat yang ada, selain dinikmati, haruslah disyukuri. Jangan sampai kita termasuk golongan yang mengingkari. Maksudnya, kita harus benar-benar yakin bahwa semua nikmat itu datangnya dari Allah. Usaha kita hanyalah jalan menjemput nikmat, bukan sebab datangnya nikmat.
Keempat, bersering-seringlah mengingat kematian. Lakukan juga ziarah kubur. Ulama berkata, “obat bagi hati yang keras ada tiga perkara: taat pada Allah, memperbanyak mengingat mati, dan menziarahi kubur kaum muslim”.
Dengan berziarah kubur, di antara hikmahnya ialah melembutkan hati, menyadarkan diri, dan merenungi perjalanan hidup. Apa yang sudah kita cari, toh lama-lama akan mati. Karena itu, selama ini harus ada karya yang kita buat agar tidak menjadi “hidup sekedar hidup”. Tapi, jangan sampai kita tersibukan dengan karya duniawi saja. Sebab, kita tidak butuh lagi ketika sudah mati. Kita persiapkan juga kehidupan nanti.
Kelima, sadarlah bahwa semua yang kita nikmati di dunia ini akan dimintakan pertanggungjawaban. Tidaklah mungkin kita bebas menikmati kehidupan dunia tanpa ada pertanggungjawaban. Maka, pergunakanlah apa yang kita punya dengan baik. Supaya nanti ketika ditanyakan, tidaklah berat kita menjawab. Fasilitas yang dimiliki, kemudahan yang ada, gunakan untuk kebaikan.
Terakhir, mari kita renungi hadits nabi berikut,
يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلَاثَةٌ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ، وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ: يَتْبَعُهُ أهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ، فَيَرْجِعُ أهْلُهُ وَمَالُهُ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ
Mayit (ketika akan dikubur) akan diikuti oleh tiga hal, dua di antaranya meninggalkannya, dan akan membersamainya salah satunya. Ia akan diiringi oleh keluarganya, hartanya, dan amalannya. Maka, kembalilah keluarganya dan hartanya, dan kekallah amalnya bersamanya.
Hadits Riwayat Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Nasa’i
Semoga kita tersadarkan, amiin. Wallahu a’lam
Daftar Bacaan
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. (Jakarta: Gema Insani Press, 2015)
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. (Jakarta: Gema Insani Press, 2014)
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Darul Falah, 2007)
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata, Penerbit Jabal
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri, Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016)
Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. (Bandung: Mizan, 2014)

Leave a comment