Munculnya sebagian kalangan umat Islam yang skeptis (ragu, tidak segan mengkritisi sesuatu yang sudah pasti, dan mencari pembenaran-pembenaran atas sebuah kesalahan) barangkali disebabkan oleh lima hal.
Pertama, masih banyak umat Islam yang awam dengan ajaran agama Islam. Ketika ada orang yang mengajarkan Islam, mereka tidak memperhatikan siapa yang mengajarkan. Alasannya, tak lebih dari “ambillah ilmu dari mana saja”. Padahal, dalam memahami ilmu agama, di dalam Islam, harus diperhatikan dari siapa ilmu itu kita ambil.Imam Muslim, misalnya, membuat sebuah bab khusus di dalam kitab shahihnya perihal urgensi sanad dalam ilmu agama. Kita mesti memastikan bahwa ilmu-ilmu keagamaan kita sampai kepada Rasulullah Saw. Dari situ, akan terjamin keotentikan agama Islam.
Tidaklah mengherankan, bila kita perhatikan tradisi keilmuan Islam yang amat memperhatikan masalah sanad ini. Para imam hadits akan menyeleksi dari mana haditsnya berasal. Seorang perawi (yang meriwayatkan hadits) harus dikenal sebagai orang yang tidak pernah berdusta (sekalipun untuk bercanda) dan memiliki hapalan yang kuat. Mereka pun harus ditelusuri jalur periwayatan haditsnya agar sampai pada Nabi. Sesudah itu, matan (isi) daripada hadits itu akan dikomparasikan melalui jalur periwayatan lain agar terjamin keasliannya. Jika sudah melewati berbagai jalur yang baik, barulah hadits itu dihukumi “shahih”.
Di sinilah kadang kaum muslim (khususnya yang kurang mengenali khazanah keilmuan Islam dengan baik) tidak cermat dalam mengidentifikasi ilmu yang dia dapat. Dari siapa saja, asal yang mengatakannya terkenal atau sudah “digelari” ustadz atau kiyai, ditelan mentah-mentah. Akhirnya, banyak kekacauan dalam agama terjadi karena banyak orang yang tidak pernah mempelajari agama dengan baik dan benar justru aktif berbicara tentang agama. Ditambah lagi, pengemasan yang mereka lakukan disokong oleh media massa terkenal.
Kedua, minimnya waktu anak muslim dalam mempelajari Islam. Di sekolah-sekolah umum, waktu untuk mempelajari Islam adalah 2 jam pelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI). Di 2 jam pelajaran itu, semua materi keagamaan dimampatkan. Al Quran, Hadits, Fiqih, Siroh, dsb. Tentu, amat sulit diharapkan untuk dimaksimalkan dalam mempelajari agamanya.
Itu pun, oleh segelintir orang yang kacau berpikirnya, dianggap bibit intoleransi. Sehingga, menurut mereka, dihapuskan saja pelajaran agama atau diganti pendidikan moral yang diambil berbagai agama.
Di sisi lain, akan kita temukan madrasah yang memberikan porsi pendidikan agama yang lebih besar. Misal, PAI tadi dipecah menjadi Al Quran-Hadits, Sejarah Kebudayaan Islam, Fiqih, Aqidah Akhlak, dan Bahasa Arab. Sayangnya, tidak semua murid menyukai pelajaran ini. Banyak yang mengikutinya sekadar angin lalu saja dan tidak memberi perhatian penuh pada pelajaran seputar keislaman.
Akhirnya, beberapa murid yang haus akan pengajaran agama, mencari-cari di luar sekolah. Bila mereka mencari ke tempat yang tepat (seperti pesantren, kajian keislaman, dsb.) Tentu tidaklah terlalu bermasalah. Akan tetapi, jika mereka mencari ke tempat yang tidak tepat, dapat tumbuh sikap dan pemikiran ekstrem.
Jika ia bergabung pada “kajian” ekstrem kanan, mereka akan menjadi orang yang amat literalis, tidak mau mendengar pendapat orang lain, dan bisa jadi disesatkan menjadi seorang teroris. Sementara, jika mereka “berguru” (atau bisa juga dengan membaca) pada ekstrem kiri, akan muncul pemikiran yang liberal terhadap agama. Tidak percaya pada teks keagamaan, dan mengkritisi sesuatu yang tidak patut dikritisi. Kedua titik ekstrem ini tentu berbahaya.
Ketiga, masuknya “worldview” Barat terlebih dahulu daripada “worldview” Islam ke dalam alam pemikirannya. Mengapa Worldview atau cara pandang kita terhadap dunia amat penting? Karena inilah yang membentuk alam pemikiran kita. Ilustrasi sederhananya begini. Dalam melihat sebuah laptop, seorang pedagang akan langsung terpikir “berapa harganya?”. Sementara, seorang pemain game akan langsung bertanya “berapa RAM, Kapasitas baterei, dan sistem operasinya?”.
Satu hal jika dipandang dari sudut pandang berbeda, akan menghasilkan pandangan yang berbeda. Begitu pula dalam alam pemikiran kita. Jika worldview barat yang sudah menguasai pemikiran kita, apa pun yang kita pandang, akan kita lihat dengan cara pandang Barat dan mengkritisi yang bertentangan dengan Barat. Sementara, jika worldview Islam yang sudah menguasai alam pikiran kita, kita akan memandang segala sesuatu dengan cara berpikir Islam dan mengkritisi hal-hal yang bertentangan dengan Islam.
Sebab utama masuknya worldview Barat ke dalam alam pikiran kita adalah lebih dahulunya kita belajar dengan cara berpikir Barat daripada dengan cara berpikir Islam. Misalnya, di bangku sekolah, kita lebih banyak terpapar pelajaran Sosiologi yang berangkat dari asumsi Positivisme (ilmu itu nonetis, tidak memperhatikan metafisik, dan harus terindrai) daripada pelajaran agama. Akibatnya, pemikiran Sosiologi itulah yang lebih menguasai akal pikiran kita dibandingkan agama. Akhirnya, dengan menggunakan cara berpikir Barat Positivis tadi, kita memandang agama tidak lebih daripada fenomena sosial belaka. Bukan sesuatu yang berasal dari firman Allah.
Lebih berbahaya lagi, ketika belajar di perguruan tinggi. Kebebasan berpikir yang kebablasan tidak jarang menjadikan pemikiran mahasiswa menjadi liar. Kendali agama dilepaskan, akhirnya tidak malu-malu untuk menghardik ajaran agama.
Keempat, kurangnya ahli di kalangan umat Islam yang menguasai dua alam pikiran sekaligus (Barat dan Islam) namun tetap setia pada Islam. Gejalanya, umat Islam yang sudah menggeluti alam pikiran Islam enggan untuk mempelajari pemikiran Barat atau justru ketika mempelajari pemikiran Barat, mereka beralihsetia menjadi pemuja Barat dan pengkritik Islam.
Musababnya ialah adanya perasaan inferior, sehingga ketika Barat yang berkata akan mereka ikuti dan membuang apa yang telah ditanamkan oleh Islam sebelumnya. Silau pada kemegahan Barat (yang memang tidak dapat dinafikan hari ini) dan juga keminderan untuk mengkritik Barat membuat mereka tidak lagi setia pada Islam.
Di sinilah kita memerlukan umat Islam yang menguasai hal ini. Mereka tetap setia pada Islam, namun menguasai berbagai pemikiran Barat. Tujuannya, agar yang dikritisi bukanlah Islam melalui pemikiran Barat. Tapi, dapat memfilter pemikiran Barat dengan kerangka berpikir Islam.
Kelima, tidak dimilikinya orientasi hidup, atau kalaupun memiliki, orientasi hidupnya salah. Orientasi hidup ini maksudnya ialah tujuan besar apa yang ingin dicapai dalam perjalanan hidup kita. Tentu, tidak mungkin hidup kita yang amat berharga ini tidak ada tujuannya.
Jika kita telah paham bahwa tujuan hidup itu adalah meraih ridha Allah, tentu akan mudah menjalani hidup ini. Segala sesuatu yang dilakukan pada dasarnya adalah untuk mencari keridhaan-Nya. Konsekuensinya, apa-apa yang tidak berada dalam keridhaan-Nya tidak akan didekati.
Lain halnya bila hidup tidak memiliki orientasi. Orang yang menganggap hidup hanya sebatas dunia saja, sebagai akibat dari cengkeraman sekularisme dalam akalnya, tidak akan mau memikirkan hidup sesudah kematian. Dianggapnya hidup setelah kematian itu hanyalah bualan saja (Al Quran sudah mengabarkan bahwa sejak dahulu pun akan ada saja orang yang menganggap seperti itu, apapun alasannya). Akibatnya, yang dikerjakan maupun yang dikejar dalam hidup tidak lebih dari pengejaran kepuasan nafsu belaka.
Dampaknya, mereka akan menganggap apa-apa yang telah Allah haramkan menjadi halal. Bahkan menyadur dalil agama untuk mengelabui mereka yang awam. Mereka tidak merasa takut pada hal yang demikian. Sebab, bukan keridhaan Allah yang mereka kejar.
Itulah setidaknya lima hal yang membuat banyak umat Islam yang skeptis pada Islam. Empat hal ini hanya dapat diatasi dengan Ilmu. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad, bahwa untuk menguasai dunia harus dengan ilmu, menguasai akhirat harus dengan ilmu, dan untuk menguasai keduanya pun harus dengan ilmu.
Sikap skeptis pada agama ini sangat berbahaya. Kita akan menemukan mereka yang mengaku beragama, namun justru menghancurkan agama. Akan ada orang-orang yang berbicara atas nama agama, namun tidak paham akan agama.
Pada tahap yang lebih jauh, akan kita temukan orang-orang yang “memanusiakan Tuhan” dan “Menuhankan manusia”. Dengan dalih “Hak Asasi Manusia”, apa-apa yang menjadi hak Allah dikesampingkan.
Apa yang saya ungkapkan ini bukan dalam artian untuk memusuhi Barat sepenuhnya. Tidak sama sekali. Akan tetapi, mencoba membuat kita menjadi lebih kritis pada apa yang datang dari Barat. Kita harus menyaring yang didatangkan Barat dengan saringan khazanah keilmuan Islam. Oleh karena itu, amat penting bagi umat Islam untuk mempelajari Al Quran, Hadits, dan Ijma’ (kesepakatan) para ulama. Siapa pun mereka, sampai pada batas kemampuannya. Kita tidak boleh menyerah di dalam keawaman, sementara kesempatan untuk belajar terbuka lebar. Sebab, hanya dengan cara seperti itulah kita akan mampu selamat dunia hingga akhirat.
Sikap skeptis pada agama Islam oleh umat Islam sendiri akan mengacaukan pondasi keagamaan umat Islam. Kekacauan semacam ini pada akhirnya hanya akan menimbulkan kehancuran. Maka, tidak ada cara lain selain menghalaunya. Atau setidaknya, kita tidak ikut-ikutan terjerumus ke dalamnya.
Pada akhirnya, kita berharap. Moga-moga Allah gerakkan hati kita untuk terus bahu membahu memperbaiki umat dari dalam. Kita tidak bisa menyalahkan orang lain bagi sebab kemunduran kita. Sebab, memang akan ada saja orang yang mengacaukan. Kitalah yang mesti memperbaiki dan istiqomah dalam usaha perbaikan. Semoga, Allah teguhkan kita di dalam Islam sampai hari kemudian. Aamiin.
Terakhir, izinkan saya tutup tulisan ini dengan hadits Rasulullah Saw. yang berupa nasihat beliau,
“KATAKANLAH, ‘AKU BERIMAN KEPADA ALLAH’, KEMUDIAN ISTIQOMAHLAH (BERTEGUH PENDIRIANLAH) DI ATAS ITU!”
Leave a comment