
بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
ٱلْقَارِعَةُ (١) مَا ٱلْقَارِعَةُ (٢) وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا ٱلْقَارِعَةُ (٣) يَوْمَ يَكُوْنُ ٱلنَّاسُ كَٱلْفَرَاشِ ٱلْمَبْثُوْثِ (٤) وَتَكُوْنُ ٱلْجِبَالُ كَٱلْعِهْنِ ٱلْمَنْفُوْشِ (٥) فَأَمَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَٰزِينُهُۥ (٦) فَهُوَ فِى عِيْشَةٍ رَّاضِيَةٍ (٧) وَأَمَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَٰزِيْنُهُۥ (٨) فَأُمُّهُۥ هَاوِيَةٌ (٩) وَمَآ أَدْرَىٰكَ مَا هِيَهْ (١٠) نَارٌ حَامِيَةُ (١١)
- Hari Kiamat,
- Apakah hari Kiamat itu?
- Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?
- Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,
- Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan
- Maka adapun orang yang berat timbangan (kebaikan)nya,
- Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang)
- Dan adapun orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya,
- Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah.
- Dan tahukah kamu apakah nerakah Hawiyah itu?
- (Yaitu) api yang sangat panas.
Di saat dunia porak-poranda
Pernahkah terpikirkan dalam benak kita, bahwa dunia yang kita tinggali pada saat ini, sewaktu-waktu ia porak-poranda? Mungkin kita membayangkan seperti saat ada bencana gunung meletus atau tsunami. Kehancuran melanda daerah yang terdampak. Kita dapat saksikan, kehancuran akibat bencana itu hanya bersifat temporer dan di tempat tertentu saja. Tetapi akan datang masa ketika terjadi sesuatu yang lebih dahsyat daripada itu semua. Yakni, ketika hari Kiamat tiba.
Surat Al Qari’ah ini menceritakan sebagian kejadian pada saat Kiamat terjadi. Dikisahkan pula bagaimana keadaan manusia pada saat itu dan sesudahnya. Surat yang turun di Makkah ini memang tergolong singkat, bahkan anak-anak SD pun dengan mudah menghapalnya. Namun, bila kita mau merenungi jauh mendalam, kita akan temukan berbagai makna yang sungguh dahsyat.
Al Qari’ah, dengan merujuk pada beberapa kitab tafsir, diartikan sebagai ‘mengetuk, mengguncang, menggertakkan’. Buya Hamka menerjemahkannya sebagai ‘penggeger’. Maksudnya, pada hari kiamat, semua orang terketuk dengan kuat, terguncang, hingga terasa kalut dan kacau. Manusia terpukul keras pada hari itu karena menyaksikan kejadian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Selain Al Qari’ah, Al Quran juga menggunakan kata lain yang merujuk pada hari Kiamat, seperti Al Qiyamah, Al Haqqah, Yaum Ad Diin, dan lain sebagainya.
Di dalam surat ini, dikisahkan dua kejadian pada hari kiamat. Pertama, manusia ibarat laron atau anai-anai yang beterbangan. Coba kita perhatikan keadaan laron seusai hujan. Mereka terbang tiada menentu, dalam jumlah yang banyak, dan mencari-cari cahaya untuk kemudian mati dalam waktu yang tidak begitu lama. Agaknya, dapat terbayangkan keadaan manusia pada saat itu. Manusia dalam jumlah yang banyak ini kacau tidak menentu, berlari ke sana ke mari mencari pertolongan, mereka sudah tidak lagi peduli antara satu dengan yang lain. Bahkan, ibu pun sudah tidak lagi sempat memedulikan anak-anaknya.
Keadaan manusia yang kacau di saat terjadi bencana, sebenarnya merupakan sesuatu yang wajar. Bukankah kita pernah lihat di saat terjadi tsunami, orang-orang pergi tunggang langgang mencari tempat yang tinggi? Bukankah kita pernah lihat di saat gunung meletus, orang-orang pergi menuju tempat yang di luar radius bahaya? Mereka lari tanpa lagi peduli dengan rumahnya, mobilnya, bahkan mungkin orang-orang terdekatnya. Yang ada dalam pikirannya, hanya bagaimana agar ia bisa selamat.
Tetapi, kejadian bencana alam semacam itu berlangsung temporer, tidak terus menerus dan tidak sampai menghancurkan segalanya. Ketika terjadi tsunami, gulungan ombak memang menerjang daratan, namun beberapa hari kemudian, ia akan kembali surut dan manusia bisa mencari orang-orang yang dicintainya. Ketika terjadi gempa bumi, memang semua orang akan berlari menyelamatkan diri. Tapi, gempa tak lama akan berhenti, dan orang-orang pun akan menanyakan kabar keluarganya. Namun, coba kita perhatikan hari Kiamat. Kejadian pada hari itu, melenyapkan segalanya. Tiada waktu sesaat pun untuk sekadar memikirkan keselamatan orang lain. Sebab, menyelamatkan diri sendiri pun mustahil. Karena itu, amat wajar jika pada hari itu, manusia diibaratkan laksana anai-anai yang beterbangan. Ia berlari tanpa arah yang menentu, ia meminta tolong tanpa ada yang bisa membantu.
Dengan gaya bahasa yang semacam itu pun, menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili di dalam kitab Tafsir Al Munir karangannya, menunjukkan bahwa keadaan orang-orang pada hari itu lemah dan hina. Ia tak punya daya kuasa apa-apa, sekalipun mungkin jabatannya ialah kepala negara adidaya. Hal ini juga sebagaimana dikisahkan bahwa ketika kiamat terjadi, sudah tiada lagi orang yang beriman. Sebab mereka sudah dimatikan seluruhnya. Tinggallah orang kafir yang merasakan dahsyatnya kiamat itu secara langsung.
Peristiwa kedua pada hari itu ialah gunung-gunung yang diibaratkan diterbangkan laksana bulu yang dihambur-hamburkan. Ahli tafsir menyebut, al ‘ihn (العهن) ialah bulu domba. Coba perhatikan bagaimana bulu domba yang sudah dicukur, kemudian kita tiup dengan hembusan napas. Tentulah ia akan terbang tiada menentu dan tidak lagi serupa dengan bentuk aslinya.
Begitu pula gunung-gunung yang selama ini menjadi pasak bagi bumi untuk menjaga kestabilannya. Dalam ilmu geologi, kita memahami bahwa gunung, khususnya yang aktif, memiliki kandungan magma di dalamnya. Magma itu merupakan benda yang amat panas yang cair agak kental dan ia menjadi ‘penggerak’ bagi lempeng-lempeng bumi. Sebagaimana pula telah kita ketahui bahwa bumi ini terdiri atas banyak lempengan, yang antar lempeng itu mereka bergerak. Ada yang saling menjauh (divergen), ada yang saling bertemu (konvergen), dan ada pula yang saling berpapasan (transform). Di tempat-tempat pertemuan antar lempeng, umumnya kita temukan gunung berapi. Seperti di sepanjang pantai barat Sumatera dan pantai selatan pulau Jawa.
Di hari kiamat, dapat kita duga gunung-gunung itu meletus semuanya. Mereka mengeluarkan magma yang terkandung di dalamnya yang panasnya bisa mencapai lebih dari 10000C. Letusan dahsyat gunung berapi memang bisa menghancurkan gunung itu sendiri. Seperti letusan Krakatau di tahun 1883 yang menghancurkan sebagian besar gunung itu. Letusan gunung api pun akan menimbulkan gempa yang dahsyat. Tentu kita masih ingat bagaimana gempa Jogja di tahun 2006 yang menurut para ahli terkait dengan letusan gunung merapi.
Di hari kiamat kelak, gunung-gunung itu akan hancur laksana bulu domba yang ditiup. Hancur lebur menjadi abu. Magma keluar dan menimbulkan kekacauan di mana-mana. Gempa bumi pun terjadi sebagai akibatnya. Langit pun Allah belah sebab ia telah menjadi rapuh. Pantaslah manusia di hari itu pun, kalut dan berlari tiada menentu arah.
Dua peristiwa besar di hari kiamat itu, tampaknya cukup untuk menggambarkan bagaimana dahsyatnya hari kiamat. Nanti akan kita temukan lagi dalam ayat-ayat lainnya mengenai peristiwa lain yang terjadi di hari kiamat.
Lalu, seusai kiamat meluluhlantahkan dunia, apa yang selanjutnya akan terjadi?
Dikisahkan pada ayat selanjutnya, bahwa manusia akan mengalami penimbangan amalnya selama di dunia. Kita kenal hari itu dengan sebutan Yaumul Mizan, salah satu hari dalam tahapan-tahapan hari akhir. Di Yaumul Mizan, manusia ditimbang seluruh perbuatannya di dunia dan bersiap untuk menerima balasannya.
Ada dua golongan orang pada hari itu. Pertama, mereka yang berat timbangan kebaikannya. Maka kehidupan di akhirat, ia akan berada dalam kehidupan yang berada dalam keridhaan Allah. Alias, ia akan masuk ke dalam surga. Itulah kenikmatan tiada tara, yang hanya bisa didapat dengan ridha-Nya.
Kedua, mereka yang ringan timbangan kebaikannya. Orang yang ringan timbangan kebaikannya, akan dikembalikan dan dikumpulkan dalam sebuah tempat, yakni neraka Hawiyah. Menurut Syaikh Wahbah Az Zuhaili, ia merupakan salah satu dari nama neraka Jahannam. Neraka itu amatlah panas. Apinya menyala-nyala. Mari kita perjelas lagi dengan sebuah hadits,
نَارُ بَنِيْ آدَمَ الَّتِيْ تُوْقِدُوْنَ بِهَا جُزْءٌ مِنْ سَبْعِيْنَ جُزْءًا مِنْ نَارِ جَهَنَّمَ
Api anak Adam yang kalian nyalakan itu (api di dunia) merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian daripada api neraka Jahannam.
Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim
Menurut sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah itu, api di dunia merupakan satu bagian dari tujuh puluh bagian api di neraka Jahannam. Bisa dibayangkan, api yang ada di dunia saja bisa membakar rumah, gedung, bahkan besi baja. Bagaimana dengan api yang di neraka kelak? Na’udzubillahimindzaalik.
Hikmah kehidupan
Telah kita bahas beberapa kejadian di hari kiamat dan bagaimana nasib manusia setelahnya. Sebagai muslim yang senantiasa menadabburi ayat-ayat Allah, mari kita coba ambil seuntai hikmah dari surat ini.
Pertama, Allah menerangkan perihal hari kiamat dengan sangat jelas. Di awal surat, digunakan kalimat yang menarik perhatian. Dalam penjelasannya, Allah menggunakan pengandaian dengan hal yang bisa kita lihat sehari-hari. Maka, kurang apa lagi kita memahami hari kiamat dari ayat yang Allah turunkan ini?
Memang, bagi sebagian orang, bahkan yang cerdas bergelar profesor sekalipun, ada yang tidak mempercayai kejadian kiamat. Ada pula yang tidak mengakui keberadaan hari akhir. Mereka menganggap, ayat-ayat Allah dalam kitab suci ini hanyalah dogma semata. Dalam pandangan mereka, kepercayaan pada dogma-dogma agama hanya akan menghambat perkembangan ilmu pengetahuan belaka. Tentu, kita berharap tidak termasuk orang semacam ini.
Apa sebab?
Kita tentu memahami bahwasanya pengetahuan manusia itu amat terbatas. Semaju-majunya penemuan sains di hari ini, bisa jadi di masa mendatang ia akan direvisi. Sebanyak-banyaknya penjelajahan kita atas alam semesta di hari ini, bisa jadi di masa mendatang akan ada penemuan baru atas alam semesta. Itu artinya, kapasitas dan kemampuan otak manusia amat terbatas dalam memahami alam semesta.
Sebab kemampuan kita terbatas, lebih-lebih untuk mengetahui akan hari esok, Allah memberikan kabar berupa ayat-ayat dalam kitab suci Al Quran maupun dari keterangan yang Nabi Muhammad katakan. Inilah yang dalam filsafat ilmu mengenai sumber ilmu disebut sebagai khabar shadiq, yakni keterangan yang pasti kebenarannya, sebab ia datang dari Zat yang Maha Benar. Karenanya, ketidakmampuan sains pada hari ini untuk membuktikan firman-Nya tidak dapat menjadi alasan untuk menolak keterangan dari Al Quran maupun Hadits.
Kedua, kekisruhan yang Allah gambarkan pada saat kejadian hari kiamat. Tentu, kita sudah melihat tanda-tanda alam seperti gunung meletus, tsunami, dan gempa bumi. Itu semua dapat diibaratkan seperti ‘kiamat kecil’, sebab nanti ketika kiamat yang sebenarnya terjadi, semua kejadian alam itu akan terjadi secara bersamaan dengan intensitas yang tinggi sehingga hancurlah bumi.
Kita dapat mengambil pelajaran dari sini. Ketika terjadi gempa bumi, misalnya, keadaan manusia pun kacau balau, meski hanya sesaat. Apalah lagi dahsyatnya hari kiamat kelak. Kita mesti berlindung kepada Allah agar jangan sampai merasakan kiamat itu secara langsung.
Begitu pula setiap terjadi bencana. Kita jangan hanya melihatnya sebagai kejadian yang biasa saja, atau memandang dari sudut pandang sains saja. Tapi cobalah kita pandang sesekali dari ilmu hikmah. Jika kejadian gempa bumi terjadi, misalnya, apa yang sekiranya kita sudah persiapkan kalau-kalau hari akhir itu sudah semakin mendekat? Bukankah seiring berjalannya hari, bumi semakin menua, dan batas waktu akhirnya semakin mendekati tiba? Nah, di sinilah kita coba mengambil ibrah yang lebih mendalam dari setiap kejadian.
Ketiga, perihal keadaan manusia seusai hari kiamat, yang akan ditimbang semua yang diperbuatnya di dunia. Allah mencatat semuanya, dan kita tidak bisa mengelak dengan argumentasi apa pun di hari pertanggungjawaban kelak. Ke manakah kita akan tergolongkan? Golongan yang memiliki timbangan kebaikan yang lebih banyakkah? Atau justru, na’udzubillah, menjadi masuk ke golongan yang timbangan kebaikannya ringan?
Karena itu, marilah kita perbanyak amal baik kita. Memang, amal ibadah kita tidak akan pernah mungkin menggantikan nikmat Allah walau hanya sebiji mata. Tetapi, dengan amal ibadah itulah, Insya Allah, menjadi asbab turunnya ridha Allah kepada kita. Keridhaan Allah pada kitalah yang akan membuat kita dapat menuju kehidupan akhirat yang diridhai-Nya, yakni kehidupan di surga.
Bagaimanakah kita bisa mendapat ridha-Nya? Carilah di amalan-amalan yang diridhai oleh-Nya. Bersedekah, shalat, bekerja dengan niat ibadah serta ikhlas, dan perbuatan lain yang di dalamnya terletak ridha Allah. Dengan begitu, insya Allah, akan Allah ridhai kita masuk ke dalam surga-Nya. Amiin.
Demikianlah kiranya tadabbur kita atas surat Al Qari’ah ini. Semoga dapat kita ambil hikmahnya dan kita implementasikan ke dalam kehidupan keseharian. Wallahu a’lam.
Daftar Bacaan
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata. Penerbit Jabal.
Alan Strahler. Introducing Physical Geography 5th edition. United States of America: John Wiley and Sons, 2011.
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. Jakarta: Gema Insani Press, 2015.
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. Jakarta: Gema Insani Press, 2014.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. Jakarta: Darul Falah, 2007.
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri. Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016.
Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. Bandung: Mizan, 2014.
Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar. Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt.

Leave a comment