
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَالْعَادِيَاتِ ضَبْحًا (١) فَالْمُورِيَاتِ قَدْحًا (٢) فَالْمُغِيرَاتِ صُبْحًا (٣) فَأَثَرْنَ بِهِ نَقْعًا (٤) فَوَسَطْنَ بِهِ جَمْعًا (٥) إِنَّ الْإِنْسَانَ لِرَبِّهِ لَكَنُودٌ (٦) وَإِنَّهُ عَلَىٰ ذَٰلِكَ لَشَهِيدٌ (٧) وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ (٨) أَفَلَا يَعْلَمُ إِذَا بُعْثِرَ مَا فِي الْقُبُورِ (٩) وَحُصِّلَ مَا فِي الصُّدُورِ (١٠) إِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَخَبِيرٌ (١١)
- Demi kuda perang yang berlari kencang terengah-engah
- Dan kuda yang memercikkan bunga api (dengan pukulan kuku kakinya)
- Dan kuda yang menyerang (dengan tiba-tiba) pada waktu pagi
- Sehingga menerbangkan debu
- Lalu menyerbu ke tengah-tengah perkumpulan musuh
- Sungguh, manusia itu, sangat ingkar (tidak bersyukur) kepada Tuhannya
- Dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan (mengakui) keingkarannya
- Dan sesungguhnya cintanya pada harta benar-benar berlebihan
- Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dikeluarkan?
- Dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?
- Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Mahateliti terhadap keadaan mereka.
Kuda perang, cinta yang keliru, dan keadaan di Hari Kemudian
Pembahasan kita setidaknya akan terbagi dalam tiga bagian utama. Pertama, perihal kuda perang, untuk memahami ayat 1-5. Selanjutnya, ayat ke-6 hingga ke-8, akan kita lihat bagaimana cinta yang keliru itu dapat mencelakakan. Terakhir, perihal hari kemudian, yang menjadi inti dari ayat ke-9 hingga ke-11.
Surat ini, sebagaimana di beberapa surat yang lain, dimulakan dengan sumpah Allah yang menggunakan makhluk-Nya. Penggunaan sumpah ini dapat dilihat dari adanya huruf wawu qasam, yakni huruf wawu (و) yang digunakan untuk bersumpah. Sumpah Allah kepada makhluk ini umumnya menjadi pengajak bagi kita untuk menelaah makhluk yang Allah gunakan sebagai sumpah. Selain itu, kita pun diajarkan untuk tidak bersumpah dengan sesama makhluk. Adab yang benar ketika bersumpah ialah, makhluk bersumpah dengan nama Khalik, yakni Allah saja. Tidak boleh dengan yang lain.
Allah menyebut salah satu makhluk-Nya yang istimewa, yakni Al ‘Aadiyaat yang kemudian menjadi nama dari surat ini. Para ahli tafsir menyebut, yang dimaksud dengan Al ‘Aadiyaat ialah kuda yang digunakan oleh para mujahid di medan jihad untuk menyerang musuh.
Mari kita mulai dari asbabun nuzul surat ini. Dari Ibnu Abbas, dalam sebuah hadits yang secara kualitas adalah dha’if, disebutkan bahwa Rasulullah saw. mengirim sebuah pasukan. Kemudian, selama satu bulan, pasukan itu tidak ada kabarnya. Akhirnya, Allah menurunkan surat ini yang menggambarkan bagaimana keadaan pasukan tersebut.
Pada masa lalu, bahkan hingga di masa abad modern ini, kuda dikenal sebagai hewan yang dapat diandalkan sebagai kendaraan di waktu perang. Di dunia tentara, kita mengenal pasukan khusus yang disebut ‘kavaleri’, yakni pasukan berkuda. Kuda memiliki keunggulan berupa fisiknya yang kuat, kemampuannya berlari cepat, serta ia mudah menurut dengan tuannya.
Saking cepatnya kuda perang itu berlari, terengah-engah ia kita melihatnya. Derap langkah kaki kuda yang ditunggangi oleh pasukan itu, sedemikian kencang, sehingga bisa terlihat adanya percikan api akibat gesekan yang amat cepat. Pasukan itu memiliki siasat perang yang baik, ia serang musuh di waktu subuh, dan dengan ketangguhannya ia bisa sampai di tengah-tengah musuh, sehingga dengan mudah mengalahkannya.
Dalam perspektif sains, ada pula yang menafsirkan bahwa yang dimaksud ialah pertemuan dua buah partikel atom yang saling berlawanan, sehingga ia bisa memicu percikan api. Ayat ini ialah isyarat ilmiah akan adanya gesekan antarion yang dapat membuat sesuatu menjadi panas. Apa pun perspektif yang digunakan, itulah isyarat akan kehebatan ciptaan Allah.
Berikutnya, pembahasan surat ini ialah seputar cinta yang keliru. Kecintaan pada hal dunia yang amat mendalam, sehingga ia melalaikan. Memang, manusia memiliki fitrah untuk mencintai yang indah, harta yang banyak, dan berbagai kemewahan. Tetapi, jika kecintaannya itu berlebihan, sampai menduakan kecintaan kepada Allah Ta’ala, di situlah ia akan mencelakakan.
Kecintaan yang berlebih akan membuat seseorang kehilangan rasa puas. Ia terus mencari, terus mengumpulkan, sampai urusan akhirat terlupakan. Cinta yang keliru ini akan membuahkan kekufuran. Nikmat harta itu dianggapnya hasil kerja kerasnya semata, ia lupa bahwa pada hakikatnya itu adalah pemberian dari Allah semata. Bisa jadi, ia terus menerus diberi, hingga rasa syukur hilang dari diri. Dari situ, dimulailah pengingkaran atas nikmat Ilahi. Itulah sifat kanuud yang mereka miliki, dengan kata lain, mereka mengingkari datangnya nikmat dari Allah. Bisa mereka akui diri sendiri yang menjadi sebab datangnya nikmat, atau mereka mengakui adanya sembahan lain yang bisa mendatangkan nikmat. Sama saja, sama-sama sifat kufur nikmat.
Inilah cinta yang keliru. Ia cinta, namun cintanya tidak didasari lillahita’ala. Ia cinta, namun cintanya membutakannya dari Yang Maha Kuasa. Ia cinta, tetapi rasa cintanya justru membuatnya lupa pada Rabb-nya.
Terakhir, kesemuanya itu, pasti akan dibawa menuju hari kemudian. Allah bertanya di ayat ke-9, “Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang ada di dalam kubur dikeluarkan?” yang intinya menyuruh kita mengingat bahwa setelah kehidupan dunia, bukan berarti usailah hidup. Ada hidup setelah kematian, yakni ketika Hari Kebangkitan tiba. Setelah kiamat, bangkitlah seluruh manusia dari zaman nabi Adam hingga yang terakhir mati. Hari kebangkitan itu dinamai sebagai Yaumul Ba’ts.
Setelah manusia dibangkitkan, mulailah dihitung amal perbuatannya. Ditampakkanlah segala yang ia lakukan selama hidupnya di dunia. Allah pun bertanya kembali di ayat ke-10, “Dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?”, maksudnya ialah pada hari nanti, akan terlihat semua yang sebelumnya ia simpan. Prasangka buruk pada orang lain, rasa sakit hati, simpanan dendam, dan sebagainya akan terbuka sehingga dilihat oleh semua orang. Malulah ia, kecuali jika ia sudah bertaubat atas kesalahannya.
Maka, ketahuilah, terhadap hal yang demikian itu, Allah amat mengetahui. Apa pun yang dilakukannya, dicatat oleh para malaikat-Nya tiada henti. Dari yang terkecil hingga terbesar, dari yang tampak hingga yang tersembunyi. Maka, waspadalah terhadap gerak gerik dan tingkah laku kita selama di dunia.
Hikmah kehidupan
Ada beberapa hikmah yang dapat kita ambil dari surat ini.
Pertama, perhatikanlah segala ciptaan Allah di alam semesta ini. Bagaimana ia diciptakan, interaksinya dengan ciptaan lain, hingga rahasia dibalik penciptaannya. Dalam surat ini, Allah menceritakan Al ‘Âdiyât, kuda perang yang tangguh. Secara tersurat, kita bisa mengambil pelajaran berupa strategi perang, siasat menyerang, hingga olahraga berkuda yang dianjurkan nabi. Rupanya, Al Quran telah menjelaskan yang demikian.
Sementara itu, secara tersirat, dapat dilihat isyarat ilmiah yang terkandung di dalamnya. Misal, gesekan antara dua benda dengan gaya gesek yang besar dapat membuat percikan api. Hal ini dapat diteliti dengan sains modern bahkan sampai ke dalam ion-ionnya. Bisa pula dilihat dari segi biologi, yang mengajak kita melihat bagaimana bisa didapat ras kuda unggulan. Pencarian ilmu terhadap berbagai isyarat yang ada di dalam Al Quran sepantasnya menjadikan kita semakin mengagungkan Allah, bukan justru menambah kelobaan diri.
Kedua, rasa cinta pada diri manusia merupakan hal yang fitrah dan wajar. Akan tetapi, ia perlu dibimbing oleh petunjuk Ilahi dan akal sehat, sehingga tidak menjerumuskan pada cinta yang keliru. Kekeliruan yang ditunjukkan dalam surat ini ialah mencintai dunia yang berlebih, sehingga lupa bahwa ada kehidupan akhirat, yang merupakan tempat pertanggungjawaban.
Kekeliruan lainnya ialah sifat mengingkari Allah sebagai pemberi segala nikmat. Bisa jadi ia lebih menganggap datangnya nikmat adalah disebabkan oleh usaha diri sendiri. Bisa juga ia menganggap ada kekuatan lain, seperti dewa-dewi, dukun, dan sebagainya, yang merupakan asbab datangnya rezeki. Kedua hal ini akan menjerumuskan kita pada kekufuran dan kesyirikan.
Ketiga, ingatlah pada hari kebangkitan. Bahwa hidup itu tidak hanya sekali. Jangan ikut-ikutan slogan dari Barat yang bertajuk “YOLO”, You Only Life Once, atau kamu hanya hidup sekali. Slogan semacam ini membuat kita ingin memuaskan nafsu, mengikuti syahwat, tidak pernah merasa berpuas, dan menjadikan dunia satu-satunya tujuan. Padahal, ada kehidupan lain seusai di dunia ini.
Kehidupan itu ialah kehidupan akhirat. Ia berjalan panjang, dimulai dari alam kubur. Kemudian dibangkitkan, selanjutnya dikumpulkan di padang mahsyar, lalu dimulailah penghitungan, ditimbang kebaikan dan keburukan, untuk selanjutnya ditetapkan tempat berpulang. Bila timbangan itu baik, maka ia akan masuk ke dalam surga. Bila timbangan itu buruk, ia akan masuk ke dalam neraka. Dan ketahuilah, bahwa hitungan Allah itu amat teliti. Bahkan sekecil zarrah (biji sawi, atau dalam sains modern diibaratkan dengan atom) sekalipun tidak akan pernah luput, sebagaimana disebut dalam surat Al Zalzalah.
Kadang ada orang yang berkata, ‘bagaimana mungkin setelah mati orang bisa hidup kembali?’. Tentu tidak masalah bagi Allah. Menciptakan kita dari yang tidak ada menjadi ada saja, sangat mudah. Apalagi hanya membangkitkan dari yang pernah ada, kemudian diadakan kembali. Tentu lebih mudah. Menciptakan alam semesta saja mudah, apalah lagi membangkitkan kembali yang sudah ada? Maka dari itu, mari arahkan logika menuju kebenaran, bukan menjadi keraguan yang tak beralasan.
Oleh karena itu, perhatikanlah ciptaan Allah di dunia, arahkanlah fitrah rasa cinta pada yang benar, dan perbanyaklah mengingat hari kebangkitan.
Wallahu a’lam
Daftar Bacaan
Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata. Penerbit Jabal.
Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. Jakarta: Gema Insani Press, 2015.
Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. Jakarta: Gema Insani Press, 2014.
Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. Jakarta: Darul Falah, 2007.
Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri. Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016.
Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. Bandung: Mizan, 2014.
Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar. Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt.
Imam Abi Hasan ‘Ali bin Ahmad Al Wahidi, Asbabun Nuzul Al Quran. Beirut: Darul Kutub ‘Ilmiyyah, 1991.

Leave a comment