Tadabbur Surat Al Zalzalah

Published by

on

Al Zalzalah

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ

إِذَا زُلْزِلَتِ ٱلْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (١) وَأَخْرَجَتِ ٱلْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (٢) وَقَالَ ٱلْإِنسَٰنُ مَا لَهَا (٣) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (٤) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَىٰ لَهَا (٥) يَوْمَئِذٍ يَصْدُرُ ٱلنَّاسُ أَشْتَاتًۭا لِّيُرَوْا۟ أَعْمَٰلَهُمْ (٦) فَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًۭا يَرَهُۥ (٧) وَمَن يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ شَرًّۭا يَرَهُۥ (٨)

  1. Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,
  2. Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya,
  3. Dan, manusia bertanya, “apa yang terjadi pada bumi ini?”
  4. Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya
  5. Karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang demikian itu) padanya,
  6. Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka (balasan) semua perbuatannya
  7. Maka barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya,
  8. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasan)nya.

Guncangan yang Dahsyat

Surat ini kembali bercerita tentang hari Kiamat, sebuah tema yang sering diulang dalam Juz ‘Amma. Satu surat dengan surat lain saling melengkapi keterangan tentang kejadian saat Kiamat berlangsung, hingga utuhlah pemahaman kita atas hari yang tidak diketahui dengan pasti kapan kejadiannya, namun dapat dipastikan keberadaannya.

Kejadian kiamat yang diceritakan dalam surat ini ialah “Al Zilzal”, yakni guncangan yang seguncang-guncangnya. Umumnya, kita memahami bumi berguncang ketika terjadi gempa bumi. Guncangan yang terjadi pada saat gempa bumi itu hanya menghancurkan dalam radius tertentu saja. Akan tetapi, ketika Kiamat terjadi, guncangan itu benar-benar meluluhlantakkan seantero bumi. Guncangan seperti itu belum pernah sekalipun terjadi sebelumnya.

Dalam ilmu geologi, kita memahami bahwa gempa bumi merupakan mekanisme ketika terjadi pergerakan lempengan kerak bumi. Ketika dua lempeng saling bertemu, atau bisa juga saling menjauh, guncangan akan ditimbulkan. Salah satu gempa bumi terdahsyat yang pernah dicatat dalam sejarah manusia ialah gempa bumi yang disertai dengan tsunami di Aceh tahun 2004 silam. Gempa berkekuatan 9,0 SR itu menelan korban jiwa hingga lebih dari 166.000 orang. Pada hari itu, seluruh dunia terhenyak dengan gempa bumi yang sedemikian dahsyat dan korban yang sedemikian banyak.

Ingatan kita akan gempa bumi dan tsunami pada masa itu kiranya dapat mengajak untuk merenungkan dengan kejadian di hari Kiamat kelak. Guncangan di hari itu tidak hanya di satu tempat saja, tidak hanya di Aceh, di Hokkaido, di Hawaii, atau di satu tempat saja. Tapi, guncangannya terasa di seluruh dunia. Maka, bisa kita bayangkan, betapa terkejutnya manusia di hari itu.

Berguncangnya bumi pun disertai dengan keluarnya berbagai macam hal yang terkandung di dalamnya. Terdapat beberapa pendapat ulama mengenai hal ini. Sebagian berpendapat, bahwa yang keluar ialah manusia-manusia yang telah lama dikubur, lalu terkaget dengan tiupan sangkakala yang menghancurkan bumi itu. Keluarlah mereka semua dari dalam kubur. Sebagian yang lain berpendapat, bahwa yang keluar tidak hanya manusia, namun juga seluruh isi bumi. Seperti besi, emas, tembaga, perak, bahkan mungkin magma dan batu-batuan lainnya. Yang jelas, pada hari itu, tidak hanya bumi berguncang, melainkan juga mengeluarkan segala isi yang dikandung di dalamnya.

Menyaksikan pemandangan yang sedemikian mengerikan, manusia pun bertanya-tanya, “apa yang sebenarnya sedang terjadi?”. Apatah lagi orang-orang kafir, yang memungkiri akan kejadian kiamat. Bisa jadi mereka dulu berargumen dengan sains bahwa ‘kiamat tidak mungkin terjadi, atau kalaupun terjadi, tidak dalam waktu dekat’. Tetapi, ketika pada hari itu mereka benar-benar merasakan kiamat, amat terkejutlah mereka.

Di tengah keterkejutan itu, mereka pun diberi tahu, bahwa inilah kiamat yang sesungguhnya sedang terjadi. Ada ulama yang berpendapat bahwa di hari itu, dengan izin Allah, bumi benar-benar berbicara. Bumi menjelaskan bahwa inilah kiamat itu. Sementara ulama lain berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan ‘pada hari itu bumi menyampaikan beritanya’ ialah sebuah perumpamaan. Dengan bumi menjelaskan kiamat dengan kehancurannya yang amat mengerikan.

Dan tentu, bahwa apa yang terjadi pada bumi, pastilah atas seizin Allah. Bumi hanya menjalankan perintah-Nya. Bahwa memang waktunya telah berakhir, dan tibalah saat kehancuran. Itu ada dalam kekuasaan Allah.

Pada hari itu pula, dibangkitkanlah manusia dari kuburnya. Mereka keluar dan berbondong-bondong menuju padang mahsyar untuk menantikan penghitungan segala amal perbuatannya. Dikumpulkan mereka secara berkelompok. Ada kelompok orang beriman, ada pula kelompok orang kafir. Akan ditampakkan kepada mereka apa saja yang telah mereka pernah perbuat di dunia. Sadar ataupun tidak, kecil ataupun besar, jarang ataupun sering, semuanya ditampakkan kepada para pelakunya.

Di saat itulah, penghitungan atas amal pun dimulai.

Banyak orang yang mengira, bahwa yang akan dihitung hanyalah perbuatan-perbuatan besar saja. Ada pula yang menyangka, hanya yang tampak saja yang akan diperhitungkan. Namun, sangkaan mereka keliru. Bahwa, kebaikan ataupun keburukan, meski ia hanya sebesar zarrah, sebesar biji sawi, sebesar atom, atau bahkan mungkin lebih kecil dari itu, semuanya akan diperhitungkan. Yang baik dan yang buruk akan ditimbang. Dan kesemuanya akan dimintakan pertanggungjawaban.

Itulah kiranya kejadian yang dahsyat di hari Kiamat.

Hikmah kehidupan

Surat ini mengandung beberapa hikmah yang dapat kita jadikan pegangan dalam kehidupan.

Pertama, hari Kiamat itu pasti keberadaannya, meski tidak bisa diketahui dengan pasti kapan waktu terjadinya. Ini tentu mengandung hikmah, bahwa kita mesti terus bersiap-siap akan kedatangannya. Bukan justru merasa tenang dan bersantai saja. Tapi, itu pun bukan berarti kita hidup hanya untuk mati saja, kita pun perlu membangun kehidupan di dunia. Tentu, dengan proporsi yang sesuai.

Keimanan pada hari akhir merupakan keimanan yang mutlak harus dimiliki oleh mereka yang mengaku beriman. Berbagai ayat dan hadis seringkali mendampingkan keimanan kepada Allah dengan keimanan pada hari akhir.

Apa sebab?

Keimanan pada hari akhir, akan sulit dimiliki jika hanya mengandalkan rasio semata. Orang yang membantah kiamat, seringkali karena terlalu merujukkan pada sains dan tidak menyisakan tempat untuk keimanan. Memang, secara sains, berakhirnya dunia ini masih menjadi sesuatu yang diperdebatkan. Ada yang berpendapat, sekalipun akan terjadi kiamat, bumi ini masih amat jauh dari hari akhir. Ada pula yang berpendapat, memang nanti akan terjadi bencana besar, namun bumi tetap akan kembali seperti semula. Atau ada pula yang tidak percaya sama sekali karena menganggap keberadaan hari akhir lebih dipengaruhi oleh dogma agama dibandingkan dengan temuan sains. Padahal, jangankan hari akhir bisa diprediksi oleh sains dengan tepat, kejadian bencana alam saja, seperti gempa bumi, masih belum mampu manusia memprediksi dengan akurat.

Kedua, kejadian hari kiamat merupakan kejadian yang amat dahsyat. Guncangan yang akan terjadi, ialah guncangan yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, saking dahsyatnya. Ketika terjadi gempa saja, seringkali kita terhenyak, bumi yang biasanya kita anggap “ramah”, tiap hari kita berjalan dengan biasa, tiba-tiba ia berguncang. Di tempat yang sudah berteknologi arsitektur yang canggih pun seringkali kita merasa kaget dan takut ketika bumi berguncang. Nah, bila dalam gempa bumi saja kita terkejut, apalah lagi di hari kiamat. Bisa dibayangkan bagaimana keterkejutan yang akan terjadi di hari itu.

Ketiga, seusai dibangkitkan, akan ada pengelompokan manusia. Orang yang selama hidupnya beriman, ia akan berada dalam kelompok orang beriman. Orang selama hidupnya mengingkari Allah, akan bersama dengan mereka yang ingkar. Mereka yang beriman, akan berada dalam naungan Allah, dan mereka pun akan merasa tenang. Sementara mereka yang ingkar, mereka akan dibiarkan tersiksa.

Di padang mahsyar, Allah dekatkan jarak matahari dengan manusia. Hingga manusia itu tenggelam dengan keringatnya sendiri. Sebagaimana yang disabdakan Nabi dalam sebuah hadits,

عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول تَدْنُو الشَّمْسُ مِنَ الأَرْضِ فَيَعْرَقُ النَّاسُ فَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَبْلُغُ عَرَقُهُ عَقِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى  نِصْفَ السَّاقِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إٍلَى رُكْبَتَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى الْعَجْزِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ الْخَاصِرَةَ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ مَنْكِبَيْهِ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ عُنُقَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَبْلُغُ إِلَى وَسَطِ فِيْهِ -وَأَشَارَ بِيَدِهِ أَلْجَمَهَا فَاهُ رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُشِيْرُ هَكَذَا- وَمِنْهُمْ مَنْ يُغَطِّيْهِ عَرَقُهُ وَضَرَبَ بِيَدِهِ إِشَارَةً وَأَمَرَ يَدَهُ فَوْقَ رَأْسِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يُصِيْبَ الرَّأْسَ , دَوَّرَ رَاحَتَهِ يَمِيْنًا وَشِمَالاً

Dari ‘Uqbah bin Amir ra., ia berkata: aku mendengar Rasulullah Saw. bersabda, “Matahari mendekat dari bumi, maka manusia pun berkeringat. Di antara manusia ada yang keringatnya mencapai tumitnya, ada yang mencapai setengah betisnya, ada yang mencapai kedua lututnya, ada yang mencapai pantatnya, ada yang mencapai lambungnya, ada juga yang mencapai kedua bahunya, ada yang mencapai lehernya, dan ada yang mencapai tengah mulutnya –beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan dengan tangannya memenuhi mulutnya, (dan) aku melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam mengisyaratkan demikian- serta ada di antara mereka yang keringatnya menenggelamkannya”. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam memukul dengan tangannya sebagai isyarat dan meletakkan tangannya di atas kepalanya tanpa menyentuh kepala. Beliau memutar telapak tangannya ke kanan dan ke kiri.

Hadits Riwayat Ahmad, Ibnu Hibban, dan Ath Thabrani

Terakhir, kita dapat memetik hikmah dari dua ayat terakhir surat ini. Betapa telitinya penghitungan Allah di hari kemudian. Sekecil apa pun perbuatan, ia akan dikategorikan ke dalam perbuatan baik ataupun buruk. Dan tiap perbuatan itu, sekecil apa pun, pasti akan mendapat balasan. Perbuatan baik akan mendapat balasan setimpal, atau bahkan beratus kali lipat sesuai dengan kemahamurahan Allah, dan yang buruk pun akan mendapat balasan yang setimpal pula.

Di dunia, mungkin ada orang yang bisa mangkir dari panggilan jaksa. Ada juga yang bisa menutupi fakta di hadapan hakim. Bisa juga di dunia berkelit dengan puluhan pengacara. Tapi, di hari akhirat, semua akan terbuka. Semua perbuatan dicatat dengan catatan yang lengkap dan teliti. Dan semuanya pun akan dibalas sesuai dengan ketentuan Ilahi. Semua orang bertanggung jawab dengan amalannya sendiri. Tidak akan ada yang mampu membela orang lain, sebab mereka akan sibuk dengan urusan masing-masing.

Maka, kita perlu menyiapkan diri untuk menghadapi hari itu. Dengan memperbanyak amalan baik yang dilandasi keimanan dan “menutup” dosa yang telah lalu dengan taubat dan perbaikan.

Demikianlah kiranya tadabbur kita atas surat Al Zalzalah ini.

Wallahu a’lam

 

Daftar Bacaan

Al Quran Terjemah dan Tafsir Per Kata. Penerbit Jabal.

Alan Strahler. Introducing Physical Geography 5th edition. United States of America: John Wiley and Sons, 2011.

Prof. Dr. Hamka. Tafsir Al Azhar Jilid 9. Jakarta: Gema Insani Press, 2015.

Prof. Dr. Wahbah az-Zuhaili. Tafsir Al Munîr Jilid 15. Jakarta: Gema Insani Press, 2014.

Sayyid Quthub. Tafsir Fii Zhilalil Quran. Jakarta: Gema Insani Press, 2000.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin. Tafsir Juz ‘Amma. Jakarta: Darul Falah, 2007.

Syaikh Shafiyyurrahman Al Mubarakfuri. Shahih Tafsir Ibnu Katsir Juz ‘Amma. Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir, 2016.

Tim Tafsir Ilmiah Salman ITB. Tafsir Salman: Tafsir Ilmiah atas Juz ‘Amma. Bandung: Mizan, 2014.

Tim Ulama Saudi Arabia. Tafsir Al Muyassar. Madinah: Mujamma’al-Malik Fahd Lithiba’ah al-Mushhaf asy-Syarif, tt.

“Bilamana Hari Kebangkitan Tiba”. Al Manhaj. https://almanhaj.or.id/3707-bilamana-hari-kebangkitan-tiba-2.html diakses pada 23 Februari 2018

Leave a comment