20 Ayat Permulaan Al Baqarah (1)

Published by

on

20 AYAT PERMULAAN AL BAQARAH (1)

Sepertinya, 20 ayat permulaan surat Al Baqarah ini sudah permulaan saya share. Tapi, namanya juga membaca Al Quran, rasanya tiap dibaca makin dalam makna yang didapat. Berikut sedikit hikmah yang bisa saya bagikan.

الٓمّٓ
“Alif Lam Mim.”

ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَ ۛ فِيْهِ ۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa,”

الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَ يُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ
“(yaitu) mereka yang beriman kepada yang gaib, melaksanakan sholat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami berikan kepada mereka,”

وَالَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ وَمَاۤ اُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ وَبِالْاٰخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
“dan mereka yang beriman kepada (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dan (kitab-kitab) yang telah diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan adanya akhirat.”

اُولٰٓئِكَ عَلٰى هُدًى مِّنْ رَّبِّهِمْ ۙ وَاُولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
“Merekalah yang mendapat petunjuk dari Tuhannya, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 5)

***
Surat Al Baqarah ayat 1-20 ini menjelaskan tiga golongan manusia. Mu’min, kafir, dan munafik. Ayat 1 itu alif-lam-mim, yang hanya Allah yang tahu makna sesungguhnya. Ayat 2-5 berbicara mengenai Al Quran, dan ciri orang beriman serta pembuktian dari keimanan tersebut. Ayat 6-7 bicara tentang orang kafir. Terakhir, yang paling panjang, ayat 8-20 bicara mengenai orang munafik.

Di tulisan kali ini, mari kita perhatikan ayat 1-5.

***
Ayat pertama, Allah berfirman الم. Bacanya “alif, laam, miim”, bukan “alam”, “alim”, dsb.

Tiga huruf, yang mungkin terlihat sepele, tapi sebenarnya ada hikmah yang luar biasa.

Untuk masalah makna, hanya Allah yang tahu.

Tapi kan timbul kemudian pertanyaan, untuk apa Allah berfirman kata-kata yang tidak dipahami oleh manusia?

Para ulama menjelaskan, maksud dari adanya ayat ini ialah untuk menarik perhatian orang agar memperhatikan yang akan dibicarakan. Semacam, “hayo dengerin, ini ada yang penting lho”. Apalagi ini di surat Al Baqarah, surat yang pertama turun dalam fase madaniyah, dan letaknya di urutan kedua dalam mushaf. Nanti kita juga akan temukan yang mirip di surat yang lain. Ada يس، طه، حم dan sebagainya.

Ada juga ulama yang menjelaskan, ayat ini sebenarnya untuk menunjukkan, untuk menyusun kata-kata yang tampak sepintas tidak dipahami saja tapi tetap indah dan tidak merusak tata makna, manusia ga akan bisa. Lha kok ada orang yang ga percaya? Kok bisa ada yang bilang Al Quran ini karangan Nabi Muhammad?

Di permulaan ayat 2, Allah memberikan semacam “disclaimer”. Al Quran ini, kitab yang mau dibaca ini, laa raiba fiih. Tidak ada keraguan, bahkan tidak pantas untuk meragukan, sedikit pun isi yang terkandung di dalamnya.

Tapi itu kok di awal pakai istilah “ذلك” yang artinya “itu”? Maksudnya gimana?

Para ulama menjelaskan, maksud dari menggunakan kata ganti “itu” bukan karena Al Qurannya jauh. Tapi, untuk menunjukkan keagungan, ketinggian, dari Al Quran. Makna dari “ذلك” adalah “هذا”, “ini”. Makanya, kalau kita buka terjemah Kemenag, kita lihat artinya “kitab (Al Quran) ini”.

Isi dari Ayat 2-5, berbicara tentang ciri orang beriman. Apa saja cirinya?

1. Beriman pada yang ghaib

Mengimani perkara ghaib, tidak selamanya mudah bagi setiap orang. Lebih-lebih, bagi mereka yang sejak kecil terbiasa dengan pemikiran rasional yang positivis, sebagaimana lazimnya budaya berpikir bangsa Barat.

Kalau sekadar mempercayai yang tampak, rasanya mudah saja. Tak perlu sampai harus melihat dengan mata kepala sendiri, dengan teknologi fotografi, bisa saja kita percayai. Kita toh percaya di Kota Paris ada Menara Eiffel, meski sampai saat ini baru melihat lewat foto saja.

Nah, perkara ghaib itu lebih dari itu semua. Ghaib itu artinya tidak tampak, tidak bisa diindrai oleh panca indra. Lewat rasio pun, seringkali tidak mampu. Tapi, dia ada sekalipun kita tidak percaya.

Dari mana kita kemudian bisa dapat kabar tentang yang ghaib? Tentu dari sumber informasi yang terpercaya. Al Quran, adalah kitab suci yang dideklarasikan sebagai “laa raiba fiihi”, tidak ada sedikit pun keraguan yang terkandung di dalamnya. Kalaupun ada orang yang masih ragu, Al Quran tantang untuk buat 1 saja surat yang serupa (lihat Al Baqarah ayat 23-24). Setara keindahan bahasanya, susunan redaksinya, kepastian substansinya, dan keakuratan kabarnya.

Itulah mengapa, firman Allah di dalam Al Quran disebut sebagai khabar shadiq. Berita yang pasti kebenarannya.

Nah, ini yang mesti dipercayai pertama-tama. Kepada hal-hal yang ghaib. Allah, malaikat, kitab (yang asli, di lauhul mahfuzh), nabi (karena kita tidak bisa bertemu langsung dengan beliau sekarang, tidak ada juga fotonya), hari kiamat, takdir semuanya itu perkara ghaib. Dan itu semua menuntut kita percayai mula-mula.

Kalau kita belum pernah ke Paris terus percaya sama menara eiffel yang ada, padahal cuma kita liat fotonya, kok bisa-bisanya kita ga percaya sama Allah? Padahal udah dikabarin sama kabar yang tidak ada keraguan sedikit pun di dalamnya.

2. Mendirikan shalat

Iman aja ga cukup masbro. Iman butuh pengejewantahan. Dan pembuktian pertama itu dengan shalat, sebagai simbol utama dari hablumminallah, hubungan kita sebagai makhluk kepada Allah selaku Khaliq.

Kenapa mendirikan? Ga sekadar melakukan?

Para ulama menjelaskan, maksudnya mendirikan itu ialah menjalankannya secara istiqomah (konsisten) sesuai dengan cara yang diajarkan oleh Nabi Muhammad.

Jadi, bukan sekadar melakukan tanpa contoh. Mesti ngikutin contohnya. Ga cuma berdiri, takbir, ruku, sujud doang. Tapi, harus sesuai dengan yang diperintahkan.

3. Menafkahkan sebagian rezeki yang Allah berikan

Setelah sholat itu simbol utama dari hubungan kita dengan Allah, pembuktian keimanan kita selanjutnya ialah hablumminannas. Hubungan kita dengan sesama manusia. Di sini, yang jadi tolok ukurnya adalah memberikan sebagian rezeki kepada orang lain.

Menafkahkan ini bisa melalui zakat yang memang wajib, bisa juga dengan yang lain, infaq, sedekah, hibah, dsb. Intinya, berbagi dengan orang lain.

Kalau belum mampu dengan harta, bisa dengan tenaga, pikiran, ilmu, atau sekurang-kurangnya, dengan senyum saja dulu. Itu pun bagian dari sedekah dan berbagi rezeki. Toh, rezeki ga cuma harta kan? Tubuh yang sehat, ilmu, dsb itu pun rezeki.

Tapi, yang namanya ujian keimanan paling mantap itu ketika harus berbagi harta. Kenapa? Itulah titik ujian, sejauh mana kita yakin kalau rezeki, khususnya yang berbentuk harta, pemberian dari Allah.

Ketika udah datang waktu buat keluarin zakat, disegerakan atau malah pura-pura ga inget? Pas ngeluarin zakat, ikhlas atau dengan berat hati? Di situ, poin penting dari pembuktian keimanan.

4. Beriman kepada kitab yang diberikan (Al Quran) dan kitab sebelumnya (Zabur, Taurat, Injil)

Ini pembuktian iman selanjutnya. Beriman pada Al Quran, beserta isinya dan siap menjalankannya. Atau, sekalipun misalnya belum mampu menjalankan, tidak menolak hukum yang terkandung di dalamnya.

Kitab sebelumnya pun kita mesti percaya. Meski mungkin sudah tidak ada yang asli dan otentik hari ini di penjuru bumi. Tapi, kita yakin kitab itu terjaga di sisi Allah. Khusus Al Quran, mesti semuanya dipercaya. Sebab, Allah sendiri yang menjamin keasliannya sampai kiamat tiba.

Kalau kita sudah beriman pada Al Quran, tinggal pelaksanaannya yang jadi keharusan. Al Quran menyuruh sedekah, ya sedekah. Disuruh berbuat baik, ya berbuat baik.

5. Yakin pada hari akhirat

Inilah pembuktian iman yang terakhir dari ayat ini. (Di ayat-ayat yang lain bakalan kita temui pembuktian iman lainnya)

Kenapa sih kita mesti percaya sama akhirat?

Orang kalau udah percaya sama akhirat, bakalan beda sikapnya sama dunia. Dunia bakalan diliat cuma sebagai perantara doang, bukan sebagai tujuan. Dengan begitu, dunia ga akan sampai menguasai hatinya. Nanti, akan tecermin dalam sikapnya yang berhati-hati dalam menjalani hidup.

Keyakinan kita sama akhirat itu kadang sering ditantang sama yang ga percaya. Kalau emang akhirat itu ada, mana buktinya? Kalau emang habis mati bakalan bangkit lagi, mana buktinya? Dan lain sebagainya.

Nah, di sinilah pembuktian kita pada akhirat itu benar-benar diuji. Tapi, yang namanya iman ke akhirat itu baru bisa ada kalau udah bener-bener yakin ke Allah.

Maksudnya begini, kita hidup di dunia ini kan percaya cuma titipan aja itu dasarnya dari keyakinan bahwa dunia dan seluruh jagat raya, bahkan diri dan jiwa kita itu ada dalam genggaman kekuasan Allah. Nah, dengan adanya titipan berupa harta, usia, kesehatan, ilmu, dsb itu kan pasti bakalan dimintain pertanggungjawaban. Akhirat itulah waktu buat kita mempertanggungjawabkan amanah yang ada.

Ga mungkin dong semua udah dikasih dan ga dimintain pertanggungjawaban? Kita dapat amanah jadi ketua ini itu aja bakalan ada LPJ di akhir masa jabatan. Apalagi jabatan kita di dunia ga main-main. Khalifatullah fil ardh. Khalifahnya Allah di muka bumi. Pengelola, pemakmur, bumi ini. Fasilitasnya juga banyak, harta, ilmu, hubungan sosial, dsb. Jelas bakalan lebih berat lagi LPJ nya.

Nah, kalau sudah punya ciri-ciri orang beriman, plus udah dilaksanakan semua perwujudannya dengan segenap kemampuan, di situlah sebuah pertanda. Kita hidup di atas jalan petunjuk. Bukan jalan yang sesat (ingat, di akhir surat Al Fatihah kita minta petunjuk dan jalan yang benar).

Dan orang-orang yang hidup di atas jalan petunjuk itulah yang akan memperoleh “falah”, kemenangan, keberuntungan, kesuksesan yang hakiki. Tidak hanya di dunia, tapi juga di akhirat nanti.

Wallahu a’lam.

***
Mau tahu kelanjutan ciri orang kafir dan orang munafik? Tunggu lanjutannya, Insyaa Allah.

***
Daftar bacaan

Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah az Zuhaili
Tafsir Jalalain, Imam Jalaluddin al Mahalli dan Imam Jalaluddin as Suyuthi
Tafsir Al Azhar, Hamka
Tafsir Al Muyassar, tim ulama Saudi ArabiaIMG_20180426_195045.jpg

Leave a comment