Catatan Hari Pendidikan

Published by

on

31773058_1229359970532219_7299820261317017600_n.jpg

CATATAN HARI PENDIDIKAN
Farhan Abdul Majiid

Beberapa catatan mengenai mendidik, pendidikan, pendidik, dan yang dididik.

***
Beberapa waktu yang lalu, dosen saya pernah berujar mengenai alasan beliau mencintai profesinya. “When we teach, we learn”, katanya.

Ketika kita mengajar, sejatinya kita pun sedang belajar. Belajar memahami materi, belajar memahamkan kepada yang lain, belajar seluk beluk murid, dan sebagainya.

Saya memahami bahwa, “life is a never-ending learning process”. Belajar itu sepanjang hayat. Atau, dalam Islam kita diajarkan, اطلب العلم من المهد الى الهد, tuntutlah ilmu semenjak dari buaian hingga masuk ke liang lahat. Sepanjang hayat dikandung badan, sejauh itu pula ilmu kita perjuangkan.

Menjadi seorang pendidik, tentu memiliki keuntungan tersendiri. Ilmunya akan terus didalami seiring dengan perjalanan karier kependidikannya. Setiap mengajar, semakin mendalami hal yang diajarkan. Tidak jarang, menemukan ide-ide baru yang mungkin belum pernah terpikirkan sebelumnya. Dan inilah sesuatu yang sangat menyenangkan!

Bila kita kurang beruntung untuk bisa berprofesi sebagai pendidik secara formal, kita pun tetap bisa merasai hal ini. Kita coba lihat ketika anak kecil sedang belajar untuk berjalan, atau anak-anak yang baru belajar baca Iqro. Kita akan melihat bagaimana perjuangan untuk mempelajari hal yang baru adalah sesuatu yang sangat menggembirakan.

Lama-lama, kita pun akan semakin memahami makna dari firman Allah,

يرفع الله الذين امنوا منكم والذين اوتوا العلم درجات
Akan Allah angkat orang-orang yang beriman di antara manusia dan orang-orang yang memiliki ilmu, dengan banyak derajat.

Di sisi kita, guru-guru kita yang mengajari kita membaca, menulis, berhitung, berpikir, dsb saja sudah seperti jasa yang tak mampu terbalas. Di sisi Allah, cukup dengan syarat beriman plus berilmu pengetahuan, akan semakin tinggi derajatnya.

Begitu juga dengan sabda baginda Nabi,

خيركم من تعلم القران و علمه
Sebaik-baik kalian, ialah yang memelajari Al Quran dan kemudian mengajarkannya.

Artinya, ilmu itu tidak cukup dicari dan digali. Tapi akan lebih baik jika dibagi. Sebab, semakin banyak kita berbagi, akan semakin memperbaiki kualitas diri.

***
Bila kita kemudian merenungi mengenai kondisi bangsa kita secara keseluruhan, tentu akan kita temukan banyak sekali kekurangan dari sistem dan praktik pendidikan di negeri kita. Tampak menyebar dari tingkat pusat hingga di tempat-tempat terpencil. Mulai dari rendahnya semangat literasi, kemampuan berpikir tingkat tinggi, hingga yang melampaui kompetensi yang bisa diukur secara kuantitatif, seperti mengapa masih banyak yang tidak tertib di jalan atau bahkan korupsi.

Kita pun akan temukan juga berbagai solusinya. Mulai dari student active learning, mastery learning, metode PAIKEM, dan sebagainya.

Tapi saya mau coba mengajak untuk memikirkan perihal adab, sesuatu yang kemudian ditekankan oleh seorang pemikir muslim, SMN Al Attas.

Tujuan dari sebuah pendidikan, menurut beliau, ialah ta’dib, menjadikan peserta didik seorang yang beradab. Bukan sekadar menjadikannya pintar, tapi minus adab. Adab itu sendiri secara sederhana bisa juga diartikan sikap kepatutan seseorang di tengah masyarakat.

Hal semacam ini, sebenarnya sudah sangat lama dikenal dalam khazanah pendidikan Islam. Ulama sering menyebut, adab sebelum ilmu, ilmu sebelum amal. Menjadi seorang yang beradab itu jauh lebih penting dibandingkan memiliki ilmu banyak. Sebab, ketika adabnya sudah baik, akan tecermin dari sikapnya ketika ia dianugerahi ilmu.

Adab itu luas cakupannya. Adab kepada Allah sebagai Tuhan, ialah dengan menyembah tanpa menyekutukan, taat tanpa membantah, dan mengikuti jejak Nabi Muhammad saw. Adab kepada sesama manusia pun ada, tetapi juga variatif. Adab kepada orang tua tentu berbeda dengan teman sebaya. Ada pula adab kepada sesama makhluk Allah yang lain, seperti hewan dan tumbuhan.

Di Indonesia pun, kita sepakat untuk membentuk sebuah kemanusiaan yang adil dan beradab. Karenanya, standar-standar dalam kemanusiaan itu haruslah disesuaikan dengan standar adab.

Nah, untuk menjadikan murid itu orang yang beradab, tentu dibutuhkan guru yang juga memiliki adab. Jangan sampai, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Tapi, kalau gurunya sudah baik adabnya, Insya Allah, akan menghasilkan murid-murid yang jauh lebih baik kualitas adabnya. Only great teacher who can create even a greater student.

Itulah tujuan dari pendidikan menurut SMN Al Attas, menjadikan kita manusia yang beradab.

***
Saya lebih senang menjuluki para pencari ilmu, termasuk diri saya sendiri, sebagai “murid”. Apa sebab?

Kita mengadopsi kata murid itu dari bahasa Arab. “Murid” (مريد) itu seakar dengan kata “irodah” (ارادة) yang bermakna kemauan yang kuat.

Tandanya, kita sebagai seorang murid ialah orang yang memiliki kemauan yang kuat demi mencari ilmu. Dengan begitu, kita termotivasi untuk tidak mengendurkan semangat dalam belajar. Sebab kitalah para pemilik kemauan itu!

Lalu, apa itu ilmu?

Sewaktu ngaji tafsir Al Fatihah, bertemulah kemudian di ayat kedua, makna mendalam dari الحمد لله رب العالمين, yang kalau kita biasa artikan sebagai “segala puji bagi Allah Tuhan sekalian alam”.

Kata ‘alamiin (alam semesta) itu akar katanya dari علم, yang artinya ialah “penunjuk kepada sesuatu”. Dari akar kata itu bisa kita dapatkan, misalnya, ‘alamaat, yang artinya penunjuk pada tempat tinggal.

Yang menarik, rupanya ‘ilm (ilmu) itu juga dari akar kata yang sama. Artinya, ilmu itu haruslah menunjuki kita pada sesuatu. Dan yang ditunjuki oleh ilmu itu sejatinya ialah Allah. Segala ciptaan-Nya di muka bumi, baik itu alam semesta, jagad raya, manusia, dsb pada hakikatnya ialah ayat-ayat (tanda) kekuasaan-Nya.

Atau, dalam bahasa buya Hamka dari jendela mana pun kita melihat, dari jendela seni, ilmu, filsafat, yang kita lihat sejatinya ialah satu kesatuan. Yakni, kesatuan Tauhid.

Ilmu itu, mesti menunjuki kita pada Rabbul ‘aalamiin, Allah Swt.

***
Catatan saya yang terakhir, adalah yang saya sampaikan beberapa waktu yang lalu kepada adik-adik kelas di Al Bayan yang sedang menyiapkan diri menuju kuliah. Ini sebenarnya juga terinspirasi dari nasihat (kalau saya tidak salah ingat) Imam Al Ghazali seputar ilmu.

Janganlah kita bagi belajar itu ke dalam dua pembagian yang salah. Seringkali, kita bagi pelajaran itu ada dua, ilmu dunia dan ilmu akhirat. Pendikotomian semacam ini akan membuat kita tidak terarah.

Dengan pembagian semacam ini, kalau kita sudah berfokus pada ilmu dunia, misal belajar sosiologi, kedokteran, ekonomi, hukum, dsb akan membuat kita malas belajar ilmu agama. Pun sebaliknya, kalau sudah belajar ilmu tafsir, hadits, fiqih, dsb akan membuat kita malas belajar ilmu sosial maupun teknologi, karena dianggap ilmu dunia.

Padahal, kita bisa lihat, misalnya ada orientalis yang belajar Al Quran, hadits, bahkan pura-pura masuk Islam dan belajar langsung di Mekkah. Secara zhohir, yang dia lakukan itu belajar ilmu agama, tapi yang terjadi justru dia memecah belah umat Islam, karyanya digunakan untuk menjajah tanah umat Islam, dan melanggengkan kolonialisme.

Di sisi lain, kita bisa lihat juga misalnya, seorang Prof. BJ Habibie. Yang beliau pelajari, ilmu kedirgantaraan, tampak zhohirnya ilmu dunia. Tapi dengan teori-teori yang beliau kembangkan, perjalanan dengan pesawat terbang menjadi lebih aman. Menyelamatkan banyak nyawa yang bisa jadi hilang akibat kesalahan pada teori yang lama. Ini, sekalipun tampak zhohirnya itu ilmu dunia, bisa jadi amal jariyah yang tidak akan terputus aliran pahalanya.

Karena itu, kata Imam Al Ghazali (kalau saya tidak salah ingat), ilmu itu terbaginya menjadi dua, ilmu nafi’ (ilmu yang bermanfaat) dan ilmu ghairun nafi’ (ilmu yang tidak bermanfaat). Itu juga yang diajarkan oleh Nabi dalam berbagai doanya, seperti ربنا زدنا علما نافعا, duhai Rabb kami, tambahkanlah pada kami ilmu yang bermanfaat. Di lain kesempatan, kita pun berdoa untuk dihindarkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, اللهم انى اعوذبك من علم لا ينفع, Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tiada bermanfaat.

Lalu, apa standar ilmu yang bermanfaat itu?

Paling sederhana, ilmu yang menjadikan kita memiliki rasa ‘khosyah’, rasa takut kepada Allah yang menimbulkan ketaatan. Sebagaimana firman Allah,

انما يخشى الله من عباده العلماء
Sesungguhnya, yang memiliki rasa ‘khosyah’ kepada Allah di antara para hamba-Nya ialah ulama

Ulama itu, ialah mereka yang berilmu. Yang dengan ilmunya, mereka menjauhi kekufuran dan berjuang untuk senantiasa taat, patuh, kepada Allah serta tanpa lelah mensyiarkan kebenaran.

***
Semoga, pemaknaan kita terhadap hari pendidikan kali ini, bisa semakin menyadari arti penting pendidikan, dan semakin menyenangi proses belajar dan mengajar.

Semoga manfaat. 🙂

Wallahu a’lam

***
Beberapa bacaan

Tafsir Al Muyassar
Tafsir Al Azhar, buya Hamka
Menuju Indonesia Adil dan Beradab, Adian Husaini
Catatan Pendidikan, Muhammad Ardiansyah
Filsafat dan Praktik Pendidikan Islam Syed Muhammad Naquib Al Attas, Wan Mohd Nor Wan Daud
Dll.

Leave a comment