Bergembiralah menyambut Ramadhan!
Bulan Ramadhan kini pun tiba
Bergembiralah seisi jagad semesta
Menyambut bulan penuh mulia
Mencari rahmat Ilahi yang tiada terkira
Alhamdulillah, kita kini dipertemukan kembali oleh Allah dengan bulan Ramadhan. Hanya dengan kasih dan sayang-Nya lah kita kembali diperkenankan untuk bertemu. Demi menyambut bulan penuh kemuliaan ini, mari kita pahami bulan ini dari berbagai sisi.
***
Secara bahasa, Ramadhan (رمضان) berasal dari akar kata رمض yang menurut kamus Mu’jam Mufrodat Al Quran artinya adalah syiddati waq’i asy syams, atau puncaknya terik sinar matahari. Sementara, Ibnu Mandzhur mengartikannya sebagai syiddatul harr, yang artinya adalah sesuatu yang sangat panas. Dari sini, didapat pemahaman bahwa makna dari Ramadhan adalah membakar, yang secara hakikat dapat dipahami sebagai pembakaran bagi dosa-dosa kita.
Apa saja keutamaan dari bulan Ramadhan ini?
Pertama, dihapuskannya segala dosa, kecuali dosa besar seperti syirik.
Sebagai manusia yang penuh dengan dosa, kita semestinya bersyukur dengan kehadiran bulan Ramadhan ini. Allah Swt membuka kesempatan bagi kita untuk menyesali dosa dan dibukakan pintu ampunan seluas-luasnya.
Dihapuskannya segala dosa ini dapat kita telusuri dari hadits Nabi Muhammad Saw.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah), maka akan Allah ampuni seluruh dosa-dosanya yang telah berlalu.”
Di hadits yang lain, Rasulullah bersabda,
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ اِيْمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang mendirikan (menghidupkan malam dengan shalat malam, tarawih, berzikir, tilawah, dsb.) di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah), maka akan Allah ampuni seluruh dosa-dosanya yang telah berlalu”
Pada hadits yang lain, Rasulullah juga bersabda,
الصلوات الخمس، والجمعة الى الجمعة، ورمضان إلى رمضان مكفَّرات ما بينهم إذا اجتنبت الكباىٔر
“Sholat lima waktu, dari satu Jum’at ke Jum’at yang lain, dan dari satu Ramadhan ke Ramadhan yang lain, ialah sebagai penghapus dosa di antara keduanya, kecuali dosa-dosa besar”
Terhapuskannya segala dosa yang pernah kita lakukan membutuhkan dua syarat utama.
Pertama, keimanan. Yakni, keyakinan kepada Allah swt., oleh hati, pikiran, lisan, dan tecermin dalam sikap keseharian. Puasa yang baik itu yang dilandaskan pada keimanan, bukan sekadar ikut-ikutan. Sebab, ketika Allah memerintahkan kita untuk berpuasa, Allah memanggil kita yang mengaku memiliki iman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُتِبَ عَلَيْكُمُ ٱلصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى ٱلَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (١٨٣)
Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertaqwa (Al Baqarah 183)
Kedua, sikap ihtisab, yakni mengharap pahala dan ganjaran hanya dari Allah semata. Berpuasa yang karena ingin dipuji orang lain, ikut-ikutan teman, atau karena malu kalau dia sendiri yang tidak berpuasa, bukanlah puasa yang dibangun dengan sikap ihtisab. Jika puasa kita masih belum bisa disertai dengan sikap ihtisab, bisa jadi yang kita dapat hanyalah lapar dan haus saja. Belum mendapat pahala, dan yang terpenting, ampunan dari Allah Swt.
Syarat lainnya, ialah tidak melakukan dosa besar. Dosa besar seperti syirik, durhaka kepada orang tua, membunuh orang tidak bersalah, dan yang lainnya. Dosa-dosa besar itu akan diampuni jika benar-benar melakukan taubat nasuha.
Ini kesempatan yang sangat langka, sebenarnya. Kita sebagai manusia biasa, tentu merasa punya banyak dosa. Tidak juga bisa kita pastikan tahun depan akan kembali bersua. Karenanya, mesti kita maksimalkan di tahun ini.
Karenanya, mereka yang terpanggil dengan panggilan iman, kemudian melaksanakan puasa dengan penuh kesungguhan, seraya mengharap balasan hanya dari Allah semata, mereka itulah yang akan mendapatkan ampunan dari Allah Swt. Dosa yang telah lalu dihapuskan, seraya akan Allah mudahkan untuk mendapat bimbingan di sisa usianya.
Kedua, bulan Ramadhan merupakan ‘rajanya’ bulan di antara bulan-bulan yang lain. Sebagaimana hadits Nabi Muhammad Saw.,
سيد الشهور شهر رمضان، وسيد الأيام يوم الجمعة
“rajanya bulan ialah bulan Ramadhan, rajanya hari ialah hari Jumat”
Ketiga, pada bulan Ramadhan, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan syaithan dibelenggu. Hal ini berdasarkan pada hadits Nabi Muhammad Saw.,
إذا جاء رمضان فتِّحت أبواب الجنة، وغلَّفت أبواب النار، وصفِّدت الشياطين
“Jika datang bulan Ramadhan, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu neraka, dan dikekang setan-setan”
Menarik untuk sedikit ditelisik, bagaimana maksud ‘setan-setan dikekang’?
Menurut Ustadz Ahmad Sarwat, ada tiga pendapat ulama mengenai maksud dikekangnya setan selama bulan Ramadhan.
Pertama, setan tidak lagi dapat mengganggu manusia secara bebas, sebagaimana hari-hari biasa.
Kedua, tidak semua setan dibelenggu pada bulan Ramadhan, hanya yang membangkang saja
Ketiga, setan tidak mampu menggoda dan menyesatkan, karena pada bulan Ramadhan, orang-orang berpuasa, meninggalkan syahwat, dan memperbanyak mengingat Allah, sehingga mereka tidak bisa digoda oleh setan.
Keempat, maksud dari dibelenggunya setan itu ialah mereka menjadi tidak mampu mencuri kabar dari langit, karena pada bulan Ramadhan itu, Allah turunkan Al Quran.
Lalu, mengapa masih ada saja orang yang berbuat jahat, seperti mencuri atau berbuat keonaran, padahal setan itu sudah dibelenggu?
Lagi-lagi, para ulama memberikan beberapa jawaban.
Pertama, setan itu hanya dibelenggu dari menggoda orang yang dengan ikhlas berpuasa
Kedua, tidak semua setan dibelenggu, hanya sebagian saja
Ketiga, kejahatan itu masih bisa saja terjadi, namun berkurang dibandingkan pada hari-hari biasanya
Keempat, tidak mesti kejahatan itu datang dari setan. Sebab, ada juga manusia yang rajin bermaksiat sehingga perilakunya tidak berbeda dengan perilaku setan.
Keutamaan bulan Ramadhan berikutnya ialah pada bulan tersebut, diturunkannya Al Quran. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt.,
شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًۭى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍۢ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ
“Bulan Ramadhan, yang pada bulan tersebut diturunkan Al Quran, sebagai petunjuk bagi manusia, dan penjelasan atas petunjuk tersebut, dan sebagai pembeda (antara yang haq dengan yang batil”
Ibnu Katsir di dalam tafsirnya menyebut, pada bulan Ramadhan, Al Quran turun dalam dua tahapan. Tahap pertama, Al Quran Allah turunkan dari bait al ‘izzah ke langit dunia. Tahap kedua, di bulan Ramadhan juga, Allah turunkan permulaan Al Quran, yakni surat Al ‘Alaq ayat 1-5.
Tidak hanya Al Quran, menurut hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, seluruh kitab dan suhuf juga turun pada bulan Ramadhan, Nabi Muhammad Saw. bersabda,
أنزلت صحف إبراهيم فى أول ليلة من رمضان، وأنزلت التوراة لسِتٌ مَضَين من رمضان، والإنجيل لثلاث عَشَرَةَ خلت من رمضان، وأنزل الله القرآن لأربع وعشرين خلت من رمضان
Suhuf Ibrahim diturunkan pada malam pertama bulan Ramadhan, Taurat diturunkan pada (malam) enam Ramadhan, Injil diturunkan pada (malam) ketigabelas Ramadhan, dan Al Quran Allah turunkan pada malam keduapuluhempat Ramadhan
Keistimewaan bulan Ramadhan berikutnya, ialah terdapat malam paling mulia, yang kemuliaannya melebihi seribu bulan, yakni lailatul qadr.
Allah Swt. Berfirman,
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْر
“Lailatul Qadr lebih baik daripada seribu bulan”
Pada malam itu, keinginan diijabah. Amal ibadah berlipat-lipat pahalanya. Dihapuskan dosa-dosa yang telah lalu. Juga, diselesaikan segala urusan oleh Allah Swt.
Syaratnya, pada malam tersebut kita dalam kondisi beribadah. Berzikir, tilawah, bertasbih, dan lainnya. Waktu kejadian pastinya, hanya Allah yang mengetahuinya. Kita hanya diberikan petunjuk untuk mengejarnya pada 10 malam terakhir di bulan Ramadhan.
Terakhir, keutamaan bulan Ramadhan adalah jika seseorang pergi umroh, akan diganjar pahala setara dengan pahala haji. Rasulullah Saw. bersabda,
فَإِنَّ عُمْرَةً فِيهِ تَعْدِلُ حَجَّةً
Sesungguhnya umrah di dalamnya (Bulan Ramadhan) senilai dengan (pahala) haji
Untuk itu, bagi yang memiliki kemurahan rezeki, akan dianjurkan untuk umrah di bulan ramadhan.
***
Menyambut bulan Ramadhan harus dengan kegembiraan.
Dengan menyiapkannya agar tidak sampai tersia-siakan
Mari sambut bulan penuh kemuliaan
Agar diraih pahala dan keutamaan
Daftar bacaan
Fiqh Islami wa Adillatuhu, Syaikh Wahbah Az Zuhaili
Fiqih Puasa, Syaikh Yusuf Al Qardhawi
Fiqih Islam, Sulaiman Rasjid
Puasa Bukan Hanya Saat Ramadhan, Ustadz Ahmad Sarwat
Leave a comment