Pangkal Tempat Bertolak, Labuh Tempat Bersauh

Published by

on

DSC_0214

Apalah yang lebih pantas untuk kita jadikan ia sebagai pangkal tempat segala aktivitas kita bertolak, pun menjadi labuh akhir tempat aktivitas kita bersauh, selain daripada Tauhid kepada Allah semata. Inilah simpul awal dari keseluruhan pandangan hidup seorang muslim. Alam pandangnya, perspektifnya, dan worldview-nya semua bermula daripada Tauhid.

Maka, apakah itu yang kita namakan dengan Tauhid?

Ialah meyakini bahwa semua yang ada, merupakan ciptaan dari Allah Ta’ala. Semua ialah ciptaan-Nya, dan karena itulah semua berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Tiada yang patut disembah selain hanya Allah semata. Tiada pula yang patut dipatuhi segala titah dan dijauhi segala sanggah, selain Allah sahaja. Semua bergerak atas seizin-Nya, dan semua berupaya meraih ridha-Nya. Dan oleh sebab itulah, kita akui dengan hati, jiwa, pikiran, lisan dan perbuatan kita, bahwa Allah itulah Tuhan yang patut disembah, diibadahi, dan zat yang kita abdikan diri pada-Nya.

Itulah pandangan Tauhid.

Maka, dari mana pandangan Tauhid itu bisa berada?

Tauhid itu bermula dari sebuah keyakinan. Keyakinan yang berasal dari adanya keinsafan diri, tuntunan fitrah, dan ajaran agama.

Semua dari kita butuh sembahan, butuh sesuatu yang kita dengan rela mengabdikan diri kepadanya. Jika mereka yang berjiwa kapitalis, menjunjung tinggi kapital modal, maka mereka yang berjiwa Tauhid, kepercayaan kepada Allah yang akan dijunjung tinggi, dan tidak akan ada yang melebihi.

Setiap kita butuh akan tempat untuk bergantung. Berkeluh ketika susah, memohon ketika penuh asa. Mereka yang memuja batu akan memohon pada batu itu, padahal batu itu sendiri akan mudah terkikis oleh air dan angin. Mereka yang menggantungkan hidup dengan pendapatan uang, maka ia akan hilang harap ketika sedang ketidakcukupan. Namun, mereka yang menggantungkan diri hanya kepada Allah, maka semua harap ditujukan kepada Allah semata. Bukan pada dukun, bukan pada pohon, tetapi Allah yang menguasai setiap orang dan benda-benda.

Ia yang kita sembah, yang kita abdikan diri, yang kita taruh harap, pastilah yang maha segalanya. Tidak mungkin kita berharap pada manusia, sebab ia tempat salah dan lupa. Tidak mungkin kita menyembah pada yang memiliki sekutu, sebab itu pertanda ia pun butuh pada sesuatu. Tidak mungkin kita mengabdikan diri pada yang tidak berbudi, sebab itu hanya akan mencelakakan diri. Maka, sesuatu yang kita sembah, yang kita abdikan diri pada-Nya, yang kita puja puji dan kita gantungkan segala harap, pastilah zat yang tiada dua. Dialah Allah Ta’ala.

Mereka yang berpandangan Tauhid, menjalankan aktivitas bermula dari keyakinannya kepada Allah. Pekerjaannya mungkin saja sama, tetapi nilainya berbeda. Dua orang yang sama-sama belajar, yang dipelajarinya pun sama, bukunya sama, gurunya sama, ujiannya pun sama, tapi ‘nilai’ secara hakikat di antara keduanya bisa berbeda. Bila yang satu belajar karena ingin menjalankan perintah Allah untuk menuntut ilmu, menjadi berilmu agar mengantarkan pada ibadah yang paripurna, yang karenanya bisa ditinggikan derajat kemuliaannya, dan berujung semua pada ridha-Nya. Itulah ia belajar yang bernilai pahala.

Namun sementara itu, yang orang kedua belajar karena ingin dipuja kepintarannya. Ingin dilihat titelnya. Ingin disanjung nilai rapornya. Ingin ditegur sebagai seorang profesor doktor oleh koleganya. Maka, pencapaiannya hanya akan terbatas pada yang ia kejar saja.

Pangkal tempat bertolak itu, ialah niat Lillahi Ta’ala.

Rasulullah Saw. bersabda dalam sebuah hadits yang amat masyhur,

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَ إِنَّمَا لِكُلَّ امْرِىٍٔ مَا نَوَى

“Sesungguhnya tiap amal perbuatan itu bergantung pada niatnya, dan sesungguhnya semua yang ia dapatkan itu, tergantung dengan apa yang diniatkannya”

Muttafaq ‘alaih

Tempat kita memulai sesuatu ialah niat karena Allah saja. Itu pula yang tecermin dalam ucapan yang dianjurkan dibaca tiap ingin memulai segala langkah,

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

“Dengan menyebut nama Allah, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Membaca kalimat basmalah ini, menurut ulama ialah sebuah pengakuan. Bahwa yang pertama, kita memulai segala sesuatu dengan seraya memohon izin kepada Allah. Bahwa yang kedua, kita pun melakukan sesuatu dengan sebuah keinsyafan, tiada yang dapat kita lakukan melainkan itu merupakan pertolongan dari Allah. Bahwa yang ketiga, semua yang kita lakukan ialah untuk memohon ridha dari Allah semata.

Maka, bila pangkal tempat kita bertolak itu ialah sebuah kesadaran akan hadirnya Allah di setiap perbuatan, maka tidak akan terbuka kemungkinan bagi kita untuk melakukan sebuah pelanggaran. Semua diarahkan pada kebaikan. Baik bagi diri sendiri maupun yang di sekitaran.

Prinsip ini menjadi amat penting adanya di zaman sekarang. Dalam perjalanan pemikiran, pengakuan bahwasanya segala sesuatu itu kita mulakan dengan asma Allah, mengarahkan gagasan yang kita sarikan tidak akan berani melanggar ketetapan yang Allah berikan.

Ketika ada sebagian manusia yang berkeyakinan, bahwa berzina itu adalah kewajaran, maka jika kita sudah memiliki keteguhan dalam pikiran, bahwa segala sesuatu itu harus dipandang dengan pandanyan yang Allah ridhai, tidak akan pernah kita maklumkan perbuatan zina itu. Sebab, jangankan perzinahan yang sampai menghasilkan anak. Mendekatinya saja pun telah Allah larang!

Maka, tidak akan lagi mempan segala alasan. Mulai dari hak asasi manusia sampai rasa kasihan. Bahwa zina ialah salah dan tetap salah. Baik kepada lawan jenis apalah lagi dengan sesama jenis. Ini merupakan suatu ketetapan yang tidak bisa ditawar.

Memberangkatkan sesuatu dari alam pikiran yang terpaut dengan Allah akan menghasilkan keteguhan hati dan pikiran ketika dihadapkan kepada sesuatu.

Kalimat Tauhid juga kita jadikan sebagai labuh tempat bersauh. Semua yang dilakukan, dipikirkan, dan diinginkan mestilah menjadikan kita semakin dekat dengan Allah.

Perasaan bahwa semua hal berlabuh kepada Allah ini juga sebenarnya sudah kita sering ucapkan,

اِنَّا لِلّٰهِ وَ اِنَّ اِلَيْهْ رَاجِعُوْنَ

“Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kita akan kembali kepada-Nya”

Kesadaran bahwa kita adalah milik Allah, dan kita pun akan kembali kepada Allah akan membuat semua yang kita lakukan ditujukan kepada Allah semata. Sebab, bila telah kita insyafi bahwa di kemudian hari kita akan kembali, apakah akan terasa pantas jika hidup ini tidak menyiapkan bekal untuk nanti? Kalaupun sudah kita siapkan perbekalan, apakah bekal yang dibawa itu baik atau hanya akan membuat malu saja?

Kesadaran akan hal ini amat penting, yang menjadikan kita hidup dengan hati-hati.

Pandangan hidup yang yakin, bahwa labuh tempat bersauh itu adalah tauhid, yang akan menggiring kita kepada cara berpikir yang menimbang maslahat dan menghindarkan mudharat. Kita tentu melihat dan mungkin merasakan sendiri, berbagai efek negatif di zaman digital sekarang ini. Banyak kabar bohong diproduksi demi kepentingan pribadi. Banyak fakta yang benar direduksi demi melindungi diri. Saling serang, saling sikut, saling menjatuhkan. Tiada terpikir kehidupan orang lain.

Manfaat tiada didapat, kecuali hanya sekelebat. Sementara mudharat akan datang pada satu saat, dan ia tiada mampu mengelak, walau sekejap. Di dunia mungkin masih bisa lidah bersilat, namun sengsara didapat ketika telah berjumpa negeri akhirat.

Kedua hal ini, menjadikan Tauhid pangkal tempat bertolak dan labuh tempat bersauh, akan membawa kita pada logika yang benar. Dari situlah nanti akan dituntun akal kita untuk berpikir mengikuti pola pikir yang tepat. Dengan pikiran yang benar, akan membawa kita pada perjuangan yang memperjuangkan sesuatu yang hak. Yakni, ia yang berasal dari kebenaran Ilahi, bukan sekadar tuntutan di sana-sini.

Sampailah kita pada simpulan mendasar dari pandangan hidup kita. Yakni, semua itu bermula dari Allah. Hidup ini dari Allah, dan penghidupan yang kita hidup ini haruslah sesuai dengan standar dari Allah. Semua yang ada itu pun akan kembali kepada Allah. Maka, untuk kembali nanti, sudah sepatutnya memantaskan diri. Dengan menyembah hanya kepada Allah, Ilahi Rabbi.

Wallahu a’lam

*****

Tulisan ini adalah bagian pertama dari “Pandangan Hidup Kita”

*Judul “Pangkal Tempat Bertolak, Labuh Tempat Bersauh” terinspirasi dari Tulisan Buya Hamka di buku “Pandangan Hidup Muslim”

Leave a comment