Antara Dikotomi dan Spektrum, sebuah Pemahaman

Published by

on

Dalam sebuah sesi sharing dengan adik kelas, saya pernah mengajukan sebuah pertanyaan. “Kalau kita hendak melihat fenomena sosial, bagaimana cara kita melihatnya? Apakah dengan hitam putih saja?”

Beberapa orang terlihat berpikir.

“Tentu tidak separah itu, bukan?”, saya timpali kebingungan mereka itu.

“Di antara hitam dan putih, adakah kemungkinan lain?”, Saya tambahi pertanyaannya.

Seseorang menjawab, “ada bang, ada yang abu-abu”.

Saya lanjutkan jawaban itu dengan pertanyaan tambahan, “apa hanya abu-abu? Tentu tidak! Di fisika kita belajar spektrum gelombang cahaya. Ada banyak warna yang berada di gelombang cahaya tampak. Secara sederhana, kita melihatnya mejikuhibiniu. Artinya, di antara hitam dan putih itu bukan hanya abu-abu. Tapi ada banyak warna plus gradasinya. Belum lagi kalau kita memperhitungkan gelombang yang tidak terlihat oleh mata, semakin luas spektrumnya!”.

***

Membaca fenomena sosial tidak sesederhana menjawab soal matematika. Memang, logika di dalam matematika penting untuk kita gunakan. Tapi, seringkali logika dalam matematika tidak menjawab dengan komprehensif, berbagai pertanyaan kita atas perilaku sosial.

Dalam ilmu alam, memang kepastian itu yang dicari. Makanya, kalau jawaban itu tidak benar, pasti dia salah. Secara sederhana, bisa kita sebut sebagai “dikotomi”. Kalau bukan A, pasti dia negasi A. Tapi, apakah pola pikir itu bisa kita gunakan untuk memahami fenomena sosial?

Tunggu dulu.

Kepastian dalam ilmu alam, wajar adanya. Sebab, mekanisme di alam raya ini memang cenderung konstan. Perubahan pun akan menghasilkan kesetimbangan baru.

Sebagai ilustrasi, dari zaman nenek moyang dahulu sampai anak cucu kita nanti, kita bisa pastikan bahwa air membeku di suhu 0 derajat celcius dan menguap di suhu 100 derajat celcius. Hukum ini berlaku di belahan bumi manapun. Pengecualian memang terbuka, tapi yang namanya pengecualian, dia bukan gejala umum yang terjadi.

Tapi, di dalam memahami fenomena sosial, kita tidak melihat air itu membeku atau menguap dalam kondisi apa. Apa yang kita lihat ialah bagaimana manusia itu membekukan atau menguapkan air. Zaman dahulu, manusia menggunakan kayu bakar untuk memasak air. Lalu digunakan kompor minyak tanah, beralih jadi kompor gas, hingga pakai kompor listrik. Semua yang dilakukan manusia itu, baik pakai kompor gas, minyak tanah, atau listrik, sama-sama memanaskan air hingga titik didih. Tapi, beda tempat dan/atau beda zaman, itu tidak bisa digeneralisir.

Itu kira-kira ilustrasi singkat mengenai bedanya kita melihat fenomena alam yang penuh kepastian dan melihat fenomena sosial yang penuh variasi.

Nah, dalam ranah pemikiran, kita juga mesti membedakan.

Bisa kita lihat, kalau dari ilustrasi pemahaman akan fenomena alam itu, kita bisa dengan mudah menjawab, bahwa air pasti akan membeku di suhu 0 derajat celcius. Kalau di suhu 0 derajat celcius tidak membeku, bisa dipastikan yang kita bekukan itu bukan air. Atau, kita tidak membekukannya di planet bumi.

Itu memicu pola pikir yang dikotomis. Kalau tidak A, pasti negasi A.

Dalam pemahaman fenomena sosial, kita temukan hal yang berbeda. Mendidihnya air itu, karena apa sih? Apa karena api dari kayu bakar? Dari kompor gas? Atau pakai energi listrik?

Artinya, yang kita lihat adalah variasi jawaban tersedia. Dari situ kita juga bisa memprakirakan, mulai dari tingkat teknologi, kebudayaan, sampai perubahan yang terjadi. Ini memicu kita untuk melihat sesuatu secara lebih variatif. Bisa kita sederhanakan, misalnya, dengan menggunakan spektrum.

Kita bisa saja berkata bahwa A itu salah dan B itu benar jika menggunakan kacamata pemahaman atas alam. Tapi, dengan kacamata pemahaman atas gejala sosial, kita bisa berkata, “A itu salah karena sebagian besar yang ia lakukan itu salah, namun tidak menutup kemungkinan bahwa A itu punya kesempatan untuk benar, meskipun tidak besar.”

Dari sini, mungkin bisa kita pahami secara perlahan, bahwa di dalam kehidupan sosial, kita tidak bisa, atau setidaknya tidak akan mendapat jawaban yang utuh, jika kita menggunakan pemikiran yang dikotomis tadi. Mungkin bisa kita dapat kutub-kutubnya, tapi kita akan memiliki celah kosong di antara kutub-kutub itu.

Memahami kehidupan sosial, dalam pandangan saya, akan sulit jika kita paksakan pandangan dikotomis itu. Itulah mengapa, dalam perdebatan yang hagat akhir-akhir ini, mulai dari kasus penistaan agama sampai pemilu 2019, saya merasa kurang nyaman dengan penggiringan logika yang dikotomis itu.

Kalau tidak dukung presiden, pasti mau ganti presiden. Kalau tidak anti PKI, pasti pro atau bahkan antek PKI. Kalau tidak berkoar “saya Pancasila”, pasti anti Pancasila.

Isu-isu yang dibahas itu fenomena sosial. Tapi kok malah dilihat dengan kacamata dikotomis? Memang sih, pola pikir macam ini memudahkan pembagian masyarakat. Tapi,  saya rasa, pola pikir semacam ini akan membawa kita pada pemahaman yang salah (misunderstanding). Bukannya ini justru memecah masyarakat kita?

Gejala dikotomis ini semakin parah. Bahkan, urusan mudik lewat jalan tol atau pencet klakson 3 kali pun dibawa-bawa ke urusan 2019 Tetap Jokowi atau 2019 Ganti Presiden. Apa nggak bosen semua bagian kehidupan, bahkan mudik yang harusnya ajang silaturahmi dengan sanak famili, dijadiin urusan politik?

Bisa jadi, gejala berpikir dikotomis dalam memahami fenomena sosial politik ini, berakar dari senangnya kita untuk cari gampangnya saja. Bisa jadi juga, terjadi akibat kesenangan kita pada membangun narasi satu arah dan ketidaksiapan berdebat mengeluarkan argumentasi mempertahankan pendirian.

Pola pikir untuk “cari gampangnya aja” malah membuat masalah tambah runyam. Ketidaksiapan berdebat secara argumentatif membuat kita senang untuk “ngotot-ngototan”. Narasi satu arah membuat kita merasa semua yang mengkritik adalah musuh. Padahal, yang menjadi tugas kita bukan “cari gampangnya aja”. Namun, menyederhanakan berbagai gejala yang rumit. Penyederhanaan gejala sosial yang rumit ini tidak bisa dengan asal lihat satu dua link berita. Tapi, menuntut kita untuk memiliki pemahaman yang komprehensif.

Senangnya kita adu otot untuk mengencangkan suara mengalahkan keharusan kita untuk beradu argumentasi yang membutuhkan akal. Sementara adu otot itu membuat suasana tegang, adu argumentasi dengan data, fakta, dan cara pandang menbuat kita saling paham.

Serta yang paling parah, ialah menjadi orang yang anti kritik. Lha, kita ini bukan Nabi kok ga mau ngaku punya salah? Kok ga terima kalau ada yang kasih kritikan? Kenapa malah yang kasih masukan dianggap lawan? Sikap anti kritik ini buat masyarakat biasa saja, bahaya. Lebih-lebih jika ia yang berkuasa justru anti terhadap kritik.

Memang, terkadang kritikan itu membuat kesal. Kita udah kerja, keluar tenaga, waktu, uang, eh bukannya dikasih selamat malah ditunjukin bagian yang kurang. Tapi, saya sendiri percaya, bahwa kritikan itu justru macam obat. Pahit, tapi perlu diminum, meski juga gak boleh overdosis.

Kalau kita sudah bisa menerima masukan, lebih memilih meninggikan argumentasi daripada emosi, juga mau untuk bersikap terbuka, maka ini alamat kita tidak lagi membaca fenomena sosial dengan kacamata yang dikotomis. Hal inilah yang akan menggiring kita menuju pemahaman yang lebih komprehensif.

Misalnya begini, ada isu tentang melemahnya nilai tukar Rupiah atas Dolar AS. Kalau kita berfikirnya dikotomis, semua isi kepala hanya akan mendorong lidah berkata, “ini semua salah pemerintah, solusinya ganti presiden”.

Tapi, kita yang berupaya lebih bijak, bisa melihat dengan kacamata yang lebih adem. Ohalaah, ini terjadi karena faktor A, ruang gerak pemerintah juga terbatas pada opsi B. Tapi, kenapa pemerintah tidak gunakan opsi B yang lebih tepat, malah justru pakai opsi C yang indah sesaat ya?

Pemilihan opsi C dibandingkan opsi B inilah yang kita kritik. Sertakan data, kenapa opsi B itu baik. Berikan argumentasi dan rasionalisasi, kenapa langkah pemerintah yang memilih opsi C itu cenderung populis dan kurang mempertimbangkan jangka panjang.

Barulah nanti, paham atas berbagai isu, bisa dengan gentle mengakui kelebihan dan kelemahan pemerintah, lalu mempertimbangkan plus dan minus berdasarkan informasi yang kita punya, kita bisa baru tarik simpulan. 2019, ganti presiden atau tetap beri kepercayaan pada petahana lagi.

Apa simpulan akhir dari tulisan yang panjang ini?

Kita punya (setidaknya dari pemaparan ini), dua opsi. Ingin gunakan pikiran dikotomis atau yang pakai spektrum. Semua akan menjadi baik jika kita gunakan sesuai peruntukannya. Bila kita sedang amati gejala alam yang penuh kepastian, bolehlah gunakan kacamata dikotomis. Tapi kalau untuk memahami fenomena sosial, tunggu dulu. Apa yakin pakai kacamata dikotomis itu memberi kita pemahaman yang baik?

Maka, gunakanlah kacamata yang tepat untuk memahami gejala sosial. Kita bisa saja berakhir pada simpulan memilih A daripada B. Memilih A bukan berarti kita tutup mata sepenuhnya, atau mendapat justifikasi untuk menghina, si B. Namun, pilihan itu dibangun dari keyakinan bahwa A lebih baik dari B dengan menggunakan indikator tertentu.

Memang, bagi sebagian kita, memilih untuk bersikap ekstrem dengan berada pada satu sudut tertentu saja akan terasa heroik, hebat, dan menarik. Akan tetapi, menjadi orang yang bersikap wasathiyyah, bersikap adil karena memahami banyak sudut pandang yang berbeda, merupakan sebuah kebijaksanaan. Dengan begitu, akan terciptalah keseimbangan dalam kehidupan, bahkan sejak dalam pikiran.

Leave a comment