
Menjadi sebuah fitrah dari manusia, untuk mencari sesuatu yang disembah olehnya. Tempat ia menaruh harap dan menggantungkan asa. Tempat manusia menyembahkan diri dan mengabdikan hidup. Dari zaman primitif hingga postmodern. Ada Tuhan yang selalu dalam pencarian.
Bahkan, kalangan yang enggan mengakui keberadaan Tuhan pun akan turut menuhankan sesuatu, disadari atau tidak olehnya. Sebab yang demikian itu memanglah fitrah yang ada pada tiap diri manusia. Masalahnya, siapakah yang menjadi penuntun fitrah akan keadaan Tuhan itu? Di sinilah yang kemudian akan membawa dirinya menuju pengetahuan atas Tuhan, dan dengannya mengadakan ritual-ritual penyembahan.
Awal mula pertanyaan itu ialah, “apakah benar bahwa Tuhan itu ada?”
Perhatikanlah di sekeliling diri kita. Apa benda yang kita temukan untuk pertama kali? Pulpen? Kertas? Kursi? Meja? Sepatu? Baju? Adakah seseorang yang membuat benda-benda itu?
Akal yang sehat tentu akan menjawab, “ada”. Sekalipun misalnya kita tidak pernah tahu, barang itu dibuat di pabrik apa, di kota mana, pada waktu apa, dan siapa desainernya, akal yang sehat akan tetap mengatakan “ada”. Sebab, tidaklah mungkin sesuatu itu bisa ada tanpa keberadaan yang membuatnya. Kausalitas semacam ini mudah dipahami oleh siapa pun.
Maka, perhatikanlah kemudian sesuatu yang besar-besar itu. Bumi, bulan, langit, matahari, bintang, asteroid, meteor, komet, dan sebagainya. Adakah yang menciptakan?
Hanya akal yang kurang sehat yang akan menjawab “itu terjadi dengan sendirinya”.
Itu baru benda-benda yang tidak hidup. Bagaimana dengan manusia, hewan, fungi, tumbuh-tumbuhan, bahkan sekelas protista itu bisa hidup jika tanpa ada yang menciptakan?
Di buku-buku biologi disebutkan, bahwa kehidupan itu bermula dari reaksi zat-zat kimia di alam. Ada karbon, oksigen, nitrogen, dan sebagainya. Kemudian bercampur menjadi senyawa tertentu, yang lama kelamaan menjadi DNA (Deoxyribo Nucleic Acid), lalu nanti menjadi sel, menjadi organ, kemudian sistem organ, dan menjadi satu makhluk hidup tertentu. Terjadilah evolusi. Mulanya kehidupan hanyalah makhluk sederhana di lautan, kemudian ketika bumi dalam tahapan yang lebih mapan, terciptalah daratan. Sebagian makhluk itu ada yang berpindah ke daratan untuk kemudian menjadi hewan tertentu. Karena ia hidup di darat, beradaptasilah dia dengan kondisi lingkungannya. Ada yang bertangan, merayap, bersisik, bernapas dengan paru-paru, dan sebagainya. Lama kemudian, terciptalah makhluk yang tegak. Berevolusi dari manusia purba hingga menjadi manusia berbadan tegap, homo sapiens.
Kalaulah misalnya teori evolusi itu benar (meskipun di kalangan ahli saja masih menimbulkan perdebatan), maka siapakah yang berperan untuk ‘meracik’ kehidupan pada masa permulaan? Apakah bisa zat-zat kimia itu bercampur dengan sendirinya? Bagaimana bisa mereka menentukan sendiri kadar nitrogen, oksigen, karbon, dan zat-zat lainnya itu sehingga presisi menciptakan sesuatu yang bernyawa?
Apa bisa kita jawab dengan menyebut “itu mekanisme alam” saja? Lalu, siapa yang menakar “mekanisme alam” itu?
Bagaimana mungkin, jika meja saja harus ada tukang yang membuatnya, sementara alam semesta ini terjadi dengan sendirinya? Bagaimana mungkin, jika makanan saja harus ada koki yang meramu bumbu-bumbu, sementara manusia itu bisa ada karena kebetulan semata? Dari pemikiran yang sederhana ini, tentulah kita akan punya keyakinan bahwa Sang Pencipta alam semesta itu pastilah ada.
Lanjutlah kita berpikir, bumi yang sedemikian luasnya ini, berada dalam sebuah sistem tata surya yang jauh lebih luas. Planet-planet yang bermacam-macam ukurannya ini bisa mengitari matahari dan tidak pernah sekalipun bersinggungan, apalagi bertabrakan. Bukankah sistem yang sempurna ini pasti ada yang mengaturnya? Bukankah takaran yang sempurna itu pasti ada yang mengukurnya?
Maka, dari perjalanan akal kita ini, bisalah kita simpulkan bahwa Sang Pencipta itu benar-benar ada. Sang Pencipta itu pun tidak meninggalkan begitu saja ciptaan-Nya setelah jadi. Dia berperan dalam mengatur mekanisme-mekanisme alam. Hukum kausalitas pun diciptakan, dalam bahasa agama kita kenal dengan ‘sunnatullah’.
Lalu, siapakah Sang Pencipta itu?
Beribu tahun manusia mencarinya. Dimulailah pencaharian dari hal-hal yang dirasa penting dalam kehidupan. Ditengoklah alam raya ini, untuk dicari siapakah pencipta itu.
Hal yang paling vital dalam kehidupan manusia ialah air. Apakah air itu tuhan? Tunggu dulu, air itu sendiri pun ada awalnya, ia berasal dari hujan yang turun. Dari awan rintik hujan itu berasal. Awan itu dibawa oleh angin yang berhembus. Adanya hembusan angin sebab ada perbedaan tekanan udara di dua tempat yang berbeda. Kedua tempat itu bisa berbeda tekanan udaranya sebab suhu di kedua tempat itu juga berbeda. Panas yang berbeda itu sebab penyinaran matahari yang dia terima pun berbeda. Matahari bisa bersinar, sebab ada reaksi kimia dalam gas-gas hidrogen, helium, dan sebagainya.
Jadi, apakah matahari itu tuhan? Tunggu dulu. Bagaimana matahari bisa bersinar jika tidak ada hidrogen dan helium di dalamnya? Kalaulah matahari itu tuhan, bagaiamana mungkin tuhan itu butuh dengan hidrogen dan helium? Apakah mungkin tuhan mati jika hidrogen dan helium itu sudah habis? Tentu, sesuatu yang dipertuhankan itu tidaklah layak punya masa akhir. Tidak layak juga sesuatu yang dipertuhankan itu punya ketergantungan pada sesuatu. Bagaimana bisa kita berharap jika yang kita harapkan saja punya ketergantungan?
Dicari pula tuhan itu melalui jalur yang lain. Sebab tuhan itu sedemikian agung, maka tuhan itu dirasa tidak bisa dilihat dengan mata kepala secara langsung. Tidak bisa juga kita berinteraksi dengan tuhan itu secara langsung. Maka, diperlukanlah perantaraan roh nenek moyang untuk menghubungkan manusia dengan tuhan. Dibuatlah patung-patung sebagai simbol akan keberadaan tuhan.
Lebih jauh, ada juga yang berpikir, sebab urusan di dunia ini begitu banyak, maka tuhan itu pun ada spesialisasinya. Ada yang mengurus angin, hujan, kesuburan tanaman, gunung, dan sebagainya. Lalu diadakanlah tuhan yang mengatur tuhan-tuhan itu, agar tidak saling bersinggungan.
Tapi, apakah yang berbilang itu pantas disebut sebagai Tuhan? Jika antartuhan itu bersinggungan, kepada siapa kita harus patuh? Apa bisa kita bertuhan pada sesuatu yang tidak bisa berdiri dengan sendirinya? Bukankah merumitkan jika kita harus memohon kepada tuhan tertentu untuk urusan tertentu lalu beralih ke tuhan yang lain untuk urusan lainnya?
Segala sesuatu yang ada di alam semesta ini pun tidak layak kita pertuhankan. Bumi ini ada awalnya, yang menurut para ilmuan ialah peristiwa bigbang. Patung itu harus dipahat dahulu oleh manusia baru punya bentuk, dan nanti bisa saja hancur termakan zaman. Pohon harus ditanam dahulu dan nanti akan menemui kematian. Ada awalan, nanti akan ada akhiran. Bagaimana bisa Tuhan itu punya awalan dan akan berakhir? Tentu tidaklah layak Tuhan bersifat demikian.
Tidak mengakui keberadaan tuhan pun sebuah kemustahilan. Sudah kita uraikan bahwa ketidakmungkinan segala sesuatu bisa ada tanpa keberadaan pencipta. Tidak maunya sebagian orang mengakui keberadaan Tuhan, bisa dilacak bermula pada kekecewaan. Kecewa dengan perilaku umat yang mengaku bertuhan namun tampak seperti tidak merasa diawasi Tuhan. Kecewa dengan keberadaan pemuka agama yang menggunakan agama sebagai legitimasi kuasa semata. Kecewa dengan agama-agama yang bertentangan dengan akal sehat dan dipenuhi khurafat.
Jika jalan mencari Tuhan itu hanya lewat akal saja, tentu kita tidak akan pernah bisa mengenal Tuhan kita yang sebenarnya. Sebab, akal kita pun ada batasnya. Melihat fenomena alam saja pun tidak akan bertemu dengan Tuhan yang sesungguhnya. Paling-paling, hanya bertemu dengan sesuatu yang kita rasa-rasa dia punya kuasa saja.
Ujungnya, kita hanya menemui keterbatasan.
Sebab Tuhan yang sebenarnya itu tahu dan mengerti bahwa kita ini penuh dengan keterbatasan, maka Dia memperkenalkan diri-Nya. Dia memperkenalkan diri-Nya melalui orang-orang yang Dia pilih untuk membawa risalah, merekalah para Nabi dan Rasul. Dialah Allah, Rabbul ‘Alamiin.
Dialah Allah yang maha segala-galanya. Tuhan yang sebenar-benarnya. Tiada Tuhan selain Dia. Tiada sesuatu pun yang setara dengan Dia. Hanya Allah tempat kita bergantung, memohon, dan mengharap. Janji-Nya pasti ditepati.
Jalan menuju-Nya adalah syariat. Melalui agama Islam, satu-satunya agama yang diakui di sisi-Nya kita mengenali Tuhan. Jalan inilah yang harus ditempuh untuk bisa menghambakan diri sesuai dengan kehendak-Nya. Hanya dengan agama inilah, kita bisa menghambakan diri kepada Allah dan penghambaan itu diterima oleh-Nya.
Inilah jalan yang mestinya ditempuh oleh para pencari Tuhan. Menjadi manusia yang kenal dengan hakikat dirinya, dan dengan perlahan akan menjadi jalan menuju pengenalan dengan Tuhan-Nya. Lama-lama, menjalani kehidupan dalam keridhaan-Nya, sehingga ketika nanti kembali ke negeri akhirat, ganjaran surga yang akan didapatnya.
Insyaa Allah. Wallahu a’lam.
****
Tulisan ini adalah tulisan kedua dalam rubrik “Pandangan Hidup Kita”

Leave a comment