Apa Benar Tuhan Itu Tunggal?

Published by

on

img_20180824_103129_hdr.jpg

Diriwayatkan, orang-orang musyrik di Madinah meminta penjelasan kepada Nabi Muhammad Saw., صف لنا ربك!, “beritahu kepada kami sifat dari Tuhanmu!”, maka turunlah ayat ke-163 dari Surat Al Baqarah,

وَإِلٰهُكُمْ إِلٰهٌ وٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحْمٰنُ ٱلرَّحِيمُ (١٦٣)

“Dan Tuhan kalian adalah Tuhan yang satu, tidak ada Ilah kecuali Dia, Maha Pengasih lagi Maha Penyayang”

Allah menjelaskan bahwa diri-Nya ialah tunggal yang tiada berbilang, esa yang tiada bersanding, satu yang tiada dua. Inilah sifat Uluhiyah, yang karenanyalah hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan diibadahi.

Namun, masih pula belum jelas dalam pikiran mereka, bahwa Tuhan itu sejatinya tunggal. Sebab, dalam bayangan mereka yang terbiasa menyembah tuhan yang banyak, terasa aneh bila Tuhan itu hanya satu. Bertanyalah kembali mereka yang tidak beriman itu, و طلبوا آية على ذلك, “berikanlah kepada kami, tanda-tandanya jika Tuhan itu memang Tunggal!”

Sebab belum jelas dalam pikiran mereka, dimintalah lagi bukti pembenaran, bahwa Tuhan itu memang tunggal. Turunlah kemudian ayat berikutnya,

إِنَّ فِى خَلْقِ ٱلسَّمٰوٰتِ وَٱلْأَرْضِ وَٱخْتِلٰفِ ٱلَّيْلِ وَٱلنَّهَارِ وَٱلْفُلْكِ ٱلَّتِى تَجْرِى فِى ٱلْبَحْرِ بِمَا يَنفَعُ ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللّٰهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَأَحْيَا بِهِ ٱلْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ كُلِّ دَآبَّةٍ وَتَصْرِيْفِ ٱلرِّيٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلْمُسَخَّرِ بَيْنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلْأَرْضِ لَءَايَٰتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ (١٦٤)

“Sesungguhnya, dalam penciptaan langit dan bumi, dan bergantinya malam dengan siang, dan berlayarnya kapal di lautan, yang dengannya manusia memanfaatkan, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, yang dengannya dihidupkan bumi setelah ia mati dalam kekeringan, dan bertebaran di atasnya hewan melata, dan berhembusnya angin dan awan yang ditundukkan di antara langit dan bumi, sungguh merupakan pertanda bagi orang-orang yang mendayagunakan akalnya”

***

Apa dalil yang menjadi landasan, bahwasanya Tuhan itu memang haruslah tunggal, sehingga hanya Allah yang pantas untuk dipertuhankan? Mengapa penting bahwasanya Tuhan itu mestilah tunggal?

Gunakanlah akal, sebab akal itu dapat menuntun pada iman.

Perhatikanlah alam di sekeliling. Bukankah semua menunjukkan adanya keteraturan yang sempurna? Apakah mungkin gunung yang menjulang, laut yang bergelombang, angin yang terbang beriring awan, adalah sesuatu yang terjadi begitu saja, tanpa ada yang menciptakan?

Baiklah, kita coba kembali perhatikan.

Pertama, telisiklah bumi dan langit. Hingga kini, menurut para ahli, ada delapan planet yang mengelilingi matahari dalam sistem tata surya kita. Mereka ialah Merkurius, Venus, Bumi, dan Mars berupa planet berbatu dan Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus, berupa planet yang tersusun dari gas. Mereka berdiri tanpa tiang, berputar di atas porosnya, sembari juga mengelilingi matahari yang menjadi  bintang di tengah.

Apa yang menyebabkan mereka bisa teratur sedemikian rupa?

Adanya gravitasi, bukan?!

Dari mana gravitasi itu berasal?

Oh, benda yang punya massa di ruangan yang hampa akan saling mempengaruhi benda yang punya massa lainnya, sehingga terciptalah tarik menarik antar keduanya.

Baiklah, jika mereka berputar sebab adanya gravitasi, dan gravitasi itu ada akibat massa, maka pasti ada yang mengukur kadar gravitasi itu, bukan?!

Tentu saja. Hanya mereka yang bodoh yang berkata mereka punya massa dengan sendirinya. Maka pastilah ada zat yang mengaturnya, dengan pengaturan yang sempurna. Tidak ada kesalahan hitung walau satu milimeter, tidak ada salah timbang walau satu miligram.

Rupanya, bumi tidak sendirian ketika mengitari matahari. Ada bulan yang mengitari bumi, dan bersama bumi mengelilingi matahari. Interaksi antara bumi, matahari, dan bulan inilah yang menjadi sebab bergantinya siang dan malam, yang terkadang dihiasi dengan fenomena gerhana, baik matahari maupun bulan. Bergantinya siang dan malam ini pun penuh dengan perhitungan.

Antara satu tempat dengan tempat lain, durasi antara siang dengan malam belum tentu sama-sama 12 jam. Kita akan dapatkan, orang yang berpuasa hingga 20 jam, sebab siang di daerah tersebut selama itu juga. Di belahan bumi yang lain, kita pun menemukan ada yang berpuasa hanya 5 jam dalam sehari, sebab siangnya sesingkat itu juga. Tapi, peredaran siang dan malam itu tidaklah terus menerus demikian. Berganti bulan, berganti musim, berganti pula periode siang dan malam.

Condongnya bumi terhadap matahari pun membuat ada musim yang berganti. Di bulan Januari, ketika matahari kecenderungannya berada di selatan bumi, maka bumi bagian utara mengalami musim dingin, sementara di selatan mengalami musim panas. Ketika bulan terus berjalan hingga tibalah bulan Juli, matahari telah berada pada kecenderungannya di utara bumi, maka di belahan bumi utara mereka alami musim panas, sementara di selatan musim dingin yang tiba. Adanya pergantian musim dan keseimbangan antara utara dan selatan ini, setelah ditelisik oleh para ahli, rupanya menimbulkan sebuah fenomena luar biasa. Yakni, keseimbangan energi global di bumi.

Di saat satu daerah mengalami musim panas, maka tekanan menjadi rendah. Di daerah lain yang berada dalam keadaan sebaliknya, yakni musim dingin, maka tekanan udara menjadi tinggi. Perbedaan tekanan udara ini menjadi sebab berhembusnya angin. Hembusan angin itu membawa udara yang dingin ke tempat yang hangat, sehingga panas tidak sampai membakar. Ketika tiba giliran sebaliknya, udara pun tetap beredar, sehingga di tempat itu tidaklah sepanjang tahun merasakan panas yang membakar atau dingin yang membekukan. Di tempat yang nyaman itulah manusia dapat hidup dan menghidupi kehidupan.

Di tempat lain, ada yang disebut dengan kutub dan gurun. Di kutub, cuaca dingin sepanjang tahun, sementara di gurun, cuaca terik sepanjang tahun. Keberadaan gurun dan kutub bukan sebab Tuhan itu tidak adil. Justru, kehadiran mereka menjamin adanya pusat-pusat energi yang akan menggerakkan peredaran angin dan awan. Keseimbangan akan dicapai di tingkatan global, sehingga seluruh insan dapat merasakan.

Maka, bila kita lihat adanya kesempurnaan antara siang dan malam, antara musim dingin dan musim panas, adakah terbersit pada akal, bahwa tidak mungkin segala kesempurnaan itu terjadi dengan sendirinya?

Tentu saja, akal yang sehat akan menjawab, pastilah ada zat yang mengatur keseimbangan itu, sehingga manusia dapat hidup di bumi dan terus berkembang hingga hari ini.

Selanjutnya, Allah menyuruh kita melihat lautan! Ada apakah gerangan? Mengapa bisa kapal itu mengapung di atasnya?

Rupanya, air itu memiliki ikatan hidrogen tertentu, sehingga benda-benda dengan massa jenis di bawahnya, dapat mengapung di atasnya. Archimedes yang menemukan penjelasan itu, dan tentu saja bukan dia yang menciptakan keseimbangan itu, sebab sebelum dia hidup pun kapal tetap mengapung di atas lautan.

Mengapa pula kapal itu dapat berlayar?

Oh, rupanya ada arus dan gelombang lautan. Arus itu bergerak secara global. Ia membawa panas dari khatulistiwa menuju daerah lintang tinggi, sehingga tidak membeku lautannya. Dari daerah lintang tinggi itu, ia membawa kesejukan menuju khatulistiwa, sehingga tidak mendidih air di atasnya. Arus laut itu bergerak mengelilingi bumi, membawa rezeki dari satu tempat ke tempat lain. Tidak hanya bagi manusia yang berlayar dengan kapal di atasnya. Tetapi, bagi biota lautan, mulai dari plankton yang sulit dilihat oleh mata telanjang hingga ikan paus yang besarnya melebihi kapal selam.

Apa iya, sistem arus laut global itu terjadi dengan sendirinya?

Pastilah yang berakal sehat akan berkata, “ada yang mengaturnya!”

Selanjutnya, perhatikanlah hujan!

Air hujan itu membawa harapan kehidupan, sehingga daerah yang tadinya kering dapat tumbuh pepohonan. Adanya air akan mengundang suksesi kehidupan. Mulanya lumut yang datang. Lalu biji-bijian yang terbawa di paruh burung berjatuhan, yang tadinya mengalami tidur dormansi menjadi hidup dan sel-sel di dalam mulai melakukan pembelahan. Tumbuh rerumputan. Mulailah hadir pohon-pohon yang besar, hingga menarik hewan dari sekitaran untuk berdatangan. Jadilah ia rimba dalam bertahun-tahun proses yang perlahan.

Maka, apakah mungkin semua terjadi dengan kebetulan?

Oh, tentulah tidak! Pasti ada yang menggerakkan!

Perhatikan pula angin dan awan. Angin itu punya energi yang sedemikian besar. Tapi, tidak semua angin membawa kehancuran. Ada angin-angin yang membawa penghidupan. Dibawa olehnya awan, sehingga tersebarlah hujan bercucuran. Awan itu pun membawa air dari tempat yang tidak pernah kita ketahui asalnya. Kemudian menurunkannya dengan rintik-rintik perlahan. Didorong oleh angin sehingga persebarannya merata. Oleh tanah, air itu kemudian disimpan. Sebagian di tempat yang dangkal, sehingga manusia mudah untuk mengambilnya. Sebagian yang lain di lapisan dalam, yang kita namai sebagai artesis, untuk disimpan dan menjadi cadangan.

Hembusan angin itu pun punya keteraturan. Di belahan bumi utara, berputar ia searah jarum jam dan berbeloknya ke kanan. Di selatan, sebaliknya, ia berputar berlawanan arah jarum jam dan ke kiri beloknya. Di khatulistiwa, angin itu bertemu dan berjalan dari arah timur ke barat. Kecuali, jika ada peristiwa tertentu, seperti El Niño, yang menjadikannya bergerak ke arah sebaliknya. Secara vertikal, angin itu pun punya keteraturan peredarannya tersendiri. Ada sel angin yang ditemukan oleh Hadley, sehingga disebutlah sel itu sebagai Sel Hadley, yang memutar angin secara vertikal dari khatulistiwa ke lintang sedang. Lagi-lagi, bukan Hadley yang membuat sel angin itu, sebab sebelum ia hidup pun perputaran angin itu sudah berjalan. Ia hanya menemukan setelah melakukan pengamatan dan pendayagunaan akal pikiran.

Lihatlah, peredaran angin, terbentuknya awan, dan urunnya hujan, adalah peristiwa yang menakjubkan. Maka, akan menjengkelkan jika masih saja ada yang menyebut semuanya terjadi hanya kebetulan. Pastilah ada yang mengatur!

Maka, sesudah kita perhatikan alam sekitar, apakah ada ruang sisa dalam pikiran?

Tentu saja! Akal hanya mampu membawa kita pada sebuah simpulan, bahwa semua kesempurnaan itu ada yang menciptakan, kemudian menjaganya dalam sebuah keteraturan. Tetapi, siapakah Dia, akal belum juga mampu menunjukkan.

Datanglah wahyu, dari Allah, melalui Jibril, dan diterima oleh Muhammad sang utusan. Allah menjelaskan bahwa Dialah Tuhan yang dalam fitrah akal itu kita temukan.

Bergetarlah hati, kokohlah iman.

Lantas, apa hubungannya dengan Allah itu tunggal? Bukankah dalam mitologi lain, disebut ada tuhan yang mengatur hujan, menjaga kesuburan tanaman, mengatur gelombang di lautan, hingga menjaga hutan?

Iya, memang ada mitos semacam itu. Namun, cobalah perhatikan. Apakah mungkin keteraturan, keseimbangan, keharmonisan, dan kesempurnaan dapat terjadi jika Tuhan itu berbilang?

Pastilah tidak!

Bagaimana bisa keseimbangan di alam dapat terjadi, jika ada dua tuhan yang punya sifat bertentangan, yang satu membangun yang lain merusak?

Bagaimana bisa kesempurnaan timbangan itu terdapat, jika tuhan itu berbilang, ketika yang satu hendak menyuburkan sementara yang lain ingin mengeringkan?

Bagaimana mereka itu pantas disebut sebagai tuhan, jika kekuasaan mereka dibatasi oleh tuhan-tuhan yang lain? Lantas, siapa yang jadi tuhannya para tuhan itu?

Maka, tidaklah pantas yang berbilang itu dijadikan tuhan, sebab mereka sendiri ada dalam keterbatasan dan kekacauan!

Pastilah Tuhan itu tunggal! Sebab, bila Tuhan itu berbilang, pastilah kerusakan dan kebinasaan yang terjadi di bumi maupun di langit!

لَوْ كَانَ فِيْهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبْحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلْعَرْشِ عَمَّا يَصِفُونَ (٢٢)

“kalaulah sekiranya di keduanya (langit dan bumi) ada Tuhan lain selain Allah, pastilah akan terjadi kerusakan. Maka, maha Suci Allah, Rabb yang menguasai ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan”

Oleh karena itulah, mereka yang mau menggunakan akal tanpa kesombongan, pastilah akan tiba di satu simpulan. Tuhan itu pastilah Tunggal, Esa, tidak berbilang. Dan, tidak ada “tuhan-tuhan” lain yang memenuhi kriteria itu, sebab mereka hanyalah rekaan manusia. Hanya Allah yang patut dipertuhankan, bukan yang lain.

Menuhankan Allah, ialah tuntunan fitrah daripada akal yang digunakan. Mengelak dari Allah hanya akan membawa pada kekacauan, baik pikiran, jiwa, maupun masa depan. Oleh sebab itu, tidak ada pilihan lain bagi mereka yang punya akal, selain mendarmabaktikan hidup untuk beribadah kepada Allah Ta’ala saja.

Maha Suci Allah, Tuhan sarwa sekalian alam, yang Maha Esa, Maha Kuasa, dan Maha Pengatur segala. Laa ilaaha illa Allah!

Daftar bacaan

Tafsir Jalalain

Tafsir Ibnu Katsir

Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah az Zuhaili

Tafsir at Thabari

Pelajaran Agama Islam, Buya Hamka

Leave a comment

Previous Post
Next Post