Alhamdulillah, selama kuliah, Allah memberi saya amanah di berbagai tempat di LDK, baik yang di tingkat universitas maupun tingkat fakultas. Mulai menjadi staf sampai kepada kepala departemen, mulai dari bagian jaga presensi hingga jadi project officer, mulai dari bidang keilmuan sampai ke syiar. Meski memang saya mesti akui tidak semuanya bisa saya jalankan dengan baik.
Sekarang, saya sudah tiba waktunya untuk berhenti dari berbagai amanah ini. Sebab waktu terus bergulir, dan para penerus pun terus lahir. Sebagaimana mereka yang sudah purnatugas lainnya, sekarang tampaknya waktu yang tepat bagi saya untuk melakukan refleksi dan memberi berbagai pandangan. Pandangan ini tentunya bersifat subjektif, karena memang lahir dari pengalaman saya pribadi dan tidak melalui proses penelitian ilmiah dengan metodologi yang ketat.
BERAWAL DARI KEKECEWAAN
Apa yang saya jadikan keresahan di sini mungkin sebuah bentuk generalisasi yang bersifat subjektif. Tapi, saya kira ada perlunya bagi kita untuk merenunginya.
Banyak di antara mahasiswa baru punya ghirah terhadap agama. Baik mereka yang asalnya dari desa maupun kota besar seperti Jakarta. Baik mereka yang bersekolah di sekolah negeri maupun pesantren-pesantren di pelosok negeri. Bisa kita katakan hampir separuh mahasiswa muslim, setidaknya punya keinginan untuk belajar banyak hal di kampus. Salah satunya, belajar agama.
Tapi ada satu hal yang membentuk ganjalan pada diri mereka ini. Bagaimana pembelajaran agama itu bisa didapatkan sesuai dengan kemampuan mereka. Sesuai dengan tinjauan ilmiah layaknya seorang mahasiswa di jantung intelektual. Tidak jarang, mereka kecewa dengan kondisi yang ada.
Bagaimana tidak kecewa. Di media sosial, akun-akun bernamakan “dakwah”, “Islam”, “agama”, dkk. isinya tidak jauh dari nikah muda, jangan pacaran, ngomongin politik, yang bahkan ikut serta dalam reproduksi polaritas di masyarakat sampai yang ekstremnya, hoaks.
Tentu kita kecewa pada mereka yang menamakan akunnya dengan embel-embel Islam, syiar, dakwah, dsb. tapi berkelakuan layaknya tidak pernah berdaya pikir.
Pembawaannya pun cenderung monoton. Kontennya pun alih-alih membuka wawasan, justru mempersempit pemahaman. Apa-apa yang khilafiyah dianggap hanya ada satu tafsir tunggal. Apa-apa yang sudah qath’i, malah tidak disentuh untuk dibahas. Belum lagi kalau sudah masuk ranah politik. Kerjaannya kalau tidak dukung mendukung paslon X, ya menjelek-jelekkan paslon Y. Padahal baik X maupun Y, semua sudah mafhum, tidak ada yang berasal dari rahim umat Islam sendiri.
Apa nikah muda itu salah? Tidak. Apa bahas politik salah? Tidak. Apa mengajak hapalin ayat ini itu atau bahkan seluruh Al Quran itu salah? Sama sekali tidak.
Lalu di mana salahnya?
Masih rendahnya derajat keilmiahan dalam tulisan dan lemahnya penguasaan terhadap ilmu-ilmu keislaman. Padahal dakwah itu semestinya membuka khazanah keilmuan yang ada kepada generasi muda kaum muslimin.
Apa buktinya?
Sederhana saja sebenarnya. Kalau sesuatu dibagikan terus menerus, dengan redaksi yang sama persis, kemudian dicopas oleh akun tetangga, ya itu indikasi bahwa tidak punya bahan lain selain itu. Anak muda seolah-olah dipersempit pikirannya kalau tidak pacaran ya harus nikah muda. Kalau tidak dukung paslon A artinga munafik. Kalau tidak begini pasti begitu.
Pandangan yang amat hitam putih ini menandakan spektrum pandangan kita belum luas. Kita perlu untuk meluaskannya. Dengan ilmu, tentunya.
MENDAKWAHKAN ISLAM ATAU MENDAKWAHKAN PROGRAM KERJA?
Lalu para mahasiswa itu pun mencari alternatif selain media sosial akun keislaman yang menyebar luas itu. Ya, kita tidak pernah tahu mereka yang di balik akun-akun tadi beneran pernah belajar agama dengan baik atau cuma lulusan pesantren kilat. Kita tidak tahu bahwa mereka yang jadi admin itu, ustaz beneran atau anak kemarin sore yang baru hijrah. Dengan begitu, tentu tidak bisa tinggi-tinggi ekspektasi untuk kontennya.
Maka, alternatif lain pun mengarah pada akun ofisial dari LD, baik di tingkat universitas (LDK) maupun di tingkat fakultas (LDF). Tapi sayang, kekecewaan kembali didapat.
Kekecewaan kali ini sedikit berbeda dari yang sebelumnya. Memang, di akun-akun LDK cenderung tidak membicarakan politik praktis maupun nikah muda. Tapi juga tidak lebih memuaskan dari sisi kontennya.
Apa yang didapat dari akun lembaga dakwah kampus? Ilmu ushul fiqh? Fiqh keseharian? Sejarah peradaban Islam? Kajian tafsir Al Quran? Kajian Syarah Shahih Muslim? Kajian filsafat Islam? Bahasan Tasawuf?
Mungkin satu dua ada. Tapi tetap saja tidak menjadi dominan. Lebih banyak postingan seputar program kerja dibandingkan khazanah keilmuan Islam itu sendiri. Medsos LDK tidak lebih dari papan informasi program kerja daripada “dakwah islam” itu sendiri. Pangsa pasar untuk menggaet mereka yang kecewa dari akun dakwah tidak jelas di luar sana tidak dimanfaatkan dengan baik. Akibatnya, kekecewaan mereka tidak bisa tertampung dengan baik, yang akhirnya justru menjauhkan mereka dari dakwah Islam itu sendiri.
Inilah kemudian yang bikin kita bertanya lagi. Apa ini dakwahnya lembaga dakwah kampus? Dakwah itu oprec panitia bukan kajian kitab? Dakwah itu notulensi acara bukan makalah pemateri? Apa bedanya dengan akun organisasi kemahasiswaan yang lain?
INTINYA ADA PADA KEILMUAN, BUKAN SYIAR
Dalam ekonomi, jika kita ingin memasarkan barang agar diterima konsumen, tentu kita perlu punya diferensiasi terhadap barang sejenis. Kalau kita ingin menawarkan lembaga dakwah kampus sebagai organisasi kemahasiswaan yang berbeda, kita perlu punya diferensiasi. Diferensiasi lembaga dakwah kampus ialah pemahamannya atas agama yang mendalam sehingga bisa meyakinkan mereka yang sebelumnya ragu dan memahamkan pada mereka yang tadinya tidak tahu. Diferensiasi itu dengan menawarkan kebaharuan dan kesesuaian dengan kebutuhan pasarnya.
Maka, dari sinilah konsep yang kemudian saya tawarkan untuk menjawab keresahan ini. Menurut saya, adalah sebuah kekeliruan jika tulang punggung lembaga dakwah kampus ada pada urusan syiar, bukan keilmuan.
Apa saya mengecilkan peran syiar? Tidak. Salah paham kalau dengan saya menekankan keilmuan berarti mengerdilkan peran syiar.
Ide utamanya ada di sini. Kalau keilmuannya saja tidak bagus, apa yang mau disyiarkan? Kalau secara keilmuan tidak kuat, apa yang mau disebarkan? Kalau kita sendiri tidak paham dengan ilmu keislaman, bagaimana bisa meyakinkan dengan menyebarkan kepada orang lain?
Syiar itu penting. Tapi yang jauh lebih penting adalah punya ilmu yang hendak disyiarkan. Ilmu yang luas dan dalam. Agar tidak melulu mengulang apa yang sudah disampaikan. Agar ada diferensiasi antara ilmu yang diberikan dari satu fakultas dan fakultas lain. Ilmu yang mencerahkan nalar dan tidak sekadar mengakomodasi “common sense” belaka. Apa yang diolah oleh keilmuan itu, barulah disebarkan oleh syiar.
Saya sering menjelaskannya dengan begini.
Syiar itu kan dari syu’ur. Dia berasal dari kata yang maknanya bukan sekadar mengajak, tapi mengajak yang melibatkan hati. Mengajak itu tentu untuk menuju sesuatu yang diinginkan. Kalau kita berani mengajak orang lain, tentu kita harus yakin dulu dengan tujuan kita. Okelah kita sudah yakin, lalu bagaimana memberitahu mereka yang belum yakin agar ikut yakin? Bagaimana biar mereka yakin bahwa kita benar-benar meyakinkan? Bagaimana supaya apa yang kita syiarkan itu didengar dan benar-benar menyentuh hati?
Bisa diibaratkan, kita mengajak orang untuk makan-makan bersama. Mengajaknya adalah bentuk syiar dan dakwah. Tapi makanan yang hendak disajikan adalah ilmunya. Akan percuma apabila ajakan kita sudah terlampau heboh, tapi makanan yang disajikan cuma kotak kue yang diisi rengginang saja. Yang ada, mereka yang diajak akan kecewa.
Inilah urgensi ilmu dalam bersyiar. Agar kita tidak sekadar ada pada derajat yakin yang biasa-biasa saja, tapi sampai pada haqqul yaqiin. Keyakinan yang punya dalil (dasar, pondasi) dan dipertahankan melalui hujjah (argumentasi, rasionalisasi) yang kokoh. Bukan yakin yang “sing penting yakin”.
TANGGUNG JAWAB INTELEKTUALITAS MAHASISWA
Di sinilah seharusnya kita yang ada di lembaga dakwah kampus itu terpanggil. Lembaga kita menyandang nama “kampus” alias “universitas”. Kita adalah manusia yang sedang mengalami proses “kuliah” agar menjadi manusia yang “kulliyyah”. Artinya, kita punya tanggung jawab intelektualitas selaku mahasiswa. Dakwah kita tentu tidak bisa biasa-biasa saja karena pangsa pasar kita adalah mahasiswa, sekumpulan orang yang diberi kelebihan mengenyam pendidikan tinggi. Maka, dakwahnya pun harus bernuansa intelektual.
“Kita juga masih belajar” atau “kita juga belum paham” tidak pantas rasanya dijadikan apologi. Sekali kita siap tanggung amanah menjadi bagian dari lembaga dakwah kampus, maka tanggung jawab intelektualitas itu harus ikut diemban. Dakwah yang berkualitas secara keilmuan, bukan sekadar yang disyiarkan, harus menjadi ruh dari lembaga dakwah kampus. Apa gunanya embel-embel kampus jika kualitasnya tidak sepadan dengan dunia kampus yang menekankan pada daya pikir dan daya nalar?
Meski demikian, kita juga tidak bisa menutup mata, barangkali memang SDM yang tersedia tidak sepenuhnya bisa memenuhi tuntutan yang demikian. Mereka yang punya minat gabung dengan lembaga dakwah banyak juga yang tadinya bukan berasal dari sekolah berbasis agama. Untuk mengisi kebutuhan akan hal itu, mereka harus tergerak agar mencari orang yang tepat. Carilah ustaz, ilmuan, dosen, kiyai, yang punya kapabilitas untuk memberikan pengajaran pada mahasiswa seputar agama Islam. Masa iya, tidak ada juga? Tidak ada atau tidak mencari? Kalau memang berniat meningkatkan sisi intelektualitas lembaga dakwah kampus, hal semacam ini bukan dipandang sebagai hambatan, tapi keharusan yang “urgently needed”. Jangan sampai kalau kita tidak bisa, kita tidak berusaha untuk menjadi bisa.
Sebagai lembaga dakwah yang target pemasarannya adalah sesama mahasiswa yang punya daya pikir kritis, tentulah kita harus punya gaya yang seiring sejalan. Dakwah kita mesti sesuai dengan “bahasa kaumnya”. Bahasa kita adalah bahasa intelektual. Untuk itu, kita tidak bisa berhenti pada jawaban atas pertanyaan “apa” tetapi kita juga mesti mampu menjawab soal “bagaimana” dan “mengapa”. Artinya kita perlu pemahaman operasionalisasi dari “apa” untuk menjawab “bagaimana” dan memahami persoalan secara rasional sehingga bisa menjawab “mengapa” untuk yakin pada “apa” yang kita harapkan di awal.
Untuk itulah, tidak ada jalan lain bagi mahasiswa yang berkecimpung di lembaga dakwah kampus agar dakwahnya terdengar di jantung intelektualitas mahsiswa, selain dengan meningkatkan intelektualitasnya, khususnya dari sisi pengetahuan agama, agar bisa mengoneksikan dengan pengetahuan sains, teknologi, humaniora, dan sebagainya yang didapat melalui kelas kuliah di kampus. Dengan begitu, Al Quran dan ajaran Islam pada umumnya dapat hidup di tengah-tengah masyarakat kampus.
Lembaga dakwah kampus mestilah menghasilkan intelektual muslim. Yakni mereka yang tafaqquh fiddiin, paham dalam agama. Bukan sekadar bangga dengan agama, tapi paham mengapa agama kita pantas dibanggakan dan kita patut untuk memperjuangkan hal itu. Dengan pemahaman agama itulah dia menuntun ilmu pengetahuan lain yang didapat tidak melalui wahyu agar sesuai dengan nalar beragama.
Anggaplah ilmu agama dengan ilmu lain yang kita spesialisasi di kampus itu seperti puzzle-puzzle yang berserak. Maka kita bertanggung jawab untuk menyatukan kepingan yang berserak agar bisa menyatu. Itulah sisi syumuliatul Islam yang sesungguhnya. Sisi menyeluruhnya Islam tidak bisa dengan sekadar kita sebut “Islam menyentuh semua aspek kehidupan”, tapi kita mesti mampu menjelaskan, bagaimana Islam menyentuh tiap aspek kehidupan itu.
Dari sinilah kita bisa kembali menghidupkan kebudayaan Islam, yakni kebudayaan ilmu. Kebudayaan ilmiah. Kebudayaan yang berbasis pada timbangan wahyu dan akal. Dari budaya ilmu itulah kita tumbuhkan masyarakat yang bertaqwa, sesuai cita-cita pendidikan tinggi di dalam konstitusi kita.
MIMPI
Pada akhirnya, saya hanya bisa menitipkan mimpi saya ini pada generasi penerus. Saya punya mimpi, nantinya postingan di akun lembaga dakwah kampus bukan sekadar menampilkan kutipan ayat Al Quran, tapi juga pembahasan tafsirnya dengan merujuk kitab ulama terdahulu maupun kontemporer. Saya punya mimpi, kesibukan di tiap rapat bukan hanya sekadar siapa yang tanggung jawab program apa, tapi diskusi juga buku berbobot apa yang sudah dibaca dalam sepekan terakhir. Saya punya mimpi, fokus lembaga dakwah tidak melulu urusan bagaimana program itu diminati banyak orang, tapi lebih kepada berapa banyak makalah yang dihasilkan dari tiap seminar yang diadakan. Saya punya mimpi, tolok ukur keberhasilan satu periode kepengurusan bukan dari seberapa tebal LPJ nya, tapi seberapa banyak ilmu pengetahuan keislaman yang diproduksi oleh mereka.
Saya punya mimpi, kelak, lembaga dakwah kampus mampu mencetak intelektual muslim yang benar-benar punya kemampuan intelektualitas secara masif dan berdampak luas.
Memang, itu semua pada hari ini bisa jadi masih mimpi saya seorang. Untuk itu saya berharap, mimpi itu tidak sekadar dijadikan bunga tidur, tapi kita bangun untuk sama-sama wujudkan mimpi itu. Insya Allah, bisa!

Leave a comment