Jangan Salah Fokus

Published by

on

Banyak di antara kita yang sering salah fokus. Kita mudah terpesona dengan tampilan lahir, sehingga pada hakikat ia menjadi kabur. Betapa mudah manusia dipukau oleh kehebatan makhluk, tetapi lupa dengan kehebatan khalik.

Mari kita perhatikan firman Allah berikut,

وَمِنْ اٰيٰتِهِ الَّيْلُ وَا لنَّهَارُ وَا لشَّمْسُ وَا لْقَمَرُ ۗ لَا تَسْجُدُوْا لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَاسْجُدُوْا لِلّٰهِ الَّذِيْ خَلَقَهُنَّ اِنْ كُنْتُمْ اِيَّاهُ تَعْبُدُوْنَ

“Dan sebagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya ialah malam, siang, matahari, dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan jangan (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya jika kamu hanya menyembah kepada-Nya.”

(QS. Fussilat 41: Ayat 37)

Matahari, bulan, dan bintang adalah ciptaan yang sangat menakjubkan. Pergerakannya presisi sehingga tercipta keteraturan semesta. Peredarannya ajeg dalam garis edarnya masing-masing. Perputaran satu benda langit tidak mengganggu yang lain, karena semua berada dalam perhitungan yang sempurna.

Bergantinya siang dan malam pun bagian dari fenomena semesta yang menakjubkan. Dari sana kita bisa mengatur pemanfaatan waktu, menggali ilmu, dan mencari hikmah.Tetapi sayang, banyak manusia yang silau dengan kehebatan makhluk, hingga lupa pada sang Khalik.

Pada zaman dahulu, banyak yang menjadikan bulan, bintang, bumi, hingga benda-benda lain sebagai Tuhan. Memang, bintang itu bersinar terang, tetapi ia bukan Tuhan. Memang, bulan begitu menawan ditatap di kala malam, tetapi ia bukan Tuhan. Memang, bumi demikian luas dan menyimpan kekuatan yang dahsyat, tetapi ia bukan Tuhan.

Salah satu syarat daripada Tuhan ialah berkuasa atas dirinya sendiri dan atas makhluk. Bumi, bulan, dan bintang tidak punya kuasa itu.

Bukankah peredaran benda langit itu saling berketergantungan satu dengan yang lainnya? Gravitasi yang saling “mengikat” setiap planet dalam garis edarnya, karena masing-masing benda itu memiliki massa, sehingga ia punya gaya tarik menarik dengan benda lain yang juga memiliki massa. Ketiadaan satu saja planet, akan berpengaruh pada planet yang lain. Ketergantungan itu tidak pantas ada pada Tuhan yang disembah.

Zaman kini pun berubah. Memang, bukan matahari atau bulan lagi yang disembah. Tetapi ilmu akan mereka yang disembah! Betapa para fisikawan, antariksawan, dan ilmuan lain yang begitu terpukaunya pada alam semesta, justru hilang keyakinannya akan keberadaan Tuhan.

Ilmu pengetahuan dan teknologi memang mampu menyibak berbagai rahasia semesta. Tetapi, bukankah hanya rahasia yang mampu ia telisik? Sementara Sang Pencipta tidak sedikit pun dapat diusik?

Bukankah mereka hanya mampu menjelaskan apa yang ada, bukan mengadakan sesuatu dari ketiadaan?Bukankah mereka hanya mampu mensintesis hukum-hukum yang bekerja, bukan menetapkan keteraturan hukum yang ada pada semesta?

Maka, sungguh kita memang mesti menguasai ilmu pengetahuan, tetapi bukan justru kita yang dikuasi oleh hegemoni pengetahuan.Alam raya itu sejatinya adalah pertanda, bahwa ada Tuhan yang menguasai dan mengaturnya.

Kesempurnaan dalam harmoni alam raya itu pun sejatinya pertanda, ada Tuhan yang mengarsiteki dengan pengetahuan yang sempurna. Bukan pengetahuan yang baru muncul dari pengamatan, tetapi pengetahuan yang memampukan untuk menciptakan sesuatu dari ketiadaan.

Dari situlah akan muncul dalil dan landasan, sebagai salah satu jalan menuju keyakinan. Dari jendela ilmu pengetahuan, keimanan akan kita dapatkan.

Lalu iman pun memberikan tuntutan. Dialah Allah yang menciptakan, menguasai, dan menggenggam segala ciptaan. Bukan bulan dan bintang yang menjadi hakikat. Mereka hanyalah alamat (pertanda dan penunjuk jalan) menuju kesejatian hakikat. Berjalanlah dengan benar di atas jalan pengetahuan, sehingga tersampaikan kita pada tujuan.

Tujuan akhir itu ialah Tauhid. Iman yang menegaskan keesaan Allah sebagai Tuhan sarwa sekalian alam.

Wallahu a’lam.

Sumber gambar: nationalgeographic.com

Leave a comment