Fitnah dajjal itu nyata dan pasti akan kejadian. Kita ini perlu untuk berfokus melawan fitnah dajjal. Meningkatkan keimanan agar fitnah dajjal tidak mempan untuk mengelabui kita. Memperbanyak ibadah agar tipuan dajjal tidak mudah mengecoh kita. Berlindung kepada Allah agar kita tidak menjadi pengikut dajjal.
Tapi, entah mengapa, sekarang ini kita lebih disibukkan untuk mencari siapa itu dajjal, ada di mana dia, sedang menyusun rencana apa, ketimbang menyiapkan diri dari fitnah dajjal itu sendiri.
Ini tentu sebuah paradoks.
Beberapa tahun silam, tema tentang akhir zaman sempat menjadi trending topics. Banyak buku yang mengulas akhir zaman dijual. Mulai dari yang klasik seperti al Bidayah wa an Nihayah karya Imam Ibnu Katsir, hingga buku kontemporer yang diterbitkan oleh beragam penerbit.
Entah mengapa, bila kita perhatikan, ada pergeseran dari gaya penulisan buku-buku itu. Buku klasik seperti kitabnya Ibnu Katsir, cukup ketat untuk berpegang pada dalil seputar Hari Akhir. Mulai dari menceritakan tanda-tandanya, hingga menjelaskan proses kejadian dari kiamat sampai surga dan neraka. Tapi buku semacam ini tidak begitu menarik perhatian masyarakat luas. Buku-buku yang berbasis (pseudo)teori konspirasi justru laku keras.
Sebut saja beberapa yang melegenda, seperti buku yang mengulas tanda iluminati di Jakarta hingga “Garut Kota Iluminati”. Mulai dari membahas konspirasi zioinis sampai organisasi rahasia penyembah setan. Buku itu bisa dikatakan lebih menarik perhatian ketimbang kitab para ulama itu.
Mungkin, kegemaran kita pada desas desus lebih besar daripada mengkaji secara runut dan ilmiah.
Saya baca beberapa buku (pseudo)teori konspirasi itu. Memang, ada beberapa yang dibawakan secara ilmiah. Ada data sejarah, ada dokumen resmi, dsb. Tapi, fakta itu kemudian dibumbui dengan berbagai macam racikan sehingga mengarahkan kita pada simpulan bahwa “oh si A itu anggota freemason”, “oh logo X itu iluminati”.
Ini adalah pseudoilmiah. Ilmiah aspal. Asli tapi palsu, alias abal abal. Mirip buku teori bumi datar yang saya baca. Fakta dia bawa, dilengkapi gambar juga. Tapi karena memang pahamnya dari awal sudah salah, ujungnya adalah salah paham yang tidak mau untuk dibenarkan.
Efek dari berbagai (pseudo)teori konspirasi ini bisa kita rasakan sekarang. Betapa banyak orang yang dengan mudah menuduh si A anggota freemason dan perusahaan X itu iluminati. Seperti tuduhan pada RK akhir-akhir ini. Mesjid yang dirancangnya dianggap berbasis rancang bangun iluminati karena banyak menggunakan bentuk segitiga. Pro kontra pun muncul silih berganti.
Sebenarnya, (pseudo)teori konspirasi itu sangat patut kita kritisi.
Apa saja itu?
Pertama, sebagai seorang muslim, tentu bahasan seputar kiamat beserta seluruh kejadian yang mendahuluinya sebagai pertanda, mesti dilandaskan pada Al Quran dan Hadits Nabi Saw. Mengapa?
Coba perhatikan berbagai ayat al Quran, seperti salah satunya ayat ke-187 dari Al A’raf ini,
يَسْئَـــلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰٮهَا ۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ ۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَاۤ اِلَّا هُوَ ۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَا لْاَرْضِ ۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗ يَسْــئَلُوْنَكَ كَاَ نَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا ۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, Kapan terjadi? Katakanlah, Sesungguhnya pengetahuan tentang Kiamat itu ada pada Tuhanku; tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi, tidak akan datang kepadamu, kecuali secara tiba-tiba. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Muhammad), Sesungguhnya pengetahuan tentang (hari Kiamat) ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Nah, ilmu seputar kiamat itu tidak seperti ilmu lain yang bisa dengan mudah manusia temukan. Kejadian kiamat itu sendiri belum terjadi. Artinya, dia termasuk sesuatu yang secara zhahir belum nampak. Ilmu manusia yang berbasis indra tidak bisa memasuki ruang ini. Mestilah ada bimbingan wahyu. Maka, carilah bimbingan pada Al Quran dan Hadits shahih sebagai sebuah sumber ilmu berupa “khabar shadiq”..
Kedua, seputar iluminati yang mengasumsikan logo dajjal itu mata satu berbentuk segitiga. Kita mesti mengkritik ini dalam-dalam. Dari mana asumsi itu datang?
Saya belum pernah menemukan satu pun ayat al Quran dan Hadits Shahih yang menyebutkan ciri itu. Yang ada, ciri dari dajjal itu bermata picik sebelah (artinya ia bermata. dua), dan di antara kedua matanya ada tulisan كافر. Perhatikan hadits yang dinukil oIeh Fuad Abdul Baqi’ dalam “al Lu’lu wa al Marjan”, yang menghimpun shahih Bukhari dan Muslim berikut,
مَا بُعِثَ نَبِىٌّ إِلاَّ أَنْذَرَ أُمَّتَهُ الأَعْوَرَ الْكَذَّابَ، أَلاَ إِنَّهُ أَعْوَرُ وَإِنَّ رَبَّكُمْ لَيْسَ بِأَعْوَرَ، وَإِنَّ بَيْنَ عَيْنَيْهِ مَكْتُوبٌ كَافِرٌ
“Tidaklah diutus seorang nabi, kecuali untuk memperingatkan umatnya tentang seorang yang buta sebelah matanya dan merupakan pendusta. Ingatlah, bahwa sesungguhnya dia itu buta sebelah matanya, sementara Rabb kalian itu tidaklah buta. Dan sesungguhnya di antara kedua matanya tertulis كافر”
Dalam hadits shahihain lainnya disebut bahwa ciri dari Dajjal ialah bisa memutarbalikkan fakta. Api dia gambarkan sebagai air, begitu pula sebaliknya. Para pengikutnya akan percaya apa saja yang dikatakan oleh Dajjal. Dajjal pun memiliki kehebatan seperti mukjizat para Nabi, mampu menghidupkan yang mati, menyuburkan tanah tandus, mendatangjan hujan. Dari situlah dia menipu orang2 bahwa dia adalah Tuhan.
Orang-orang yang lemah imannya akan mudah terperdaya, karena secara zhahir Dajjal memang menyajikan berbagai kehebatan. Tapi, kalau diperhatikan dengan benar, maka orang beriman akan mampu menyelisihi.
Nah, perhatikan ciri dari dajjal yang Nabi terangkan pada hadits tersebut? Adakah disebut dia membawa mata satu di dalam segitiga, muncul dari perairan segitiga bermuda, atau membuat organisasi (katanya) rahasia?
Dajjal akan ada banyak jumlahnya, dalam sebuah riwayat disebut mencapai 30 orang. Semuanya mengaku tuhan. Semuanya pendusta. Semuanya mengelabui manusia. Tapi nanti akan muncul dajjal terbesar, Masih ad Dajjal, yang menyerupai mukjizat Nabi Isa, seperti yang dijelaskan sebelumnya.
Nah, berita tentang Dajjal yang termasuk ghaib ini perlu kita perketat pada landasan “khabar shadiq”, yakni dari Al Quran dan Hadits Shahih. Mengapa? Agar tidak bercampur dengan desas desus, kabar bohong, dan (pseudo)teori konspirasi yang hanya akan mengaburkan fokus kita dari ancaman yang sesungguhnya. Fokus kita ada pada berlindung dari fitnah dajjal, bukan dari logo segitiga.
Ketiga, kecenderungan hasil dari (pseudo)teori konspirasi adalah cocokologi. Kenapa? Karena basis dari (pseudo)teori itu sendiri adalah konspirasi. Sesuatu yang secara ilmiah belum bisa ditemukan kebenarannya secara pasti, sehingga sulit bagi kita untuk mempertanggungjawabkannya. Konspirasi itu artinya rencana rahasia yang dibuat untuk tujuan tertentu, umumnya jahat.
Kalau rencana yang hendak ditelisik saja sifatnya rahasia, bagaimana ia bisa menjadi sedemikian gamblangnya seperti yang sekarang digembar gemborkan? Untuk apa buat lambang yang semua orang akan menghubungkannya dengan dirinya? Bukannya freemason itu organisasi rahasia?
Artinya, ada basis prasangka di situ. Basis prasangka, bisa kita kategorikan, paling jauh, ada di zhann. Malah bisa jadi juga, dia hanya syakk atau bahkan wahn. Tidak pernah dia masuk ke dalam taraf keyakinan, karena memang tidak ada bukti yang meyakinkan.
Segitiga disebut lambang iluminati. Akhirnya semua logo, bangunan, atau apa pun yang punya bentuk segitiga, dianggap iluminati. Satu dua hal dicocokkan, mungkin masih bisa benar. Tapi apa semua segitiga itu pasti iluminati? Lho, bukannya banyak logo pesantren dan ormas Islam, seperti FPI, yang bentuknya juga segitiga? Apa kita bisa bilang FPI itu iluminati? Kan tentu tidak mungkin.
Keempat, cocokologi itu pada akhirnya menyibukkan kita untuk mencari siapa sih dajjal? Di mana dia sekarang? Sedang menyusun rencana apa? Padahal itu sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu penting untuk jadi fokus kita. Fokus kita adalah untuk melindungi diri dari fitnah dajjal.
Fitnah dajjal itu dahsyat. Sebab ia, dengan izin Allah, mampu menghadirkan banyak keajaiban layaknya mukjizat seorang nabi. Di sinilah fungsi kita untuk meningkatkan keimanan. Supaya kita tidak mudah tertipu tingkah laku zhahir yang sedemikian hebat, sehingga kita lalai untuk menelisik apa yang sesungguhnya terjadi.
Hal semacam ini yang sebenarnya dibutuhkan masyarakat kita. Untuk apa kita sibuk mengutak atik segitiga, sementara ada banyak di antara kita yang mudah ditipu dukun untuk menghadirkan kekayaan semu? Bukankah kelakuan dukun itu mirip dengan dajjal yang mengelabui zhahir? Untuk apa kita sibuk mencari-cari logo mata satu, sementara mata banyak di antara kita yang masih mudah ditipu oleh jabatan dan kedengkian untuk mencapai jabatan? Bukankah dajjal memang akan mengacaukan umat Islam sehingga mereka berperang melawan sesamanya?
Maka, bila kita sudah mengetahui apa yang menjadi ancaman sesungguhnya, kita tidak perlu mengutak atik simbol dajjal (yang sebenarnya juga tidak ada landasan, baik wahyu maupun ilmiah) itu. Fokus kita adalah mengurusi iman kita, keluarga kita, dan masyarakat kita, sehingga tidak mudah terbuai oleh kehebatan yang tampak pada lahiriah.
Jangan sampai, ketika kita sibuk dengan logo, bentuk, dan rupa, bisa jadi kita menurunkan kewaspadaan kita menjadi sekadar pada simbol semata. Bukan pada sosok Dajjal yang sesungguhnya. Bukan pula pada fokus menyelamatkan diri melalui peningkatan iman dan takwa.
Malahan, dengan kita berfokus pada penguatan iman, kita bisa terhindar dari urusan yang tidak perlu. Seperti mengumbar tuduhan si anu anggota Freemason dan si fulan penyebar agenda Iluminati. Kalau salah, jatuhnya fitnah. Kalau benar, jatuhnya suuzon. Keduanya adalah dosa.
Lho, bukannya yang dia buat mirip tanda-tanda iluminati? Sudahlah, husnuzzhan kepada sesama muslim itu perlu. Segitiga itu kan tidak eksklusif milik iluminati. Tapi itu bangun geometri yang dipelajari dari anak TK sampai dieksplorasi oleh mahasiswa arsitektur. Jangan menuduh, kecuali kalau dia memang secara jelas mendeklarasikan diri sebagai anggota iluminati.
“Ah, tapi maling kan ga akan ngaku jadi maling”. Ya memang, tapi bukan urusan kita kalau dia gak mau ngaku punya niat jahat. Urusan kita adalah menjaga diri kita, agar tidak sembarangan nuduh orang lain punya niat jahat, padahal secara zhahir lakunya baik dan dia mengaku orang baik. Kita tidak akan pernah bisa menilai niatan. Yang kita nilai adalah tingkah lakunya.
Maka, apa simpulannya?
Jangan salah fokus. Yang akan kita hadapi itu adalah fitnah dajjal dan dajjalnya itu sendiri, bukan segitiga mata satu. Apalagi gedung bentuknya segitiga. Gedungnya mah diem-diem bae mau ada apa juga. Hehehe

Leave a comment