ۗقُلْ هَلْ يَسْتَوِى الَّذِيْنَ يَعْلَمُوْنَ وَا لَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ۗ اِنَّمَا يَتَذَكَّرُ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ
“Katakanlah, Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Sebenarnya hanya orang yang berakal sehat yang dapat menerima pelajaran.”
Az Zumar ayat 9
Orang yang berilmu berbeda dengan orang yang tidak punya ilmu.
Ilmu apakah yang dimaksud?
Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menyebut, “pokok dari semua pengetahuan ialah mengenal Allah. Tidak kenal Allah sama artinya dengan bodoh. Sebab dia tidak tahu akan ke mana diarahkannya ilmu pengetahuan yang didapatkannya itu.”
Pengetahuan yang paling mendasar bagi seorang manusia ialah mengetahui penciptanya, Allah Swt. Dari situlah dia akan memahami bagaimana hidupnya akan diarahkan. Bagaimana dia menjadi seorang hamba yang baik. Menuntutlah ia pada ilmu yang dapat menuntunnya beribadah.
Maka, tidak sama antara orang yang mengenali Tuhannya dengan orang yang tidak tahu Tuhannya. Dalam Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah az Zuhaili menyebut, jelaslah dari ayat ini, orang yang beriman tentulah berbeda dengan orang yang kafir. Tidak sama antara orang yang menyembah Allah dengan orang yang musyrik.
Itulah mengapa perlu ditegaskan, bahwa akal sehat itu pastilah mengarah pada Tauhid. Tidak bisa jika seseorang mengaku orang yang berakal sehat tapi tidak mengakui keberadaan Tuhan. Pastilah bermasalah akalnya.
Maka, sebutan orang yang bisa mengambil pelajaran dan pemahaman akan keberadan Tuhan itu disebut sebagai “Ulul Albab”. Hanya mereka yang berakal sehat, bisa pada simpulan akan keimanan kepada Allah semata.
Mereka menjadi ulul albab, karena senantiasa menafakkuri dan menadabburi ayat-ayat-Nya. Tidak berhenti pada penjelasan dan analisis atas fenomena. Namun lebih jauh dari situ, dia semakin yakin akan keesaan Allah. Itulah yang disebut oleh para ulama ahli tasawuf, ke mana saja engkau melihat, sejatinya engkau “melihat” Allah.
Engkau melihat semesta, tak hanya berhenti pada penjelasan proses terbentuknya semesta, tetapi semakin yakin bahwa tanpa kuasa Allah, tidak mungkin ada gunung. Engkau melihat dinamika kehidupan, tak hanya berhenti pada penjelasan bagaimana masyarakat saling berinteraksi, tetapi semakin yakin betapa Allah amat teliti akan ciptaan-Nya yang sangat beraneka ragam.
Meski memang, orang yang berilmu akan punya tanggungan tambahan. Jika seseorang bersalah tetapi ia tidak tahu bahwa yang diperbuatnya salah, masih bisa termaafkan. Akan tetapi, bagi seorang berilmu, yang sudah paham bahwa yang dilakukannya salah, maka kesalahannya menjadi lebih besar.
Menjadi seorang yang semakin berilmu pun sejatinya akan semakin meluaskan pandangan. Kita akan semakin paham bagaimana penafsiran itu bermacam-macam. Bagaimana kita semakin tahu bahwa sejatinya tidak ada yang kita ketahui melainkan hanya sejumput kecil saja di antara samudera ilmu yang luas lagi mendalam. Pada akhirnya, dia pun semakin merendah hati. Itulah makna kata pepatah, “bagai padi semakin berisi semakin merunduk, semakin berilmu semakin menunduk”.
Ia tundukkan pandangannya dari yang tiada guna, ia tundukkan pikirannya dari waham dan syak wasangka, dan ia tundukkan hatinya agar tetap bersikap wara.
Semua itu kembali pada pangkal, yakni menjadi orang berilmu. Mengetahui akan hakikat dirinya sebagai hamba, dan Allah sebagai tuhannya.
Memang tidaklah sama antara orang berilmu dengan tidak.
Wallahu a’lam
Daftar bacaan
Jami’ul Bayan ‘an Ta’wil aayil Quran, Imam At Thabari
Tafsir Al Azhar, Buya Hamka
Tafsir Al Munir, Syaikh Wahbah az Zuhaili

Leave a comment