Ini kisah dari Al Baqarah ayat 246-247. Tentang keras kepalanya Bani Israil terhadap nabi-nabi mereka beserta perintahnya.
اَلَمْ تَرَ اِلَى الْمَلَاِ مِنْۢ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ مِنْۢ بَعْدِ مُوْسٰىۘ
Nabi Musa telah tiada. Begitu pun Harun, saudaranya. Bani Israil berjaya pada masa keduanya. Tetapi sepeninggal kedua Nabi yang mulia tersebut, berangsur-angsur melemah dan merana. Maksiat (dalam arti luas) adalah sebabnya.
Pada kisahnya akan ada pelajaran yang dapat kita ambil. Maka dibukalah oleh Allah ayat ini dengan “Alam tara ila”, Adakah engkau perhatikan dengan kesungguhan, dengan segenap ilmu, terhadap apa yang akan diuraikan, sehingga dapat engkau dapati hikmah dan pelajaran.
Siapa yang perlu kita perhatikan?
Al Mala’i min Banii Israaiila. Al Mala’i huwa al Jama’ah, kama qultu as Suyuthi fi tafsirihi. Sekelompok orang dari Bani Israil. Siapa yang sekelompok orang itu? Sebagian tafsir menyebutnya Asyrofu minan naas, orang yang dihormati, dituakan. Para pemukanya. Sebagian yang lain menyebutnya al qawm, sebuah kaum dari Bani Israil.
Kapan kejadiannya?
Min ba’di Muusaa. Sesudah Nabi Musa telah tiada. Berarti ini terjadi pada zaman sesudah Nabi Musa.
اِذْ قَالُوْا لِنَبِيٍّ لَّهُمُ ابْعَثْ لَنَا مَلِكًا نُّقَاتِلْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗ
Para pemuka dari kalangan Bani Israil itu bertanya kepada Nabi yang hadir di tengah mereka, “angkatlah kepada kami seorang Raja, niscaya kami akan berperang di jalan Allah”.
Siapa nabi yang dimaksud?
Dalam berbagai kitab Tafsir, disebut namanya Syamwil (شمويل) atau Shomwil (صمويل) atau Shomwail (صمو ىٔيل), atau yang lebih akrab di telinga kita sebagai Samuel. Meski di masyarakat kita nama Samuel lebih dikenal sebagai nama seorang Nasrani, rupanya beliau adalah seorang Nabi yang Allah utus kepada Bani Israil. Berarti Nabi Samuel ini Allah utus di zaman sesudah Musa. Sezaman dengan Nabi Daud.
Kondisi Bani Israil saat itu sedang lemah. Dahulu sejatinya mereka bangsa yang kuat dan tidak terkalahkan. Tetapi karena sering melanggar perintah Allah, tidak taat pada Nabi yang diutus, dan ngeyelan terhadap pemimpin, akhirnya mereka pun menjadi lemah.
Pada kondisi kaum yang lemah itulah, para pemukanya meminta kepada Nabi yang ada di tengah mereka, untuk dikirim seorang pemimpin. Bangsa yang tadinya lemah, ketika ada pemimpin baru yang ditunjuk oleh Nabi, tentu secara psikologis akan meningkatkan rasa percaya dirinya. Di samping, para pemuka itu juga pede, bahwa pemimpin itu pastilah dipilih dari antara mereka.
قَالَ هَلْ عَسَيْتُمْ اِنْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ اَلَّا تُقَاتِلُوْا ۗ
Tapi Nabi Samuel itu sudah paham dengan kelakuan kaumnya. Masalah yang mendasar sejatinya bukan ada atau tidaknya pemimpin. Tapi ada di dalam diri mereka yang ngeyelan, meski sudah ada pemimpin.
Makanya, Nabi Samuel itu bertanya kembali kepada mereka, Hal ‘Asaytum? Ini kalian seriusan? Beneran mau diutus seorang pemimpin? In kutiba ‘alaykumulqitaalu allaa tuqaatiluu? Kalau sudah ditetapkan atas kalian untuk berjuang dan berperang, apa kalian benar-benar akan maju ke medan pertempuran?
Di sini Nabi Samuel ingin benar-benar meyakinkan, bahwa janji umatnya bukan janji palsu. Tetapi benar-benar ada iktikad yang kuat untuk berjuang bersama, jika nanti ada seseorang yang ditunjuk sebagai pemimpin.
قَالُوْا وَمَا لَنَآ اَلَّا نُقَاتِلَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَقَدْاُخْرِجْنَا مِنْ دِيَارِنَا وَاَبْنَاۤىِٕنَا ۗ
Orang-orang Bani Israil ini percaya diri, bahwa mereka akan benar-benar berjuang bersama jika sudah ada pemimpin yang kuat di tengah-tengah mereka.
Kata mereka, “bagaimana mungkin kita tidak akan ikut berjuang di jalan Allah? Padahal kami telah diusir ke luar kampung kami dan anak-anak kami”. Mereka yakin betul, karena punya rasa senasib sepenanggungan, sebagai orang yang sama-sama diusir, tentu akan ada semangat juang yang tinggi. Apalagi untuk merebut kampung halamannya. Diusir oleh sekelompok kaum berbadan besar yang dipimpin oleh raja bernama Jalut.
فَلَمَّا كُتِبَ عَلَيْهِمُ الْقِتَالُ تَوَلَّوْا اِلَّا قَلِيْلًا مِّنْهُمْ ۗ
Tetapi janji tinggallah janji. Di kemudian hari ia tiada terbukti. Maka ketika sudah ada pemimpinnya, kemudian diperintahkan untuk berperang dan berjuang hingga titik darah penghabisan, mereka malah lari. Kabur dan balik badan. Tidak mau berjuang. Mundur dari medan laga. Mereka menjadi Jabanuu, pengecut. Kecuali hanya segelintir orang saja di antara mereka.
Sikap pengecut yang Allah ceritakan di ayat ini rupanya tidak hanya terjadi di zaman Nabi Samuel saja. Tapi bisa kita refleksikan dengan diri kita di hari ini. Seberapa besar tekad kita untuk berjuang bersama pemimpin kita untuk menjaga tanah air kita? Jangan-jangan, kita malah mundur dari medan laga atau bahkan berkhianat dengan mengalihkan kepada musuh.
Sebagaimana penjelasan Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar ketika menafsirkan ayat ini. Di masa Pergerakan Kemerdekaan dahulu, ada kisah tentang Mak Samah. Apabila dia bertemu dengan para pejuang, Mak Samah ini akan berorasi dan membakar semangat untuk melawan penjajah. Tetapi ketika ada polisi pemerintah kolonial datang, dia berbalik dan berkata “Apa yang kita takutkan kepada pemerintah? Berani karena benar, takut karena salah. Datang tagihan belasting dan rodi, kita bayar. Peraturan kita taati. Kepada orang di atas kita berlaku hormat”. Diteriakkannya kencang-kencang, sehingga polisi tadi mendengar dan amanlah dia dari hukuman.
Inilah mental minderwaardig. Rasa inferior. Tidak punya percaya diri, padahal diri kita ada di atas kebenaran. Hanya tunduk pada kekuasaan, yang jelas-jelas salah.
وَاللّٰهُ عَلِيْمٌ ۢبِالظّٰلِمِيْنَ ٢٤٦
Perilaku mereka ini zhalim. Menzhalimi Nabi, menzhalimi juga pemimpin yang mereka sendiri yang memintanya. Dan Allah, maha mengetahui atas perbuatan zhalim yang mereka lakukan.
وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ اِنَّ اللّٰهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوْتَ مَلِكًا ۗ
Apa sebab orang-orang Bani Israil ini berpaling?
Rupanya, karena raja yang ditunjuk oleh Nabi Samuel atas perintah Allah itu, tidak sesuai dengan kehendak mereka. Maksud hati ada di antara para pembesar Bani Israil itu yang menjadi raja, rupanya Allah menunjuk orang lain yang secara strata sosial rendah, untuk menjadi raja.
Nabi Samuel berkata pada mereka bahwa yang Allah angkat sebagai raja itu ialah Thalut.
قَالُوْٓا اَنّٰى يَكُوْنُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ اَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِّنَ الْمَالِۗ
Bagaimana bisa orang seorang Thalut itu menjadi raja? Pekerjaannya hanya dabbaaghan, tukang samak? Atau dalam riwayat lain pekerjaannya hanya raa’iiyyan, tukang gembala hewan? Tidak ada pantas-pantasnya!
Justru kami, demikian kata pemuka Bani Israil itu, nahnu ahaqqu bil mulki minhu, yang lebih berhak dari dia untuk mendapat kekuasaan itu. Sebab Thalut itu tidak punya harta yang berlimpah. Dia juga bukan keturunan “ningrat” dari raja-raja atau Nabi terdahulu. Dia hanya rakyat biasa. Bukan bagian dari elit.
قَالَ اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰىهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهٗ بَسْطَةً فِى الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۗ
Di sinilah kemudian Allah jelaskan. Bahwa Allah mengangkat Thalut sebagai raja bagi mereka ialah karena dia memiliki kelebihan dalam hal ilmu dan jasmani yang prima.
Menjadi raja, atau pemimpin dalam arti luas, bukan semata-mata karena keturunan ningrat atau berdarah biru. Memang, keturunan itu bisa punya peran dalam menentukan karakter seseorang. Tetapi, tidak akan dominan. Kalau kata Almaghfurlah Kiyai Hasyim Muzadi, tidak lebih dari 10 persen. Sisanya? Itu adalah tempaan dari pendidikan, pengalaman, dan pergaulan.
Justru di sini Allah jelaskan kriteria pemimpin seperti apa yang mestinya dilihat. Yakni, keutamaan dalam hal intelektualitas keilmuan dan kesehatan jasmani.
Thalut ini meskipun hanya tukang samak atau penggembala, dia sudah dikenal sebagai orang yang alim oleh kaum Bani Israil. Badannya juga sehat dan kuat. Tetapi karena masalah gengsi, bukan orang terpandang, hidupnya tidak kaya raya, maka dianggap rendah dan tidak pantas.
Padahal bukan di situ kunci suksesnya pemimpin. Tetapi di kapabilitas keilmuannya, sehingga dia dapat memikirkan solusi yang tepat untuk mengatasi berbagai persoalan. Apabila ada perang pun, dia akan mampu mengatur strategi yang canggih untuk mengalahkan musuh. Menjadi seorang pemimpin pun harus ditopang oleh kondisi fisik yang prima. Karena amanahnya berat, jika tidak kuat akan mudah tumbang oleh penyakit.
وَاللّٰهُ يُؤْتِيْ مُلْكَهٗ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ وَاسِعٌ عَلِيْمٌ ٢٤٧
Betapa pun, pada akhirnya kita akan masuk pada jawaban yang paling rasional. Allah maha berkehendak untuk menunjuk siapa pun menjadi orang yang memiliki kekuasaan. Sebab Allah Maha Luas ilmu dan pengetahuannya. Allah tahu apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan yang akan terjadi secara jelas dan detil.
Inilah jawaban yang pada akhirnya paling logis. Kita sudah mengaku yakin dan beriman sepenuh hati kepada Allah. Kita bertanya kepada-Nya, lalu Allah beri jawaban untuk kita. Kok masih dipertanyakan lagi? Malah dianggap tidak masuk akal. Padahal akal kita yang sejatinya punya keterbatasan untuk bisa memahami situasi dan kondisi yang sebenarnya.
Di sinilah pentingnya kita kembali merenungi ayat ini.
Bagaimana sikap kita terhadap pemimpin? Apakah meragukan karena kita remehkan latar belakangnya yang tidak kaya raya maupun tidak ‘ningrat’? Bukankah memimimpin itu paling utamanya adalah persoalan kemampuan?
Maka teringatlah juga kita pada hadits Nabi Saw., bahwa Allah tidak melihat fisik dan harta kita, tetapi pada hati dan amaliah kita. Bukan masalah cover, tetapi pada substansinya. Sebab bisa saja yang tampak di hadapan itu hanya pencitraan belaka, tetapi kesejatian itu ada pada hati dan amalan kesehariannya.
Tapi penting juga dicamkan dari awal, bahwa adanya orang yang dipilih oleh Allah sebagai pemimpin itu baru menunjukkan adanya izin Allah terhadap kekuasaannya. Akan tetapi, adanya izin dari Allah itu belum tentu mendapat ridha dari Allah. Diizinkannya seseorang menjadi pemimpin merupakan ujian, apakah dari amanah tersebut dapat mendekatkan dirinya pada Allah, sehingga pantas menjadi orang yang diridhai-Nya atau tidak. Kalau dia mampu mengemban amanah dengan baik, maka akan Allah beri ridha atas kepemimpinannya.
Hal semacam ini perlu diperhatikan, agar kita tidak salah memahami bagaimana seorang yang lalim menjadi penguasa. Bahwa dia sejatinya hanya diizinkan Allah untuk jadi penguasa. Tetapi karena tidak beriman, menzhalimi rakyatnya, berlaku korup, maka tidak akan didapat ridha dari Allah.
Wallahu a’lam.
*) secara umum diambil dari catatan Ngaji Tafsir Jalalain (Imam Mahalli dan Suyuthi) pada hari Ahad, 12 Januari dan 9 Februari 2020. Diperkaya lagi dari Tafsir Al Qurthubi (Imam Qurthubi), Al Muniir (Syaikh Wahbah az Zuhaili), dan Al Azhar (Buya Hamka).

Leave a comment