Corona Outbreak: Berdoa dan Berikhtiar

Published by

on

“Doa adalah ikhtiar bathiniyah, ikhtiar adalah doa lahiriyah”

KH Hasyim Muzadi


Indonesia hari ini mengalami “outbreak” virus Corona. Presiden Jokowi mengumumkan, ada dua orang perempuan, keduanya merupakan ibu dan anak, positif terkena virus Corona. Ini merupakan kejadian pertama di Indonesia.


Serentak, masyarakat pun panik. Apotek diserbu masyarakat yang ingin membeli masker dan cairan antiseptik. Harganya pun naik gila-gilaan, hingga berpuluh kali lipat. Di supermarket, sebagian masyarakat juga mengalami “panic buying”, tersebab ketakutan jika harus diisolasi seperti di Wuhan.

Tentu ini respon psikologis kolektif yang bisa dikatakan wajar. Terlebih, virus ini menular dengan cepat dan angka kematian yang ditimbulkan pun cukup tinggi di seluruh dunia.

Tapi ada juga sebagian masyarakat, yang di tengah musibah seperti ini, justru saling nyinyir. Orang-orang yang menganggap dirinya “rasional”, mengejek orang lain yang menyarankan banyak berdoa dalam menghadapi virus ini. Pun sebaliknya, mereka yang cenderung mencukupkan dengan doa, ada juga yang menjelek-jelekkan mereka yang berusaha di sisi medis.

Padahal doa dan ikhtiar tidak terpisahkan. Keduanya seiring sejalan sebagai benteng diri dari marabahaya.

Apakah dengan kita berdoa, artinya kita berhenti berusaha? Tentu tidak.

Pun sebaliknya, apakah jika kita sudah berusaha, kita tidak lagi perlu berdoa? Ya salah juga.

Menjadi muslim itu sepatutnya mengantarkan kita pada sikap diri yang paripurna. Di satu sisi, kita menjalankan ikhtiar yang zhahir. Menjaga pola makan, mengasup multivitamin, menghindari kontak fisik, menggunakan masker ketika daya tahan tubuh sedang melemah, hingga rutin periksa kesehatan ke dokter. Tapi di sisi lain, kita juga berusaha di sisi yang bathin. Memperbanyak doa untuk dilindungi dari penyakit dan marabahaya untuk diri, keluarga, dan masyarakat.

Inilah sikap sewajarnya seorang muslim. Sebab usaha dan doa itu tidak bertentangan, justru saling menguatkan.

Apa sikap lainnya bagi seorang muslim?

Pada tiap kejadian, maka tauhid makin menguat. Seperti kata Buya Hamka, Tauhid adalah pangkal tempat bertolak dan labuh tempat bersauh.

Di dalam surat Al Baqarah ayat 26, Allah telah memberikan gambaran. Bahwa Allah tidaklah malu untuk memberikan perumpamaan dengan sebuah “ba’udhoh”, hewan yang kecil, atau yang lebih kecil dari itu, lalu sikap manusia terbagi dua. Mereka yang beriman semakin yakin kepada Allah. Sementara mereka yang kufur, justru mempertanyakan sekaligus mengingkari kuasa Allah. Maka mereka yang beriman ialah yang berada di atas petunjuk, sementara yang mengingkari berada di atas kesesatan.

Sebagai seorang muslim, kita yakin bahwa segala sesuatu itu merupakan ciptaan Allah. Setiap kejadian yang terjadi pun pasti atas izin Allah. Dan semua pasti memiliki hikmah, meski di awal terasa sulit kita memahami tersebab getirnya kejadian yang dirasakan.

Virus corona, dan virus, bakteri, kuman, dll merupakan ciptaan Allah. Sebagaimana Allah membuat permisalan di ayat tadi, sekiranya kita hendak merenungkan, maka pastilah semua kembali kepada Allah.

Mereka adalah virus yang berbahaya. Bisa hidup karena izin Allah, menjadi dorman (tidak aktif lagi) pun karena izin Allah. Epidemi ini bisa terjadi saat ini pun pasti atas kuasa Allah. Ada hikmah yang ingin Allah sampaikan. Bahwa betapa pun kekuasaan yang dimiliki manusia maupun sekelompok manusia dalam institusi tertentu, entah itu organisasi ataupun negara, dapat Allah “guncangkan” hanya dengan makhluk-Nya yang tidak kasat mata. Kepanikan di seluruh dunia digerakkan oleh virus-virus mikroskopik, yang ternyata punya daya rusak luar biasa. Tidak hanya sendi-sendi kesehatan, tetapi merembet hingga perekonomian dan politik global pun terkena dampaknya.

Maka siapalah lagi yang bisa menggerakkan makhluk sekecil itu kecuali Allah? Siapa pula yang kuasa menolak, betapa pun senjata yang dia punya, sebanyan apa pun kapital yang dia miliki, ketika Allah sudah kehendaki untuk terjangkiti? Maka tidak ada arti lain kecuali kita sedang ingin didorong untuk kembali menggemakan “Allahu Akbar”. Tidak ada sesuatu pun, yang lebih besar, lebih berkuasa, lebih berkemampuan, kecuali Allah. Kekuasaan-Nya untuk menggerakkan makhluk nan kecil itu, bisa mengguncangkan peradaban manusia.

Ini pun menjadi momentum refleksi bagi diri kita. Apakah selama ini kita kurang memperhatikan ayat-ayat-Nya (kauniyah maupun qauliyah) yang bertebaran di muka Bumi? Atau kita terlalu terlenakan dengan kenikmatan, sehingga lupa bahwa bisa saja sewaktu-waktu Allah uji agar kita bisa kembali merendahkan diri di hadapan-Nya?

Yang jelas, hal-hal semacam ini sepatutnya tidak membawa kita pada saling tuduh menuduh dengan orang/kelompok lain. Di tengah musibah seperti ini, tidak ada yang perlu kita introspeksi, selain diri kita sendiri. Tetaplah berikhtiar dan berdoa semaksimal mungkin. Pijakkan pikiran kita pada keimanan dan rasionalitas agar tidak mudah panik dan diombang-ambing oleh hoax dan propaganda para pengambil kesempatan di tengah kesempitan.

Semoga, usaha yang digerakkan oleh pemerintah, para ilmuan, dan ahli-ahli kedokteran, dapat Allah lancarkan agar penyakit ini bisa terangkat dari bumi. Pun dengan doa-doa kita semua, semoga Allah perkenankan untuk mengabulkannya.

Terakhir, semoga di setiap kejadian, kelapangan ataupun kesempitan, bisa semakin menambah keyakinan kita pada Tauhid sebagai pangkal dan akhir kehidupan.

Wallahu a’lam.

Leave a comment