Rasialisme di AS dan Frantz Fanon

Published by

on

Melihat apa yang terjadi di AS akhir-akhir ini, penting kiranya menelisik tulisan-tulisan Frantz Fanon. Seorang psikoanalis kelahiran Martinique, koloni Prancis di Kepulauan Antilen. Bapaknya kelahiran Aljazair, yang dibawa oleh Prancis ke Martinique sebagai budak. Ibunya berasal dari keluarga birasial, Afro-Martinisian dan Alsatian (Prancis).

Salah satu buku terpentingnya yang akan dibahas di sini ialah “Black Skin, White Masks” (aslinya ditulis dalam Bahasa Prancis dengan judul “Peau Noire, Masques Blancs”).

Di sini dia merefleksikan kehidupannya sebagai seorang yang tumbuh di daerah jajahan dan berkulit hitam, yang kemudian mengejar cita-cita untuk menjadi seorang terpelajar agar dapat sejajar dengan orang kulit putih lainnya.

Dia mengisahkan, bagaimana orang-orang yang dikoloni berlomba-lomba untuk mengikuti norma orang kulit putih, hanya untuk dapat sejajar dengan mereka. Sebab, pada masanya, kulit hitam dianggap golongan yang rendah, bahkan di berbagai tempat disejajarkan dengan binatang. Untuk bisa menaikkan derajat menjadi lebih baik, mereka melepaskan identitas “hitam”nya untuk menjadi lebih “putih”, atau yang dikenal dengan istilah “selling out”.

Ini mengingatkan saya dengan Whitney Houston, penyanyi perempuan kulit hitam yang debut tahun 1985. Di bawah manajemen labelnya, dia membawakan lagu2 pop yang berbeda dengan tradisi soul, RnB, dan jazz yang saat itu identik dengan penyanyi kulit hitam. Sampai-sampai, dalam Soul Train Awards 1989 dia diolok-olok ketika mendapat nominasi penghargaan.

Di dunia musik, identitas memang menjadi penting. Bahkan, sampai tahun 1990, di Billboard ada tangga lagu bertajuk “Hot Black Music” yang sekarang sudah berubah menjadi “Hot RnB & Hip-Hop Songs”.

Kembali lagi ke Fanon. Dia menggambarkan betapa orang kulit hitam (dalam pembacaan lebih baru, “Black” dalam buku2 Fanon dianggap merepresentasikan bangsa terjajah secara luas) mengalami “Dependency Complex” akibat rasa inferioritas.

Apa yang kemudian menyebabkan bangsa kulit Hitam megalami inferioritas tersebut? Fanon mengungkap dengan lugas. “It is the racist who creates his inferior”. Rasa superioritas bangsa Barat-lah yang pada akhirnya menyebabkan inferioritas orang yang terjajah.

Frantz Fanon, Black Skin, White Masks, halaman 69


Lebih jauh, di Bab 6, Fanon memperdalam analisis dari perspektif psikoanalisis. Menurutnya, seorang kulit hitam yang pada masa kecilnya “normal”, dapat menjadi “abnormal” ketika tumbuh dewasa. Sebabnya, ada norma bahwa menjadi hitam adalah sesuatu yang abnormal di tengah masyarakat kulit putih.

Belum lagi keberadaan stigma terhadap orang kulit hitam yang dianggap berbahaya bagi masyarakat. Padahal, dalam uraian Fanon, bisa jadi orang kulit hitam itu menjadi benar-benar kriminal karena dia terus menerus menjadi korban stigma, sehingga secara psikologis dia melakukan apa yang distigmakan tersebut, atau disebut juga sebagai masalah “psychopathology”.

Selain masalah kolonialisme, di buku ini Fanon juga mengurai masalah seksualitas bangsa kulit Hitam. Dia juga membandingkan inferiroritas kulit hitam dengan represi yang dialami oleh bangsa Yahudi. Tapi tidak mungkin semua diurai di sini. Ya kalau mau tahu lebih dalam, tinggal dibaca bukunya. Hehehe

Pada akhirnya, rasisme merupakan masalah yang hingga hari ini masih ada. Atau lebih luasnya, di masyarakat kita masih berkecambah rasa superioritas atas orang lain hanya karena sesuatu yg “given”. Warna kulit, Timur-Barat, penjajah-terjajah, dsb.

Di sinilah saya kembali teringat salah satu pesan Allah di surat Al Hujurat. Jangan mengolok, jangan banyak purbasangka, karena Allah memang menciptakan manusia berbeda suku bangsa. Semuanya setara, kecuali yg membedakan hanyalah taqwa, dan yg tahu ketaqwaan seseorang Allah saja.

Wallahu a’lam.

Frantz Fanon (sumber: kalamu.com)

Leave a comment