Fakta Bukan Opini, Data Bukan Argumentasi

Published by

on

Pernah dalam suatu kesempatan, saya ditanya, “menurut Majiid, Bumi itu bulat atau datar?”

Saya tanya balik, “kok tanya menurut saya?”

“Iya, kan lagi ramai tuh, orang yang percaya kalau bumi itu datar, bukan bulat. Saya mau tau pendapatnya Majiid aja”, jawabnya.

“No, bumi bulat itu fakta, bukan opini, bukan pendapat siapa-siapa. Orang mau percaya bumi datar silakan, tapi itu tidak mengubah fakta kalau bumi itu bulat. Pendapat orang gak mengubah fakta kalau bumi itu bulat. Apalagi pendapatnya cuma dapat dari nonton video youtube doang. Hehehe”, pungkas saya.

***

Seringkali kita tertukar-tukar antara fakta dengan opini. Antara “belief” (percaya) dengan “truth” (kebenaran). Ini bisa terjadi karena proses berpikir yang tidak tertib.

Fakta merupakan hal yang sudah teruji dan terbukti tidak bisa terbantahkan lagi. Ia bisa berupa sesuatu yang terbukti melalui penginderaan maupun abstraksi pikiran yang tertib. Misal, matahari itu bercahaya, Monas ada di Jakarta, dan air laut itu asin, itu fakta yang bisa dibuktikan melalui penginderaan. Sementara, 1+1=2 merupakan fakta yang didapat melalui pikiran yang tertib.

Sementara, opini merupakan sesuatu yang masih “debatable”. Bisa dibantah dan antara benar dengan salah masih samar-samar, atau memang tidak bisa disebut benar atau salah.

Saat ini sedang ada wabah Covid-19, merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Bagaimana cara menanggulanginya apakah dengan lockdown total atau PSBB atau tidak perlu diapa-apakan merupakan opini yang bisa diperdebatkan. Masing-masing pendapat, apakah harus lockdown total, atau cukup PSBB, atau malah dibiarkan saja, itu mengandung kebenaran relatif. Maksudnya, masing-masing pendapat bisa benar, tergantung konteksnya.

Akan tetapi, bukan berarti jika sesuatu yang disebut opini itu bisa dianggap benar semua, dalam artian, harus diterima begitu saja tanpa pikiran kritis.

Untuk itu, dalam membangun opini, akan menjadi semakin baik jika didukung oleh argumen.

Ingat, argumen itu bukan urusan ngotot-ngototan atau siapa yang punya follower lebih banyak. Argumen merupakan hasil dari pikiran. Dia mengandung sejumlah premis yang melalui proses tertentu mengarah pada simpulan. Jadi, argumentasi harus memiliki “premis”.

Misalnya begini, covid-19 menyebar melalui kontak fisik antarorang. Untuk memutus rantai penyebaran, maka kontak fisik antarorang harus dibatasi. Cara agar tidak ada kontak fisik antarorang ialah dengan berdiam diri di rumah masing-masing. Jika ada lockdown, orang-orang akan dipaksa untuk berdiam di rumah. Maka dari itu, cara terbaik untuk menghentikan pandemi covid-19 ialah dengan lockdown total, karena dengan begitu, orang-orang akan diam di rumah dan tidak terjadi kontak fisik dengan orang lain yang tidak diketahui membawa penyakit atau tidak.

Itu merupakan argumen untuk menopang opini yang menginginkan lockdown total.

Apakah argumen selalu benar? Belum tentu. Maka dari itu, kita perlu menguji argumentasi tadi. Ada dua cara menguji argumen. Pertama dengan menguji premis-premisnya. Kedua dengan menguji cara dia menyimpulkan.

Uji premisnya dengan menanyakan “apa benar Covid-19 menyebar melalui kontak fisik? Apa dengan diam di rumah kita bisa benar-benar terhindar dari kontak fisik dengan orang lain? Apakah dengan lockdown total semua orang akan diam di rumah?”

Sementara, bisa juga menguji cara dia menyimpulkan bahwa dengan begitu lockdown total merupakan cara terbaik untuk menghentikan pandemi. Apakah simpulan dia berasal dari premis-premisnya atau malah loncat ke premis lain yang tidak jelas dari mana asalnya? Misal, jika dibilang, “harus lockdown total karena itu amanat undang-undang”, itu dia sedang loncat simpulannya karena tidak ada premis yang dia bangun menyebut undang-undang.

Nah, agar argumentasi kita semakin kuat, perlu didukung dengan bukti nyata. Dengan fakta dan data. Misal dengan melakukan komparasi kasus dari negara lain. Negara yang melakukan lockdown secara total bisa menghentikan penyebaran virusnya sementara yang setengah-setengah penyebaran virusnya masih ke mana-mana, apalagi yang tidak melakukan upaya apa-apa virusnya semakin menjadi-jadi.

Di sini, fakta dan data merupakan PENDUKUNG dari argumentasi. Bukan argumentasi itu sendiri.

Jika kemudian simpulan akhir yang dia dapat berasal dari penyimpulan premis-premis yang dibangun di awal secara tertib, maka dapat kita katakan bahwa argumentasi dia VALID. Sementara itu, jika kemudian argumentasi dia terbukti kebenarannya ketika diuji, maka dapat dikatakan argumentasi dia SOUND.

Dengan kita lihat cerita di awal, terlihat bahwa “bumi itu bulat” merupakan fakta. Jika ingin menguji fakta, uji saja fakta tersebut dengan keliling dunia, pergi ke angkasa, atau melalui perhitungan matematis, BUKAN dengan membenturkannya ke opini “bumi itu datar”. Karena yang bisa dibenturkan ialah jika dua hal itu sama-sama opini, bukan antara fakta dengan opini.

Semoga dengan begini tidak ada lagi yang bertanya, “menurut kamu, bumi itu datar atau bulat?”, karena pertanyaan itu kontradiktif dalam dirinya sendiri. Hehehe.

Terkait masalah kepercayaan dan kebenaran, Insya Allah di lain waktu kita bisa bahas.

Leave a comment