Worldview Ada di Sekitar Kita

Published by

on

Sepekan terakhir ini, film pendek “Tilik” menjadi perbincangan hangat dan viral di media sosial. Film berdurasi 30 menitan itu sukses mendapat penonton yang cukup banyak untuk ukuran film pendek produksi tanah air.Sewajarnya sebuah film yang menjadi perbincangan publik, pro dan kontra muncul. Ada yang mengapresiasi karena mengangkat kesederhanaan ibu-ibu desa, atau karena plot cerita yang di luar dugaan, atau juga karena akting para pemain yang natural meski kebanyakan adalah pemain baru. Ada yang mengkritik karena dianggap menstigma perempuan berjilbab, atau karena tidak secara eksplisit memberi pesan moral, atau (yang memicu debat di Twitter) kritik kalangan feminis karena dianggap film ini melanggengkan narasi patriarkis.

Debat kemudian bergeser, dari sekadar apresiasi dan kritik terhadap film, menjadi apakah perlu feminisme dipaksakan hadir di semua tempat, termasuk film pendek?Kalangan feminis biasa membawa kata-kata kunci dalam studi feminisme di berbagai kesempatan, seperti “relasi kuasa”, “patriarki”, “kesetaraan gender”, dsb. bahkan di isu-isu yang secara kasat mata tidak membicarakan apa-apa seputar isu gender.

Buat saya, apa yang ditunjukkan oleh para feminis di twitter yang acapkali membingkai suatu persoalan dari perspektif feminis adalah bukti bahwa “worldview” itu ada di sekitar kita.

Selama ini, kita mungkin mendengar “worldview” hanya dalam perbincangan di kelas filsafat, dengan bahasa yang sulit dicerna, dan dianggap menjadi konsep yang mengawang-awang. Akibatnya, orang menjadi malas mempelajari konsep worldview ini karena dianggap tidak relevan dengan kehidupan sehari-hari. Padahal tidak demikian, “worldview” adalah sesuatu yang melekat dengan kehidupan kita, entah disadari atau tidak.

Worldview itu membentuk cara kita berpikir, bagaimana kita melihat suatu persoalan, sampai bagaimana kita merumuskan simpulan atau solusi dari permasalahan yang ada. Worldview yang berbeda akan membingkai suatu persoalan dari sudut pandang yang berbeda pula. Walaupun persoalan yang dibahas sama saja.

Misalnya, orang dengan worldview Islam akan melihat suatu persoalan dengan konsep “Tauhid”, “halal-haram”, “akhlak”, dsb. Orang yang punya worldview Ekonomi akan melihat suatu persoalan dengan konsep “trade-off”, “untung-rugi”, “efisiensi”, dsb. Pun dengan worldview lainnya, akan ada ciri khas dalam memandang sesuatu.Worldview bisa didapat dari proses belajar selama bertahun-tahun. Akumulasi dari berbagai ilmu di dalam diri kita biasanya akan membentuk cara berpikir kita, yang nantinya, akan membentuk worldview kita.

Apakah seseorang hanya bisa punya satu worldview? Tidak juga. Terbuka bagi kita untuk memiliki Worldview Islam dan Barat sekaligus. Punya Worldview Marxis dan Feminis sekaligus. Hanya saja, ketika nanti ada nilai yang bertentangan antar-worldview itu, akan terlihat mana yang diutamakan dibandingkan dengan yang lainnya. Ada worldview yang lebih dominan dibandingkan yang lain.

Maka dari itu, semakin banyak kita belajar, semakin luas cara pandang kita. Bahkan kita perlu berkenalan dengan baik dengan hal-hal yang kita tidak sepakati. Seperti Adam Smith di “Wealth of Nations” mengurai panjang lebar terkait Merkantilisme untuk dikritik kemudian. Seperti Karl Marx dalam “Das Kapital” mengurai panjang lebar terkait Kapitalisme untuk dikritik kemudian. Begitu pun kita, jika ingin memberi kritik terhadap suatu hal, kita perlu mendalami hal tersebut.

Ketika kita ingin memperkuat Worldview kita yang berdasarkan Islam, misalnya. Perlu bagi kita untuk mempelajari worldview liberalisme, feminisme, komunisme, dll agar kita paham di mana saja letak perbedaannya maupun persamaannya.

Mengapa?

Setidaknya ada dua manfaatnya. Pertama, kita bisa semakin yakin dengan worldview yang kita punya karena diyakinkan oleh hasil penyelidikan akal. Kedua, agar kita bisa lebih bijak dalam menghadapi perbedaan pendapat, yang seringkali muncul karena masing-masing dari kita punya worldview yang berbeda.

Wallahu a’lam.

Leave a comment