Tidak Ada Formula Pasti Untuk Sukses

Published by

on

Apa yang dibutuhkan oleh seseorang untuk bisa sukses dalam hidupnya?

Apakah untuk bisa sukses harus punya IPK yang tinggi atau sebenarnya IPK itu tidak perlu-perlu amat untuk menuju sukses? Apakah untuk bisa sukses kita harus punya koneksi dengan banyak orang, dan kalau bisa mereka punya jabatan strategis di suatu perusahaan atau pemerintahan, atau sebenarnya tanpa koneksi pun kita bisa sukses? Apakah untuk menuju sukses diperlukan kerja keras dengan banting tulang dan keringat bercucuran, atau cukup di balik layar dan menunggu cuan datang sendiri?

Dan masih banyak lagi pertanyaan yang acapkali dikemukakan terkait dengan jalan menuju kesuksesan. Dan inilah jawaban dari saya:

Tidak ada formula yang pasti untuk menjadi sukses. Pola-pola kesuksesan dari orang-orang yang sudah merasakannya memang ada. Akan tetapi, tidak selalu kesuksesan yang sama akan datang kepada kita, betapapun miripnya langkah yang ditempuh. Setiap orang akan sukses, atau barangkali tidak akan merasakan kesuksesan dalam hidupnya, dengan jalannya masing-masing.

Yap. Itu dia formulanya. Bahwa tidak ada formula pasti yang bisa menjamin kesuksesan seseorang. Mari kita urai alasannya lebih jauh.

Pertama, kita mengukur kesuksesan dengan cara yang berbeda-beda. Akui saja, ada di antara kita yang ingin menjadi sukses layaknya Jeff Bezos atau Nadiem Makarim. Mendirikan perusahaan IT, bisa merekrut banyak karyawan, lalu mengubah hidup banyak orang. Ada pula yang ingin layaknya Albert Einstein atau B J Habibie. Sekolah hingga doktoral, bisa memecahkan rumus-rumus fisika yang rumit, dan dikenal sebagai jenius dunia yang melekang zaman. Atau bahkan, ada yang ingin suksesnya seperti para ulama sufi. Menyepi dari kebisingan dunia, berdzikir dan bertafakkur sepanjang waktu, sembari sesekali mengajar para muridnya untuk bisa hidup sederhana. Tentu, ada banyak sekali model-model kesuksesan yang ada di benak kita.

Nah, ketika kita sudah punya gambaran ideal akan sebuah kesuksesan, langkah yang umumnya ditempuh ialah mencari tokoh yang menjadi cerminan dari model ideal itu. Lalu, kita pelajari kehidupannya, barangkali ada langkah-langkah khusus atau bahkan ritual tertentu yang mereka lakukan. Dan, kita pun berusaha untuk mengikutinya. Suatu waktu bisa saja berhasil, tetapi bisa juga tidak berhasil. Kenapa begitu?

Di sinilah kita menuju masalah kedua. Kita hidup di konteks ruang dan waktu yang berbeda dengan mereka. Beda tempat, beda zaman, beda pula keadaan. Tantangannya berbeda, peluangnya pun berbeda. Pada tahun 2000, Lara Fabian melakukan debutnya di Amerika Serikat dengan mengeluarkan album dengan namanya. Formulanya sama seperti yang dilakukan oleh Whitney Houston atau Celine Dion, lagu-lagu bertema patah hati dengan genre power ballad dan suara soprano yang mampu melakukan akrobat unik. Promosi juga dilakukan dengan masif di bawah naungan label Sony Music. Tapi, kita tidak pernah melihat Lara Fabian berada dalam kesuksesan yang sama dengan Whitney ataupun Celine, karena di tahun itu genre musik yang populer sudah bergeser. Penyanyi baru seperti Eminem dan Britney lebih mendapat panggung ketimbang apa yang dilakukan oleh Lara.

Cerita itu mirip dengan yang terjadi di tahun 2000an, ketika Nokia bisa sukses dan merajai penjualan ponsel global dengan ponsel genggam yang hanya berisikan keypad dan layar monokrom. Kalau formula yang sama dilakukan hari ini, ceritanya akan jauh berbeda. Apa yang dilakukan oleh Tesla dengan produksi mobil listrik bisa jadi mendapat sambutan hangat di AS, tetapi akan berbeda jika dia memasarkan produknya di Papua Nugini, yang di banyak daerah saja belum mendapat listrik.

Maka saya tidak terlalu bersepakat ketika ada orang-orang yang menyebut bahwa pekerjaan yang berkaitan dengan ilmu-ilmu humanities tidak lagi berprospek cerah dan kesuksesan paling memungkinkan jika mendalami ilmu terkait dunia digital. Zaman digital pada mulanya tidak ada, lalu sekarang melesat, tetapi pasti akan ada akhirnya juga. Kita tidak pernah tahu kapan itu berakhir. Jika semua orang dikonsentrasikan ke satu bidang saja, ya bukan tidak mungkin itu akan menjadi bumerang ketika di masa mendatang zaman digital ini berakhir.

Hal ketiga yang tidak boleh dilupakan ialah adanya “faktor X” yang tidak pernah kita tahu kapan hadirnya dan bagaimana datangnya. Ketika Apple hadir dengan iPhone di tahun 2007, dunia teknologi dianggap mengalami revolusi yang sangat signifikan. Jika ditanya apa yang menjadi formula suksesnya, kita bisa menyebut bahwa mereka hadir dengan waktu yang tepat dan menyarar pasar yang pas. Padahal, ponsel layar sentuh yang terkoneksi internet bukan pertama kali hadir. Sebelumnya, sudah dikenal PDA (Personal Digital Assistant) yang berfungsi tidak jauh berbeda dengan iPhone generasi awal. Tapi mereka tidak menikmati kesuksesan yang sama.

Begitu pula dengan Mark Zuckeberg ketika mendirikan Facebook. Dia barangkali tidak akan dapat ide tentang Facebook jika tidak kuliah di Harvard, tinggal di asrama bersama empat orang temannya yang lain di tahun 2003. Apa jadinya jika Zuckerberg kuliahnya di ITB atau di NTU? Bagaimana jika Zuckerberg menunda kuliahnya setahun karena ingin bekerja dulu? Bagaimana jika Zuckerberg hanya berfokus pada kegiatan akademiknya dan tidak meluangkan waktu untuk “ngide” bersama temannya? Ya kita tidak akan bisa menggunakan Facebook hari ini. Zuckrberg bisa mendirikan Facebook karena berada di tempat yang tepat, bersama orang yang tepat, dan di waktu yang tepat.

Artinya, ada hal-hal yang di luar kuasa kita dan secara tidak kita duga berada dalam momentum yang tepat. Saya tidak mungkin menyebut ini sebagai “semesta mendukung” karena semesta pun tidak bisa menggerakkan dirinya sendiri. Ya, inilah yang dinamakan takdir. Sesuatu yang sudah diukur “kadar”nya oleh Tuhan dan ditetapkan-Nya untuk terjadi pada kita.

Untuk itu, mari kita coba tinjau ulang “formula” menuju kesuksesan. Koneksi? Ya, bisa jadi berpengaruh. IPK? Ya, bisa jadi berpengaruh. Privilege? Bisa juga. Orang yang punya kenalan banyak memang lebih berpeluang untuk mendapat tujuannya, tetapi itu belum tentu berlaku di kasus kita. Orang dengan IPK tinggi memang banyak yang jadi karyawan dan Bob Sadino bisa dengan mudah menyebut dengan modal dengkul dia sukses berbisnis. Tapi itu belum tentu terjadi di diri kita. Anak pengusaha kaya memang lebih mudah mencari tempat kuliah, bahkan di luar negeri pun tidak masalah. Lagi-lagi, itu tidak menjadi jaminan jika kita berada di keluarga yang sama akan mendapat kesuksesan yang sama. Tiap orang punya jalan hidupnya masing-masing, dengan perjuangannya masing-masing, dan tingkat keberhasilannya masing-masing.

Itu baru mengukur kesusksesan di dunia. Apalah lagi di akhirat. Siapa yang bisa menjamin kita bisa masuk surga? Toh Nabi pernah bersabda, ada seorang pelacur yang masuk surga karena ia punya satu amalan kebaikan dan ada pula ahli ibadah yang masuk neraka karena punya dosa ketidakikhlasan. Semua merupakan hak prerogatif dari Allah dengan timbangan keadilan dan kasih sayang-Nya. Terlepas bahwa kita mengharap, berdoa, lalu berusaha dengan menjadi hamba yang baik, itu adalah ikhtiar yang memang diajarkan. Tapi tidak pernah ada kepastian akan seperti apa hasilnya nanti. Itulah mengapa agama mengajarkan kita untuk senantiasa khauf (takut) dan raja’ (mengharap).

Maka sudah sepatutnya mengarungi hidup di dunia pun demikian. Punya keinginan dan ambisi menuju kesuksesan, dengan versi kita masing-masing, itu boleh. Berupaya keras dengan mengikuti contoh-contoh yang ada, dipersilakan. Akan tetapi, harus ada kesadaran pada diri kita, bahwa kita tidak punya kuasa untuk memastikan seperti apa hasilnya. Ini penting, agar ketika tujuan itu dicapai tidak membuat kita jumawa dan ketika tujuan itu tidak berhasil diraih kita tidak menjadi gila. Bahwa betapapun keberhasilan yang didapat itu bukan semata kerja keras kita saja, tetapi ada takdir Tuhan yang berperan dalam melancarkan usaha yang dilakukan. Itulah apa yang diajarkan oleh para sarjana Barat sebagai public virtue dan para ulama sebagai tawadhu.

Kurang lebih demikian, Wallahu a’lam.

Leave a comment