Dari Awan sampai Hubungan Agama dengan Negara
Sudah sepekan ini saya ngajar bimbel untuk persiapan SBMPTN di bidang geografi. Ya, ini kegiatan rutin tahunan dari 2017 silam. Dulu sih untuk menambah uang jajan. Eh, malah keterusan sampai sekarang. Hehehe.
Kemarin saya mengajar tentang atmosfer. Saat masuk bahasan tentang “awan”, seperti biasa saya selalu bertanya perihal “apa itu … (konsep yang sedang dibahas)”. Rupanya, semua bingung mendefinisikan apa itu awan. Akhirnya, gorden di kelas saya buka, dan semua sepakat benda yang melayang itu namanya awan. Semua bisa melihat awan. Setiap hari, bahkan. Tapi kalau ditanya, “apa itu awan?”, tetap saja kelabakan.
Ini baru tentang awan. Benda yang mudah dilihat dengan mata telanjang dan tanpa modal membeli alat-alat yang mahal. Bagaimana nanti mereka masuk kuliah di jurusan-jurusan Soshum, yang konsepnya akan lebih abstrak? Tampaknya, ini menjadi PR besar bagi guru-guru di SMA, wabilkhusus yang mengajar pelajaran ilmu sosial.
Itu pula yang saya rasakan ketika dahulu masih kuliah di tahun-tahun awal. Di kelas Pengantar Metodologi Penelitian Sosial, hal pertama yang ditanyakan dosen di kelas paling awal adalah, “apa itu sosial?”. Sekelas pun diam, termasuk saya. Rupanya saya pun ikut menjadi “korban” ketidakmampuan mendefinisikan sesuatu yang hendak dipelajari. Menurut dosen tersebut, salah besar jika kita sibuk-sibuk belajar metode penelitian ilmu sosial tapi apa yang kita maksud sebagai “sosial” sendiri tidak jelas.
Sejak itulah, saya berupaya untuk mengejar ketertinggalan saya di masalah pendefinisian ini. Di kemudian hari, saya baru paham, rupanya masalah definisi ini adalah pelajaran tingkat dasar dalam ilmu filsafat dan logika. Dan itu tidak pernah diajarkan secara langsung sejak sekolah, bahkan mungkin ada yang tidak mendapatnya saat kuliah.
Dari pengalaman ini, ada satu hal yang saya tidak temukan dari kemampuan anak-anak kelas 12 SMA ini. Yakni, kemampuan untuk mendefinisikan apa yang sedang dipelajari.
Padahal, mendefinisikan sesuatu itu masalah krusial. Jangan jauh-jauh dulu deh mengerjakan soal HOTS (higher order thinking skills) yang selama ini dijadikan acuan dalam soal sekelas SBMPTN. Selama mendefinisikan konsep sederhana saja masih kebingungan, melakukan analisis fenomena ya akan kelabakan. Kalaupun benar, ya itu kebetulan saja.
Dari sini, menurut saya, pekerjaan rumah terbesar dari pendidikan kita adalah belajar cara berpikir secara runut. Ini masih masuk ke “ilmu alat” yang bernama logika. Artinya, baik anak rumpun sosial humaniora maupun sains teknologi ya harus paham, karena dia menjadi alat untuk memahami ilmu-ilmu lain yang terperinci. Barulah kalau cara berpikir itu sudah dibenahi, bisa memperdalam ilmu yang sifatnya lebih teknis.
Kita sering meremehkan ilmu ini, sampai-sampai kita tidak sadar, betapa banyak energi yang dikeluarkan untuk debat kusir di pentas nasional hanya karena masing-masing pihak tidak paham apa yang dibicarakan. Debat seputar relasi agama dengan negara, akomodasi hukum syariah, pemindahan ibukota, sampai rebutan partai, banyak diikuti oleh orang-orang yang bahkan tidak mampu mendefinisikan apa yang sedang diperdebatkan. Jadinya ya berdebat berubah menjadi bergulat. Atau agar lebih bernuansa lokal, bersilat. Bersilat lidah.

Leave a comment