Kenapa Banyak Orang Percaya Konspirasi?

Published by

on

Pandemi Covid sudah setahun lebih. Mereka yang positif maupun meninggal semakin banyak. Bahkan sudah dua pekan terakhir kasus positif di Indonesia meningkat pesat. Tapi, kenapa masih saja ada yang percaya bahwa covid ini konspirasi?

Saya menemukan buku menarik. Judulnya “Denying to the Grave”. Ditulis oleh bapak-anak Jack Gorman dan Sara Gorman. Ayahnya merupakan seorang dokter dan profesor di Columbia University. Anaknya seorang spesialis kesehatan masyarakat lulusan Columbia (MPH) dan Harvard (PhD). Buku ini diterbitkan oleh Oxford University Press, tahun 2017 yang lalu.

Bab pertama buku ini mencoba menjawab kenapa banyak di antara kita percaya dengan teori konspirasi. Saya sendiri kurang sudi menyebut konspirasi sebagai teori, karena yang namanya teori itu diperoleh melalui proses ilmiah dengan kaidah ilmiah pula. Sementara konspirasi, jangankan ilmiah, melalui penelitian yang serius saja tidak. Lebih tepat kiranya disebut sebagai pseudo-teori saja.

Baik, kenapa sih banyak di antara kita yang percaya akan adanya konspirasi? Kita juga mengira konspirasi itu logis, meski data yang kita punya juga minim atau bahkan nihil. Ada beberapa jawaban yang ditawarkan. Mari kita coba urai.

1. Ada banyak hal di dunia ini yang belum menemukan jawaban

Mulai dari pembunuhan Kennedy di AS sampai huru-hara 1965 di Indonesia, belum ada satu pun jawaban pasti akan peristiwa tersebut. Para ahli sendiri tidak bisa memastikan apa gerangan yang menjadi penyebab, siapa saja aktor kunci yang terlibat, hingga bagaimana mereka dijalankan.

Sementara di diskusi akademik ketidakpastian itu bukan sesuatu yang aib, banyak di antara kita yang tidak puas dengan jawaban yang tidak pasti. Jadi, ah ini tentu ada konspirasi. Kalau di peristiwa itu saja ada kekuatan jahat yang merencanakan kejahatan ini, masa iya di peristiwa lain tidak ada?

Dari sinilah kita cenderung mempercayai berbagai pseudo-teori konspirasi yang bermunculan. Kita butuh jawaban. Sementara para ahli saja masih kebingungan, yasudahlah jawaban yang ada saja kita percayai. Padahal mungkin sebenarnya kita tidak punya jawaban pun tidak berpengaruh apa-apa ke hidup kita. Apa kalau kita tahu siapa aktor di balik tragedi 1965 kita bisa langsung kaya raya? Ah, tidak juga. Tapi ya memang dasarnya manusia, kalau punya rasa ingin tahu sering tidak sabar untuk mendapat jawaban.

2. Mentalitas korban

Kita merasa diri kita lemah. Secara ekonomi tidak kaya raya. Secara politik tidak berkuasa. Secara ilmu pun apa adanya. Maka, kita pun merasa jika ada satu hal yang menimpa kita, kita ini korban dari orang kaya yang culas, atau politisi yang korup, atau bahkan ilmuan yang gila.

Ya, kita merasa bahwa kita ini korban dari kejahatan orang lain. Tapi siapa orang lain itu? Kita sebenarnya tidak bisa memastikan siapa mereka. Lha bukti nyatanya saja tidak kita punya. Meski begitu, kita sedemikian yakin bahwa ada orang jahat yang mau mencelakakan kita.

Lihat saja ketika banyak orang yang percaya bahwa dengan kita divaksin, kita akan dimasukkan chip super kecil, lalu dengan chip itu kita bisa dideteksi oleh para pemimpin global. Dengan deteksi itu, kita bisa dimatikan begitu saja. Karena ada agenda globalis yang ingin melakukan pengendalian penduduk dunia. Khayalan itu sebenarnya lucu-lucuan saja. Lha memangnya dia seberpengaruh apa sampai-sampai ada orang yang perlu memantau gerak geriknya setiap saat? Pejabat bukan. Penemu ulung juga bukan. Kok ya merasa sepenting itu? Rupanya, mentalitas korban tadi akarnya.

Memang, kita merasakan banyak ketidakadilan di dunia ini. Memang, kita banyak menemukan pemimin yang zalim, pengusaha yang curang, maupun ilmuan yang punya niat jahat. Tapi, jangan disamaratakan juga dong. Itulah perlunya “adil sejak dalam pikiran”.

3. Perasaan tidak berdaya

Ini masih nyambung dengan yang kedua tadi. Sudahlah kita melihat ada banyak orang jahat yang ingin mengorbankan kita sebagai tumbal, kita pun melihat bahwa kita ini tidak berdaya apa-apa. Harta pas-pasan, kekuasaan tidak ada di tangan, ilmu pun terbatas. Makin kacau pikiran kita memikirkan bagaimana ketidakberdayaan kita bakalan dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Siapa orang lainnya? Ya gak tau siapa sih. Kayaknya globalis deh, yang sering disebut-sebut sama youtuber dan influencer itu lho! Siapa globalisnya, terserah deh. Pokoknya globalis!

4. Ketidakpercayaan pada otoritas

Oleh ayah-anak Gorman, ketidakpercayaan disebut kunci kenapa kita mau percaya begitu saja pada pseudoteori konspirasi. Kita tidak percaya pada otoritas. Entah itu otoritas kekuasaan maupun keilmuan. Kita gak percaya sains. Kita juga gak percaya sama pejabat pemerintah. Di bayangan kita, yang namanya pejabat itu ya korupsi. Kalau ilmuan, itu pasti yang kerjaannya di lab, menerawang pakai mikroskop, kalau ngomong bahasanya ketinggian. Ya gak jauh beda lah dengan dukun yang pakai jampi-jampi! Nah, karena dari awalnya memang ada mistrust, ketidakpercayaan, jadi kita mudah percaya begitu ada orang yang bilang bahwa ilmuan, pejabat, dan orang kaya itu bersengkongkol untuk jahat ke kita.

5. Cara orang awam untuk memahami fenomena kompleks

Ini sebenarnya sangat sulit kita hindari. Betapapun seseorang itu punya keahlian di satu bidang, pasti ada bidang lain yang dia awam sama sekali. Dokter bisa saja ahli di bidangnya, tapi kalau disuruh bicara ekonomi bisa saja gelagapan. Pengacara juga ahli dalam memahami undang-undang, tapi kalau disuruh memahami obat-obatan? Bisa nambah resepnya dikasih lagi obat sakit kepala.

Keawaman ini sebenarnya membuat kita menjadi rentan terhadap konspirasi. Makanya, kita sulit untuk menghindarinya karena kita punya keawaman di satu bidang tertentu. Sayangnya, karena kita punya keawaman di satu hal, kita sering memilih jalan pintas untuk memahaminya. Banyak di antara kita yang awam di bidang kedokteran, obat-obatan, dan virus. Akhirnya, kita memilih jalan pintas untuk memahami pandemi ini. Penjelasan para ahli memang ada, tapi ya kita gak paham karena bahasanya ribet, ditulisnya di jurnal yang harus bayar, pakai bahasa inggris pula! Akhirnya, kita mudah percaya begitu saja begitu ada orang berkisah bahwa pandemi ini konspirasi bla bla bla. Wah, apalagi yang cerita itu sering muncul di TV. Subscriber youtube nya juga jutaan. Wah, ini jelas terpercaya!

Nah, untuk itu, penting bagi kita untuk menyeleksi siapa saja yang perlu kita dengar. Setelah kita akui bahwa kita awam di suatu bidang, kita harus akui juga bahwa ada orang yang ahli di bidang itu. Para ahli itulah yang sepatutnya kita dengar. Jangan mudah terpesona dengan subscriber, follower, dan broadcast yang ada!

6. Mereka pintar memanipulasi emosi kita

Kalau kita perhatikan, kita akan lebih mudah untuk percaya jika sudah larut dalam emosi. Tulisan yang pakai clickbait, video yang pakai efek audio-visual yang menggelegar, membius emosi kita dan membuat kita luput menggunakan akal sehat. Akhirnya, kita mudah percaya dengan apa yang mereka bicarakan, meski sebenarnya tidak masuk akal. Apalagi, kalau kita sudah dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan yang sulit. Kita ingin mencari jalan pintas tanpa harus banyak berpikir lama. Memahami virus, pandemi, tata kelola global itu sulit. Jadilah emosi kita lebih bermain dan akhirnya membuat kita lebih memilih untuk percaya teori konspirasi ketimbang penjelasan para ahli.

###

Demikianlah enam penjelasan kenapa kita mudah percaya dengan pseudo-teori konspirasi. Tentu, ada penjelasan lain di bab-bab selanjutnya dari buku Gorman & Gorman atau dari buku lainnya. Tapi, saya pikir enam saja sudah cukup untuk memberi penjelasan pada kita, kenapa banyak orang percaya dengan konspirasi.

Sebagai manusia, kita memang mustahil untuk bisa 100% berpikir logis di segala kondisi. Pasti ada masa-masa kita tidak berpikir logis. Nah, kita perlu sadari itu untuk dua sikap yang harus kita miliki. Pertama, jangan mudah percaya dengan sesuatu yang bombastis, meski secara kasat mata itu bisa memuaskan keingintahuan kita. Kedua, selalu bersikap kritis terhadap diri sendiri. Kita punya keterbatasan. Untuk itu, tidak mengapa untuk tidak mengetahui semua hal maupun merevisi hal yang sebelumnya kita percaya.

Leave a comment