Ittiba’

Published by

on

Dikisahkan, salah seorang sahabat Nabi, Nu’aiman bin Amr, pernah mabuk di dekat Nabi. Sahabat yang lain kesal dengan sikap Nu’aiman. Bisa-bisanya sudah di dekat Nabi, masih mabuk juga. Akhirnya ada yang memukuli dia, bahkan ada yang melaknatnya. (Laknat di sini maknanya jauh dari Allah)

Nabi tidak berkenan ketika ada sahabat yang melaknat Nu’aiman. Kata Nabi, kurang lebih, “jangan laknat dia, karena dia masih cinta kepadaku, masih cinta kepada Allah”.

Dari kisah ini, kita perlu mengambil hikmah. Bahwa, sekelas sahabat pun ada yang tidak mengikuti Nabi dengan sepenuhnya. Dan, ketika Nabi melihat ada sahabatnya masih belum bisa taat sepenuhnya, Nabi tidak mau melaknatnya. Yang diingat Nabi, Nu’aiman itu cinta kepada Nabi, cinta kepada Allah.

Ini penting kita cermati. Banyak di antara kita, ketika melihat (atau bahkan sekadar dengar cerita) seorang melakukan maksiat, kita merasa lebih baik dan bahkan menjauhi orang itu seakan dia najis. Sikap ini bukanlah akhlak yang diajarkan Nabi. Memang, kita tidak senang dengan perbuatannya. Ini benar. Tapi, jangan sampai kita malah mengikutinya dengan menganggap orang tadi kotor sepenuhnya bahkan melaknatnya. Ini berlebihan.

Justru, sebagaimana Nabi berbaik hati pada Nuaiman, kita perlu untuk husnuzzhan kepada orang seperti itu. Toh dia masih beriman, masih cinta Nabi, itu artinya dia masih ada harapan untuk jadi lebih baik. Meski mungkin proses perbaikannya butuh waktu lama. Ada orang begitu mendengar kebaikan, dia bisa langsung taat. Ini baik. Ada orang yang sebenarnya sudah tahu kebaikan, tapi dia masih perlu proses untuk jadi lebih baik. Ini perlu kita dukung dan doakan. Sebagaimana para ulama juga mengajarkan untuk mendoakan orang yang masih belum taat. Kata Imam Ghazali, salah satu ciri dari Waliyullah ialah rutin mendoakan “Ya Allah, rahmatilah umat Nabi Muhammad”. Orang yang masih belum taat itu, masih termasuk umatnya Nabi Muhammad Saw.

Kisah ini saya dapatkan ketika tadi mengaji di ayat ke-31 Surat Ali Imran ini:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

Banyak di antara kita, termasuk dahulu saya sendiri, ketika membaca ayat ini justru ingin menyempitkan makna Ittiba’ dengan terlampau memperketat orang yang disebut taat hanya mereka yang menjalankan semua sunnah Nabi Saw. Benar memang ketika kita mengaku mencintai Allah dan Nabi maka konsekuensi logisnya adalah ikuti perintah Allah dan teladan Nabi. Akan tetapi, kita perlu ingat juga, tidak akan pernah ada seorang pun yang bisa benar-benar mengikuti Nabi sepenuhnya. Jadi, jangan sampai merasa bahwa kita sendirilah, dan sekelompok kita, satu-satunya kelompok yang paling ittiba’ terhadap Nabi.

Maka, ketika ada orang yang belum bisa mengikuti Nabi, pastikan setidaknya dia masih mencintai Nabi dan bukannya mencela Nabi. Doakan semoga dia bisa melangkah lebih lanjut dengan mengikuti ajaran Nabi secara lebih baik. Jangan sampai, karena dia melihat orang yang merasa sudah taat malah melaknat dia, dia jadi benci terhadap Nabi dan ajarannya. Ini musibah.

Satu lagi, ketika kita sudah mampu menjalankan sebagian sunnah Nabi, kita perlu waspada godaan setan. Godaan setan itu tidak hanya dengan berusaha mencegah kita berbuat kebaikan dengan meniupkan waswas. Setan pun akan berusaha membatalkan catatan amal kita dengan menyesali kebaikan yang sudah dilakukan. Setan juga akan berusaha menghanguskan amal kita dengan merasa lebih baik dan lebih suci dari orang lain. Na’udzubillah.

Wallahu a’lam.

***tulisan ini terinspirasi dari mengaji Tafsir Jalalain bersama Gus Yusron tadi pagi, dengan pengembangan dari saya.

Leave a comment