Tiada gelombang, tiada tahu kita ada pada tenang
Tak kenal temaram, tidak menahu bahwa itu benderang
Tanpa ada sedih, kita tidak akan mencari Bahagia
Ketiadaan penahan, tidak ada pacu untuk melaju
–Rasa dan Karsa, Farhan Abdul Majiid (2017)
Sebagian orang menamainya Quarter life crisis. Sebagian yang lain menyebutnya proses pendewasaan. Keduanya merujuk pada fenomena serupa.
Kegamangan hidup manusia yang sedang bertransformasi dari remaja (juvenile) menuju dewasa (adult). Perubahan dari masa bersekolah dan berkuliah yang relatif punya kepastian akan target dan tujuan, menjadi masa bekerja, berkeluarga, juga berkehidupan yang penuh ketidakpastian.
Sementara itu, kita melihat satu-per-satu teman mulai menapaki jalan yang selama ini kita impikan. Tentu, teman yang kita lihat itu tidak lepas dari selection bias yang kita miliki. Karena kita punya persepsi bahwa kita tertinggal dari orang lain, maka yang lebih kita perhatikan ialah mereka yang sudah berjalan di depan, sembari melupakan ada orang-orang lain yang ada di garis yang sama.
Kita pun berada dalam persimpangan. Hendak ke arah mana kita melangkah?
Mari, bersama kita renungkan akan masa ini. Barangkali, tulisan ini bisa membantu teman-teman untuk lebih memahami kondisi dan alternatif perjalanan ke depan.
Tentang Krisis
Krisis, entah itu dalam perekonomian atau dalam kehidupan, sejatinya merupakan fenomena yang normal dan akan terus berulang. Walau begitu, memang ada satu krisis yang lebih signifikan daripada krisis yang lain.
Krisis kehidupan yang dirasakan di usia 20an barangkali akan dirasa amat signifikan, sebab kita belum punya pengalaman yang mumpuni dari perjalanan hidup sebelumnya. Untuk itu, dapat kita katakan, krisis ini merupakan turning point yang krusial, sebab ia akan menjadi modal bagi kita untuk menghadapi krisis di tahapan kehidupan selanjutnya.
Orang yang bisa banyak belajar dari proses dirinya menghadapi kesulitan di masa ini, punya kemungkinan lebih besar untuk sukses di proses lain yang akan hadir di tahap kehidupan mendatang.
Krisis memang menakutkan. Tetapi, barangkali kita sering melewatkan, bahwa di samping krisis itu membawa guncangan, dia juga membuka peluang.
Sudah menjadi naluri alamiah kita sebagai manusia, bahwa kita selalu mengejar kenikmatan. Maka, ketika berada dalam kondisi tidak nyaman, kita pun gelisah. Ada yang tidak beres dari kondisi ini. Dan, kita pun akhirnya terdorong untuk membereskan ketidakberesan ini.
Mengakui ada masalah, ada ketidakberesan, ada krisis, adalah tahapan awal yang amat penting. Banyak orang yang denial dan merasa semua baik-baik saja. Kondisi denial ini sebenarnya bukan karena dia tidak sadar akan hadirnya krisis, tetapi ada keengganan untuk berubah karena merasa cara-cara lama masih bisa diandalkan.
Padahal tidak selamanya demikian. Kita mungkin merasa aman karena selama ini ada orang tua dan teman-teman yang bisa menolong. Tapi, kondisi pun berubah. Orang tua semakin sepuh, hingga berkurang kemampuannya untuk bisa menolong kita. Teman sebaya pun ternyata ada di kondisi yang tidak jauh berbeda. Jangankan untuk ulur tangan membantu, mereka pun dalam kebingungan serupa.
Akhirnya, kita pun tersadar untuk kali kedua. Ternyata, tidak ada yang bisa diharapkan selain pada diri sendiri. Atau, kalau keimanan kita sedang membaik, kita melanjutkan kesadaran lahiriyah itu pada kesadaran batiniah. Tidak ada tempat bergantung selain pada Allah semata.
Di situlah, firman-Nya, Allahusshamad, bergaung dalam kalbu. Dialah Allah, tempat bergantung segala sesuatu.
Kenali Diri
Dalam tasawuf, dikenal istilah man ‘arafa rabbahu, faqad ‘arafa nafsahu. Barangsiapa yang mengenal Tuhannya, maka dia akan mengenal dirinya. Ada pula yang memberi penjelasan lain, man ‘arafa nafsahu, faqad ‘arafa rabbahu. Barangsiapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya.
Keduanya tampak bertolak belakang, namun sejatinya bertautan. Kita akan kesulitan mengenali hakikat ketuhanan ketika kita tidak benar-benar mengenali diri sendiri. Kita juga akan kesulitan mengenali diri sendiri tanpa kita mengenali kesejatian Tauhid itu.
Mengapa penting untuk mengenali diri sendiri?
Sebab, selama ini kita mengenali diri sendiri dari pantulan cermin terhadap orang lain. Looking-glass self, sosiolog menyebutnya. Dalam beberapa kondisi, cara ini memang membantu. Tetapi, kita tidak bisa selamanya berpatokan pada orang lain. Apalagi, kondisinya sedang dalam situasi krisis, dengan teman-teman di sekeliling pun tidak jauh berbeda.
Maka, kita lakukan tahapan yang selanjutnya. Becermin pada diri sendiri. Tapi, proses ini insya Allah akan worth it untuk ke depannya. Jangan lupa untuk iringi dengan zikir agar cermin hati lebih bersih dan jiwa lebih tenang.
Kita memang paham, hidup ini terus bergerak. Kita harus bekerja, belajar, mengerjakan tugas, mencari nafkah, pergi untuk berdinas, dan sebagainya. Kita tidak boleh berhenti untuk itu.
Tapi, kita pun terkadang merasa, kita menjalaninya dengan keberpisahan antara raga dengan jiwa. Raga kita memang bekerja, tetapi jiwa kita tidak ada di situ. Jiwa kita sedang menyendiri dalam gumpalan tanya, ‘untuk apa saya bekerja?’, ‘mengapa saya mengerjakan ini?’, ‘mengapa orang lain bekerja lebih baik dari saya?’, ‘bagaimana agar saya bisa seperti X?’, dan sebagainya.
Jika ada dalam kondisi seperti ini, ada baiknya kita memberi ruang dan waktu bagi diri untuk menepi sejenak. Mungkin di waktu libur, atau ketika sedang ada waktu luang. Jika di lain waktu kita beri waktu itu untuk berpergian, bertemu teman atau keluarga, berwisata, kita coba beri waktu khusus untuk mengenali diri sendiri. Sesekali kita geser eksplorasi ke luar diri menjadi eksplorasi ke dalam diri.
Memperhatikan diri sendiri memang cukup tricky. Kita terbiasa mengamati sesuatu yang berjarak dengan diri sendiri. Objektivitas, demikian para ahli menyebutnya. Mengamati diri sendiri pun selama ini seringkali ada dalam batas fisik, melalui cermin khususnya.
Kita coba untuk memulai perjalanan memahami diri sendiri yang melampaui jasad. Kita tenggelamkan amatan dalam memori dan refleksi dari hati.
Coba kita ingat lagi memori terjauh yang bisa kita ingat. Mungkin di saat kita terjatuh dari ayunan di TK. Atau, saat dimarahi tetangga karena menabrak pagarnya saat kita belajar sepeda. Atau mungkin, ketika kita sedang belajar mengeja dan menulis.
Jangkau memori personal yang jauh itu, lalu jadikan ia sebagai pangkal untuk kita lanjut berjalan.
Kemudian, secara perlahan, kita perjalankan memori itu. Dari masa anak-anak, masuk SMP, bertemu teman baru, dimarahi guru, lanjut ke SMA, ikut klub basket, terus hingga kuliah sampai pada hari ini.
Berat, memang. Kita harus melewati puncak dan lembah memori, yang tercampur antara bahagia dengan duka. Antara kesal dengan sesal. Antara keberhasilan dan kegagalan. Mungkin dalam proses ini, akan turun air mata tanpa kita sadari.
Tapi, kita coba lampaui perjalanan itu dari sekadar berjalan satu arah. Kita coba maknai perjalanan itu.
Mulailah bertanya, ‘mengapa dulu saya melakukan A dan bukannya B?’, ‘kenapa saya lebih memilih P daripada Q?’, ‘apa yang menjadi alasan dari ibu saya yang memilihkan X ketimbang Y?’, kenapa pengalaman M membuat kita sedih sementara pengalaman N tidak padahal peristiwanya tidak jauh berbeda?’, ‘apa pelajaran terbesar yang bisa kita ambil dari peristiwa menyedihkan Z?’, dan seterusnya. Bertanyalah pada diri sendiri.
Dari pertanyaan itu, bisa jadi kita dapati jawaban. Bisa juga kita dapati pertanyaan tambahan. Hingga akhirnya kita dapatkan keping-keping puzzle yang berserak.
Lalu, susun puzzle itu untuk kemudian kita dapat sebuah gambaran besar. Big picture dari kehidupan kita hingga hari ini.
Ketika sudah terlihat big picture itu, kita perlu tersenyum. Ada cermin diri yang selama ini tidak bisa dilihat dari kamera. Ada serpih-serpih peristiwa yang selama ini kita took it for granted. Ada pelajaran yang belum kita dapati hikmahnya.
Benang merah kehidupan pun mulai terlihat, hingga terajut.
Menatap ke Depan
Ketika masa lalu sudah lebih tertata, kita geser pandangan pada masa depan. Masih buram atau bahkan gelap, memang. Tapi, jika selama ini kita meraba tanpa pegangan, kita sudah punya modal dari refleksi atas masa lalu itu.
‘ah, untuk apa bersiap? Ikut mengalir seperti air saja!’ mungkin kata-kata ini sempat hinggap di kepala kita. Yuk, kita coba kritisi. ‘iya kalau mengalirnya di sungai yang jernih, kalau malah mampet di dalam comberan? Bukannya jadi bau membusuk dan tidak berguna?’. Di sinilah relevan adagium populer, if you failed to prepare, you are preparing to be fail. Kalau kita gagal merencanakan, sebenarnya kita sedang merencanakan kegagalan. Bahaya, bukan?
Tapi, sebelum beranjak, lihat dulu kondisi kita hari ini. Sedang di mana kita berada? Dalam persimpangan seperti apa kita ini? Sebelah mana yang berpijak pada pasir yang mudah membuyar dan sebelah mana yang pijakannya sudah padat membatu?
Di sinilah kita dapati apa kelebihan dan kekurangan dalam diri maupun lingkungan. Tabel ini barangkali bisa membantu visualisasi dengan lebih mudah. Identifikasi dalam diri dan luar diri, kelebihan dan kekurangan dari masing-masing.
| Dalam diri | Luar diri (lingkungan) | |
| Kelebihan | ||
| Kekurangan |
Sudah? Mari kita lanjutkan perjalanan. Sekarang modal kita sudah ada dua: pengalaman masa lalu dan posisi hari ini. Insya Allah, sudah siap kita menyiapkan masa depan.
Mari mulai dengan pertanyaan ‘apa yang sebenarnya kita inginkan?’. Jawaban pertama mungkin masih abstrak. ‘mau jadi orang baik’, ‘mau jadi sukses’, ‘mau punya bisnis’. Ndak apa, namanya juga proses di awal.
Tapi, kita jangan berhenti di situ. Lanjutkan terus pertanyaan tadi hingga kita bertemu dengan jawaban-jawaban yang lebih mendetail.
Ketika sudah didapat, sekarang coba kita evaluasi. ‘apa apakah ini benar-benar aspirasi atau hanya keinginan sesaat?’, ‘apakah kita masih following the line atau sudah reading between the line?’, ‘apakah ini hasil dari refleksi terhadap perjalanan diri sendiri atau karena membandingkan dengan orang lain?’, ‘apakah pengaruh dari orang lain itu jatuhnya sebagai inspirasi yang menimbulkan motivasi, atau karena peer pressure yang malah bikin insecure?’. Dan silakan lanjutkan sampai benar-benar yakin bahwa kita menilai diri dengan penilaian yang matang, bukan karena tergesa-gesa.
Kalau sudah, mari kita buat perencanaan yang strategis. Seperti apa?
Kita belajar dari para atlet bela diri. Selain belajar untuk melakukan strategi menyerang dan bertahan, mereka juga perlu menyiapkan strategi untuk terjatuh. Jangan sampai jatuhnya asal jatuh yang membuat memar, tapi harus jatuh yang terencana agar tidak cedera. Berlatih pula terus menerus hingga terbentuk muscle memory yang akhirnya gerak kita tidak kaku dan mudah untuk bisa refleks.
Kita bisa bagi ke dalam rencana A, B, dan C. singkatnya ada di tabel ini.
| Plan A | Kondisi ideal | Acceleration atau shifting |
| Plan B | Kondisi realistis | Maintaining the pace, gradually upgrading |
| Plan C | Kemungkinan terburuk | Tidak bergerak, atau mungkin mundur beberapa langkah |
Kita punya plan A. Ini rencana paling ideal. Cita-cita tertinggi. Kesulitannya level 10 dari 10. Ini kita jadikan benchmark.
Untuk bisa ke sana, kita harus mengalami percepatan, akselerasi. Atau mungkin, kita harus berganti arah haluan. Bergerak ke arah yang baru.
Kita juga punya plan B. Ini rencana yang realistis. Kondisinya lebih baik dari sekarang, tetapi masih dapat dicapai dengan menjaga progress hari ini. Kita upgrade, tetapi secara bertahap dan perlahan.
Kita juga punya plan C. Ini rencana ‘jatuh yang indah’. Kemungkinan terburuk ada di sini. Kita tidak berubah kondisinya dari hari ini, atau bahkan masuk ke dalam kondisi yang lebih parah.
Mitigasi dampak buruk harus dilakukan. Kenali tali yang bertaut pada tempat yang kokoh, untai agar jadi jaring pengaman. Kenali teman dan kolega yang mau dan mampu membantu di saat kondisi terburuk itu kejadian. Lihat tempat-tempat yang memungkinkan untuk ditempati.
Tiga pengingat diri
Alhamdulillah, sampailah kita pada bagian terakhir. Tiga pengingat diri.
Pertama, ada adagium bahasa Inggris yang cukup terkenal, man propose, God dispose. Kita terjemahkan sebagai manusia merencanakan, Tuhan yang menentukan. Keyakinan Tauhid bukanlah lawan dari upaya merencanakan perjalanan.
Rawat keimanan kita pada takdir. Bahwa hidup kita berjalan pada kadar yang sudah Allah tentukan. Tidak akan berlebih dan tidak akan berkekurangan. Berpasrahnya kita pada takdir itu tidak sama dengan menyerah pada keadaan. Keberpasrahan pada takdir, yang dalam agama disebut sebagai tawakkal, itu berjalan beriring dengan ikhtiar dan doa.
Maka, jangan ikuti cara berpikir yang melihat ketetapan takdir dan kerja keras sebagai dua hal yang bertentangan. Keduanya seiring sejalan. Ada takdir-takdir yang sifatnya opsional, dalam arti, ia akan menyesuaikan dengan ikhtiar yang dilakukan dan doa yang dipanjatkan. Dan, jika upaya dan doa kita lakukan dengan sebaik-baiknya, insya Allah, opsi terbaik pula yang akan didapatkan.
Kemudian, kita juga perlu menumbuhkan kesadaran, bahwa hal yang terbaik dalam versi kita itu belum tentu sama dengan apa yang Allah anggap sebagai hal terbaik bagi kita. Hal yang Allah anggap sebagai takdir terbaik, bisa jadi, kita rasakan itu dengan kepahitan mendalam. Takdir Allah sudah pasti baik, tetapi sikap kita belum tentu baik.
Maka, perbaiki sikap kita dalam menghadapi takdir yang bisa jadi pahit. Kewajaran manusia memang mengeluhkan dan ingin mencari kambing hitam untuk disalahkan. Tetapi, kita eling-eling, bahwa kita ini hamba Tuhan yang beriman.
Ketika kita sudah ingat, sedih itu pun terasa nikmat. Sebab, nikmat kita tidak bertumpu pada peristiwa, tetapi pada kondisi kalbu kita. Kalbu yang ridha akan memberi kenikmatan meski peristiwanya tidak menyenangkan.
Salah satu cara yang bisa membantu untuk menghadirkan keridhaan di hati ialah dengan ingat janji Allah bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini. Hanya Dialah yang abadi. Kesedihan, kebahagiaan, bahkan diri kita ini sejatinya berada dalam ruang dan waktu. Artinya, ia diliputi kesementaraan. Maka, baik kesedihan, kebahagiaan, dan termasuk diri kita, tidak akan berada dalam kondisi yang sama untuk selamanya.
Pengingat kedua, ialah kita harus menyeimbangkan antara kedisiplinan dan fleksibilitas terhadap diri sendiri. Jangan terlampau keras yang membuat kita akhirnya menyakiti diri sendiri. Jangan pula terlalu santai yang akhirnya kita tidak bergerak dari persimpangan dan akhirnya menumpuk bom waktu ke depan.
Sadari bahwa kita punya kecenderungan untuk tidak menyukai kesulitan. Kita cenderung ingin menghindari masalah. Tetapi, penghindaran tidak sama dengan penyelesaian. Acapkali, kita harus menghadapinya sehingga masalah itu selesai.
Apakah menyenangkan? Tidak selalu. Malah, seringkali proses itu sangat sulit. Ini kan yang membuat kita dalam situasi bingung di persimpangan ini?
Tetapi, untuk mencapai kemudahan, kita harus melalui kesulitan. fa inna ma’al ‘usri yusra, inna ma’al ‘usri yusra. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan, bersama kesulitan ada kemudahan. Para ahli tafsir menyebut, bahwa dua ayat ini menunjukkan sebenarnya kesulitan itu merujuk pada satu hal yang sama, sementara kemudahan merujuk pada dua hal yang berbeda.
Artinya, satu kesulitan akan diikuti oleh setidaknya dua kemudahan.
Akan tetapi, kesulitan apa yang akan membawa pada kemudahan? Bukankah ada masalah yang hanya membawa kita pada masalah baru dan akhirnya kita terjebak dalam labirin yang kita sendiri kebingungan mana ujung dan pangkalnya.
Di kampus dulu, ada istilah yang cukup dikenal, ‘terbentur, terbentur, terbentuk’. Di antara tanda dari terbentur yang berakhir pada terbentuk itu ialah ketika kita menjalani prosesnya, kita bisa menikmatinya. Mungkin sesekali kita pun sedih, tetapi kesedihan itu tidak berlarut.
Sementara, terbentur yang membuat kita terpuruk, itu ialah ketika kita menjalani prosesnya, malah membuat kita tidak nyaman. Muncul lagi pertanyaan kenapa ini harus dijalankan? Untuk apa sebenarnya melakukan ini semua? kemudian kita menjadi gamang dalam menjalaninya. Jika ini kasusnya, berhenti sejenak, pikirkan ulang, dan rencanakan ulang.
Terakhir, ini mungkin klise. Perjalanan hidup orang itu berbeda-beda. Semua orang rasanya tahu ini, tetapi kita pun sering melupakan ini.
Memang, agak susah dilepaskan manusia ini dari sifat nasiya yang pelupa. Itulah fungsinya pengingat. Ada pengingat dari luar diri, ada yang dari dalam diri. Ada yang eksplisit, ada yang implisit. Ada yang perlu usaha, ada yang diberikan begitu saja.
Ketika diingatkan, bersyukurlah. Alhamdulillah, masih ada yang mengingatkan.
Mari kita jalani kehidupan ini dengan optimis. Optimisme itu muncul dari keseimbangan antara raja, rasa harap, dan khauf, rasa takut, pada Allah. Tidak ada satupun yang abadi melainkan Allah, maka masalah itu ada akhirnya, begitupun dengan kebahagiaan.
Memang, ada sebagian masalah yang tidak bisa kita selesaikan dengan menghadapinya. Terkadang, ada masalah yang hanya bisa selesai dengan bergulirnya waktu. Damaikan hati untuk dapat menerima kenyataan ini.
Setiap orang sudah diberi kadar cobaan dan kesuksesan masing-masing. Ketika merasa insecure dengan teman yang sudah kita anggap sukses, ingatkan diri bahwa dia pasti sudah melewati ujian yang juga berat. Tumbuhkan pikiran positif. Belajar dari perjalanan orang lain bisa kita lakukan, di samping belajar dari perjalanan diri sendiri.
Akhirul kalam
Hidup ini memang tidak mudah. Tantangan kehidupan memang tidak akan pernah ada habisnya, dia baru berakhir ketika nyawa berpisah dari raga.
Ujian kehidupan akan datang silih berganti. Dan namanya ujian, kita secara bertahap akan naik level ujiannya. Tapi, Allah pun berjanji, bahwa semua sudah sesuai dengan kemampuan kita. Maka, jangan sampai kita seperti orang tidak beriman yang memilih untuk berputus asa bahkan mengakhiri hidupnya sendiri.
Karena setiap masalah ada jalan keluarnya, tugas kita bukanlah berlarut dalam masalah. Melainkan, terus berupaya untuk mencari jalan keluar.
Pada akhirnya, yang kita cari sejatinya keridhaan Ilahi. Jangan sampai kerumitan hidup ini mengalihkan kita dari pengejaran ridha Allah itu. Cari jalan dalam persimpangan ini yang mengarah pada perjalanan menuju situ. Sebab hanya keridhaan-Nya yang akan membawa pada kebahagiaan sejati, hari kini dan nanti.
Masa lalu, masa kini, dan masa yang akan datang
Akan selalu memberi pelajaran
Akan selalu memberi cerminan
Akan selalu memberi peringatan
Bagi hamba-hamba Tuhan
Yang beriman
–Ingatlah, Perhatikan, Waspadalah, Farhan Abdul Majiid (2011)
*teman-teman, tulisan ini bukanlah instruksi atau patokan yang sepenuhnya harus diikuti. Ini adalah perspektif yang bisa jadi teman-teman sepakat dengan sebagian dan tidak pada sebagian yang lain. Tidak mengapa. Saya harap, uraian ini bisa bermanfaat untuk yang membaca.

Leave a comment