
Ketika melihat termostat malam tadi, saya lihat suhunya ada di angka 19°C. Saya kemudian berpikir, di kondisi musim dingin, suhu 19°C itu sudah membantu menghangatkan ruangan. Sementara, ketika saya di Indonesia, AC (mesin pengondisi udara) yang suhunya 19°C, itu artinya mendinginkan ruangan. Bahkan, kalau di rumah, sangat jarang saya atur AC di kamar sampai sedingin itu, paling rendah biasanya hanya 21-23°C.
Suhu yang berada pada derajat yang sama, bisa mendapat persepsi yang berbeda. Bukan sekadar beda, tapi ini sudah berbanding terbalik. Satu kondisi membuat 19°C itu artinya menghangat, di kondisi lain suhu 19°C itu mendingin.
Kenapa bisa beda persepsi untuk satu fenomena yang ukurannya sama persis?
Di sinilah kita bisa paham bahwa di antara cara berpikir manusia, ada salah satu yang dominan. Yakni, berpikir menggunakan perbandingan. Kita membandingkan satu kondisi dengan kondisi lain yang menjadi titik referensi. Di Florence yang sedang berada di musim dingin, 19°C adalah hangat, karena dibandingkan dengan suhu luar ruangan yang ada di bawah 5°C. Di Jakarta, apapun musimnya, iklim tropis membuat 19°C itu menjadi dingin, karena dibandingkan dengan suhu luar ruangan yang bisa mencapai 30-33°C.
Sebuah angka yang kita sebut absolut, bisa mendapat makna yang relatif. Ini menarik. Mengapa ya, bisa begitu?
Saya kemudian mengingat kembali pelajaran geografi yang pernah saya ajarkan setiap tahun di bimbel. Satu di antaranya ialah tentang suhu udara. Kita biasa mendefinisikan suhu udara sebagai “derajat panas atau dinginnya suatu benda, dalam hal ini adalah udara (gas)”. Sementara, dalam definisi yang saintifik, khususnya merujuk pada Fisika, suhu udara adalah “besaran energi kinetik dari gerakan partikel-partikel udara”.
Walau begitu, dalam pengukuran suhu yang menggunakan derajat Celcius, titik referensinya ada pada fenomena alam yang mudah diamati sehari-hari. Suhu 0°C merupakan suhu ketika air mengalami pembekuan sementara 100°C merujuk pada suhu ketika air mengalami penguapan. Membeku dan menguap merupakan kondisi perubahan wujud, yang mana di situ juga terdapat energi laten yang jauh lebih besar karena memproses perubahan wujudnya.
Sistem Celcius ini jamak dipakai di banyak negara. Barangkali, hanya Amerika Serikat yang menggunakan Fahrenheit sebagai satuan pengukuran suhu utama, yang seringkali membuat bingung para pendatang. Hanya saja, ketika dulu belajar Fisika, disebut bahwa Satuan Internasional untuk suhu bukan Celcius, melainkan Kelvin. Sebab, dalam satuan Kelvin, dengan merujuk pada pendefinisian suhu di atas, nilai 0 adalah suhu terendah yang dapat dicapai oleh materi atom di bumi (atau mungkin, semesta yang diketahui). Makanya, dia disebut sebagai absolute zero.
Sementara itu, dalam pembahasan ilmu sosial, lebih sulit rasanya kita mencari satu konsep yang memiliki definisi yang disepakati oleh semua ahli. Beda dengan konsep suhu yang bisa dirujuk definisinya untuk kemudian dikembangkan menjadi skala pengukuran tersendiri. Konsep apa itu negara, demokrasi, kemiskinan, hingga perang saja ada banyak perdebatan definisinya.
Masalah pendefinisian ini yang membuat banyak orang menganggap ilmu sosial itu sebagai “ilmu relatif” sementara ilmu alam sebagai “ilmu pasti”.
Untuk mengatasi masalah ini, di ilmu sosial kita mengenal adanya “ladder of abstraction” yang diperkenalkan oleh Sartori. Kita bisa mendefinisikan sebuah konsep menjadi semakin abstrak atau semakin presisi. Tapi, pilihan itu tidak bisa dipilih secara asal. Dia harus dipilih dengan pertimbangan praktis. Semakin abstrak sebuah konsep, maka semakin banyak kasus yang bisa diteliti. Sementara, ketika konsep didefinisikan semakin presisi, maka kasus yang bisa diteliti menjadi semakin sedikit.
Dengan mempelajari ini, kita bisa memahami bahwa sebenarnya ketika ilmu sosial disebut sebagai relatif, dia tidak sama dengan ilmu yang tidak punya aturan sama sekali dan terserah masing-masing orang saja. Akan tetapi, dia menjadi relatif karena ada titik referensi yang berbeda. Mirip ketika kita menyebut panas atau dingin. Kita menyebut 19°C itu panas, karena titik referensi kita adalah suhu 5°C di luar, sementara kita menyebut suhu yang sama itu sebagi dingin, karena titik referensi kita adalah suhu 32°C di luar. Gaji 10 juta rupiah per bulan di Jakarta akan disebut sebagai kelas menengah, karena rata-rata gajinya ada di bawah itu, sementara gaji 10 juta rupiah di Florence akan disebut sebagai warga miskin, karena rata-rata gajinya jauh di atas itu.
Untuk itu, ketika kita berhadapan dengan persoalan sosial, penting bagi kita untuk mencari titik referensi, asumsi dasar, dll dari argumentasi yang diajukan oleh seseorang. Dari situ, kita bisa mengevaluasi apakah yang dijadikan sebagai referensi dan asumsi itu tepat atau tidak, sesuai dengan fenomena yang sedang kita uji. Di situlah nanti kita menguji validitas dari pengamatan yang kita lakukan.
Bagaimana kemudian dengan agama? Kenapa ada orang menganggap kebenaran sebuah agama itu absolut sementara yang lain menganggap kebenaran semua agama itu relatif?
Kembali ke soal pendefinisian dan level abstraksi. Orang yang menganggap sebuah agama itu benar absolut karena dia merujuk pada definisi ketat. Agama dikatakan benar ketika dia mengajarkan Tauhid yang murni, percaya pada kitab suci yang terjaga periwayatannya secara mutawatir, yang dia dibawa oleh Nabi yang disepakati kejujurannya, dsb. Sehingga, hanya ada satu agama saja yang memenuhi seluruh kriteria teesebut. Sementara, mereka yang menyebut semua agama itu benar karena relatif, hanya melihat kebenaran agama dengan abstraksi yang luas. Agama mengajarkan kebaikan (secara luas, tanpa penjelasan memadai apa itu baik) dan mencegah keburukan (sekali lagi, secara luas tanpa penjelasan memadai apa itu buruk).
Bagi saya, karena agama ini soal keselamatan dunia-akhirat, lebih baik bersikap cukup ketat tanpa menghardik kepercayaan orang lain. Ketidaksepakatan tidak harus berlanjut menjadi kebencian. Walau begitu, penting juga memahami mengapa ada beda pendapat ini, agar bisa menjelaskan mengapa kita tidak sepakat dengan pandangan orang lain, menunjukkan di mana poin keberatannya. Sebab, pedoman agama dalam diskusi itu harus melalui cara yang patut dan terbaik (ahsan).
Kurang lebih begitu. Melihat termostat saja saya jadi berpikirnya ke sana ke mari. Betapapun, semoga bermanfaat. Hehehe

Leave a comment