Ilmu Pengetahuan dan Keimanan

Published by

on

Semakin berilmu, sudah selayaknya semakin bertambah keimanan. Sebab, ilmu itu sejatinya akan merujuk pada keesaan Allah ta’ala.

***
Suatu hari, dua pemuka agama Yahudi datang ke Madinah. Mereka menemui Rasulullah karena penasaran dengan kabar telah datang Nabi akhir zaman yang tertulis di kitab mereka. Ketika bertemu, mereka bertanya, “Anda Muhammad?”, dijawab Nabi, “iya”. Ditanya lagi, “Anda benar Ahmad (nama Nabi di dalam Injil)?”, dijawab lagi oleh Nabi, “iya”.

Karena sudah bertemu dengan orang yang selama ini mengaku sebagai nabi terakhir, maka mereka mau menguji. Apa benar beliau ini Nabi terakhir. Kalau memang benar, mereka sendiri yang berkata, “kami akan beriman kepada engkau dan membenarkan engkau”. Mereka kemudian bertanya kepada baginda Nabi, “kalau begitu, kabarkan kepada kami persaksian paling agung (اعظم شهادة) yang ada dalam kitabullah.

Maka, Allah turunkan ayat ke-18 dari Surat Ali Imran,

شَهِدَ اللّٰهُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ ۙ وَا لْمَلٰٓئِكَةُ وَاُ ولُوا الْعِلْمِ قَآئِمًا بِۢا لْقِسْطِ ۗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا هُوَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ 
“Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang berilmu yang menegakkan keadilan, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Perkasa, Maha Bijaksana”.

***
Tentu sudah berulang kali kita membaca ayat ini. Akan tetapi, tadi seolah saya mendapat jawaban atas lintasan pikiran yang muncul akhir-akhir ini. Setelah selesai baca ayatnya, saya lantas membuka file kitab Tafsir di komputer. Tafsir Al Munir dari Syaikh Wahbah dan Tafsir Al Qurthubi pun saya buka untuk mencari penjelasan dari ayat ini. Sembari mengingat kembali materi ngaji tafsir beberapa tahun lalu.

Mendapat kesempatan untuk belajar di kampus saya saat ini mempertemukan saya dengan banyak orang-orang cerdas di bidangnya. Profesor dari berbagai belahan dunia datang ke sini untuk menyampaikan makalah, berdiskusi, atau sekadar hadir dalam konferensi. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang pernah menduduki jabatan strategis seperti menteri atau penasihat presiden negara besar. Beberapa kali saya bertemu mereka dan melihat sisi lain dari akademisi yang melampaui karya tulis mereka. Berinteraksi dengan ilmuan sebagai manusia, tidak hanya melalui ide yang ada dalam artikel jurnal atau buku.

Dalam interaksi itu, kita melihat sisi lain dari dunia ini. Di balik teori-teori canggih yang mereka kemukakan, mereka sejatinya manusia biasa. Punya kelebihan tetapi juga ada kekurangan. Punya sisi positif, tetapi juga punya sisi negatif. Walau begitu, kita bisa ambil inspirasi dan keteladan dari kesungguhan mereka mendedikasikan hidupnya untuk ilmu pengetahuan. Saya yakin, adalah sebuah sunnatullah, ketika kita serius belajar, ilmu akan datang dengan sendirinya. Jika orang yang tidak beriman saja bisa mendapat jatah ilmu, maka tidak ada alasan bagi kita yang mengaku beriman untuk ragu akan ke-Maha-Ilmu-an Allah.

***
Berulang kali ada orang yang bertanya, untuk apa belajar ilmu Ekonomi, Politik, HI, Geografi, dlsb? Apa ilmu-ilmu itu bisa bawa kita menuju Allah? Ilmu-ilmu tadi itu kan ilmu dunia? Bukannya yang terpenting adalah ilmu akhirat? Akhir-akhir ini pun saya ikut berpikir, bagaimana caranya agar ilmu yang saya pelajari ini bisa bermanfaat dunia akhirat? Bagaimana caranya, ilmu yang secara zhahir ilmu dunia, bisa menambah keyakinan kita akan Tauhid pada Allah?

Bertanya, kata orang bijak, adalah langkah pertama menuju pada pemahaman. Akan tetapi, pemahaman itu datang tidak dengan tiba-tiba dan instan. Dia muncul, setidaknya dalam kasus saya ini, dalam tiga peristiwa pikiran yang kemudian berkelindan menjadi sebuah benang merah.

Pikiran pertama muncul seperti ini. Selama ini, kita sering punya perasaan inferior ketika berhadapan dengan bangsa lain. Masalah di Indonesia memang berlimpah. Aparatnya banyak korup, pejabatnya foya-foya di saat banyak warga hidup susah, pemerintah keras terhadap kritik, sampah di mana-mana, preman saling rebutan lahan parkir, warganya banyak yang malas tapi maunya dilayani, dan seterusnya. Perlu menulis Ensiklopedia puluhan jilid untuk mengidentifikasi ragam masalah yang ada.

Di sisi lain, kita melihat betapa hidup di luar negeri itu enak. Lihat negara-negara Skandinavia, misalnya. Gajinya besar, angka harapan hidup tinggi, negara hadir untuk melayani masyarakat, pendidikan dan kesehatan dijamin negara, bahkan dalam sebuah indeks disebut jadi negara paling bahagia sedunia. Wah, ibarat surga di bumi.

Akan tetapi, dari interaksi dengan teman dan dosen dari negara yang kita idealkan itu, rupanya mereka tidak jauh beda dengan kita. Mereka amat fasih menyebut kekurangan negara sendiri. Masalah rasisme kepada pengungsi, penduduk yang bukannya bertambah malah berkurang, ancaman dari Rusia, anak-anak yang ditelantarkan orang tua karena dianggap itu tanggung jawab negara, bunuh diri ada di mana-mana, dan seterusnya. Mereka juga punya bermimpi akan kondisi yang lebih ideal.

Pikiran kedua datang dari fenomena lainnya. Ketika perang Rusia-Ukraina dimulai, semua analisis merujuk pada “power” (kekuatan untuk menggentarkan, mempengaruhi, bahkan menguasai negara lain), baik itu pada Rusia, Ukraina, Eropa, Amerika, dan negara lain. Kita seperti percaya bahwa Putin itu kekuatannya tiada batas. Atau, ada Amerika yang superpower dan bisa mengalahkan balik Putin. Dan aneka analisis lainnya.

Tapi setelah setahun berlalu, kita lihat baik Rusia, Ukraina, Amerika, maupun Eropa, semua keteteran sendiri. Ketika kita tarik lebih jauh, membaca tentang Perang Dingin, Perang Dunia, dll kita akan menjumpai kisah yang tidak jauh berbeda. Negara yang dianggap superpower saja, punya limit atas power yang dia miliki. Ketika belajar game theory, bahkan terjelaskan bagaimana tindakan kita bergantung pada tindakan orang lain dan tindakan yang diambil saat ini akan bergantung pada tindakan sebelumnya. Ketika belajar perubahan iklim, batas dari kekuasaan kita bahkan bukan orang lain, tetapi dari alam yang punya mekanisme sendiri. Kita tidak bisa melakukan sesuatu semata-mata karena daya dukung lingkungan sudah tidak sanggup lagi.

Ketiga, dalam sebuah kajian Gus Baha yang saya simak, beliau menjelaskan bagaimana cara Al Quran membantah klaim ketuhanan Isa dengan cara yang sangat sederhana. كانا يأكلان الطعام. Bahwa Nabi Isa dan ibunya, Maryam itu masih butuh dengan makan. Sesuatu yang dipertuhankan itu wajib tidak butuh terhadap apapun dan siapapun. Tidak boleh keberadaannya dipengaruhi oleh zat yang lain. Memiliki kebutuhan pertanda adanya keterbatasan, sementara kekuasaan Tuhan itu pastilah tidak terbatas. Dan zat yang punya keterbatasan, tidaklah layak disebut sebagai Tuhan.

Tiga pikiran ini pun terjalin menjadi satu. Bagaimana kita melihat dunia ini tidak hanya dalam sisi positifnya, tetapi juga sisi negatifnya. Bukan untuk menjelek-jelekkan, tetapi untuk menghadirkan keinsafan bahwa tidak ada kesempurnaan pada sesuatupun di dunia. Manusia atau negara, itu sama-sama makhluk. Namanya makhluk, pasti ada kelebihan dan kekurangan.

Selanjutnya, sebagai makhluk, dia pasti punya keterbatasan, betapapun kekuasaan yang ia genggam. Dalam beberapa hal, dia memang punya kuasa untuk mengalahkan orang atau negara lain. Dalam kurun waktu tertentu, mereka memang mampu menguasai negara. Dalam momen tertentu, mereka memiliki kemampuan untuk menggentarkan negara lain. Tetapi, semua itu ada batasnya.

***
Ketika berpikir dalam logika seperti ini, ayat Al Quran yang saya sebut di awal tadi seperti menunjukkan jalan menuju simpul keimanan. Persaksian paling agung adalah Tauhid. Dan karena kalimat itu agung, maka makhluk Allah yang dititipkan untuk menyebarkan kesaksian itu, ikut terangkat derajatnya. Makhluk itu adalah malaikat dan orang yang berilmu. Para Nabi dan Rasul masuk dalam kategori orang yang berilmu ini. Ulama dan cendekia yang ikut Nabi dan Rasul pun bisa masuk ke dalam kategori ini. Hanya bedanya, Nabi dan Rasul berada dalam bimbingan wahyu, sementara ulama dan cendekia tidak. Akan tetapi, mereka masih bisa dalam bimbingan akal dan iman.

Akan tetapi, untuk bisa mencapai titik simpul itu, ada prasyarat utama: قائما با لقسط. Mereka menegakkan keadilan. Mereka tegak lurus dengan cara berpikir yang adil. Punya komitmen pada kebenaran. Sehingga, ketika mereka melihat segala fenomena yang ada, mereka kembalikan pada Tauhid. Ada fenomena politik, ekonomi, keamanan, sosial, lingkungan hidup, cuaca, dll. ujung dan pangkalnya ada pada Tauhid.

Disitulah kita memaknai alam raya. Alam dalam arti, segala sesuatu selain Allah yang pada hakikatnya menunjuk pada yang Maha Satu itu, yakni kembali kepada Allah lagi. Di sinilah pembeda antara ilmuan yang beriman dengan tidak. Mereka yang beriman, ketika melihat apapun, maka pandangan hakikatnya mengembalikan itu semua kepada Allah, sehingga Allah angkat derajatnya. Sementara mereka yang tidak beriman, betapapun banyak ilmunya, tidak akan sanggup mengantarkannya pada kesejatian Tauhid.

Di sini juga kita memahami bagaimana para ulama membagi ilmu bukan karena zhahirnya berupa ilmu akhirat atau ilmu dunia, akan tetapi menelisik lebih dalam pada hakikat ilmu, apakah ilmu itu bermanfaat (ilmu nafi’) atau tidak bermanfaat (ghairun nafi’). Sebab, ilmu yang secara lahiriyah tampak seperti ilmu dunia bisa membawa pada Tauhid dan menyelamatkan orang yang memahami ilmu itu, dan ilmu yang secara lahiriyah berorientasi akhirat bisa saja menjauhkannya dari Allah dan mengarah pada ketakaburan diri sehingga mencelakakannya di hari kemudian.

***
Maka dari itu, apabila kita telah beriman, jangan pernah berhenti belajar agar keimanan itu tertopang oleh pilar ilmu yang kuat. Dan apabila kita telah dititipi ilmu pengetahuan, sinergikan ia dengan keimanan sehingga bisa membawa kita pada kebaikan dan keselamatan dunia akhirat. Di situlah kesepaduan iman dan ilmu pengetahuan akan kita dapatkan.

Leave a comment