يَسْـَٔلُوْنَكَ عَنِ السَّاعَةِ اَيَّانَ مُرْسٰىهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْۚ لَا يُجَلِّيْهَا لِوَقْتِهَآ اِلَّا هُوَۘ ثَقُلَتْ فِى السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ لَا تَأْتِيْكُمْ اِلَّا بَغْتَةً ۗيَسْـَٔلُوْنَكَ كَاَنَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَاۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَ
Mereka menanyakan kepadamu (Nabi Muhammad) tentang kiamat, “Kapan terjadi?” Katakanlah, “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Tuhanku. Tidak ada (seorang pun) yang dapat menjelaskan waktu terjadinya selain Dia. (Kiamat) itu sangat berat (huru-haranya bagi makhluk yang) di langit dan di bumi. Ia tidak akan datang kepadamu kecuali secara tiba-tiba.” Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya. Katakanlah (Nabi Muhammad), “Sesungguhnya pengetahuan tentangnya hanya ada pada Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Al A’raf 187
يَسْـَٔلُكَ النَّاسُ عَنِ السَّاعَةِۗ قُلْ اِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ اللّٰهِ ۗوَمَا يُدْرِيْكَ لَعَلَّ السَّاعَةَ تَكُوْنُ قَرِيْبًا
Orang-orang bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang hari Kiamat. Katakanlah bahwa pengetahuan tentang hal itu hanya ada di sisi Allah.” Tahukah engkau, boleh jadi hari Kiamat itu sudah dekat.
Al Ahzab 63
***
Seorang Arab badui pernah bertanya kepada Rasulullah, “kapan hari kiamat akan datang?”. Mendengar pertanyaan itu, Nabi justru bertanya kepada orang tadi, “memangnya, apa yang sudah kamu siapkan untuk menghadapi hari itu?”. Arab badui tadi menjawab, “tidak ada, aku hanya mencintai Allah dan Rasul-Nya”. Nabi pun senang dengan jawaban itu. Maka, keluarlah salah satu sabda Nabi yang amat populer, “engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai”.
Di masa sebelum hijrah, pertanyaan seputar hari kiamat juga datang dari orang-orang musyrikin Mekkah. Bedanya dengan Arab Badui tadi yang bertanya untuk menunjukkan keimanan, orang musyrikin Mekkah justru untuk menantang dan mengingkari Nabi. Mereka bertanya, “kalau benar engkau ini seorang Nabi, kasih tahu kami terkait hari Kiamat. Kapan memang dia akan datang?”. Pertanyaan inilah yang oleh para ulama ahli tafsir disebut sebagai sabab nuzul dari ayat ke-187 dari surat Al A’raf di atas.
***
Musim berganti, zaman berlalu, rupanya pertanyaan seputar hari kiamat selalu saja berulang. Baik dari orang awam maupun yang berpendidikan tinggi, menanyakan seputar kapan kiamat datang, atau mencari satu per satu tandanya, selalu menarik untuk diperbincangkan.
Celakanya, kita sering juga temukan kegelisahan kita akan akhir zaman itu berkaitan erat dengan pembodohan publik. Ada banyak modusnya. Pertama, ada saja yang menjadikan tema akhir zaman sebagai sebuah ‘branding’ untuk kemudian dijual ceramahnya ke sana-sini. Isi ceramahnya, sebagian kecil mengutip hadits, sebagian kecil lain mengutip ayat Al Quran, tapi di banyak bagian hanya cocokologi berbau teori konspirasi.
Pernah kita dihebohkan bahwa kiamat akan terjadi di tahun 2012. Landasannya, ramalan Suku Maya yang dipopulerkan oleh penceramah konservatif di Amerika Serikat. Sampai-sampai, industry perfilman Hollywood pun membuatkan suguhan film khusus untuk memvisualisasikannya. Akan tetapi, yang membuat kita semakin heran, ramalan ini turut dibawa ke masjid-masjid oleh para penceramah.
Tidak hanya soal waktu kejadian. Soal tanda-tanda menuju kiamat pun ramai dibahas. Landasannya tentu hadits-hadits akhir zaman yang memang ada dalam kitab-kitab para ulama. Kedatangan Ya’juj dan Ma’juj, fitnah Dajjal, terbitnya matahari dari barat, semakin merebaknya zina, huru-hara, dsb., memang bisa diterima melalui berbagai jalur hadits dengan beragam kekuatan sanadnya. Masalahnya adalah, menunjuk di mana Dajjal akan bangkit, di mana sekarang Yajuj Ma’juj tinggal, sampai bagaimana konspirasi Yahudi dijalankan malah lebih popular untuk dibahas.
Apa yang kemudian luput dari pembahasan? Justru perintah yang secara implisit lahir dari pertanyaan Nabi pada Arab Badui tadi, “apa yang sudah kamu persiapkan?”.
Menyiapkan diri untuk menghadapi fitnah dajjal itu bukan dengan mencari-cari di mana bayi dajjal lahir atau dari segitiga mana dia bangkit. Cara paling efektif dalam menghadapinya adalah memperkuat keimanan dan Tauhid, karena fitnah Dajjal akan menyerang keimanan kita kepada Allah. Ketika perhatian terhadap masalah esensial ini luput, kita justru melemah ketika nanti berhadapan dengan fitnah Dajjal. Buktinya, jangankan melawan fitnah Dajjal yang besar nanti. Melawan fitnah pemilu saja kita sudah sangat jauh keteteran.
Modus kedua, ialah melalui pseudo-teori konspirasi. Betapa banyak orang yang menelan mentah-mentah konspirasi elit global untuk menghancurkan umat Islam. Ada tsunami, disebut sebagai modifikasi cuaca. Padahal jelas-jelas tsunami adalah gejala geologis di bawah tanah sementara cuaca adalah kondisi udara di atas tanah. Ada virus, disebut juga disebarkan dengan sengaja untuk membunuh umat Islam. Padahal jelas-jelas virus tadi menyerang siapa saja tanpa terkecuali.
Memang pantas kita sematkan pseudo-, seolah-olah, sebelum kata teori konspirasi. Sebab, dia bukanlah teori yang datang melalui serangkaian penelitian ilmiah. Akan tetapi, datang dari mencocok-cocokkan secara paksa beragam fenomena yang sekilas tampak berkaitan.
Apa dampak dari merebaknya modus ini? Kita dibuat seperti sudah kiamat sebelum kiamat sungguhan terjadi. Kita dibuat seolah-olah amat lemah tanpa punya daya sama sekali. Padahal, laa hawla wa laa quwwata itu disambung dengan illa billah. Kita terlalu fokus pada ketidakmampuan dan menjadi melupakan ada Allah yang Maha Kuasa. Kita ditundukkan secara mental dan menjadi takut pada orang yang tidak dikenal.
Modus ketiga, mereka bergerak lebih jauh dari sekadar menyebarkan waham (bukan paham) terkait hari kiamat. Mereka menipu kita secara finansial juga. Berulang kali kita temukan berita sekelompok orang ditipu oleh seseorang yang mengaku menjadi juru selamat. Katanya, untuk menyiapkan diri menuju kiamat, mereka harus pindah ke sebuah gunung, membayar sejumlah uang kepada gurunya, lalu berdiam di kampung itu sampai kiamat tiba. Pindahannya tidak jadi, tapi uangnya keburu habis ditransfer ke rekening “guru spiritual” tadi. Bahkan dalam sebuah kasus, modus tadi digunakan untuk menyelinapkan hasrat seksual gurunya. Orang-orang yang pasrah itu ada yang sampai dilecehkan bahkan diperkosa.
Modus keempat dijalankan oleh orang-orang berniat jahat. Menurut mereka, Imam Mahdi akan datang dan harus menyiapkan pasukan. Sebelum kedatangannya, kita harus mendirikan dulu sebuah khilafah. Orang yang mengaku muslim tapi tidak mau dukung, bisa batal keislamannya. Padahal, khilafah itu tidak diakui oleh mayoritas ulama umat Islam, malah lebih banyak disiarkan oleh propaganda Amerika atau Eropa. Mereka pun melancarkan aksi teror, dengan target utama bukan pada orang yang memerangi Islam secara jelas, tapi orang yang secara jelas menyatakan diri sebagai Muslim namun sudah dia kafirkan.
Modus terakhir yang saya temukan ialah melalui eksploitasi mimpi-mimpi orang yang disebut sebagai Wali. Konon ada Wali dari Afrika atau Timur Tengah yang bermimpi akan datang penyelamat dari daerah Hindustan, antara wilayah India, Pakistan, dan Bangladesh. Rupanya mimpi itu dieksploitasi untuk mendukung politisi setempat untuk terpilih menduduki jabatan tertentu di pemerintahan, bahkan menjadi Perdana Menteri. Di tanah air pun pernah demikian. Ada mimpi orang yang ditulis lewat selembar kertas, kemudian kertasnya digandakan, sembari ada ancaman bahwa orang yang membaca harus ikut membagikan kepada sekian puluh orang jika ingin selamat.
Kita tentu tidak menafikan adanya Wali Allah. Sudah menjadi tradisi umat Islam sedari dahulu, yang juga ditopang oleh dalil-dalil dari Al Quran dan Hadits, bahwa memang ada orang-orang yang Allah beri keistimewaan sebagai Wali. Akan tetapi, menjadi Wali itu bukan untuk dipamerkan kesaktiannya, sampai-sampai tidak ada bedanya dengan tukang sulap. Wali Allah itu tugasnya mendekatkan kita pada Allah, kalau kehadirannya justru membuat kita jadi lebih kagum kepada kesaktiannya sampai lupa pada Allah, kita sejatinya sedang tertipu.
Kalau kasus-kasus semacam ini menimpa orang yang tidak berpendidikan, tinggal di tempat yang terpencil, mungkin kita masih bisa memaklumi meski juga tetap iba. Akal mereka menjadi pendek karena keadaannya tidak memungkinkan untuk berpikir panjang. Celakanya, tidak sedikit juga orang yang tertipu oleh modus-modus ini merupakan orang berpendidikan, bekerja sebagai pegawai pemerintahan, dan tinggal di daerah perkotaan. Kita tentu akan semakin bingung bagaimana bisa mereka terjerat oleh tipuan-tipuan yang sama sekali nonsense semacam ini.
***
Di tengah situasi yang memprihatinkan ini, reaksi ekstrem tidak dapat dihindarkan. Ada sebagian orang, terlebih generasi muda, merasa jengah dengan hilangnya akal sehat akibat ketakutan tak berdasar terhadap hari kiamat. Mereka akhirnya memilih jalan pintas. Buat apa hidup dalam kungkungan ketakutan dan dibuntuti oleh serangkaian penipuan? Lebih baik menikmati hidup apa adanya, bukan? Keyakinan pada hari akhir pun sedikit-demi-sedikit luntur. Ia terkikis oleh keresahannya melihat masyarakat yang tindakannya di luar nalar.
Apa mereka tidak beragama Islam? Tidak juga. Banyak juga yang lahir dan besar di keluarga yang cukup Islami. Apa mereka dididik oleh sekolah-sekolah Barat sehingga terdoktrin oleh paham sekuler dan liberal? Tidak juga. Banyak juga yang justru sekolah di sekolah berlabel Islam. Sebagaimana kata Muhammad Abduh, Islam menjadi terhijab oleh kelakuan umat Islam sendiri. Mereka jengah terhadap Islam karena melihat keanehan-keanehan yang dilakukan oleh umat Islam sendiri.
Kita memang tidak bisa menafikan bahwa pengaruh pemikiran Barat yang tidak sesuai dengan Islam semakin meluas di masyarakat, khususnya generasi muda. Melalui media sosial, pemikiran itu pun mendapatkan popularitas yang cukup tinggi. Tapi kita tidak mungkin menghindari itu, kecuali mungkin tinggal di pulau kecil yang terisolasi dari dunia luar. Di satu sisi, kegenitan intelektual memang muncul di orang-orang yang baru memulai pencarian jati diri. Mereka butuh pembanding yang bisa diajak berdiskusi, atau bahkan berdebat, dengan tetap menghormati akal sehat. Sayangnya, pengisi ruang ini lebih sering absen ketimbang hadir. Ketika bimbingan dan tuntunan keagamaan yang ditemani oleh akal sehat tidak hadir di sisi yang lain, maka hilanglah penyeimbang tuntunan kehidupannya.
Kita, wabilkhusus generasi muda, menjadi terbelah di antara mereka yang secara ekstrem beragama tanpa dibimbing oleh akal sehat sehingga mudah tertipu oleh kekhawatiran yang tidak perlu, dengan mereka yang secara ekstrem enggan mengikuti tuntunan agama karena jengah melihat perilaku umat beragama.
***
Kiamat sudah dekat, itu benar. Jaraknya hanya seperti dua buah jari yang sedikit direnggangkan, jika kita merujuk pada Hadits Nabi yang lain. Kiamat pasti datang, itu pun benar. Batal keimanan seseorang jika tidak meyakini akan adanya hari akhir. Kita wajib menyiapkan diri untuk menghadapinya, itu pun benar. Akan tetapi, banyak di antara kita yang justru terjebak dalam pertanyaan yang kurang tepat ketika mencoba untuk bersiap.
“Apa yang kita sudah persiapkan?” sejatinya pertanyaan paling utama untuk diajukan pada kita saat ini. Siapkan iman, siapkan ilmu, siapkan amal. Jalin penyiapan itu dengan akal yang sehat. Akal yang sakit akan mudah diserang oleh virus pseudo-teori konspirasi, penipuan, sampai iming-iming terorisme. Akal yang sakit akan membuat orang yang tadinya dekat malah menjauhi.
Berakal secara sehat tidak sama dengan menegasikan iman. Tidak ada dalam kamus seorang muslim pertanyaan, “kamu memilih dalil atau akal?”. Orang yang mempelajari bagaimana para ulama memahami dalil, pasti akan takjub dengan kekuatan akal mereka. Sebab, akal yang sehat akan semakin mengokohkan iman dan membantu kita dalam berislam. Termasuk di dalamnya ialah menyiapkan kita menghadapi Hari Kemudian.
Wallahu a’lam

Leave a comment