
Pada Rabu, 22 Maret 2023 lalu, saya mendapat kesempatan berharga untuk dapat hadir dalam diskusi bersama salah seorang peraih Nobel di bidang Ekonomi, Prof. Bengt Holmstrom. Tidak hanya hadir, saya menjadi salah satu diskusan dalam diskusi publik bertajuk “Is Economics Still Relevant Today?” Dosen kami, yang juga pernah menempati jabatan publik sebagai Menteri Ekonomi Yunani dari 2009-2010, Prof. George Papakonstantinou menjadi moderator dalam diskusi ini. Saya bersama dua orang Policy Fellow (Andrew dan Petra) dan satu orang Teaching Assistant (Adrien) menjadi diskusan dalam acara tersebut.
Diskusi ini merupakan pembuka dari seri STG Talks edisi kedua, sebuah diskusi pekanan yang diselenggarakan oleh tempat saya berkuliah, School of Transnational Governane, European University Institute, Italia. Acara diskusi ini diinisiasi oleh pihak kampus dan memberi peluang bagi para policy fellow, mahasiswa, dan dosen untuk menyajikan diskusi publik terkait isu-isu publik terkini.
Topik diskusi itu sangat menarik. Apakah Ekonomi masih relevan untuk kita hari ini? Masing-masing dari kami membahas empat sub-topik diskusi. Sub-topik pertama membahas bagaimana mengukur perekonomian sebuah negara secara lebih akurat untuk mendapat gambaran yang sebenarnya. Petra Kyrlova, Policy Fellow yang juga bekerja sebagai peneliti di Social Progress Imperative yang berbasis di London, memberikan ulasan yang detail. Dia menawarkan penghitungan perekonomian nasional secara lebih komprehensif yang memasukkan unsur aktivitas ekonomi yang lebih luas, yang selama ini luput dalam penghitungan GDP (Gross Domestic Product – Produk Domestik Bruto).
Di sub-topik kedua, pertanyaan yang diangkat ialah terkait dengan Ekonomi Perilaku. Bagaimana cabang Ilmu Ekonomi ini dapat memberikan insight bagi para pembuat kebijakan. Policy Fellow James Drummond, yang juga bekerja sebagai analis di OECD, memberikan ulasannya. Dia berkaca dari pengalamannya untuk melihat beberapa keunggulan dan batasan dari Ekonomi Perilaku sebagai cara para pembuat kebijakan untuk menganalisis dampak kebijakannya.
Berikutnya, di sub-topik ketiga, kami berbicara tentang isu yang urgen dewasa ini, perubahan iklim. Adrien Bradley, Teaching Assistant di STG, menjadi pembicaranya. Dia mengurai bagaimana pendekatan tragedy of commons yang dipopulerkan Hardin, memiliki kelemahan dalam mengatasi perubahan iklim yang telah menjadi krisis iklim. Pendekatan Ekonomi Lingkungan seperti yang diangkat oleh Nordhaus juga belum benar-benar mampu menyelesaikan persoalan lingkungan, karena terlalu underestimate terhadap dampak dari perubahan iklim.
Akhirnya, saya pun menjadi diskusan pada sub-topik terakhir. Di sini, saya berusaha menjawab pertanyaan bagaimana ekonomi digital dapat tetap tumbuh dan memberi keadilan, baik bagi pengguna platform, penyedia jasa, maupun pengembang platform. Saya berkaca bagaimana saat ini penyedia jasa menjadi pihak yang terhimpit di antara dua pihak lain, sementara pemerintah masih saja gagap dalam menangani perubahan teknologi yang mengubah aktivitas ekonomi ini.
Prof. Bengt memberi tanggapan dari setiap sub-topik setelah masing-masing dari kami selesai memberikan pandangan. Bagi seseorang dengan segudang kredensial seperti beliau, Guru Besar Ekonomi dan Pemegang Kursi Paul Samuelson dalam bidang Ekonomi di MIT Sloan School of Management dan MIT Department of Economics dan Peraih Nobel Ekonomi tahun 2016 adalah dua di antaranya, beliau kami anggap sangat rendah hati. Tidak ada dari satu penanggap pun yang berlatar belakang pendidikan Ekonomi secara murni. Kami datang dari latar belakang pendidikan Politik, Hubungan Internasional, dan Studi Pembangunan, yang mungkin tidak begitu fasih dengan berbagai kosa kata di ilmu Ekonomi. Tapi, penjelasan beliau sangat memudahkan bagi kami dan para pendengar lain dalam mencernanya.
Satu kutipan beliau yang masih saya ingat adalah, “Acapkali ekonom cenderung merendahkan (underestimate) persoalan sesungguhnya dan terlampau mempercayai (overestimate) perangkat alat ukur dan permodelan yang mereka miliki”. Perkataan beliau ini membuat saya berpikir dua hal: (1) kita perlu kerendahatian dengan ilmu yang kita miliki, sebab betapapun luas dan dalamnya ilmu, persoalan yang sesungguhnya membutuhkan perangkat keilmuan yang lebih luas dan dalam. (2) Kita perlu mendorong pemahaman multi-perspektif terhadap satu persoalan, terlebih yang menyangkut masalah publik. Penelitian multi- dan inter-disiplin ilmu pengetahuan perlu didorong untuk memperkaya perspektif kita sehingga mengurangi potensi merugikan publik dari kebijakan yang dibuat.
Seusai diskusi, saya pun berkesempatan untuk mewawancarai beliau untuk tim sosial media kampus. Saya menanyakan dua pertanyaan kepada beliau. Apa itu? Silakan teman-teman tonton di Video ini:
Leave a comment