Kenapa Harus Sekolah?

Published by

on


Ketika masih SMA, saya pernah bertanya-tanya. Sebenarnya untuk apa sih saya belajar matematika, fisika, kimia, biologi, sejarah, bahasa Indonesia, dll. sampai pusing? Apalagi karena dulu sekolah di pesantren berasrama, belajar tidak hanya berhenti di waktu sekolah. Malam hari di asrama pun belajar. Apalagi di semester terakhir kelas 12, bahkan sehabis subuh pun langsung belajar persiapan UN.

Di tengah kebingungan itu, salah seorang guru saya pernah memberi jawaban singkat, “untuk membentuk pola pikir”. Baiklah, saat itu saya tidak memahami maksudnya seperti apa, tetapi dijalani saja.

Ketika berkuliah S1, saya bekerja part time di bimbel untuk mengajar geografi. Di saat bersamaan, saya berkuliah Hubungan Internasional sembari mengambil beberapa mata kuliah di Ilmu Ekonomi dan Ilmu Sejarah. Semua tampak saling berlainan.

Rupanya, kerandoman hal yang saya pelajari itu menjadi jawaban. Belajar seperti mengumpulkan keping-keping puzzle. Di awal belajar dengan serius, kita merasa pusing. Ini semacam uji litmus tahap awal. Kalau kita menyerah, barangkali kebingungan itu akan tetap hinggap sembari membawa kita membenci dengan sekolah, guru, dan belajar. Hal semacam ini sering kita jumpai atau bahkan pernah suatu waktu kita lakukan.

Akan tetapi, jika kita mampu mengatasi kebingungan itu dan terus menseriusi proses belajar, apa yang disebut sebagai “Momen Eureka” akan datang dengan sendiri. Keping-keping puzzle yang berserak itu perlahan menyatu. Kita akan semakin mencintai belajar. Bahkan ketika kita menemukan kesulitan untuk memahami sesuatu, kita menjadikan proses berpeluh itu sebagai sebuah bentuk kenikmatan. Sebab, kita seperti sedang mencari “Momen Eureka” lain yang baru.

###

Hal semacam ini rupanya tidak hanya saya sendiri yang merasakan. Ketika mengajar di bimbel maupun sekarang di universitas, beberapa siswa bertanya. Untuk apa sih sebenarnya saya bersusah payah belajar? Apalagi, kalau muncul berita viral orang yang tidak sekolah, atau DO kuliah, lalu menjadi orang sukses dan kaya raya. Demotivasi belajar pun hinggap dalam benak.

Jawaban saya tidak jauh berbeda dengan guru saya dahulu. Melatih pola pikir. Hanya dengan elaborasi yang disesuaikan. Kita berlatih menulis 1000 kata, 2500 kata, untuk nanti saat menulis skripsi 10.000 kata tidak lagi kaget. Seperti seorang atlet untuk mampu bertanding harus sering berlatih secara bertahap. Seperti seorang penyanyi untuk bisa tampil dalam konser harus juga berlatih fisik hingga vokal secara bertahap.

Kita juga berlatih untuk bekerja bersama dalam kelompok. Sebab, ketika nanti lulus dan kembali di masyarakat, kita harus mampu bersosialisasi dengan orang lain. Ketika kita bekerja, kita juga tidak mungkin mengerjakan semua hal seorang diri.

Masalah pasti muncul. Persoalan pasti datang. Entah dari diri sendiri yang tiba-tiba sakit, atau dari teman yang tiba-tiba ghoib menjelang deadline, dll. Tapi, kita harus membiasakan menghadapi masalah agar memiliki simpanan pengalaman dalam kepala, sehingga ketika nanti dihadapi dengan masalah yang lebih besar, maka kita bisa menggunakan pengalaman tersebut sebagai referensi.

###

Tadi, ketika sedang memantau timeline di Twitter, saya menemukan sebuah artikel menarik yang baru saja diterbitkan oleh Quarterly Journal of Economics. Judulnya, “Cognitive Endurance as Human Capital”. Di antara penulisnya ialah Christina Brown, Profesor Ekonomi di University of Chicago yang pernah bekerja sebagai guru fisika SMA, selain konsultan di Bank Dunia. Selain Brown, artikel ini juga ditulis oleh Geeta Kingdon (University College London), Supreet Kaur (UC Berkeley) dwn Heather Schofield (Cornell University).

Kalimat pertama dari abstrak artikel ini sukses menjadi “hook” yang mengikat rasa penasaran saya. “Schooling may build human capital not only by teaching academic skills, but by expanding the capacity for cognition itself”. Sekolah tidak hanya membangun sumber daya manusia melalui pengajaran keahlian akademik, tetapi juga melalui pengembangan kapasitas kognitif itu sendiri.

Kapasitas untuk proses kognisi itu merupakan hasil dari kemampuan penting bernama “cognitive endurance”, yang didefinisikan sebagai “the ability to sustain effortful mental activity over a continuous stretch of time”.

Sebagai sebuah artikel yang berada dalam ruang lingkup Ekonomi Perilaku (Behavioral Economics), tulisan ini berkorespondensi dengan penelitian para psikolog. Literatur psikologi yang dikutip oleh artikel ini, misalnya, menekankan bahwa produktivitas seseorang bergantung pada kemampuan kebertahanan mental untuk melakukan sebuah aktivitas dalam waktu panjang.

Daya tahan ini sulit dilakukan oleh sebagian orang, barangkali termasuk oleh kita. Apalagi di zaman kiwari dengan banyak distraksi teknologi. Pikiran kita terbiasa dengan gratifikasi instan kebahagiaan, sehingga sulit untuk berpikir dalam jangka waktu panjang. Ketika berpikir pun sangat mudah untuk tergagap maupun lupa.

Untungnya, berdasarkan penelitian tersebut yang juga mengonfirmasi para psikolog, daya tahan kognitif ini dapat dilatih. Dan sekolah, melalui berbagai penugasan dan dinamika di dalamnya, berperan penting untuk melakukan pelatihan tersebut.

Sayangnya, kita tidak memiliki kesempatan yang setara untuk belajar dalam proses pembelajaran yang sama. Bahkan, bisa dikatakan, proses belajar setiap orang itu unik. Artikel itu tidak memungkiri hal tersebut, bahkan memberi catatan penting bagi para pembuat kebijakan.

Mereka yang belajar di sekolah dengan kualitas buruk cenderung memiliki kemampuan kognitif yang juga lebih rendah. Sebab, sekolah tidak memiliki kapasitas yang memadai untuk melatih para pelajar untuk memiliki “cognitive endurance”. Bahkan, para pengajar pun belum tentu memiliki kesadaran tersebut.

Akhirnya, timbullah jurang pemisah antara mereka yang memiliki kesempatan untuk bersekolah di tempat yang lebih berkualitas dengan yang tidak. Hasilnya berupa disparitas peluang dalam perjalanan kehidupan sesudahnya. Di sinilah seharusnya pemerintah melakukan intervensi. Memperkecil jurang pemisah tersebut dengan menseriusi pemerataan kualitas pendidikan.

###
Apa yang ditulis artikel ini teresonansi dengan pertanyaan yang muncul saat saya sekolah tadi. Bahkan mungkin, dengan pertanyaan siswa dan mahasiswa yang saya ajar juga.

Kualitas pendidikan di negeri kita barangkali belum setara dengan di negara maju. Tetapi, bukan berarti itu membuat kita langsung berpangku tangan. Lebih-lebih bagi kita yang memiliki amanah dalam dunia pendidikan, barangkali di sinilah ladang jihad kita untuk melakukan perbaikan secara gradual.

Jika posisi kita masih dalam proses belajar, akan jauh lebih baik ketika kita bisa memberi umpan balik kepada pendidik untuk lebih menseriusi proses pelatihan “cognitive endurance” ini. Hal ini memang akan berkonsekuensi pada ketidaknyamanan untuk lebih giat dalam belajar. Tetapi, jika yang dihasilkan adalah pribadi yang lebih baik di masa depan, mengapa harus menghindar?

Di sisi lain, sebagai orang Indonesia, saya seringkali iri membaca berbagai riset yang dilakukan oleh akademisi internasional. Untuk negara berkembang, India masih menjadi tempat favorit untuk melakukan riset. Ini memberikan banyak rekomendasi praktik kebijakan kepada pemerintahnya untuk memperbaiki kondisi. Masih jarang saya menemukan riset seperti ini di Indonesia, selain mungkin studi kasus yang mereplikasi temuan di negara lain, sehingga sulit menemukan kekhasan dari Indonesia. Sebab, meski sama-sama negara berkembang, kondisi sosial, politik, budaya, geografis Indonesia berbeda dengan apa yang ada di India. Semoga Indonesia tidak terus menerus “underrepresented” dalam riset internasional semacam ini.

Artikel Brown dkk. berjudul “Cognitive Endurance as Human Capital” yang saya bahas di sini bisa dibaca secara bebas di website Oxford University Press ini

https://academic.oup.com/qje/advance-article/doi/10.1093/qje/qjae043/7925870?searchresult=1

Leave a comment