Gaming Democracy Ketika Kuasa Ekonomi dan Politik Mempermainkan Demokrasi Indonesia [Islam Indonesia 2025]

Published by

on

Dalam bab buku berjudul Gaming Democracy: Ketika Kuasa Ekonomi dan Politik Mempermainkan Demokrasi Indonesia, saya menguraikan bahwa demokrasi Indonesia tengah dipermainkan oleh elit politik dan ekonomi yang tujuannya adalah melanggengkan kekuasaan dan memupuk kekayaan, alih-alih memperluas kesejahteraan dan keadilan.

Saya menelisik adanya jurang ketimpangan yang semakin melebar sebagai prakondisi ekonomi. Data menunjukkan adanya anomali dengan adanya kondisi kekayaan 10 orang terkaya di Indonesia jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara-negara Asia Tenggara lain. Secara spesifik, 1% orang terkaya di Indonesia menguasai 32,3% dari total kekayaan rumah tangga nasional, porsi yang tertinggi kedua di Asia Tenggara.

Di dunia politik, saya berpendapat bahwa institusi politik kita masih membelenggu, bukan membebaskan. Belenggu ini menciptakan tekanan dua arah: tekanan horizontal di tingkat elit untuk menghambat sirkulasi dan tekanan vertikal kepada rakyat untuk melanggengkan status quo. Dampak nyata dari kondisi ini adalah Kartelisasi Partai ala Indonesia yang menyebabkan absennya oposisi sejati.

Fenomena gaming democracy ini telah membawa Indonesia bergerak dari Reformasi menuju Deformasi dengan institusi demokrasi satu per satu runtuh. Akibatnya, Indonesia kini diklasifikasikan sebagai otokrasi elektoral (electoral authoritarianism) dan tercatat sebagai salah satu dari 10 negara terburuk yang mengalami pemburukan demokrasi di dunia. Kondisi ini merupakan hasil dari saling berkelindannya kuasa ekonomi dan politik yang mencengkeram pasca-Reformasi.

Buku ini diterbitkan oleh Lembaga Kebudayaan Embun Kalimasada, tahun 2025.

Untuk membaca buku tersebut secara keselurhan, silakan baca di sini.

Leave a comment