Politik Main Rasa

Published by

on

Adobe_Post_20181003_185522.jpg

POLITIK MAIN RASA

Kabar mengenai RS yang teraniaya, sekalipun terbukti kebohongannya, telah memainkan perasaan publik. Sebagian mengeksploitasinya untuk menunjukkan kelompoknya sebagai korban tindakan kesewenangan, sebagian lain ikut menimpali dengan sinisme terhadap dramatisasi yang berlebihan. Intinya, ada pesan yang ingin disampaikan, kami adalah korban, dan kami perlu mendapat rasa kasihan dan iba, sehingga dari situ didapatlah dukungan.

Permainan rasa untuk mendapat dukungan tidak hanya terjadi pada saat ini. Semenjak pemilu menggunakan sistem dipilih langsung oleh rakyat, setiap calon presiden selalu berupaya menunjukkan bahwa mereka adalah bagian dari rakyat. Pada pemilu 2004, ada iklan SBY yang berada di tengah masyarakat miskin yang hidupnya sulit. Ada kepeduliannya di situ. Masyarakat diajak untuk punya rasa, turut serta andil dalam kepedulian. Seolah-olah kita dilupakan sejenak bahwa dia adalah pensiunan jenderal yang pernah jadi menteri, yang merupakan cerminan dari kelompok elit.

Pada pemilu 2014 lalu, Jokowi juga menunjukkan dirinya sebagai orang biasa. Bagaimana ia berpakaian yang sederhana pun diiklankan. Jokowi adalah kita, menjadi slogan yang khas. Ada permainan rasa di situ, bahwa calon pemimpin yang diajak untuk dipilih, adalah bagian dari rakyat kebanyakan. Sehingga, dengan asumsi yang demikian, dia tentunya paham dengan persoalan rakyat biasa. Ada rasa bahwa “kita” (rakyat biasa) direpresentasikan oleh calon yang diusung. Itulah rasa yang hendak dijual.

Berbagai rasa, berujung dukungan

Permainan rasa dalam pemilu presiden 2019 mendatang terlihat akan semakin digunakan. “Rasa” yang hendak dibangun, dijembatani melalui banyak hal.

Pertama, yang paling jelas wujudnya,, tentu “rasa” identitas. Jokowi menggandeng KH Ma’ruf Amin, dapat dilihat sebagai upaya membangun rasa identitas yang sama dengan yang dimilikinya, yakni kalangan Islam tradisional, pesantren, NU, dsb. Sandiaga juga demikian, dengan mengiklankan dirinya sebagai kalangan millenial (padahal usianya sudah hampir 50 tahun), ia berusaha membangun rasa yang sama dengan generasi muda. Identitas Islam, milenial, representasi Jawa-Non Jawa, sipil-militer, menjadi yang dominan akan diperebutkan.

Dengan menyamakan identitas dengan calon pemilih, diharaplah timbul rasa kesamaan, sehingga didapatlah dukungan.

Kedua, adalah rasa simpati. Simpati publik coba direbut dengan berbagai citra yang ditampilkan, yang biasanya tidak jauh dari penderitaan (sumber utama simpati bisa datang). Jokowi, misalnya, menjadikan berbagai isu miring terhadap dirinya, mulai dari PKI, agen asing, pelindung naga, dsb. sebagai sesuatu yang seolah-olah dia adalah korban dari berbagai prasangka itu. Prabowo juga demikian, berbagai isu negatif yang menyerang dirinya, mulai dari HAM, haus kuasa, dsb dimanfaatkan untuk meningkatkan elektabilitasnya.

Daripada berlelah membuktikan yang kebalikan, mereka lebih nyaman untuk menjadikan serangan lawan sebagai modal untuk menimbulkan rasa simpati orang-orang. Tentunya, untuk menambah sokongan.

Ketiga, adalah rasa kenangan dan harapan. Prabowo, menggunakan masa lalunya yang berlatar militer, bagian dari kekuasaan Suharto, untuk menggalang dukungan kepada mereka yang rindu akan masa keemasan Suharto. Militer dicitrakan sebagai ketegasan dan independen, mengontraskan dengan Jokowi yang dianggap dalam kekangan. Suharto diangkat lagi sebagai tokoh yang disegani, menjanjikan perbaikan dalam hubungan antar bangsa. Sandiaga juga membawa masa lalunya sebagai pebisnis untuk dianggap sebagai orang yang mumpuni untuk menyelamatkan negeri dari keterpurukan ekonomi.

Sementara, Jokowi yang relatif tidak punya jejak masa lampau, akan menjual berbagai keberhasilannya selama memimpin. Proyek jalan, bandara, pelabuhan, dsb. akan diklaim sebagai bagian dari keberhasilan. KH Ma’ruf juga bisa menjadikan garis nasabnya yang diklaim tersambung dengan ulama besar Syaikh Nawawi al Bantani, sebagai upaya merebut simpati kalangan yang rindu dengan ulama kharismatik.

Di sini, rasa kejayaan masa lalu membawa kenangan, sekaligus harapan bahwa dia akan melanjutkan berbagai keberhasilan masa lampau. Kenangan yang menimbulkan harapan itulah, rasa yang dianggap bisa membawa dukungan.

Terakhir, rasa benci. Bila rasa pertama hingga ketiga untuk membaguskan citra dirinya, maka rasa ini untuk menjatuhkan lawannya. Menggunakan kampanye bohong, menyebarkan kabar hoaks, menuduh lawan di seberang, adalah cara mudah mendapat dukungan. Dirasa sulit meningkatkan kualitas diri, maka tuduhlah orang lain yang tidak sanggup berdiri, sembari berlagak tidak tahu diri.

Memang benar, dengan kebencian pada yang diseberang, maka dukungan akan dipegang. Tetapi, rasa benci ini mesti dihindari, sebab akan menjadi bara yang akan membakar di kemudian hari. Kebencian itu bisa menimbulkan kebodohan dan kegelapan pikiran, yang tidak menutup kemungkinan menimbulkan anarki. Semoga ini disadari oleh para petinggi negeri, baik yang sedang berkuasa maupun yang sedang berusaha merebut kuasa.

Memainkan rasa massa

Sebab yang diperebutkan ialah suara massa, dan pemenang ialah mereka yang bisa merebut suara massa, maka sebagai bagian dari massa yang diperebutkan, bersiaplah dalam sebuah permainan rasa. Rasa identitas, simpati, dan kenangan itu akan terus dipermainkan agar suara didulang. Rasa benci, sekalipun berbahaya dikemudian hari, bisa saja terus digunakan untuk mendulang dukungan sesaat.

Memainkan rasa akan lebih dipilih ketimbang logika, sebab permainan rasa hanya membutuhkan hati. Sementara logika, memerlukan prasyarat kemampuan analisis akal, yang hanya sedikit orang yang punya. Berbicara data, statistik, planning, tidak akan menarik banyak orang. Sementara memainkan identitas, simpati, kenangan, dan apalah lagi rasa benci, akan lebih banyak massa yang didapat.

Maka, bila ingin terhindar dari jebakan rasa, mulailah berdayakan logika. Bukan punya rasa itu salah dan tiada berguna, hanya saja janganlah sampai ia mendominasi pilihan suara. Sebab rasa itu sulit dipertanggungjawabkan dan mudah untuk beralih tangan. Sementara logika, ia lebih bisa dipertanggungjawabkan dan bisa teguh dipegang.

Leave a comment