Salah satu alasan keengganan sebagian masyarakat modern untuk bertauhid, ialah karena terjebak dalam logical fallacy “personal incredulity”.
Ketika ada orang yang percaya bumi itu datar, bukan bulat, hanya karena dia merasa “toh kalau jalan-jalan ke mana saja tidak pernah terlihat lengkungannya”, itu merupakan personal incredulity. Ketika ada orang yang tidak percaya bahwa penyakit Covid-19 berbahaya hanya karena “semua orang juga akhirnya mati”, itu juga merupakan personal incredulity.
Jadi, apa itu personal incredulity?
Ketika seseorang menafikan kebenaran, hanya karena dia tidak sanggup membayangkan atau tidak sesuai dengan apa yang dia percayai sebelumnya, itulah personal incredulity.
***
Kedua contoh di atas sering kita temui dalam keseharian. Akan tetapi masih bisa dimaklumi karena tidak mengganggu keimanan kita. Tapi ada personal incredulity yang membahayakan keimanan, yakni keengganan bertauhid hanya karena kita tidak sanggup membayangkan Tuhan, atau karena kepercayaan kita akan Tuhan itu salah, sehingga kita merasa Tuhan itu tidak ada.
Mari kita melihat beberapa contohnya.
Pertama, adanya pola pikir “kalau tidak bisa dilihat, maka tidak ada”Salah satu ciri khas dari “Abad Pencerahan” Eropa adalah paham “Positivisme”. Sesuatu dapat dikatakan “positif” apabila ia dapat diindrai, diukur, dan memiliki objek material. Inilah, seperti kata Comte, puncak dari tahap perkembangan manusia, dari yang sebelumnya Theologis dan Metafisis.
Di satu sisi, ini memberi efek yang baik untuk mengeluarkan bangsa Eropa Barat dari kepungan takhayul yang sebelumnya menguasai alam pikiran mereka. Tapi, sisi negatifnya, manusia menjadi membatasi pikirannya hanya pada sisi materi dalam kehidupan. Sisi non-material dikesampingkan karena dianggap tidak memenuhi standar ilmiah yang positif.
Nah, yang seperti ini jika dibawa ke dalam persoalan keimanan, jelas menjadi bermasalah. Sebab, “asumsi dasar” dari keimanan itu adalah keyakinan. Jika digeser menjadi pembuktian, apalagi hanya pada yang empiris, yang terjadi kemudian adalah penafian terhadap keyakinan atas hal-hal yang dianggap tidak empiris. Di sinilah letak sesat pikirnya. Karena kita tidak mampu membayangkan Tuhan, atau mengindrai Tuhan, maka Tuhan itu menjadi tidak ada. Padahal, ketidakmampuan kita untuk membayangkan dan mengindrai Tuhan itu merupakan konsekuensi dari keterbatasan indra manusia sendiri. Bukan karena ketiadaan Tuhan.
Maka, menjadi logis ketika Islam, melalui Nabi Muhammad Saw., memperkenalkan Allah sebagai Tuhan kepada kita. Sebab, pencarian kita melalui penelitian terhadap materi, tidak akan bisa sampai ke sana. Lagi-lagi, karena keterbatasan kita untuk mengetahui hal-hal yang berada di luar indra kita.
Contoh lainnya ialah adanya pola pikir “Kalau Tuhan itu Maha Adil, tidak mungkin ada orang miskin di dunia ini. Karena masih banyak orang miskin, artinya Tuhan itu tidak adil, atau bahkan, tidak ada Tuhan sama sekali. Atau kalaupun ada, Tuhan hanya diam saja tidak bertindak apapun terhadap kehidupan manusia.”
Jika yang sebelumnya keengganan beriman karena membatasi pikiran hanya pada pengindraan, di sini ada juga karena kepercayaan kita akan suatu konsepsi atas keadilan tidak sama dengan yang dikehendaki Tuhan. Ini pun termasuk sesat pikir personal incredulity.
Sebagian di antara kita ada yang memiliki kepercayaan bahwa keadilan Tuhan itu harus dengan cara memberikan kehidupan yang layak pada semua orang di dunia, atau ketidakadaan kezhaliman apapun di dunia. Ketika kemudian ada orang yang menjadikan tindakan Tuhan harus mengikuti kepercayaan personal ini, di sinilah letak permasalahannya. Ketidakmampuan seseorang dalam memahami sifat keadilan Allah, karena tidak sesuai dengan kepercayaan personalnya atas keadilan, menjadikan sebagian orang tidak mempercayai Tuhan. Padahal, keadilan Allah itu melampaui pemikiran manusia terhadap keadilan.
Konsepsi keadilan yang dibangun oleh manusia, apapun alirannya, pasti memiliki kelemahan. Lagipula, standar keadilan manusia pun ditujukan untuk manusia itu sendiri. Sementara, sifat keadilan Allah itu berlaku untuk seluruh makhluk, di seluruh zaman, dan di seluruh tempat yang ada. Dan, keadilan Allah itu tidak bisa dijalankan kecuali oleh Allah sendiri.
Maka, menjadi logis juga, ketika Nabi Muhammad menyampaikan sifat-sifat Allah, termasuk di antaranya ialah “Al ‘Adl”, Maha Adil, yang pada-Nya terhimpun segala keadilan tanpa cacat sedikit pun, untuk disampaikan kepada kita selaku umatnya. Sebab, jika kita tidak diberikan pemahaman akan keadilan Allah, maka kita akan selalu merasa Tuhan tidak adil dalam kehidupan kita, yang bisa membawa kita pada sikap mengingkari Tuhan.
***
Benang merah dari adanya sesat pikir “personal incredulity” yang berkonsekuensi pada penolakan Tauhid ini terletak pada masalah sentralitas manusia. Dalam artian, kita memahami apapun dari sudut pandang kita sebagai manusia, sehingga hal-hal lain di luar manusia harus “dimanusiakan”. Konsekuensinya, ketika Tuhan itu tidak sama sekali melekat dengan manusia, menjadi sulit bagi seseorang untuk mempercayai Tuhan.
Tidak mengherankan, dalam berbagai kepercayaan selain Islam, baik dalam kisah para Nabi maupun yang masih eksis sampai hari ini, akan kita jumpai adanya upaya personifikasi Tuhan. Personifikasi ini bisa melalui digambar, dipatung, ataupun menyifati Tuhan dengan sifat manusia dan kemanusiaan.
Inilah salah satu hikmah dari kita mempelajari sifat Allah yang “mukhalafatuhu lil hawadits”. Allah berbeda, dari sudut pandang manapun, dengan sesuatu apapun. Sebab Allah itu “qiyamuhu bi nafsihi”, berdiri sendiri tanpa memerlukan siapapun.Maka dari itu, basis sikap kita kepada Allah itu basisnya adalah keimanan, keyakinan, kepercayaan. Bukan pada argumentasi atau logika. Adapun adanya argumentasi dari kita akan keberadaan Tuhan bukan karena Tuhan perlu argumentasi kita. Tapi, karena kita perlu lebih meyakinkan diri kita sendiri, dengan hujjah-hujjah yang kuat, untuk bisa meyakini Allah sebagai Tuhan.
Karena toh, pada akhirnya, Allah tidak butuh pada siapapun makhluk-Nya. Justru makhluk yang butuh kepada Sang Khaliq.
Wallahu a’lam.

Leave a comment