Kenapa Harus Menjadi Baik Jika Menjadi Buruk Saja Bisa Sukses?

Published by

on

Buat apa ujian dengan jujur jika yang menyontek saja bisa sukses? Buat apa menjadi pekerja yang amanah jika yang curang saja bisa sukses? Buat apa memiliki prinsip jika yang oportunis saja bisa sukses? Buat apa belajar dengan baik jika yang mengerjakan skripsi dengan joki saja bisa sukses?

Akhir-akhir ini, pertanyaan semacam ini semakin bermunculan. Dari pucuk negeri hingga lubuk diri, kita semakin menemukan normalisasi hal-hal yang sebenarnya terlarang dan pemakluman terhadap tindak-tanduk yang bermasalah.

Akhirnya, kita pun bertanya-tanya, untuk apa menjadi baik jika tidak menjamin kesuksesan dan mengapa tidak ikut berbuat kotor saja jika dengan jalan kotor pun sukses dapat teraih juga.

Di sinilah kita semestinya tersadar, kita tidak bisa hanya merencanakan tujuan dan melupakan jalan. Memimpikan sebuah tujuan harus seiring dengan penyiapan perencanaan tempuhan jalan.

Jika kita meyakini bahwa tujuan kita adalah hal yang baik, maka jalan yang hendak ditempuh menuju sana juga haruslah baik.

Jika kita ternyata menghalalkan segala cara, lantas akan timbul pertanyaan, apa benar yang kita tujukan itu benar-benar baik? Atau jangan-jangan, kita hanya ingin memuaskan nafsu dan ambisi. Bukan untuk benar-benar berbuat baik dan menghadirkan kebaikan.

***

Ada yang menarik jika kita menengok kembali Surat Al Fatihah. Pada tujuh ayat yang selalu kita ulang-ulang baca pada setiap rakaat shalat itu, justru yang kita mohonkan adalah jalan, bukan sekadar tujuan.

Ihdina ashshiraat al mustaqiim. Tunjukilah, berilah kami hidayah, kepada jalan yang lurus.

shirat al mustaqiim kemudian diperjelas di ayat berikutnya, shirat alladziina an’amta ‘alayhim. Jalan orang-orang yang Engkau beri nikmat pada mereka. Para mufassir menyebut, inilah jalan para Rasul, Nabi, ulama, syuhada, dan orang-orang shaleh lainnya.

Penegasan itu pun tidak berhenti pada afirmasi, tetapi berlanjut dengan negasi. ghayr almaghduubi ‘alayhim wa laa adhdhaalliin. Bukan jalan orang yang Engkau murkai dan bukan juga jalan orang yang sesat.

Sementara mufassir menyebut Al Fatihah sebagai satu surat yang menghimpun keseluruhan isi Al Quran. Ayat-ayat awal menegaskan pada Tauhid, kemudian berlanjut dengan pengakuaan penghambaan, dan diakhiri dengan permohonan dibimbing dalam kebenaran.

Kita tidak menjumpai permohonan secara langsung “Ya Allah, masukkan aku ke dalam surga” di Al Fatihah. Tapi yang kita mohonkan adalah petunjuk, keistiqamahan dalam mengikuti orang-orang yang berada dalam petunjuk itu.

Kita meminta jalan, bukan tujuan.

Maknanya, ketika kita meminta jalan yang baik, maka dengan sendirinya kita tahu bahwa tujuan dari jalan itu pun kebaikan. Tidak mungkin tujuan yang baik dicapai dengan jalan yang buruk dan tidak mungkin juga jalan yang buruk akan membawa pada tujuan yang baik. Jalan yang baik dan tujuan yang baik adalah dua rangkai yang tidak terpisahkan.

Dan yang tidak kalah penting, kita pun meminta untuk mampu mengikuti jalan orang yang sudah terbukti berada dalam kebaikan. Ini adalah pengingat, bahwa kita tidak menempuh jalan yang baik itu sendirian. Kita bukanlah musafir tunggal. Kita adalah pengikut dalam jamaah.

Sayangnya, kita hari ini seringkali terbalik. Kita lebih senang menentukan tujuan tanpa menyiapkan jalan. Tujuan yang baik dianggap bisa menjustifikasi jalan apapun yang ditempuh.

Jalan yang baik memang terkadang mendaki dan banyak aral melintang. Jalan yang buruk acapkali melenakan dengan nikmat yang instan.

Masalahnya adalah, menempuh jalan yang buruk akan membuat kita lupa dengan tujuan yang mulanya baik tadi. Malahan, kita bisa jadi terdistorsi dan mengarah pada tujuan yang buruk.

Bahkan, karena kita enggan mengakui bahwa jalan yang ditempuh dan tujuan itu sebenarnya buruk, kita menjadi terdelusi. Kita mempercayai jalan dan tujuan yang buruk itu sebagai jalan dan tujuan yang baik, lalu kita mencoba untuk meyakinkan orang-orang bahwa yang buruk itu sebenarnya hal yang baik.

Di saat itulah kita mencaci orang yang mengingatkan sebagai orang yang kalah dan orang yang konsisten dalam jalan dan tujuan yang baik sebagai orang yang bermasalah. Padahal, kitalah yang sejatinya kalah dan bermasalah.

***

Masalahnya adalah, hasil final tidak akan sepenuhnya tampak dalam bingkai waktu hidup kita. Umur kita tidak cukup panjang untuk mengetahui hasil akhir dan konsekuensi dari jalan-jalan yang kita tempuh itu.

Kita pun akhirnya menganggap bahwa capaian-capaian tertentu sebagai sebuah kesuksesan. Apalagi cara pandang yang materialistis menyempitkan sudut pandang pada kesuksesan yang bisa terkuantifikasi dan terekam kamera.

Kita pun menutup telinga dari kritik dan saran, atau jika punya kuasa, menutup mulut para pengkritik dan penyaran, atau jika kuasa itu berlebih, menutup umur para pengkritik dan penyaran. Capaian semu itu ingin dianggap sebagai sukses sejati. Jalan yang keliru itu ingin dianggap sebagai jalan yang benar.

Padahal, itu bukanlah career, hanya sekadar hit. Itu bukanlah gambar yang utuh, hanya piksel yang berserak. Itu bukanlah sukses sejati, hanya letupan sesaat.

Dan kita yang terpesona dengan kesemuan pun berpikir, untuk apa bersusah payah dalam jalan yang baik jika tidak menjamin kesuksesan? Kenapa tidak ikut gerbong di jalan yang salah saja dengan limpahan gelimang capaian?

Pandangan kita pada kesuksesan pun menyempit dan memendek. Sementara pandangan kita pada kegagalan melebar dan memanjang. Ini adalah rabun yang tidak tertolong.

***

Kita sering merasa bahwa ini adalah problematika zaman kiwari. Sejarah berkata sebaliknya. Kecenderungan semacam ini sudah setua usia peradaban manusia itu sendiri.

Tarik menarik antara mereka yang istiqamah dalam menuju tujuan yang baik melalui jalan yang baik dengan mereka yang cepat beralih ke jalan yang buruk hingga tertuju pada ujung yang buruk pun sudah sering terjadi. Di Eropa, China, hingga Arabia, berbagai catatan peradaban menunjukkan gejala demikian.

Masalahnya adalah, kita seringkali abai dengan masa lalu. Kita tidak mau mengambil pelajaran dari masa lalu sehingga di masa kini kita terhajar oleh konsekuensi dari jalan buruk untuk meraih masa depan. Akhirnya, seolah tampak sejarah berulang, padahal yang berulang adalah tata laku yang abai dengan berbagai pelajaran.

Dan ketika kita benar-benar melihat sejarah panjang peradaban manusia itu, akan tampak bahwa kesejatian hidup tidak didapat dari cara-cara buruk, apalagi dari tujuan yang buruk.

Masa-masa gelap akan berganti dengan zaman pencerahan. Masa-masa cerah akan meredup ketika orang-orang tidak lagi bersabar menempuh jalan cahaya. Dan pada setiap masa, jalan sesat selalu penuh kelap-kelip yang membuatnya tampak sebagai jalan cahaya.

Bila kita sudah insaf akan hal-hal semacam ini, maka tanya di awal akan berubah. Kita tidak lagi bertanya, “kenapa harus menjadi baik jika menjadi buruk saja bisa sukses?”. Tapi, kita akan bertanya, “kenapa harus menjadi buruk, jika dengan menjadi baik saja, kita bisa sukses?”

Jangan sampai kita terbuai oleh jalan pintas yang membelokkan arah. Istiqamahlah dalam jalan kebaikan, insya Allah, akhir yang baik akan dicapai juga.

One response to “Kenapa Harus Menjadi Baik Jika Menjadi Buruk Saja Bisa Sukses?”

  1. inovtriharipa Avatar

    mashallah, setelah membaca tulisan ini saya kembali merefleksikan jalan-jalan kehidupan yang sudah saya pilih. terima kasih sudah mengingatkan untuk selalu memohon kepada allah swt agar ditunjukkan jalan yang lurus dan di ridhoi-Nya.

    Like

Leave a comment